
Ibu Dahlia, pendiri Panti Asuhan Mutiara Hati telah mendapat surat dari perusahaan pemilik tanah dimana diatasnya telah berdiri Panti Asuhan Mutiara Hati ini selama dua puluh tahun yang lalu.
Yasmine yang mendapat kabar dari pengurus panti lainnya berharap agar penggusuran pada Panti Asuhan yang didirikan oleh orang tuanya tersebut dapat dinegosiasikan kembali.
Mengingat sengketa tanah yang dimenangkan oleh pihak perusahaan tersebut baru beberapa minggu diputuskan oleh Pengadilan.
"Bu, apakah panti ini akan benar-benar digusur?"
Wajah Yasmine tampak sendu, begitupun dengan wajah Ibunya yang bernama Dahlia sang pendiri panti.
"Entahlah Nak, kita hanya bisa berdoa meminta yang terbaik pada Allah."
Aisyah memegang punggung tangan Yasmine dan mengusapnya dengan lembut.
"Sebaiknya kamu segera tidur, nanti kita bahas lagi mengenai masalah ini dengan pengurus panti yang lainnya."
Ibu Dahlia dan Yasmine segera membereskan mukena mereka dan menyimpannya ketempat semula.
Didalam sebuah kamar, Yasmine tampak sedang tidur memiringkan tubuhnya kesebelah kanan. Ia masih memikirkan tentang penggusuran Panti yang akan dilakukan pada bulan-bulan ini.
Yasmine tampak sedih, tetapi masih kuat untuk membendung air matanya agar tak mengalir kepermukaan pipinya yang lembut dan putih mulus itu.
Ia tak bisa membayangkan kalau panti sekaligus tempat tinggalnya sedari kecil akan digusur. Bagaimana dengan nasib anak-anak yang tinggal disana? dan mau kemana Ia dan Ibunya juga semua penghuni Panti akan pindah?
Pertanyaan yang menimbulkan kegelisahan pada Yasmine membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
"Bu, hari ini Ayas mau ke Pemda buat urus Akta kelahiran Mahira."
Ayas adalah nama panggilan Yasmine sehari-hari dilingkungan panti dan Mahira adalah salah satu penghuni baru di Panti Asuhan Mutiara Hati, Mahira bayi yang masih merah itu ditemukan oleh warga dipinggir jalan kemudian diberikan pada panti untuk dirawat setelah mendapat perawatan dari Klinik setempat.
"Iya, tapi kamu harus sarapan dulu."
"Kak Ayas, ayo, sarapan dulu sama kita."
"Iya, Kak Ayas. Temenin kita sarapan dong..."
Anak-anak panti yang masih berusia empat sampai sembilan tahun itu mengajak Yasmine, ada sekitar dua belas anak yang masih menghuni Panti Asuhan Mutiara Hati setelah beberapa anak yang telah berhasil diadopsi oleh beberapa pasang suami istri.
"Iya, Kakak temenin kalian sarapan."
Yasmine tersenyum dan duduk bersama anak panti lainnya yang akan segera sarapan pagi bersama, disana juga ada Mety dan Meta yang mengurus dan mengawasi anak-anak Panti.
Sesekali anak panti yang telah dewasa dan bekerja suka mengunjungi panti ini dan memberikan donasi kepada panti, bahkan ada alumni panti yang sudah menikah dan memiliki anak yang sesekali berkunjung.
Selesai dengan sarapan pagi, Ayas segera berangkat ke Kantor Pemda. Ia telah membuat janji dengan Sarah yang bekerja di Pemerintahan Daerah tersebut, Sarah adalah salah satu alumni panti yang telah bekerja dan memilih untuk kost. Sarah sering membantu pihak Panti ketika mereka mengurus surat-surat penting terkait pencatatan sipil atau kependudukan. Sarah dan Ayas sudah seperti saudara karena mereka dibesarkan di Panti bersama-sama dengan kasih sayang yang tidak dibeda-bedakan.
Jarak dari panti ke kantor Pemda lumayan jauh, area panti memang tak pernah dilalui oleh taxi, Ayas harus naik ojek ke perempatan jalan jika ingin menumpang taxi, jadi ia lebih memilih untuk naik angkutan umum yang banyak melintasi jalan sekitar panti pada jam-jam tertentu.
"Abis...abis...abis...."
Teriakan kenek angkot yang menandakan ujung rute dari angkot yang Ayas tumpangi. Ia harus kembali naik angkot untuk sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Reygen yang sedang duduk didalam kendaraan bersama Ronald melihat Ayas yang sedang berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan umum melintas untuk menyambung perjalannya.
"Nald, Gua turun disini aja."
Reygen menepuk pundak Ronald namun pandangannya masih kepada sosok gadis yang tengah berdiri dipinggir jalan dengan busana muslimah warna biru langit. Perkataan Reygen membuat Ronald mengerutkan keningnya.
"Mau ngapain, Lo turun disini? Lagian tanggung masih jauh kalo jalan kaki."
Ronald hanya memperlambat laju kendaraannya karena akan berbelok menuju kantornya.
"Jangan banyak omong, berenti aja disini."
Wajah sinis Reygen mulai beraksi, membuat Ronald mendengus kasar.
"Serah, Lo aja, lah, yang penting Lo jangan sampe gak kerja nanti gua pecat."
Mata Ronald tak kalah memicing.
"Lo ngancam gua?"
Reygen tak mau kalah menantang Ronald.
Beberapa saat Ronald langsung menghentikan laju kendaraannya dan membiarkan Reygen untuk turun dari mobilnya. Ronald hanya menatap Reygen sambil geleng-geleng kepala dan kembali melajukan kendaraannya menuju kantor.
Reygen segera berjalan menghampiri Ayas yang masih berdiri dibawah pohon untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari yang mulai naik.
Reygen menyapa Ayas dengan senyuman yang manis namun nada dinginnya masih belum berubah, jantungnya sedang berolah raga keras sampai bisa memompa darahnya menuju ubun-ubun dengan sangat cepat.
Ayas menoleh pada sumber suara yang berada disampingnya.
"Iya."
Ayas mengangguk lalu kembali mengedarkan pandangannya ke jalanan yang berada dihadapannya, Ia tak memungkiri sosok pria yang sangat tampan disampingnya, darahnya seolah bergolak membuat wajahnya merona seketika.
"Mau kemana?"
Reygen berdiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kantornya.
"Pemda."
Jawaban singkat Ayas semakin membuat Reygen penasaran.
"Oh...."
Entah Reygen harus berkata apalagi, karena setiap pertanyaannya hanya dijawab seperlunya oleh Ayas yang membuatnya sedikit kikuk, baru kali ini ia merasa tak punya nyali dihadapan seorang wanita. Meskipun ia menolak perasaan itu sekuat tenaga, nyatanya ia tak mampu melawan rasa yang perlahan bersemayam didasar lubuk hatinya dan sangat sulit diusir.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian angkutan umum melintas dan Ayas memberhentikan dengan tangannya yang melambai pada angkutan tersebut.
Setelah mobil angkutan umum itu berhenti, Ayas pun berpamitan pada Reygen.
"Mari, Kak."
Ayas menganggukan kepalanya dan segera menaiki kendaraan umum dan berlalu dari hadapan Reygen.
"Makin penasaran."
Reygen bergumam dalam hatinya.
"Rey, Lo abis ngapain sih?"
Ronald segera menginterogasi Reygen saat Ia tiba dikantor.
"Tadi, gua ada sedikit keperluan."
Reygen tersenyum manis pada Ronald membuat sahabatanya itu bertanya-tanya karena ekspresi dingin Reygen seolah meleleh diselimuti kehangatan.
"Nald, kerjaan gue kan udah rapi, jam makan siang gue pinjem mobil Lu sebentar."
"Lo, mau kemana?"
"Ck, gua ada perlu. Udah gak usah banyak tanya nanti gua anterin dulu Lo ketempat makan."
Reygen tak pernah mau dibantah meskipun posisinya saat ini adalah bawahan Ronald dikantornya.
"Gini, nih, kalo punya bawahan temen sendiri, rese, ngelunjak sama bosnya."
Ronald menggerutu.
"Apa, Lo bilang?" Reygen mendengar gerutuan Ronald yang membuat telinganya gatal.
Ronald hanya pasrah dan menyetujui permintaan Reygen.
Setelah jam makan siang tiba, Reygen segera mengantarkan Ronald kesebuah resto dan meninggalkannya disana, membuat Ronald jengkel namun tak bisa berbuat apa-apa.
Reygen mengarahkan kendaraannya menuju kantor Pemerintahan dimana Ayas sedang mengurusi dokumen untuk anak Panti.
"Kak, masih lama ya prosesnya?"
Ayas sedang bertanya pada seorang Pelayan publik yang tak lain adalah Sarah, seseorang yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Kamu harus sabar, tuh lihat antriannya masih panjang."
Sarah menunjuk dengan dagunya kearah ruangan yang dipenuhi oleh para insan yang tengah menunggu untuk mengurusi berbagai dokumen.
"Ayas lapar Kak."
Ayas mengusap perutnya yang datar sambil sedikit merajuk pada Sarah.
"Yaudah, kita makan dulu disana, kebetulan kakak juga udah jam istirahat."
Sarah yang berseragam formal meninggalkan ruangannya dan menggandeng tangan Ayas menuju sebuah kantin yang tak jauh dari tempat kerja Sarah.
Berjalan menyusuri jalan utama perkantoran yang banyak dilalui kendaraan. Sekitar seratus meter menuju sebuah kantin yang terletak diseberang komplek perkantoran Pencatatan Sipil.
Reygen yang sedang mencari tempat parkir dan berniat untuk mencari sosok gadis yang membuatnya gelisah, tak sengaja melihat sang gadis tengah berjalan dengan seorang wanita yang sebaya dengannya. Ia segera melipirkan kendaraannya dan terus mengawasi kedua gadis itu dari dalam mobil.
Ia membuka pintu kendaraannya dan mulai mengikuti kedua gadis itu sampai pada sebuah kantin yang berada dibelakang sebuah perkantoran.
Reygen segera memesan makanan dan duduk didekat meja kedua gadis itu. Berniat mengawasi dari dekat.
"Kenapa aku sepenasaran ini?"
__ADS_1
Batin Reygen.