Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 38 : Kejutan


__ADS_3

Ketika cinta sudah berpadu, tak ada lagi kata "aku" atau "kamu" melainkan kata itupun akan menyatu menjadi "kita".


Dua insan berpadu kasih, terbuai alunan melodi, nada indah mengalun lirih, menemani ombak menepikan buih.


Pagi indah di temani senandung burung yang bernyanyi menyambut dua pasang kelopak mata yang baru saja terbuka.


"Hubby, bangun. Kita solat subuh, dan aku akan masak buat sarapan." Ayas mengecup pipi Reygen sekilas.


"Hm, jangan kemana-mana, aku masih ingin memelukmu." Reygen mengeratkan pelukannya.


"Hei, jangan seperti ini, nanti malam juga kita tidur bareng lagi," nada polos terlontar dari mulut Ayas.


"Nanti malam itu masih lama, Sayang ... biar bi Ipah aja yang masak sarapan buat kita." Reygen berkata dengan nada malas, sepertinya ia masih sangat mengantuk.


"Kamu, kan, belum solat, ih!" Ayas memukul manja tangan Reygen, "ayo bangun!" Ayas melepaskan pelukan Reygen dan segera turun dari ranjang untuk mengambil wudhu.


Sampai Ayas selesai solat subuh, Reygen malah kembali tertidur sampai terdengar mendengkur halus.


"Ya ampun!" Ayas menghampiri Reygen dan duduk di tepian ranjang.


Dengan kejahilannya, Ayas meniup telinga Reygen berulang kali sampai suaminya itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengusap telinganya sendiri.


"Hihi." Ayas tertawa geli melihat reaksi Reygen yang menurutnya lucu.


"Hm ...." merasa kenyaman tidurnya terusik, Reygen memaksa ke dua matanya untuk terbuka. Ia mengucek ke dua netranya yang masih terasa berat untuk naik turun.


"Haha." Ayas tertawa lepas melihat reaksi Reygen yang sangat terganggu oleh kejahilannya.


"Ternyata ini ulah kelinciku, ya ... " melihat singa sudah terbangun, Ayas segera menghindar dan berlari keluar kamar tidur.


Reygen tidak ingin berdiam diri, ia segera mengejar Ayas yang tengah kabur dari cengkeramannya.


Setelah beberapa menit mereka berkejar-kejaran seperti tikus dan kucing, seperti anak kecil yang sedang bermain anak kambing dan induk singa, akhirnya Ayas jatuh ke dalam cengkeraman singa jantan.


"Nah, kena kau!" Reygen menangkap tangan Ayas, "mau kemana lagi kelinci nakalku?" setelah Reygen berhasil menangkap tangan Ayas, ia langsung menarik tubuh sintal istrinya menuju dekapan erat sang singa jantan.


"Ih, lepasin. Malu, kan, kalau di lihat orang rumah." mata Ayas melirik ke kanan dan ke kiri.


"Malu? kenapa harus malu? kamu kan istriku," Reygen tidak melepas pelukannya.


"Ih, dasar nakal!" Ayas memukul pelan tangan Reygen, "cepat solat dulu sana, sudah hampir habis waktunya." Ayas berontak untuk melepaskan pelukan Reygen.


Akhirnya Reygen melepas pelukannya.

__ADS_1


"Tapi temani aku solat dan beritahu aku bacaan juga gerakannya, apa kau bersedia?" Reygen menatap hangat pada Ayas.


"Hm," Ayas mengangguk, "Aku bersedia," Ayas tersenyum.


Reygen segera menggandeng tangan Ayas menuju kamar tidurnya.


Setelah Ayas mengajarkan wudhu pada Reygen, ia segera membantu Reygen untuk memberitahu gerakan solat dan bacaannya.


Selesai dengan perannya menjadi seorang guru agama untuk Reygen, Ayas segera bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan.


"Tuhan sangat baik terhadapku, Dia telah mengirimkan seorang bidadari ke kehidupanku. Sampai mati aku ingin terus ada di sampingnya." gumam Reygen sambil ia menatap pintu dimana Ayas baru saja keluar melalui pintu kamarnya.


Sebelum ia mandi, Reygen menyempatkan untuk bermain dengan ponsel pintarnya.


Bermain gadget memang bisa membuat seseorang lupa akan waktu, Ayas sudah kembali dari dapur. Ia hendak menyiapkan pakaian kerja untuk Reygen.


"Ya ampun, kirain sudah mandi ... ini malah mainan HP melulu, ck ... ck ...." Ayas berkacak pinggang di hadapan Reygen.


Sampai saat ini, hanya Ayas yang bisa menjadi pawang cinta dan berhasil menundukkan liarnya sifat Reygen.


Mendengar suara Ayas, Reygen segera mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah suara.


"Hehe, iya ... aku mandi." Reygen meletakkan ponselnya di atas kasur dan ia segera bergegas menuju kamar mandi.


Lalu ia merapikan tempat tidur dan membersihkannya. Ayas tidak mau kamar tidurnya di bersihkan oleh orang lain, ia memilih untuk membersihkannya sendiri karena menurutnya lebih puas kalau kamar tidurnya di tata dan di bersihkan oleh dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit, Reygen telah selesai dengan ritual mandinya, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk dari pusar sampai lutut.


Kulit putih dan dada bidangnya terekspose begitu jelas.


Ayas yang sedang sibuk membersihkan lantai kamarnya menggunakan vacum cleaner tidak mendengar suara langkah kaki Reygen yang berjalan mendekatinya dari belakang.


"Sayang ... hari ini aku tidak ke kantor." Reygen memeluk Ayas dari belakang.


Mendengar perkataan Reygen, Ayas segera melepaskan pelukan Reygen dan membalikkan tubuhnya menghadap pria tampan miliknya.


"Kenapa? apa kamu sakit?" Ayas melepaskan gagang vacum cleaner yang sedang ia pegang, tangannya menyentuh dahi Reygen dan mencoba untuk merasakan suhu tubuh Reygen.


"Aku gak sakit, Sayang ... " Reygen memegangi tangan Ayas yang sedang menempel di keningnya lalu menciuminya bertubi-tubi.


"Terus kenapa tidak ke kantor?" tanya Ayas pada Reygen.


"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat." Reygen memegangi ke dua tangan Ayas.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Ayas penasaran.


"Pokoknya kamu siap-siap saja. Setelah itu kita sarapan dan langsung pergi." Reygen tersenyum dan segera berpakaian.


Ayas mengangguk dan segera bersiap kemudian mereka sarapan bersama di meja makan.


Setelah sarapan pagi selesai, Ayas langsung pergi dengan Reygen. Tadinya Ayas ingin membantu bi Ipah membereskan meja makan dan mencuci piring. Namun, untuk saat ini Reygen melarangnya.


"Memangnya kita mau ke mana, sih? sampai kamu gak masuk ke kantor," pertanyaan Ayas di sela perjalanan mereka.


"Nanti juga kamu tahu." Reygen melirik sekilas pada Ayas dan kembali fokus dengan kemudinya.


Setelah setengah perjalanan akhirnya Ayas bisa menebak tujuan mereka.


"Ini, kan, jalan ke panti ... apa kita mau ...?" Ayas tidak meneruskan perkataannya dan menengok pada Reygen yang sedang fokus di balik kemudinya.


"Betul, kita mau ke Panti." Reygen tersenyum dan mengusap pipi Ayas dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tidak lepas dari kemudi.


Mendengar perkataan Reygen, senyum lebar terukir di bibir seksi milik Ayas.


"Terima kasih," Ayas menatap Reygen dan tersenyum, ia begitu bahagia karena akan main ke Panti.


"Aku ingin selalu membuatmu bahagia." Reygen tersenyum dan mengusap pucuk kepala Ayas dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap berada pada kemudi.


Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di halaman panti, bangunan panti itu sudah berdiri dan terlihat lebih luas dan kokoh.


Kedatangan mereka sudah di ketahui oleh para penghuni panti, Reygen telah menyiapkannya untuk Ayas.


Para penghuni panti serentak keluar dari pintu dan mengucapkan salam penyambutan untuk Ayas.


"Assalamualaikum .... "


Ayas terkejut melihat anak-anak panti dan pengurus panti keluar bersamaan dan mengucapkan salam dengan kompak.


"Hah, Wa-waalaikumussalam." Ayas terbata dalam berkata, ia tersenyum lebar dan segera mencium punggung tangan ibu pengurus panti secara bergantian.


"Nak Ayas, Nak Reygen, ayo masuk," salah satu pengurus panti mempersilakan mereka masuk.


Ayas dan Reygen segera memasuki ruangan di ikuti oleh yang lainnya.


"Silakan duduk, ibu akan membuatkan minum dulu." Bunda Meta undur ke belakang untuk menyiapkan minum.


Raut wajah yang cerah ceria sangat terlihat jelas pada Ayas. Meskipun demikian, tapi Ayas merasa sedikit takut kalau malam ini Reygen meminta haknya sebagai suami, dan dia merasa belum siap menyerahkan raganya untuk lelaki yang baru beberapa minggu menjadi suaminya.

__ADS_1


we will see...


__ADS_2