
"Bii, apa rencanamu ke depan?" tanya Ayas dengan wajah sedikit pucat.
"Untuk saat ini, kita jalani saja dulu. Nanti sore Ronald akan menjemput kita, aku berencana kita akan tinggal di apartemen Ronald untuk sementara." jawab Reygen sambil menyingkirkan rambut di kening Ayas.
Hari-hari yang begitu berat untuk Ayas juga Reygen, di awal pernikahan yang seharusnya menjadi hari-hari menyenangkan, mereka malah dihadapkan pada masalah yang cukup pelik.
Seperti tak pernah kering, kedua netra Ayas selalu mengendapkan banyak air mata, kini kedua bola indah berwarna kecoklatan tersebut kembali mengembun. Benar-benar hari yang berat untuk wanita cantik ini.
Melihat kedua mata Ayas sudah mulai berkaca-kaca, Reygen segera memeluk tubuh istrinya.
"Hei, jangan nangis lagi, ya! kita pasti bisa menghadapi ini bersama." kembali kecupan sayang mendarat di kening Ayas.
"Bii, kalau seandainya, Momi kamu tetap memaksa untuk kamu meninggalkan aku. Apa kamu akan menurutinya? sedangkan kau masih punya kewajiban terhadap kedua orang tuamu untuk berbakti kepadanya." hal buruk kembali terlintas di pikiran Ayas.
"Sudah, jangan bicara seperti itu lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu, kita hanya butuh waktu untuk membuktikan bahwa kita tidak seburuk yang Momi-ku kira." pelukan Reygen yang membuat Ayas selalu merasa tenang.
"Terima kasih, Bii. Tapi aku juga tidak mau membuatmu durhaka terhadap orang tua." Ayas melepaskan pelukannya. Ia membenarkan kancing baju Reygen yang terlepas.
"Aku tidak sedang durhaka atau membangkang sama momi, Sayang. Kita hanya butuh waktu saja. Perlahan aku akan terus membuktikan bahwa kita pasangan yang layak untuk bersanding." kembali Reygen merengkuh tubuh Ayas seolah tidak ingin melepas tubuh yang kini menjadi candu untuknya.
Sesaat mereka hanyut dengan pikiran masing-masing, sampai suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring dari luar.
tok, tok, tok.
"Masuk!" Reygen bersuara dari dalam kamarnya.
Ceklek.
Suara pintu kamar yang terbuka di ikuti tubuh Meta yang masuk ke dalam kamar Ayas dan Reygen.
"Nak Rey, Ayas. Kita sarapan dulu yuk! anak-anak sudah menunggu katanya mau sarapan bareng." ucap Meta meminta.
"Iya, Bunda!" Ayas segera bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Reygen.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan, mengikuti Meta yang berjalan di depan.
"Kak Ayas, ayo sarapan bareng sama kita!" tutur polos dari Alif yang melihat Ayas masuk ke ruang makan mereka.
Ayas tersenyum dan segera bergabung dengan kelima anak panti beragam usia tersebut.
Celotehan anak panti yang berusia masih balita membuat Ayas sedikit terhibur. Dia bisa sedikit tertawa mendengar kata yang polos dan tanpa syarat dari mulut mungil mereka.
__ADS_1
Selesai sarapan, Ayas dan Reygen mengajak anak panti bermain di halaman belakang. Tiga orang bocah laki-laki mengajak Reygen bermain bola, sedangkan dua bocah perempuan mengajak Ayas bermain ayunan juga perosotan.
Sesekali mereka tertawa gembira, wajah yang murung kini sedikit memancarkan kegembiraan pada raut wajah sendu Ayas yang akhir-akhir ini sering terpasang.
'kalian sama sepertiku, sudah sama-sama tidak memiliki orang tua, tapi semoga takdir masa depan kalian tidak sama seperti aku, semoga kalian bisa mendapat kebahagiaan sejati tanpa banyak drama menyedihkan seperti jalan hidup aku.' lirih ucap dalam benak Ayas.
Sampai matahari mulai meninggi, mereka asik bermain di taman belakang.
"Kita udahan, yuk!" ajak Ayas kepada kedua bocah.
"Ayok!" jawab bocah berkuncir kuda.
Ayas mengajak kedua bocah perempuan tersebut memasuki panti dan mengajaknya mencuci kaki.
"Ay, cari makan siang di luar yuk!" ajak Reygen pada Ayas yang sudah selesai menemai kelima bocah mencuci kaki.
"Hm, boleh! kita makan siang di warung mbok Noci, yuk!" ajak Ayas memberi saran.
"Warung, mbok Noci? dimana itu, Ay?" Reygen penasaran.
"Itu, di pinggir jalan yang dekat dengan pasar." jawab Ayas.
"Terserah kamu saja, aku ikut!" Reygen menggapai ujung tangan Ayas dan menggenggamnya.
Sesampainya di rumah makan,
"Disini?" Reygen mengedarkan tatapan ke seluruh ruangan warung makan tersebut.
Warung makan sederhana yang sempit tanpa hidangan istimewa seperti yang sering Reygen temui di restoran.
"Hm! kamu mau makan apa?" Ayas menatap pada Reygen.
"Kita cari tempat makan yang lain aja, yuk! gimana?" tanya Reygen yang melihat sempitnya rumah makan tersebut dan hanya terpajang beberapa lauk di dalam etalase kaca.
"Terus kamu mau makan dimana, Bii?" tanya Ayas.
"Di rumah makan padesaan aja yuk! yang disana itu!" Reygen menujuk ke sebelah utara.
"Gak mau, disitu makanannya mahal-mahal. Kita harus hemat, Bii. Kamu kan sekarang lagi gak kerja!" Ayas merajuk.
Sebenarnya tabungan Reygen masih cukup untuk makan di restoran bahkan untuk membeli sebuah rumah mewah. Tapi Reygen juga tidak ingin terlalu memanjakan Ayas, ia ingin tahu seberapa sabar istrinya tersebut dengan keadaan yang pas-pasan.
__ADS_1
"Ya sudah! aku nurut aja." Reygen mengangguk.
Ayas memesankan makanan untuk Reygen, ia meminta dua porsi nasi dan ikan tongkol balado sebagai lauknya. Ayas juga meminta sayur asem satu mangkuk untuk mereka berdua.
Sungguh selera yang sangat sederhana ala penduduk kampung yang jauh dari kata mewah.
Meskipun dengan terpaksa, karena baru kali ini Reygen memakan ikan tongkol balado dipinggir jalan dalam hidupnya.
Namun, jika ditemani oleh orang yang sangat dicinta maka, makanan sederhana itu terasa enak saja di mulut.
***
Setelah selesai dengan santap makan siang, Reygen dan Ayas kembali berjalan menuju panti, belum sampai mereka masuk ke panti, mobil sedan mewah berhenti tepat di depan pagar halaman panti.
Seorang pemuda tampan keluar dari mobilnya dan langsung berjalan mendekati Reygen.
"Bukannya kamu akan kesini sore?" tanya Reygen saat pemuda itu sudah berdiri di depannya.
"Meetengnya di cancel! jadi aku langsung kesini aja." jawab Ronald.
"Ya udah, masuk dulu! aku dan istriku akan berpamitan dulu sama bunda Meta." Reygen berjalan menggandeng istrinya. Ronald yang selalu melihat mereka mesra, hanya berdecak iri sekaligus senang melihat sahabatnya bahagia.
***
"Silahkan diminum tehnya!" bunda Meta meletakkan beberapa cangkir teh hangat di atas meja sofa.
"Terima kasih, Bu!" jawab mereka yang sedang duduk.
Ronald segera menyesap teh hangat yang disuguhkan oleh Meta.
"Bunda, saya izin mau berkemas." Reygen berkata kepada Meta.
"Berkemas?" Meta mengernyitkan keningnya. "Mau kemana?" tanya Meta kembali.
"Kami mau pulang, Bun." jawab Reygen. Ayas hanya diam tak berkata.
Reygen sengaja berbohong kalau mereka akan pulang ke rumah Reygen supaya Meta tidak hawatir dan menjadi pikiran.
"Ya sudah. habiskan dulu tehnya. Bunda ke belakang dulu." Meta tersenyum dan meninggalkan Reygen dan yang lainnya ke belakang.
Ayas dan Rey segera berkemas dan membiarkan Ronald untuk menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Setelah semua siap, mereka berpamitan dan langsung meninggalkan panti menuju apartemen Ronald.