
"Nald, gue duduk di belakang, ya!" Reygen membuka pintu belakang mobil Ronald.
"Masa iya, gue jadi supir, Lo?" desah Ronald sambil melirik kepada Reygen yang sudah duduk di kursi belakang bersama Ayas.
"Udah, jalan!" Reygen seperti bos yang menyuruh sopirnya untuk segera melajukan kendaraannya.
"Asem!" decak kesal dari Ronald.
"Muka, Lo, tuh, yang asem!" Reygen merapat ke Ayas dan menyenderkan kepalanya di pundak sang istri.
Ronald bolak balik melihat kaca spion tengah mobilnya untuk melihat pasangan suami istri uwuw yang tengah duduk di belakang kursi kemudi.
"Hah, jadi pengen cepet kawin gue!" Ronald tersenyum kala melihat Reygen bermanja ke Ayas di dalam mobilnya.
"Bukannya, Lo udah sering kawin, Nald?" ledek Reygen kepada sang pengemudi tampan.
"Apa, sih, Lo?" wajah Ronald tampak memerah, walau bagaimanapun, ia masih canggung jika blak-blakkan di depan istri sahabatnya itu.
Ayas hanya tersenyum-senyum tipis mendengar perdebatan antara suami dan sahabatnya tersebut.
"Ay, uu." Reygen memanyunkan bibirnya kepada Ayas.
"Bii, malu sama Ronald!" wajah Ayas menunjuk pemuda yang sedang menyetir di depannya.
"Alah, anggep aja patung!" Reygen melirik sinis kepada Ronald.
"Sue, masa gue di anggep patung? kalo gue patung, Lo udah gue bawa ke surga dari tadi!" Ronald menggerudel.
"Jangan keterlaluan, ah! becandanya." Ayas memukul tangan Reygen yang gentayangan. Reygen terkekeh menahan tawa, sedangkan Ronald hanya mencebik tanpa suara.
***
"Bawa koper Lu, sendiri!" Ronald sudah memberi ultimatum kepada Reygen, saat mereka turun dari mobil.
Pasalnya Ronald tidak mau lagi menjadi kacung seperti saat mereka tiba di panti.
"Tapi, Nald! koper gue kan ada dua, mana gede-gede lagi!" Reygen menatap kedua koper jumbo secara bergantian, "masa, Lo tega biarin istri gue bawa koper segede ini?" Reygen menatap melas kepada Ronald.
"Halah, alasan! tangan Lo kan ada dua, ya jangan di anggurin, lah!" protes Ronald.
"Lo gak liat, sebelah tangan gue udah ada kerjaan?" Reygen segera menggandeng tangan Ayas dengan tangan kanannya.
"Oh, God ... ujian apaan lagi ini? kenapa Kau kirimkan sahabat macam ini padaku? dasar sahabat luknut!" Ronald menarik napas dalam-dalam, dengan terpaksa ia menyeret satu koper Reygen masuk ke dalam lobby apartemennya.
Ronald berjalan mendahului Reygen dan istirnya, sedangkan ayas merutuki Reygen dengan sikap tak berperi kesahabatan pada Ronald.
"Bii, jangan keterlaluan, ih! sama Ronald. Kasian, kan!" Ayas melepaskan gandengan tangan Reygen, ia mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut! atau nanti aku bikin bengkak lagi nih bibirnya." ucap Reygen mengintimidasi.
__ADS_1
"Hubbii ...!" Ayas memukuli tubuh tegap milik suaminya, sedangkan Reygen hanya tertawa dan kembali menggandeng tangan Ayas memasuki lift apartemen Ronald.
***
"Sayang, terima kasih. Kamu sudah menemaniku sampai disini." Reygen mengecup kening Ayas di sofa ruang tamu apartemen Ronald.
Mereka tak menyadari bahwa sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
"Woi, gue bukan nyamuk!" ucap Ronald kesal melihat kemesraan dari pasangan pengantin baru tersebut.
"Maaf!" Ayas menunduk malu, wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Ganggu aja sih, Lo!" Reygen melirik tajam pada Ronald, ia menggapai tangan Ayas dan membawanya ke dalam kamar tamu yang di tempati oleh mereka.
"Dih! dikira apartemen punya dia kali. Bener kata orang, kalau lagi jatuh cinta dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak! padahal yang punya kontrakannya gue, tapi malah gue yang serba salah. Hadeuhh!" Ronald hanya menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
Ronald duduk di sofa dan memainkan game kesukaannya. Seperti itulah kesehariannya jika sedang tidak bekerja atau party bersama sahabatnya.
Sahabat yang kini telah mencoba menempuh jalan yang sedikit lurus dan sedang mengalami masalah karena terganjal restu sang ibu.
"Gak, asik kalo maen sendiri. Mending gue ajak Remon!" Ronald merogoh kantong celana jeans selututnya untuk mengambil ponsel guna menghubungi Remon.
Selang tiga puluh menit, satu sahabatnya telah tiba di apartemen Ronald.
"Nald, ada hal penting apa?" Remon segera bertanya kepada Ronald saat sahabatnya itu membukakan pintu apartemenya.
"Temenin gue maen PS!" jawab Ronald santai.
Padahal saat ini Remon sedang mengerjakan skripsinya yang tak kunjung kelar.
"Gue gabut, nih!" Ronald duduk di lantai beralaskan permadani, ia kembali meraih stik PS nya.
"Lo, tahu kan, kalau gue lagi bikin skripsi?" Remon hanya berdiri dan berkacak pinggang.
"Udah-udah, cepet duduk. Lo mau pake jersey yang mana?" Ronald tak menghiraukan perkataan Remon, ia malah meminta sahabatnya itu memilih club bola yang akan menjadi lawannya.
Dengan kesal, Remon menjatuhkan pantatnya ke atas permadani empuk milik Ronald.
"Kalo gini terus, gimana bisa kelar skripsi gue!" Remon merebut stik yang sedang di pegang oleh Ronald.
"Lo, stik dua!" Ronald tak terima stiknya di rebut Remon.
"Gak mau!" Remon menolak.
"Halah, bocah! kalau gue gak lagi gabut, gak bakalan gue panggil, Lo!" decak kesal dari Ronald.
Akhirnya setelah berdebat, mereka bertanding seru dengan club bola masing-masing pegangannya.
Setelah hampir tiga jam mereka bermain PS, Remon merasa haus dan meminta Ronald mengambilkan minum untuknya.
__ADS_1
"Eh, gue punya vodka sama pod keluaran baru. Lo mau?" tanya Ronald kepada Remon.
"Wah, boleh, tuh!" Remon tampak bersemangat.
Ronald bergegas menuju kamar tidurnya dan mengambil barang baru yang ia maksud, dua pod keluaran teranyar dan vodka mahal yang baru saja ia order dari luar negeri.
Mereka menikmati hisapan demi hisapan melalui selang pod yang menyebabkan kepulan asap bergumul di ruangan tersebut.
Hingga malam tiba, asap dari pod yang mereka hisap sampai hampir memenuhi seluruh ruangan apartemen Ronald. AC telah dimatikan diganti dengan jendela yang sudah terbuka lebar jadi mereka tidak berfikir apapun selain menikmati kesenangan sesaat.
Mata mereka sudah merah menyala karena alkohol tinggi yang mereka minum menyebabkan kesadaran mereka memudar.
***
Ayas yang tengah tertidur, tak sengaja kembali terjaga karena tenggorokannya merasa kering.
Ia duduk dan membangunkan Reygen, karena tidak berani keluar dari kamar sendirian mengingat ini adalah apartemen milik dari sahabat suaminya yang berjenis kelamin laki-laki. Pastinya Ayas merasa sungkan, lebih tepatnya malu.
"Bii!" Ayas mengguncang tubuh Reygen yang terbaring di sampingnya. "Bii, Hubbyyyy!" Ayas melantangkan suaranya, karena Reygen tak kunjung terjaga.
"Hm!" dengan berat, perlahan kelopak mata Reygen mulai terbuka "Apa, Ay?" tanya Reygen dengan suara serak.
"Aku pengen minum. Anter!" rengek Ayas kepada suaminya.
Dengan berat raga, Reygen mencoba bangkit dan duduk. Ia mengucek-ngucek matanya yang terasa perih.
"Biar aku saja yang ambil!" tawar Reygen.
"Ikut!" nada manja yang sulit ditolak oleh Reygen.
"Ayo!" Reygen berjalan dan diikuti oleh Ayas.
Setelah pintu kamar Reygen terbuka, aroma menyengat dari kepulan asap pod hasil kerja kedua sahabatnya telah memenuhi ruangan.
"Eum! bau apa ini, Bii? tanya Ayas.
"Kamu, tunggu dikamar aja ya!" ucap Reygen.
"Nggak mau, pengen ikut!" Ayas merajuk.
Reygen tidak bisa menolak lagi, ia memegangi sebelah tangan Ayas dan menuntuntunya berjalan menuju ruangan tengah yang harus dilewati sebelum tiba di dapur.
Ronald dan Remon sudah tergeletak tak sadarkan diri, mereka mabuk.
"Dasar, gak berubah-berubah, nih, orang!" Reygen tetap melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Ayas merasakan sesak di dadanya dan mulai sulit bernapas. Tangannya mencengkeram lengan Reygen dengan kuat.
Merasa cengkeraman yang kuat dari Ayas, Reygen segera menoleh ke samping dimana Ayas berdiri dan mencengkeram lengannya kuat.
__ADS_1
Ayas mencoba bernapas dengan susah payah, dadanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur dan kakinya lemas.
"Ay, kamu kenapa?" Reygen terlihat panik, ia segera menahan tubuh Ayas yang hampir merosot.