Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 85 : Menggemaskan


__ADS_3

Malam kian larut, entah karena pengaruh obat alergi atau memang Reygen sangat mengantuk akhirnya ia pun tertidur pulas.


Wajahnya yang tampan terlihat sangat menggemaskan saat tidur. Ayas mengusap pipi Reygen dengan lembut.


Dalam benaknya ia berkata 'terimakasih suamiku, kau telah berhasil memperjuangkan rumah tangga kita sampai di titik ini.' kecupan manis mendarat di kening Reygen.


Seorang wanita akan sangat merasa bahagia jika dia di perjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh kekasihnya terlebih itu oleh suami yang memang seharusnya menjadi imam dalam bahtera rumah tangga.


Badai dalam rumah tangga pasti akan bisa terlewati jika seorang imamnya memang bisa menghadirkan kekuatan bagi sang makmum, seperti halnya seorang nahkoda kapal yang tangguh tidak akan menyerah di tengah lautan yang sedang dilanda badai.


Nahkoda yang bertanggung jawab atas keselamatan penuh para penumpangnya itu pasti akan sekuat jiwa dan raga untuk membawa kapal beserta awaknya agar bisa berlabuh sampai di dermaga dengan selamat.


Pun dengan seorang imam yang seharusnya memang menjadi panutan juga pimpinan dalam rumah tangga, ia harus bisa dan berani mengambil keputusan demi keutuhan rumah tangganya.


Bukan meninggalkan di kala sulit, tetapi menemani sampai bisa bangkit!


Hingga malam kian larut, Ayas pun gegas menjemput mimpinya. Dengan perasaan yang tenang dan di selimut oleh kebahagiaan Ayas terlelap setelah berdoa.


Ia melihat bunda Aisyah dan ayahnya tersenyum melihat Ayas yang sedang duduk bersama Reygen.


Tanpa bicara bunda Aisyah dan ayah Ayas hanya menatap tanpa henti kepadanya, mereka tampak bahagia dengan senyum terukir lepas di bibir.


Ingin rasanya mendekat dan memeluk mereka, tetapi seperti kakinya tak memiliki daya apapun untuk melangkah, sehingga Ayas hanya duduk dan menyapa,


"Bunda, Ayah!" Ayas berusaha untuk berjalan dan menggapai tangan kedua orang tuanya, tetapi tidak bisa.


Sampai ia terjatuh dari kursi lalu Reygen membantunya kembali berdiri, Ayas hanya bisa memandangi bunda Aisyah dan ayahnya berlalu dan menghilang.


Air mata Ayas pun menetes dari ujung netra indahnya, dengan senyum sayu, Reygen pun mengusap air mata Ayas dengan jemarinya. Ia memeluk Reygen dengan perasaan yang sedikit kecewa karena tidak bisa memeluk bunda Aisyah.


"Bunda...!" kata Ayas dengan suara lantang.

__ADS_1


Mendengar teriakan dari arah sebelahnya berbaring, Reygen pun terjaga dan melihat Ayas yang sedang memanggil-manggil 'bunda' sambil meneteskan air mata.


Matanya masih terpejam, tapi isakan tangisnya terdengar begitu pilu sampai Reygen menatapnya heran.


"Sayang! bangun!" Reygen menggoyang tubuh Ayas pelan.


Sampai ke dua kalinya ia membangunkan Ayas, barulah istrinya tersebut membuka kedua kelopak matanya perlahan.


Ditatapnya Reygen yang kini berada tepat di atas wajahnya, tatapan mereka salling bertemu dan Reygen mengusap air mata yang tak terasa telah membasahi pipi mulus Ayas.


"Bii," lirih Ayas.


"Kamu kenapa?" tanya Reygen, "sebentar, aku ambilkan minum dulu!" sambungnya.


Reygen mengambilkan segelas air putih yang ada di atas nakas, lalu membantu Ayas untuk duduk dan meminum air yang ada dalam gelas dan masih dalam genggamannya.


Ayas melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya menunjukkan pukul 03.00 dini hari, masih terlihat jelas senyuman bunda Aisyah dan ayahnya yang menatap bahagia kepada Ayas dan Reygen.


Reygen pun kembali mengusap air mata yang sudah menganak sungai di pipi istrinya tersebut. Ia membawa tubuh Ayas ke dalam dekapannya, dekapan yang bisa menjadi obat penenang dikala Ayas gelisah dan dekapan yang memberikan energi dahsyat dikala Ayas sedang rapuh.


Memang! seseorang yang bisa membuatmu bahagia adalah seseorang yang bisa menghapus air matamu di kala duka.


Tidak hanya senang yang dapat mereka lalui bersama, tetapi susah, duka maupun nestapa tentu akan di hadapi bersama, itulah yang bisa membuat sebuah hubungan berjalan sampai sejauh mana mereka mengarungi kehidupan.


"Udah jangan nangis lagi, ya!" Reygen mengecup kening Ayas singkat, "sekarang gimana kalau kita sholat malam! kita doakan orang-orang yang kita cintai di alam sana!" sambung Reygen.


Ayas pun tersenyum dan mengangguk, mereka pergi ke toilet yang ada di dalam kamar mereka untuk mengambil air wudhu.


Ah, sungguh! suami yang sempurna untuk Ayas, tetapi bukankah di dunia ini tidak ada yang sempurna? entahlah! yang jelas saat ini Reygen sudah bisa mengisi ruang hampa dalam palung hati Ayas yang terdalam.


Setelah mengambil air wudhu, mereka salat bersama meskipun tidak berjamaah,

__ADS_1


Pagi yang dingin ditambah suhu yang tercipta dari pendingin ruangan membuat Ayas kedinginan, rencana ingin bablas sampai solat subuh akhirnya Reygen meminta Ayas untuk kembali tidur saja.


Mengingat Ayas juga sedang hamil dan membutuhkan istirahat yang lebih banyak, tetapi Reygen rupanya semakin penasaran dengan kitab suci umat islam.


Melalui ponsel androidnya, Reygen mencoba untuk belajar membaca Al-Quran, meskipun terbata-bata tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk lebih mendalami agama yang telah di anutnya.


Ada perasaan bangga menyeruak di hati Ayas, meskipun suaminya itu tidak lancar dan dengan suara yang sangat tidak merdu ketika melantunkan ayat suci.


"Bii, makasih, ya!" ucapan Ayas lirih.


Sambil rebahan, Ayas menatap Reygen yang sedang fokus dengan ponselnya belajar membaca Al-Quran.


Mendengar ucapan Ayas, Reygen tak menghentikan aktivitasnya dan hanya menoleh seraya tersenyum kepada Ayas.


Sepertinya ngantuk sudah tidak bisa di tolelir lagi oleh mata Ayas, akhirnya ia pun kembali terlelap dengan napas yang mulai teratur.


Hidup ini memang sudah ketentuan, tak jarang kita tidak lagi bisa memilih jalan apa yang ingin kita tempuh untuk mengarungi hidup.


Hanya saja, tinggal bagaimana kita menyikapi takdir yang sudah terlanjur terukir di garis tangan setiap manusia. Apakah akan meratapinya atau menikmatinya, meskipun dengan hati terluka.


Masa lalu adalah masa dimana kita menjalani proses kehidupan menuju masa depan, se-kelam apapun masa lalu kita atau dia, jangan pernah menjadi penghambat untuk tetap bergerak menjadi lebih baik lagi.


tetaplah berpikir positif agar hasilnya pun menjadi plus, bukan minus!


Tak terasa sampai waktu subuh tiba, Reygen segera membangunkan Ayas untuk melaksanakan fardu dua rakaat.


"Yank! bangun! subuh dulu!" Reygen mengusap pipi mulus Ayas.


Tak perlu beberapa kali membangunkan seorang istri, karena hanya mendengar suara pintu terbuka saja biasanya seorang istri akan terbangun dan sulit untuk kembali terpejam.


Hah, untung saja semalam mereka tidak berbuat mantap-mantap sehingga tidak mengharuskan mandi besar sebelum salat, kalau saja iya, tentu saja Ayas akan sangat kedinginan dengan cuaca yang memang dingin karena hujan di luar sana sudah turun dengan deras ditambah ruangan yang ber-AC.

__ADS_1


Hanya perlu wudhu saja untuk melaksanakan kewajiban fardu lima waktu.


__ADS_2