
Hari demi hari telah terlewati, Ayas merasa sedikit lega karena ayah mertuanya telah merestui pernikahan mereka.
Penyelidikan mengenai kasus penganiayaan akan dilaksanakan mulai hari ini, selama penyelidikan Reygen tidak diperkenankan bepergian.
Ayas semakin merasa takut kalau Reygen benar-benar akan dihukum pidana. Kepalanya kembali pusing saat ia memikirkan suaminya yang tengah menjalani pemeriksaan.
Saat hendak memasak, tiba-tiba Ayas merasa lemas dan sakit di kepala tidak tertahankan membuatnya bersandar ke dinding dapur. Ia memejamkan kedua matanya untuk menetralkan emosi dan juga rasa pening di kepala.
Ia menarik napas panjang dan mulai meraih pisau dan bumbu dapur untuk menumis, satu buah bawang bombay telah berada di tangan kirinya, dan tangan kanan memegangi pisau untuk mengiris.
Pikirannya sedikit tidak fokus karena merasakan kepala yang masih saja berdenyut sehingga tangannya sedikit teriris dan refleks berteriak.
"Aw!" teriaknya tanpa disengaja.
Reygen yang hendak mengambil air minum ke dapur langsung dibuat menoleh,
"Kenapa, Ay?" Reygen segera mendekati Ayas dan melihat jari telunjuknya meneteskan darah segar. Ia segera mengulum jari telunjuk dan menghisap darah yang keluar dari jari Ayas kemudian membuangnya ketempat sampah. "Sayang, kenapa sampai kena pisau, sih?" tanyanya penuh rasa khawatir.
"Bii, kepalaku sakit!" jawab Ayas sambil memegangi kepala.
"Ya udah, kamu gak usah masak. Istirahat saja," tanpa ragu ia langsung membawa istrinya meninggalkan dapur, "tunggu disini, aku akan mengambil plester." Reygen mendudukkan Ayas di sofa, ia lantas bergegas menuju kotak P3K dan mengambil satu lembar plester.
Setelah Reygen memasangkan plester di jari Ayas yang terluka, ia menarik napas panjang dan merasa lebih baik.
"Aku udah gak apa-apa, Bii. Aku lanjutin lagi masaknya, ya?" tanya Ayas dengan memasang wajah manja.
"Gini aja, biar aku yang masak, kamu kasih instruksi aja. Gimana?" tanya Reygen memberi saran.
"Gak, ah! nanti masakannya malah gagal kek bikin teh manis!" Ayas memajukan bibirnya.
"Jangan manyun gitu, nanti aku cium, nih!" Reygen menatap haus kepada sang istri.
"Hehe, aku masak, ya? kamu motong bawang yang tadi aja." Ayas merajuk dan memberi instruksi.
Kalau sudah melihat istrinya merajuk manja, Reygen tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa membiarkan sang permaisuri berbuat sesuka hatinya.
"Siap, Nyonya!" Reygen memberi hormat ala militer.
__ADS_1
Mereka berjalan ke dapur dan melaksanakan tugas sesuai instruksi kepala dapur yaitu Ayas. Reygen memotong bawang bombay yang sempat terhenti tadi. Ayas dengan piawai menyiapkan bumbu lainnya setelah mencuci daging ayam yang telah dipotong sesuai keinginannya.
Selama di dapur, Reygen tak henti menggoda istrinya. Sampai Ayas memukul Reygen dengan spatula karena kejahilan sang suami yang membuatnya kesal.
"Bii, yang bener, ah, masaknya, aku udah laperr! cepetan sini bawang bombaynya!" Ayas merajuk dan meminta bawang bombay yang tadi sudah di iris oleh Reygen.
Reygen memberikan bawang yang telah ia potong,
"Ya Ampun, Bii ... kok motongnya kek gini, sih?" Ayas jengkel karena Reygen hanya memotong bawang bombay menjadi empat bagian saja.
"Itu 'kan, udah aku potong, Sayang." merasa heran karena menurutnya apa yang ia kerjakan sudah benar.
"Iya, tapi bukan begini juga motongnya, Bii!" Ayas gregetan "motongnya tuh kecil-kecil, diiris gitu, Sayaaang!" meskipun tak sesuai ekspektasi, Ayas terpaksa memasukkan bawang bombay hasil potongan suami tercinta karena perutnya sudah sangat lapar.
"Udah, ga apa-apa masukin aja, yang penting rasanya tetap sama 'kan? rasa bawang, hehe!" Reygen tersenyum tidak jelas, Ayas hanya geleng-geleng kepala.
Setelah tiga puluh menit akhirnya masakanpun selesai, Ayas segera menata makanan di atas piring dan membawanya ke atas meja makan yang letaknya masih satu ruangan dengan dapur.
"Hum ... tuh kan gedean bawangnya daripada ayamnya!" Ayas menatap kecewa karena tampilan masakannya tidak karuan.
"Gak apa-apa, yang penting rasanya enak!" Reygen segera menyendok nasi dan ayam rica-rica ke atas piringnya.
***
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Ayas akan membereskan meja makan dan piring kotor bekas mereka makan.
Ia juga mencuci pakaian dengan mesin cuci, Reygen berjalan mengendap-endap ke depan rumahnya dan membawa sebuah korek api, di dalam saku celananya sudah ada sebungkus filter yang siap menjadi pemuas rasa asam di mulutnya setelah makan.
Ia duduk di kursi rotan teras rumah, jarinya sudah menjepit sebatang filter dan hendak memantik korek api, tetapi kelakuannya terhenti oleh seseorang yang baru saja membuka pintu.
Ceklek!
"Sial!" decak kesal Reygen saat ia mendengar suara pintu depan rumahnya terbuka, tak salah lagi pasti istrinya yang hendak keluar.
Reygen menghentikan aktivitasnya dan meletakkan filter dan korek ke atas meja, Ayas melihat hal tersebut.
"Bii, kamu merokok lagi?" tanya Ayas ketika melihat satu bungkus dan sebatang rokok lengkap dengan korek api tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"Asem, Yang!" jawab Reygen sabil melirik kikuk kepada Ayas.
"Kan udah aku bilang jangan merokok lagi!" Ayas melipat kedua tangannya di atas dada sambil menatap tajam kepada Reygen.
"Iya, iya!" Reygen berdiri dan menatap Ayas penuh gairah, "kalo gitu, gimana sebagai gantinya aku ... " Rey mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas sampai hidung bangir mereka saling menyapa.
"Hm, bilang aja minta jatah!" Ayas tersenyum dan Reygen segera membawanya ke dalam rumah dan mengunci pintu.
***
"Evelyn, apa kau yakin akan membiarkan Rendra membawa kasus ini ke jalur hukum?" tanya Rouge.
"Tentu saja, aku sudah yakin!" jawabnya mantap.
"Aku harap kau jangan keterlaluan, aku tidak ingin kehilangan putra untuk yang kedua kalinya." pinta Rouge mengingatkan Evelyn terhadap masa lalu yang membuat mereka harus kehilangan putera pertamanya.
"Pii, tenang saja. Aku tahu takarannya. Justru aku tidak mau mempunyai menantu yang lemah dan hanya memanfaatkan putera kita saja. Kalau mereka benar-benar tulus saling mencintai, aku yakin hubungan mereka akan tetap bertahan." Evelyn tersenyum.
"Terserah Momy saja, tapi ingat jangan sampai membuat mereka dalam bahaya. Besok aku akan terbang lagi, banyak urusan penting yang harus segera di tangani." ujar Rouge, ia akan kembali ke luar negeri untuk mengurusi perusahaannya.
Evelyn tersenyum dan meninggalkan Rouge. Ia akan menemui Rendra untuk menanyakan kasus hukum Reygen yang sudah di adukan sebagai pelaku penganiayaan kepada Cakra sehingga membuat korbannya mengalami cacat semi permanen dengan luka patah tulang yang cukup serius di kakinya.
Hal itu sengaja dilakukan oleh Reygen agar Cakra tidak bisa berbuat jahat lagi kepada istrinya yang sangat ia benci karena telah menggagalkan proyek pembangunan gudang perudahaan di lokasi panti.
Cakra selalu menganggap Ayas adalah penyebabnya kehilangan proyek besar, sehingga ia sangat dendam kepada istri Reygen tersebut.
Sebenarnya bukan hanya masalah panti, Cakra juga selalu iri kepada Reygen yang bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Cakra menyimpan rasa kepada Ayas, tapi ia harus menelan pil pahit karena Ayas tidak tertarik kepadanya dan tetap memilih setia kepada Reygen. Merasa tidak mungkin memiliki Ayas, akhirnya ia berusaha membuat Ayas selalu merasa tersiksa.
***
"Rendra, bagaimana berkas yang kau ajukan? apakah sudah ada tindak lanjut?" tanya Evelyn kepada Rendra.
"Sudah, Kak! mungkin besok Reygen akan dipanggil untuk pemeriksaan di kantor polisi." jawab Rendra.
"Bagus, tapi ingat! ikuti permainanku, jangan mengambil keputusan sendiri." tatapan Evelyn mengintimidasi.
"Baik, Kak." Rendra menurut.
__ADS_1
"Aku akan memindahkan Cakra ke rumah sakit di luar negeri agar ia bisa cepat pulih, jangan permasalahkan biaya. Semua akan aku tanggung." ucap Evelyn ringan.
Jika hanya ratusan juta, tentu tidak seberapa untuk Evelyn yang memiliki perusahaan di dalam maupun luar negeri.