Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 50 : Sahabat


__ADS_3

Reygen menemui Evelyn dan memintanya memberikan restu atas pernikahan mereka.


"Mom, Rey ingin bicara." Reygen berdiri di hadapan Evelyn.


Bola mata Evelyn melirik sinis kepada Reygen, ia menutup majalah yang sedang dipegang olehnya dan meletakkan di atas meja.


"Apa kau menyerah? ternyata secepat ini! hh," sangka Evelyn kepada Reygen.


"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan restu darimu, Mom!" Reygen menatap melas kepada Evelyn.


"Apa yang bisa kau lakukan untuk membuktikanya?" tanya Evelyn.


"Istriku wanita baik-baik, dia wanita terhormat, tidak seperti yang Momy pikirkan," jawab Reygen yakin.


"Benarkah? apa kau yakin dia tidak sedang memperalatmu saja?" Evelyn kembali bertanya.


"Ini kunci mobil, aku tidak akan menggunakan fasilitas yang bukan dari hasil kerja kerasku. Aku yakin, istriku bisa menerimaku apa adanya." Reygen menaruh kunci mobilnya di atas meja sofa.


Ia berjalan menuju tangga, tapi langkahnya terhenti saat Rouge menahannya.


"Rey, tunggu!" Rouge berjalan mendekati Reygen. "Kita bicara di kamarmu!" ajak Rouge kemudian berjalan di depan Reygen.


Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Reygen.


"Rey, aku merestui pernikahanmu. Aku yakin pilihanmu tidak salah, bersabarlah dengan sikap Momy-mu." Rouge menepuk pundak Reygen dua kali dengan pelan. Ia meninggalkan putranya duduk sendiri di dalam kamar.


Harapannya tidak begitu saja sirna, perkataan Rouge sedikit membuatnya lebih semangat.


Ia segera membuka lemari pakaiannya dan memasukkan beberapa bajunya juga baju Ayas ke dalam koper. Tidak lupa ia juga membawa dokumen-dokumen penting miliknya.


Setelah semua selesai, ia segera meninggalkan kamar tidurnya sekaligus meninggalkan rumahnya.


***


"Lo mau kemana lagi, Rey? bukannya, Lo baru pulang bulan madu, sama istri Lo?" tanya Ronald.


Reygen tidak menjawab pertanyaan Ronald, ia hanya melirik tajam kepada Ronald.


Melihat raut wajah Reygen yang seperti serigala lapar, Ronald pun tak berani banyak bicara. Ia hanya mendengkus kesal.


"Kalau ada butuhnya gak bisa ditolak, cuma ditanya gitu aja marah! dasar kepala batu!" gumam Ronald, namun masih bisa di dengar oleh Reygen.


Reygen menoleh pada Ronald, "Apa, Lo bilang?" tatapannya seperti ingin segera menerkam Ronald.

__ADS_1


"Baperan banget, sih, Lo? lagi PMS?" Ronald meledek Reygen yang kembali arogan.


"Jangan cari gara-gara, nyetir yang bener!" perkataan Reygen penuh penekanan. Reygen menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, tangan kanannya mengusap dagu yang tak berjenggot


"Terus kita mau kemana ini?" meskipun sikap Reygen terkesan tak menyenangkan, tapi bagi sahabatnya itu hal yang biasa. Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak masih kecil. Ronald tetap saja peduli kepada sahabatnya itu.


"Panti! nanti di depan, Lo belok kanan!" perkataan Reygen memberi petunjuk.


Ronald memang belum pernah ke panti, jadi dia tidak tahu jalan menuju kesana.


Terlihat raut wajah yang kalut pada Reygen, meskipun Ronald adalah teman tak berakhlak, tapi ia mengerti keadaan Reygen saat ini.


"Rey, kalo udah nikah itu ribet, ya!" Ronald menyimpulkan keadaan Reygen saat ini.


Reygen tak menjawab, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Sebenarnya, gue juga pengen nikah, tapi kalo lihat masalahnya ruwet kayak, Lo, gue gak yakin bakalan tahan. Apalagi kalo nanti bini gue gak bisa hadepin masalah sama-sama, yang ada dia kabur ninggalin gue," curhatan Ronald tak sengaja pada Reygen.


"Emang, Lo mau nikah sama siapa?" meskipun pikirannya sedang kalut, tapi Reygen masih menanggapi curhatan sahabatnya.


"Sarah." jawab Ronald tanpa dosa.


Mata Reygen membulat sempurna, ia langsung menoleh pada Ronald. "What, Sarah kakaknya istri gue? gak salah, Lo?" ekspresi terkejut masih dipasang oleh Reygen.


"Gue gak mau punya kakak ipar luknut kayak Lo!" decih Reygen pada Ronald.


"Lah, kita 'kan sama-sama luknut. Malah Lo, rajanya luknut." sanggah Ronald tidak mau kalah.


Mereka pun berdebat canda di dalam mobil, itulah sahabat, selalu ada dalam suka dan duka. Mereka bisa sedikit memberi rasa reda pada sakit yang teramat mendera.


***


"Nald, bawain koper gue!" titah Reygen pada Ronald. Mereka baru saja tiba di panti.


Reygen keluar dari mobil Ronald tanpa membawa kopernya.


Ronald yang mematikan mesin kendaraannya sambil bersungut-sungut.


"Halah, jadi kacung lagi gue!" Ronald kesal. Namun, apa daya ia selalu menuruti kehendak ketua gengnya.


Ronald membawa koper besar milik Reygen dan mengikuti langkahnya.


"Nald, masuk!" Reygen mempersilakan Ronald masuk ke panti.

__ADS_1


"Eh, Nak Rey. Tadi Ayas nyariin tuh!" bunda Meta menyapa Reygen yang baru saja masuk.


"Bunda Meta." Reygen meraih tangan kanan Meta dan mengecup punggung tangannya.


"Kenalin, Bun, ini teman saya. Ronald!" Reygen memperkenalkan Ronald kepada Meta.


Ronald mengikuti apa yang Reygen lakukan pada Meta, meskipun ia merasa canggung bersalaman dengan Meta, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ingin mendapat tatapan membunuh dari Reygen.


"Ayo, silakan duduk!" Meta mempersilakan Ronald duduk.


Meta undur ke belakang untuk menyiapkan minum bagi tamunya tersebut.


"Nald, gue tinggal sebentar!" Reygen meninggalkan Ronald sendiri di ruang tamu.


Reygen berjalan menuju kamarnya, dimana Ayas sedang menunggunya. Ia pun membuka pintu dan melihat Ayas sedang duduk di kursi meja rias.


Ayas menyangga dagunya dengan kedua tangan yang sikutnya bertumpu ke atas meja rias.


Menyadari akan kehadiran seseorang di depan pintu, Ayas pun menoleh.


"Bii, kamu kemana aja?" Ayas langsung menyambangi Reygen yang masih berdiri di depan pintu.


Ia langsung memeluk suaminya yang masih mematung di depan pintu.


"Sayang, di depan ada Ronald! kita ngobrol disana, yuk!" ajak Reygen kepada Ayas.


Ayas pun mengangguk dan mereka meninggalkan kamar menuju ruang tamu.


Melihat Ayas dan Reygen muncul, Ronald segera menyapa wanita yang sedang di gandeng oleh sahabatnya tersebut.


"Eh, adik ipar, apa kabar?" tanya Ronald yang sedang duduk di sofa kepada Ayas sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.


"Hei, luknut! jaga adab, Lo, sama Istri gue ya!" sergah Reygen pada Ronald. Ia duduk di samping Ronald, sedangkan Ayas duduk di sofa berlainan.


"Lah, apa yang salah? gue kan cuma nyapa Istri Lo!" wajah tak berdosa dipasang Ronald.


"Terus siapa yang tadi, Lo bilang adik ipar? hah!" tatapan memicing dari Reygen kepada Ronald.


"Rey, Lo pernah denger gak, kalau ucapan itu adalah doa? ya anggap aja gue lagi berdoa supaya bisa jadi kakak ipar Lo! haha." Ronald kembali bergurau dalam serius.


"Dasar, Lo! Lo gak akan sanggup menuhin syarat dari Sarah." Reygen mengingat syarat yang dibuat oleh istrinya ketika hendak


malam pertama.

__ADS_1


__ADS_2