
"Bagaimana makanannya? enak?" tanya Reygen disela makan siang mereka.
"Hm, enak!" jawab Ayas yang masih mengunyah makanannya.
"Setelah ini, Kamu mau aku antar kemana?" tanya Reygen kembali.
"Aku capek banget, Ay!" Ayas membersihkan makanan yang hanya tersisa satu suap di atas piringnya.
Mendengar ujung perkataan Ayas, Reygen mengernyitkan keningnya.
"Ay? apa itu, Ay?" tanya Reygen, ia manatap penuh rasa penasaran kepada Ayas yang sedang menyeruput minumannya.
"Ayang! hehe!" Ayas nyengir kuda tidak jelas, membuat Reygen tertawa geli.
"Baiklah, Ay! setelah ini kita balik dulu untuk beristirahat. Nanti sore, baru kita jalan-jalan." Reygen menyeruput minumannya.
Tanpa mereka sadari, sepasang iris mata sedang mengintai mereka dari kejauhan, sorot mata yang penuh luka dan murka, amarah terlihat pada kedua tangannya yang mengepal dan giginya yang menggeretak.
"Kali ini kau akan kalah, Rey! jika aku tidak bisa mendapatkan Ayas, maka siapapun tidak akan bisa!" gumam sang pengintai menatap tajam pada Reygen dan Ayas.
***
Sesampainya di dalam villa, Ayas langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Perjalanan yang cukup jauh di tempuh menggunakan transportasi darat dan udara membuatnya sangat kelelahan.
Baru beberapa menit saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, suara napas Ayas sudah teratur, menandakan sang gadis sudah tertidur pulas.
"Sepertinya kamu sangat lelah!" Reygen melepas jilbab yang masih menutupi rambut Ayas.
Dibelainya rambut hitam nan panjang itu oleh Reygen dengan lembut, tatapannya hangat bak mentari pagi yang memberi semangat.
Reygen merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Ayas, seandainya ia tidak bertemu dengan istrinya sampai saat ini, mungkin Reygen masih terjerembab ke dalam lembah hitam kehidupan.
Satu jam berlalu,
Ayas mulai membuka matanya perlahan, dan mencoba memperjelas penglihatannya. Bola matanya mengedar ke seluruh penjuru kamar, dilihatnya Reygen sedang berada di depan jendela yang sudah terbuka, ia menatap keluar melalui jendela dengan kedua tangan yang melipat di depan dada bidangnya.
"Bhie! lagi ngapain?" tanya Ayas dengan suara khas bangun tidur.
Mendengar suara Ayas, Reygen langsung membalikkan tubuhnya menghadap tempat tidur dimana Ayas masih terduduk disana.
Reygen berjalan mendekati tempat tidur, lalu ia duduk di tepi ranjang dan menatap Ayas dengan senyuman.
__ADS_1
"Sudah hilang capeknya?" tanya Reygen kepada Ayas, wajahnya sangat teduh sampai Ayas merasa adem di dekatnya.
"Hm," Ayas menganggukkan kepala.
Reygen menyibak rambut Ayas yang tergerai menutupi sebagian wajahnya, ia menyelipkan rambut Ayas ke daun telinganya.
Wajah Reygen mulai mendekat dan menyatukan keningnya dengan kening Ayas.
"Mau jalan-jalan gak?" tanya Reygen yang masih menempelkan keningnya di kening Ayas, nafasnya menerpa wajah Ayas sampai membuat bulu romanya meremang.
Ayas salah tingkah dan memalingkan wajahnya untuk menghindari wajah Reygen yang hampir menempel dengan wajahnya.
"Aku mandi dulu!" Ayas langsung turun dan berlari ke kamar mandi.
Setelah melepas pakaiannya, ia segera membasahi tubuhnya dengan guyuran air melalui shower.
Setelah hampir dua puluh menit ia mendekam di dalam kamar mandi, ia lupa tidak membawa pakaian ganti. Hanya handuk pendek yang ada di dalam kamar mandi menjadi penutup tubuhnya saat ini.
Ayas membuka sedikit pintu kamar mandi, ia mengeluarkan kepalanya dan berteriak kepada Reygen "Bhie! Tolong ambilkan bajuku di lemari!" Tubuhnya hanya berselimut handuk yang menutupi bagian tubuh vitalnya saja dari atas dada sampai atas lutut.
Mendengar teriakan dari Ayas, Reygen segera melaksanakan titah sang permaisuri untuk mengambil bajunya di dalam lemari.
Namun, namanya lelaki disuruh ambil baju, ya cuma baju saja tidak berikut ****** ***** atau apalah perintilannya.
"Lebih kesini lagi, aku gak sampe!" Ayas mencoba meraih baju dari tangan Reygen, tapi tidak sampai.
Reygen menarik napas, ia mendekati Ayas tidak tanggung-tanggung dan malah menerobos memasuki kamar mandi.
Melihat Ayas yang hanya berbalut handuk setengah dada sampai bawah bokong saja, Reygen hanya bisa meneguk salivanya dengan susah payah.
Glek!
Jakun Reygen turun perlahan, matanya menatap Ayas seolah sedang kehausan ingin segera meneguk madu yang manis dari gadis tersebut.
"Sabar, Rey... dia belum siap!" Hati dan logika Reygen sedang berperang saat ini antara langsung menerkam, atau menunggu malam.
"Ih! ngapain masuk? cepet keluar! Aku malu!" decak Ayas sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ini!" Reygen memberikan baju Ayas "tadi katanya aku disuruh lebih dekat, tapi malah ditanya ngapain masuk? dasar wanita!" Reygen mendengkus, ia tidak bisa mengerti sifat wanita lebih dalam.
Reygen langsung keluar dari kamar mandi dan menahan hasratnya yang sudah ada di ubun-ubun.
__ADS_1
"Aku 'kan nyuruhnya mendekat saja, kenapa dia malah ikutan masuk ke dalam kamar mandi? dasar lelaki!" decak Ayas dengan pikiran polosnya.
***
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Ayas dan Reygen sudah puas berjalan-jalan untuk hari ini, Reygen segera membersihkan diri di kamar mandi.
Ayas mengantri di belakang, setelah Reygen selesai mandi, Ayas bergantian membersikan diri di kamar mandi.
Reygen bersiap untuk melakukan sholat pengantin, ia telah menggunakan baju koko lengkap dengan sarungnya.
Perfect!
Tubuh tegap berbalut baju koko warna putih dan sarung polos berwarna hitam membuat kesan dewa tampan yang sudah insyaf.
Ayas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah habis keramas, melihat Reygen sedang sujud diatas sajadah.
"Dia lagi solat apa? bukannya tadi sudah solat isya?" tanya Ayas kepada dirinya sendiri sambil menatap Reygen yang sedang menyelesaikan solatnya. "Apa jangan-jangan?" sambung Ayas cemas.
"Aduh! mending aku pura-pura tidur saja deh!" Ayas berjalan mengendap-endap menuju tempat tidur, ia menutupi tubuhnya dengan selimut sampai menyisakan ujung kepala saja.
Entah kenapa tubuh Ayas sangat tegang, jantungnya dag dig dug tidak karuan seperti mau keluar dari tempatnya.
Ia menurunkan selimutnya dan mengintip Reygen yang sudah selesai dengan ritualnya.
"Dia kesini lagi!" Ayas melihat Reygen berjalan mendekatinya. Ayas kembali menarik selimutnya lagi, tapi ia merasa selimutnya tersangkut sampai susah untuk di tarik keatas menutupi kepalanya.
"Ih! ih! nyangkut apa nih selimut, gak mau naik!" Ayas menarik-narik selimut yang sedang di tahan oleh Reygen.
"Iya, selimutnya nyangkut di tangan aku!" Reygen menarik selimut Ayas dan melemparnya kesembarang arah.
Ayas melotot dan mulutnya menganga, ia begitu gugup dan salah tingkah.
"Mmm, aku ... eu ...." Ayas tersenyum kikuk dan tengok kanan kiri tidak jelas.
"Apa? tadi aku sudah sholat pengantin dan mendoakanmu!" Reygen menatap Ayas penuh tantangan.
"Oh!" Ayas membulatkan bibinya dan memegang tengkuk lehernya sendiri, ia seperti sedang bertemu dengan setan saja, sampai bulu kuduknya berdiri semua.
Tubuhnya mulai panas dingin setelah Reygen mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas.
"Aku sudah memenangkan tantanganmu! jadi ...." jemari Reygen mengusap wajah Ayas dengan lembut, dia berbisik dekat telinga Ayas, "sekarang aku bisa memilikimu seutuhnya bukan?" tanya Reygen sambil menyatukan keningnya dengan kening Ayas.
__ADS_1
Reygen mengalihkan wajahnya ke samping wajah Ayas dan kembali berbisik di telinga sang gadis, "Jangan takut, aku akan melakukannya pelan-pelan!" Reygen meniup telinga Ayas pelan namun cukup lama, sampai Ayas bergidik panas dingin.
Bersambung ... 😊