Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 76 : Sidang


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah dua insan yang masih terus di mabuk asmara. Reygen akan kembali dengan persidangan di meja hijau atas kasusnya dengan Cakra.


Evelyn telah meminta pengacara handal untuk membantu Reygen dalam mengatasi masalah ini dan membuat Cakra untuk menerima hukuman atas perbuatannya.


"Bii, aku ikut buat hadiri persidangan kamu, ya!" ucap Ayas sambil merapikan kerah baju kemeja Reygen.


"Jangan, Sayang! biar aku aja yang kesana sendiri. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, aku gak mau kamu lelah!" ucap Reygen yang tidak mau membuat Ayas terlalu lelah.


"Gak apa-apa, Bii. Aku sehat, kok! lagian disana juga aku kan nanti cuma duduk aja liatin persidangan." ucap Ayas masih kekeh dengan keinginannya untuk menghadiri persidangan.


"Tapi, kamu harus siapin mental. Apapun keputusannya nanti, kamu gak boleh kaget atau malah emosi, ya!" tandas Reygen.


"Iya, aku kan cuma mau ngasih kamu dukungan. Apapun keputusan hakim nanti, insyAllah aku akan siap!" Ayas menatap Reygen, bola matanya sedikit berkaca-kaca karena kesedihan menjelang peesidangan Reygen.


Entah apa yang akan terjadi di persidangan nanti, Ayas hanya bisa berdoa semoga keputusan di persidangan nanti berpihak pada Reygen yang menurutnya tidak bersalah dan hanya membela diri dan keluarganya dari perbuatan Cakra yang dapat mengancam keselamatan Ayas.


Setelah sarapan, Reygen dan Ayas bergegas masuk ke mobil dan membelah jalanan menuju kantor pengadilan negeri dikotanya.


Perjalanan hampir memakan waktu tiga jam, karena macet di perkotaan menuju kantor pengadilan sedikit menghambat perjalanan menjadi semakin lama.


"Sayang, kalau kamu capek tiduran aja!" ucap Reygen sambil menoleh ke arah Ayas yang sedang duduk di samping kursi kemudi.


"Gak apa-apa, Bii." Ayas memegang tangan kiri Reygen yang sedang bertumpu di tual pengatur rem kendaraan.


Reygen menyambut tangan Ayas dan meremasnya perlahan, karena kondisi jalanan macet parah, membuat mereka sedikit bosan. Ayas meminta Reygen untuk menyetel murotal alquran pada aplikasi audio yang ada dalam kendaraan mereka.


Mendengar lantunan ayat suci, Ayas merasa lebih rileks dan perlahan memejamkan kedua matanya. Reygen merentangkan sandaran kursi yang diduduki oleh Ayas agar posisinya lebih nyaman untuk tidur.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam terkena macet, akhirnya dengan merayap kendaraan Reygen sampai di halaman gedung kejaksaan kota.


Sebenarnya Reygen tidak tega untuk membangunkan Ayas, karena ia melihat Ayas sedang tertidur pulas di dalam mobil. Namun, mau tidak mau ia harus tetap membangunkannya karena tidur di dalam mobil dalam keadaan tidak sedang berjalan akan lebih berbahaya.


"Sayang, bangun! kita sudah sampai." Reygen melepas sabuk pengaman yang melintang di tubuh Ayas.


Mendengar suara Reygen dan merasakan sentuhan lembut dipipinya, Ayas pun langsung perlahan membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali.


Cup!


Kecupan lembut mendarat di kening Ayas, membuatnya tersenyum dengan sambutan yang romantis saat bangun tidur.


Reygen memegangi tangan Ayas untuk menuruni mobil, mereka berjalan bergandengan memasuki ruang persidangan.


Reygen sedikit terlambat ke peraidangan karena macet yang begitu parah sehingga membuatnya tak berdaya untuk melajukan kendaraan lebih cepat.


Suasana tegang sangat terasa di ruang persidangan, apalagi Ayas yang baru lertama kali memasuki ruangan seperti ini. Sudah pasti saat ini hatinya dag dig dug tidak karuan menunggu putusan hakim atas kasus suaminya.


Kerena semua sudah hadir, pak hakim pun segera memulai perasidangan atas kasus penganiayaan oleh Reygen dengan tuduhan telah berbuat kekerasan sampaimengalami cacat semi permanen kepada Cakra.


Persidangan pun di mulai, bukti fisik yang di miliki oleh Reygen telah berada di tangan yang berwajib, Cakra tidak tahu kalau Reygen sudah merekam perkataannya yang mengakui bahwa ia telah melakukan kekerasan terhadap Ayas dan berbohong kepada Evelyn.


Doa yang tak henti terpanjat melalui hati Ayas, ia berharap semoga Reygen dinyatakan tidak bersalah dan Cakra mendapat hukuman yang pantas atas perbuatannya.


Cakra memang terobsesi kepada Ayas, tapi hal itu tidak akan pernah dibiarkan oleh Reygen.


Beberapa jam persidangan di gelar, dan hasilnya yang membuat Ayas juga Reygen merasa lega.

__ADS_1


Reygen dinyatakan tidak bersalah karena bukti yang di miliki olehnya cukup membuat Cakra tersudutkan, di tambah oleh beberapa saksi yang dihadirkan oleh pihak Reygen yang menambah Cakra malah semakin diberatkan.


Alhasil Reygen pun bebas dan ibarat senjata makan tuan, Cakra di nyatakan beesalah dan mendapat hikuman penjara selama beberapa tahun.


Perasaan senang, bahagia, juga haru menyeruak di hati pasangan suami istri tersebut, Ayas memeluk Reygen sangat erat setelah hakim memukul palu dan menyatakan Reygen tidak bersalah.


Saat ini Cakra lah yang merasa terguncang, karena tuntutan Rendra malah berbalik kepadanya. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah sakit karena hantaman Reygen beberapa waktu yang lalu kini ia pun harus merasakan mendekam di balik jeruji besi yang dingin.


Reygen mengajak Ayas untuk mampir ke kediamannya yang mewah di kota, ia ingin sejenak menyapa penghuni yang ada di sana.


Hingga malam tiba, Reygen baru sampai di kediamannya. Ia langsung di sambut oleh mang Ozan selaku satpam dirumahnya.


"Selamat malam, Den!" mang Ozan membuka pintu gerbang rumah Reygen setelah ia melihat mobil manikannya melalui kaca pos satpam.


"Malam, Mang Ozan!" Reygen mulai memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Ia memarkirkan mobilnya di dalam garasi yaang tidak kosong ada beberapa kendaraan yang juga sudah terparkir disana, salah satunya mobil yang sering Evelyn gunakan saat ia berkunjung ke sini.


Didalam garasi juga ada motor gede Reygen yang jarang ia gunakan. Sekedar untuk touring saja di saat-saat tertentu.


Reygen dan Ayas memasuki rumah yang memang belum terkunci, di sana hanya ada bi Ipah dan bi Ida, sedangkan sopir pribadi keluarga Reygen sedang tidak ada disana karena memang tidak di minta untuk datang.


Selain mang Ozan disana juga ada mang Dadang, salah satu satpam yang selalu berjaga bergantian dengan mang Ozan.


Selain mereka, sebenarnya masih ada beberapa orang yang bekerja di kediaman Reygen, tetapi saat ini mereka sedang tidak ada di kediaman Reygen karena memang belum terlalu dibutuhkan.


Hal ini yang menyebabkan Reygen ingin membawa Ayas tinggal dirumahnya, karena ketika Ayas di tinggalkan ke kantor oleh Reygen, akan ada banyak orang yang menjaganya. Hal itu akan membuat Reygen lebih tenang pergi ke kantor.


Karena malam sudah semakin larut, akhirnya Reygen memutuskan untuk menginap di kediamannya malam ini, dan Ayas menyetujuinya.

__ADS_1


__ADS_2