
Setelah keluar dari rumah sakit, Evelyn tidak langsung pulang. Ia akan segera menemui Rendra untuk mencabut tuntutannya terhadap Reygen.
Evelyn adalah seorang wanita yang tegas dengan pendiriannya dan tidak suka menunda suatu urusan. Ia akan segera melakukan apapun yang ia inginkan tanpa menunggu nanti.
Evelyn segera menghubungi Rendra untuk meminta bertemu, tetapi saat ini Rendra sedang sibuk dengan klien di perusahaannya. Ia juga bilang jika kasus ini telah di tangani oleh kakak iparnya yang notabene seorang pejabat hukum.
Oleh karena itu, Rendra tidak bisa mencabut tuntutannya. Apalagi kakak ipar Rendra yang memang seorang aparatur hukum, membuat Rendra tidak bisa berbuat apa-apa.
Reygen bisa mengajukan banding dan meminimalkan hukumannya, pengacara terbaik pun akan di gandeng oleh Evelyn untuk membantu Reygen dalam kasusnya.
***
"Cakra, aku akan menuntutmu balik atas kasus kecelakaan dan gugurnya calon anakku atas kelakuanmu." Reygen menatap tajam kepada Cakra sebelum ia meninggalkannya di dalam ruangan sendirian.
Dengan gagah Reygen berjalan keluar ruangan dimana Cakra di rawat. Ia berniat untuk segera pulang menemui istrinya di rumah dan memberikan kabar baik kalau saat ini Evelyn telah merestui pernikahan mereka.
Setelah melewati beberapa lorong rumah sakit, Reygen langsung menuju tempat parkir dimana mobil Remon yang masih terparkir disana.
Ia membuka pintu mobil sedan mewah milik Remon, tetapi baru saja ia hendak menyalakan mesin mobil, terdengar suara dering ponselnya yang membuat Reygen menghentikan sejenak aktivitas menyetrinya.
Ia merogoh ponsel yang ada di dalam saku celana panjangnya, gegas Reygen melihat siapa yang meneleponnya. Ia khawatir kalau Ayas yang menelepon, karena sudah dari kemarin ia meninggalkan istrinya tersebut.
Nama 'Momy' terpampang di layar ponsel pintar yang berbentuk pipih miliknya. Reygen segera menyentuh tanda hijau untuk menerima panggilan dari Evelyn.
Beberapa saat Reygen hanya terdiam mendengarkan suara Evelyn dari ujung sambungan, hingga akhirnya ia berkata "oke" sebelum menutup percakapannya dengan Evelyn.
Reygen kembali menyalakan mesin mobil dan melesat meninggalkan area parkir rumah sakit. Ia akan melajukan kendaraannya melalui kediaman keluarganya yang telah ia tinggalkan.
Tidak ingin membuat Ayas khawatir, Reygen pun menghubungi Ayas melalui ponselnya. Ia memberi kabar gembira kepada Ayas mengenai restu yang telah di peroleh dari ibu mertuanya tersebut.
Reygen terlihat sangat bahagia ketika berbicara melalui sambungan seluler dari ponselnya, hal itu bisa di pastikan karena Ayas pun sangat gembira mendengar kabar dari Reygen.
__ADS_1
Ia juga memberitahu Ayas kalau saat ini belum bisa langsung pulang karena masih ada urusan lain.
Ayas pun mempermasalahkan kalau Reygen akan terlambat pulang, yang penting saat ini adalah Ayas sudah merasa lebih tenang karena kedua mertuanya sudah merestui pernikahan mereka.
Ia hanya berdoa semoga apapun urusan yang sedang di tangani oleh Reygen selalu mendapat kemudahan dalam penyelesaiannya dan tak lupa Ayas selalu berdoa untuk keselamatan suaminya itu.
***
Setelah mendengar kabar gembira dari Reygen, Ayas pun akan segera memberitahu ketiga sahabatnya mengenai kabar gembira ini.
Ayas menghampiri Sarah yang sudah bersiap untuk pulang ke kostannya, karena hari ini hari libur ia terlihat santai dan tidak terburu-buru untuk pulang.
Ayas duduk di tepi ranjang dalam kamar yang ditempati oleh Sarah.
"Kak, tinggallah disini sebentar lagi. Karena suamiku juga belum akan cepat-cepat pulang." ucap Ayas sambil melihat Sarah yang sedang memasukkan kosmetiknya kedalam tas.
"Apa Reygen masih ada urusan?" tanya Sarah sambil tetap merapikan barang-barangnya.
Sarah duduk di samping Ayas,
"Baiklah, Kakak akan menunda kepulangan. Jika Reygen sudah bisa balik, baru Kakak akan pulang." Sarah memegang tangan Ayas.
"Makasih, ya Kak!" Ayas tersenyum dan menatap Sarah.
"Iya, jangan sungkan. Karena aku hanya memilikimu sebagai satu-satunya saudariku. Jika kau butuh bantuan apapun selama aku bisa membantu jangan ragu untuk mengatakannya, oke!" ucap Sarah juga tersenyum.
Seperti halnya Sarah yang akan lebih lama lagi di rumah Ayas, tampaknya Ronald dan Remon pun masih asik bermain dengan gadgetnya di halaman belakang rumah Ayas. Suasana asri dan rindangnya pepohonan membuat suasana terasa sejuk dan tidak bising karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat Ronald dan Remon betah disana.
Ayas dan Sarah menemui Ronald dan Remon yang sedang santai di bale(tempat duduk panjang terbuat dari bambu yang sudah di raut dan memiliki dua sandaran di ujungnya) di belakang rumah Ayas. Dua buah Bale yang terletak di bawah pohon mangga tersebut membuat siapa saja yang ada di sana merasa nyaman dan betah berlama-lama.
"Hei, lagi ngapain kalian?" tanya Sarah kepada Remon dan Ronald, lantas ia dan Ayas duduk di bale yang satunya.
__ADS_1
Kedua pemuda yang sedang asik bermain gadet pun menoleh,
"Eh, Sar." Ronald segera menghentikan permainan pada gadgetnya dan segera memasukkan gadget berupa ponsel itu ke dalam saku celananya.
Berbeda dengan Ronald yang langsung menstop game nya, Remon masih saja fokus dengan game yang ada pada ponselnya.
"Aku mau kasih kabar gembira, nih!" ucap Ayas tiba-tiba.
"Kabar gembira? apa itu?" tanya Ronald penasaran.
"Alhamdulillah, meetuaku sudah merestui pernikahan kami." ucap Ayas gembira seraya menyunggingkan bibirnya untuk yersenyum lebar.
"Alhamdulillah, syukurlah. Selamat, ya, Dek!" ucap Sarah ikut gembira.
"Akhirnya perjuangan kalian gak sia-sia ya, Yas." ucap Ronald juga merasa senang mendengar kabar dari Ayas.
"Eh, gimana kalo kita rayain dengan bakar-bakar ikan disini? tempatnya enak banget tahu kalo buat acara barbeque." Remon menyambar, ternyata dia juga mendengar ucapan Ayas.
"Boleh, tuh! gimana nih yang punya rumah setuju gak?" tanya Ronald bersemangat.
"Hm, bukannya aku gak mau, tapi nanti kita tunggu suamiku pulang dulu aja, ya? soalnya aku juga belum bisa tenang sepenuhnya kalau suamiku masih belum selesai dengan urusannya." ucap Ayas dengan wajah polosnya.
"Iya, Nald. Kasian juga Reygen masa gak ikutan barbeque sevara ini rumahnya juga." Sarah menimpali ucapan Ayas.
"Ya maksud gue juga gitu keles, kita nunggu Reygen pulang dulu baru kita bikin acara gitu!" ucap Ronald menjelaskan maksudnya.
"Oh, kalau gitu ya udah. Oke!" tutur Sarah.
Ayas berpamitan karena akan memasak untuk makan siang, Sarah menawarkan diri untuk membantu Ayas memasak di dapur.
Karena persediaan bahan makanan di dalam lemari es sudah menipis bahkan sudah banyak yang habis, akhirnya Ayas dan Sarah pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur diantar oleh Ronald menggunakan mobilnya.
__ADS_1
Remon tidak ingin ditinggal sendiri dirumah, akhirnya mereka ber empat pergi kepasar untuk mengantar Ayas belanja.