
"Hm, sepertinya tidak ada masalah, aku akan menepatinya tapi..."
Reygen menghentikan ucapannya sambil menatap licik pada Ayas.
"Tapi apa?"
Ayas segera menyambar perkataan Reygen yang terhenti.
"Aku akan menambah pekerjaanmu."
Reygen mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas, membuat gadis itu bergeser ke samping dari tempat duduknya untuk menjauhi Reygen yang jaraknya hanya beberapa jengkal saja darinya.
"Apa kamu belum puas dengan syarat pertamamu? dasar manusia serakah!"
"Itu hukuman karena kau mengajukan syarat ini padaku!"
Reygen mengacungkan kertas perjanjian dari Ayas.
"Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, cepat katakan, apa pekerjaan tambahanku?"
Belum sempat Reygen menjawab pertanyaan dari Ayas. Bi Ipah muncul dari belakang sedang membawa nampan dengan dua gelas minuman dingin di atasnya.
"Permisi, Den, Non. Ini minumnya."
Bi Ipah langsung meletakkan kedua gelas tersebut di atas meja samping sofa yang sedang mereka duduki.
"Makasih, Bi."
Reygen dan Ayas berkata dengan kompak berbarengan membuat bi Ipah terkekeh menahan tawa, baru kali ini ada gadis berjilbab yang tampak akrab dengan Reygen meskipun wajah Ayas tidak menunjukkan keramahannya pada Reygen.
"Permisi, Den, bibi mau kebelakang lagi."
"Hm,"
Reygen hanya berdehem dan segera diikuti oleh anggukan dari bi Ipah yang kemudian segera beranjak dari ruangan tamu menuju belakang.
"Baiklah, kau harus tinggal bersamaku selama kontrak kerja di perusahaanku belum selesai, dan kau harus membantu bi Ipah memasak di rumahku, untuk pekerjaan lainnya biar di kerjakan oleh asisten rumah tangga yang lainnya. Bagaimana?"
Memang tidak hanya ada satu atau dua Asisten Rumah Tangga di dalam rumah Reygen, ada juga ART yang hanya pulang pergi tanpa menginap disana seperti tukang cuci dan setrika yang datang pagi hari dan pulang ketika pekerjaannya telah selesai.
Sedangkan yang menetap dan tinggal di rumah Reygen hanya bi Ipah dan bi Ida dan dua satpam juga tukang kebun karena berasal dari luar daerah.
"Baiklah, kapan aku mulai kerja?"
Ayas tidak mau berbasa basi lagi.
"Oke, besok kau harus datang sebelum jam delapan, kalau kau telat maka aku akan memotong gajimu dan kontrak kerjamu akan semakin lama untuk melunasi tanah dan pembangunan panti."
"Baik, sudah selesai kan? "
Ayas segera berdiri tanpa meneguk minuman yang telah di sediakan oleh bi Ipah.
"Hei, hargai orang tua yang telah menyuguhkanmu minuman."
Perkataan Reygen menghentikan langkah Ayas, kemudian dia langsung mendekati meja kaca di samping sofa dan segera mengambil gelas berisi minuman dingin, dia segera duduk dan menenggak minuman itu sampai habis karena memang Ayas sedang haus.
Melihat Ayas yang tanpa jeda menghabiskan minumannya, Reygen hanya tersenyum geli.
"Seperti sudah sebulan tidak minum saja."
__ADS_1
Gumam Reygen dengan pelan.
Setelah Ayas menghabiskan minumannya, dia segera meninggalkan ruangan tanpa berpamitan pada Reygen.
"Gadis unik juga cantik."
Reygen senyum-senyum sendiri melihat tubuh Ayas yang semakin menjauh dari pandangannya.
Dari semalam Reygen terus di hubungi oleh Ronald dan Remon untuk party namun Reygen menolaknya karena sudah ada janji dengan Ayas.
Pagi ini Ayas akan mengecek lokasi kantor Reygen untuk memastikan agar ia bisa mengatur waktu berangkat kerjanya supaya tidak mencari-cari lagi dan kesiangan pada hari pertamanya bekerja.
Bersama Sarah, mereka juga hendak mengahabiskan hari minggunya dengan berjalan-jalan di sebuah Mall.
Setelah mereka mengetahui lokasi kantor Reygen berbekal kartu nama dan alamat perusahaan, mereka segera melesat dengan taxi onlinenya menuju sebuah Mall.
Sarah hendak membelikan setelan formal untuk Ayas bekerja, tetapi Ayas menolaknya karena dia masih memiliki setelah rok hitam dan kemeja putih yang masih baru dan hanya beberapa kali ia kenakan, sepertinya pantas untuk dipakai bekerja pada hari pertama seperti karyawan-karyawan lainnya yang sedang trainee.
Ayas hanya menganggap bahwa besok adalah hari percobaan untuknya bekerja, jika memang dia merasa mampu maka akan diteruskan dan jika diluar kemampuannya yang baru saja Lulus dari bangku kuliah dan sama sekali belum berpengalaman di dunia kerja maka ia akan mengajukan pengunduran diri dan mengubur dalam-dalam impiannya untuk mendirikan panti itu kembali.
Sarah mencoba meyakinkan Ayas kembali.
"Gak usah, Kak, aku yakin, kok, lagian kan besok aku baru akan training dan belum tentu juga aku di terima bekerja."
"Kamu ini lucu, ya, bagaimana bisa tidak di terima bekerja di sana, sedangkan yang memintamu kerja itu adalah pemilik perusahaan!"
Sarah tertawa geli dengan keluguan Ayas.
"Aku masih belum yakin dengan keputusanku, Kak, dan apakah aku akan bisa bertahan bekerja di perusahaan yang sudah menyebabkan bunda meninggal?"
"Dek, kamu tahu, kan, jodoh, rezeki dan maut itu sudah di atur sama Allah. Jadi, kita tidak boleh menyalahkan siapapun apalagi menyimpan dendam yang hanya akan mengotori hatimu sendiri. Dek, kakak harap, kamu tidak menjadi seorang yang pendendam, ya," ucap Sarah sambil mengusap pucuk kepala Ayas.
"Hm. iya, Kak. Makasih, ya, tapi di samping itu, Ayas juga tidak percaya diri, Kak, karena baru pertama kali akan bekerja."
"Tidak usah hawatir, dulu juga kakak seperti itu, tapi karena kakak mau belajar dan terus belajar akhirnya kakak bisa, kok, melakukan pekerjaan kakak dengan baik."
__ADS_1
Sarah mengangkat dagu Ayas.
Mendapat perkataan dari Sarah membuat Ayas tersenyum kembali dan menggenggam kedua tangan Sarah.
"Makasih, ya, Kak, jika tidak ada Kakak entah hidupku akan seperti apa saat ini! "
Sarah dan Ayas tersenyum dan mereka saling mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Aku udah laper, nih, dari tadi muter-muter mulu, kita makan dulu yuk!"
Sarah mengajak Ayas makan disebuah foodcourt yang ada di samping lobbi Mall.
Pagi yang mendung namun Ayas tampak bersemangat bangun pagi dan segera bersiap dengan rok dan jilbab hitam dengan kemeja putihnya, ia merias wajahnya tipis-tipis dan memoles bibir manisnya yang berwarna peach dengan lipgloss yang membuat bibirnya semakin seksi.
Ayas dan Sarah berbeda arah jadi mereka tidak berangkat bersama untuk menuju tempat kerjanya. Karena tidak lagi memiliki ponsel, akhirnya Ayas harus berangkat lebih pagi untuk menunggu angkutan umum yang menuju tempat kerjanya.
"Haduh, udah jam 07.30 tapi angkotnya belum lewat juga, gimana ini?"
Ayas tampak sangat hawatir karena sebentar lagi pukul delapan, padahal Ia harus sudah sampai di kantor sebelum jam delapan pagi untuk menandatangani kontrak kerja dan mengetahui posisi kerjanya di kantor Reygen sebagai apa dan memulai kerjanya di hari pertama.
Awan yang semakin mendung membuat kehawatirannya menjadi bertambah ia segera mencari tempat berteduh di sekitar pinggir jalan karena takut hujan akan segera turun sambil menunggu angkot.
Beberapa menit kemudian angkot yang ditunggu pun lewat dan Ayas segera memberhentikannya.
Ayas segera menumpangi angkot menuju tempat kerjanya. Baru setengah perjalanan menuju kantor ternyata hujan sudah turun dan semakin deras.
Empat puluh lima menit lebih Ayas menempuh perjalanan dengan mobil angkot yang berjalan pelan dan sesekali berhenti untuk mengambil penumpang dan Ia pun harus terlambat tiba di kantor.
Setelah turun dari angkot, ia segera berjalan menuju kantor yang jaraknya sekitar seratus meter dari jalan raya, untung saja Ayas membawa payung jadi ia tidak harus basah kuyup karena kehujanan dan hanya sedikit basah saja karena percikan air hujan.
Ia segera menemui satpam yang menjaga pintu pagar perusahaan, dan setelah itu langsung memasuki lobi kantor dan menanyakan ruangan Reygen pada resepsionis kantor.
TOK..TOK..TOK
Ayas mengetuk pintu yang bertuliskan Ruangan CEO, sesaat kemudian suara maskulin terdengar dari dalam ruangan.
"Masuk!"
Setelah mendengar perintah dari dalam, Ayas pun membuka pintu.
CEKLEK..
Ayas segera menutup pintu itu kembali dan masih berdiri di depan pintu ruangan Reygen. sedangkan Reygen yang sedang duduk di kursi tahtanya melihat Ayas hanya berdiri di depan pintu segera membuka suara.
"Kenapa cuma diem disitu, cepet duduk."
Reygen memainkan pena yang ada di tangan kanannya.
Ayas pun segera melangkah untuk menduduki kursi yang berada di depan meja kerja Reygen.
Sungguh gadis ini sangat bisa membangkitkan fantasi liar seorang badboy
__ADS_1