Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 49 : Panti


__ADS_3

"Kita, mau kemana, Bii?" tanya Ayas di sela tangisannya.


"Panti!" Reygen menoleh sejenak kepada Ayas.


Ayas hanya menatap sendu wajah suaminya yang sedang fokus melihat jalan. Ia tak menyangka kenapa kebahagiaannya begitu cepat berlalu, sampai ia tak sempat menyiapkan mentalnya untuk menghadapi semua ini.


***


Mobil Reygen pun sampai di halaman panti. Ayas menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Sejenak memersiapkan diri untuk tetap tenang di hadapan para penghuni panti.


Reygen memegang tangan Ayas dan berkata "Kita akan hadapi ini semua bersama." Reygen membuka pintu mobilnya lalu turun dan memutari body mobilnya untuk membukakan pintu buat Ayas.


Reygen dan Ayas berjalan bergandengan, mereka menutupi perasaan sedih dalam hati dengan tersenyum dan tetap elegant.


Meta yang sedang bermain menemani Alif di halaman depan panti, melihat Reygen dan Ayas. Ia segera menyambut keduanya dengan hangat dan senyuman.


"Ayas, Reygen!" Meta menghampiri keduanya yang sudah berdiri di dekatnya.


"Assalamualaikum! Bunda Meta, apa kabar?" Ayas meraih tangan Meta dan mencium punggung tangannya dengan sopan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Reygen kepada Meta.


"Waalaikumussalam, kabar baik. Ayo masuk!" Meta mengajak Ayas dan Reygen untuk masuk, "silakan duduk!" tangan Meta menunjuk sofa yang ada di ruang depan.


Ayas dan Reygen duduk berdampingan.


"Sebentar, ya, bunda ambilkan minum buat kalian!" Meta undur ke belakang untuk mengambilkan minum.


Ayas menatap kosong ke depan. Melihat sang istri begitu sedih, Reygen menggenggam tangan Ayas erat. "Sabar, Sayang! kita sedang di uji!" Reygen menatap Ayas lekat-lekat, mencoba memberikan kekuatan kepada bidadarinya yang kini sedang rapuh. Namun, tak mengeluh.


Reygen yang lebih tua usianya dari Ayas memang sangat menunjukkan perannya sebagai orang yang lebih bisa menyikapi sesuatu dengan dewasa.


Ia tidak hanya bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Ayas, tapi bagi Ayas ia adalah segalanya mulai dari seorang ayah yang selalu melindunginya, seorang teman yang selalu mengusir rasa sepinya, bahkan seorang yang menyebalkan dan selalu membuatnya geregetan.


"Diminum dulu tehnya," Meta meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja.


"Terima kasih, Bunda," Ayas tersenyum dibalik luka yang ia derita.


"Omong-omong, kalian sengaja kesini atau kebetulan sedang melintas saja?" tanya Meta, membuat Ayas bingung menjawabnya.

__ADS_1


"Kami sengaja kemari, Bunda. Ayas ingin menginap disini katanya." Reygen menjawab pertanyaan Meta. Ia paham bahwa istrinya saat ini sedang dihadapkan dengan sesuatu yang sangat membuatnya galau.


"Oh, kalau begitu kalian menginap saja beberapa hari disini," tawar Meta kepada Ayas dan Reygen.


"Iya, Bunda. Niat kami juga seperti itu." Ayas tersenyum getir. Meta mengangguk dan tersenyum.


"Ayo, diminum dulu tehnya, kalian pasti haus," Meta menunjuk teh dengan tangannya.


Ayas dan Reygen mengangguk dan mengangkat secangkir teh hangat dari atas meja, kemudian menyesapnya.


Melihat Ayas begitu lesu, Meta segera menunjukkan kamar untuk beristirahat kepada Reygen dan Ayas.


"Sepertinya kalian sangat lelah. Mari, Bunda antarkan ke kamar kalian!" Meta bangkit untuk menunjukkan kamar Reygen dan Ayas.


Semenjak panti ini kembali di bangun, Reygen sengaja meminta arsitek untuk membuatkan kamar khusus untuk mereka. Kamar yang berbeda dengan yang lainnya, terdapat kamar mandi sendiri di dalam kamar tersebut.


Tak ada yang berani masuk ke dalam kamar tersebut selain untuk di bersihkan sendiri oleh bunda Meta atau bunda Mety, karena Reygen sudah berpesan kepada keduanya.


***


Setelah menunjukkan kamar untuk mereka berdua, Meta segera meninggalkan Ayas dan Reygen di dalam kamar mereka berdua.


Ayas tak tahan menumpahkan air matanya dan menangis dalam pelukan Reygen. Pria ini tidak tahu harus berbuat apa, ia tak berdaya ketika melihat Ayas sesedih ini.


"Sayang, maafkan aku. Maafkan atas kelalaianku, sehingga membuat pernikahan kita seperti ini," ucap sesal Reygen kepada dirinya sendiri.


Ia merasa sangat bersalah karena tindakannya yang ceroboh membuat pernikahan mereka kini mendapat tentangan dari Evelyn.


Namun, Reygen pun tak menyangkal, meskipun ia meminta izin dahulu kepada Evelyn, itu tak akan merubah keadaan. Sang Momy pasti tidak akan merestui pernikahannya dengan Ayas yang hanya dari kalangan masyarakat biasa yang sangat sederhana.


"Bii, jika seperti ini, apa kamu akan tetap mempertahankan pernikahan kita?" wajah Ayas mendongak, menatap sendu ke wajah Reygen.


"Kau ini bicara apa, Ay? tentu aku akan memperjuangkan pernikahan kita sampai di ujung nyawa," jawab Reygen tanpa ragu.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Bii? apa kita akan tinggal disini? kita tidak akan bisa menjalani rumah tangga dengan tenang, kalau tidak mendapat restu dari orang tuamu, Bii." tanya Ayas dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Aku sedang memikirkannya," Reygen mengecup pucuk kepala Ayas, dan membawa kepala istrinya ke dada, "lebih baik sekarang kamu istirahat saja, karena pasti kamu lelah setelah perjalanan jauh. Biarkan ini menjadi urusanku." Reygen melepas pelukannya.

__ADS_1


Reygen membantu Ayas merebahkan tubuhnya, Reygen mengamparkan tangannya untuk menjadi bantalan kepala Ayas.


Kesedihan yang tidak bisa dibendung lagi, Ayas meneteskan air matanya. Di satu sisi ia merasa sangat sedih karena pernikahannya belum memiliki restu, disisi lain ia merasa sangat beruntung karena bisa memiliki suami seperti Reygen.


"Bii, nanti antar aku ke makam bunda, ya! aku kangen bunda ... hiks, hiks," tangisnya pecah dalam dekapan suaminya.


"Sudah, jangan nangis. Besok aku antar ke makan bunda." Reygen mengusap air mata yang mentes di pipi Ayas.


Karena merasa sangat lelah, Ayas pun tertidur dengan pipi yang basah. Reygen membiarkan Ayas pulas dalam dekapannya, setelah napas Ayas mulai teratur yang menandakan ia telah terlelap, Reygen perlahan menggeser tangan yang di jadikan bantal oleh kepala Ayas. Ia meninggalkan sang istri untuk sebuah urusan.


***


"Bunda, tolong jaga Ayas. Saya ada urusan sebentar." Reygen meminta Meta untuk menjaga Ayas.


Ia langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan panti.


"Ada apa ini? kenapa Ayas dan Reygen seperti sedang menyembunyikan sesuatu?" gumam Meta.


Tidak ingin berpikiran macam-macam, Meta melanjutkan kegiatannya ia mengajak anak panti untuk segera mandi karena hari sudah beranjak senja.


***


Hingga senja tiba, Ayas terjaga dari lelapnya. Ia mengerjapkan kedua matanya dan meraba sisi tubuhnya, tak ia dapati suaminya disana.


"Bii ... " Ayas duduk mencari sosok Reygen tidak ada di dalam kamarnya.


Ayas mencari ke kamar mandi, tapi tetap tidak menemukan sosok yang ia cari. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menanyakan kepada Meta.


"Bunda Meta, apakah melihat suamiku?" Ayas bertanya kepada Meta yang sedang merapikan tempat tidur anak panti.


"Oh! tadi, nak Reygen pamit keluar sebentar katanya. Dia meminta Bunda buat jagain kamu." jawab Meta menyampaikan apa yang dikatan oleh Reygen kepadanya.


"Bunda, apa dia bilang mau pergi kemana?" Ayas kembali bertanya kepada Meta.


"Hm, tadi nak Reygen tidak bilang mau kemana-nya sih. Dia cuma bilang mau pergi sebentar. Itu saja." jawab Meta menambahkan.


"Oh, ya sudah. Terima kasih, Bun!" Ayas kembali ke kamarnya. Ia duduk sambil memegangi tepian ranjang.

__ADS_1


"Mau kemana dia?" Ayas bertanya kepada dirinya sendiri dengan wajah terlihat cemas.


__ADS_2