
"Aku harus menemui wanita itu," gumam Reygen.
Akhirnya sebelum Ia ke kantor, Reygen menyempatkan diri untuk menemui Sarah--saudara angkat Ayas--yang bekerja di kantor Pemerintahan Daerah. Berbekal pertemuannya yang hanya satu kali saja ketika makan di kantin. Reygen berniat akan menemui Sarah untuk menjelaskan kejadian sebenarnya mengenai penggusuran panti.
Satu jam Reygen menunggu dan mengamati setiap Pegawai Sipil yang ada di dalam kantor, akhirnya ia melihat Sarah yang sedang melayani para pengunjung untuk mengurusi dokumen kependudukan.
"Itu dia,"
Reygen tersenyum lega setelah melihat Sarah dan Ia segera menghampiri wanita yang hanya dua tahun usianya di atas Ayas. Pria itu memang memiliki daya ingat luar biasa.
"Selamat pagi,"
Reygen menyapa Sarah disebuah loket pelayanan nomor dua.
"Pagi Kak, ada yang bisa saya bantu?"
Sarah melayani Reygen layaknya para pengunjung yang lain.
"Kamu ... salah satu anak Panti Mutiara Hati kan?"
Tanpa basa-basi dan memang tak suka basa-basi bahkan tidak tahu caranya basa-basi Reygen pun langsung menodong Sarah dengan pertanyaan yang membuat wanita cantik itu mengerutkan kening dan menatap Reygen dengan sinis.
"Apa maksud Anda?"
Sarah tampak tidak suka dengan pertanyaan menohok dari Reygen.
"Maaf, maksudku begini. Kamu kenalkan dengan gadis ini?"
Reygen menunjukkan foto Ayas ketika ia ada di rumah Reygen, Reygen sengaja mengambil foto Ayas diam-diam dengan ponselnya.
Meskipun sudah beberapa kali Reygen dan Ayas bertemu, namun sampai saat ini Reygen tidak mengetahui nama Ayas karena mereka tidak pernah berkenalan.
Sarah tampak mengamati foto Ayas yang menggunakan gamis warna putih yang di berikan Reygen padanya ketika Ayas basah kuyup karena tercebur ke kolam renang di rumah Reygen.
"Dari mana anda dapat foto adik saya?"
Sarah tampak keheranan karena foto Ayas berada di galeri ponsel pria tampan yang sama sekali tidak ia kenal. Setahu Sarah, Ayas tidak memiliki teman dekat seorang laki-laki.
"Hm, beberapa minggu yang lalu adik anda mendatangi rumah saya dan marah-marah tidak jelas. Sebenarnya saya bisa saja melaporkannya atas tindakan tidak menyenangkan dan mengusik ketenangan hidup saya,"
Perkataan mereka sangat formal karena bahasa baku Sarah yang memang seperti itu saat melayani para penduduk untuk mengurusi dokumen.
"Ke rumah anda?"
Sarah mengerutkan keningnya dan menatap heran pada Reygen.
"Iya, dia marah-marah karena kesalah pahaman. Kalau ada waktu, jam makan siang kita bicarakan masalah ini, mengenai penggusuran panti."
Reygen memberikan kartu namanya pada Sarah dan di sana tertera no ponsel dan WA Reygen.
Sarah pun menerima kartu nama dari Reygen, ia segera membaca nama yang tertera pada kartu nama tersebut.
"Reygen Scalfh."
Gumam Sarah dan segera Ia mengingat perkataan Ayas mengenai penggusuran panti yang dilakukan oleh Perusahaan Scalfh, "Ohh, jadi anda pemilik perusahaan yang belum lama ini menggusur panti?"
Wajah Sarah berubah menjadi merah karena menahan amarah.
"Sudah saya bilang ini salah paham, untuk itu saya mengajak anda untuk membicarakan masalah ini. hubungi saya kalau anda bersedia."
Reygen segera meninggalkan kantor Sarah dan menuju parkiran mobilnya.
__ADS_1
Sarah masih seperti tidak mengerti dengan apa yang baru saja Reygen bicarakan karena dia dan Ayas terus mengira bahwa pastinya keluarga Scalfh dan salah satunya tentu saja Reygen yang telah menggusur panti karena memang hak kepemilikan tanah sengketa tersebut sudah diputuskan oleh pengadilan dan jatuh pada Perusahaan Scalfh.
Sementara Ayas saat ini tengah mengunjungi anak-anak panti yang ada disebuah Penampungan Dinas Sosial.
"Kakak... kapan kita balik lagi ke Panti?"
"Iya, Kak, aku gak betah tinggal di sini. pengen ke panti lagi."
"Kak, kita akan balik lagi ke panti, kan?"
Rengekan anak-anak Panti yang usianya masih sekitar 4-7 tahun tersebut membuat hati Ayas semakin terenyuh, air matanya tak terasa menetes bulir demi bulir membasahi pipi mulusnya. Ayas segera menyeka air matanya karena Ia tak ingin menampakkan kesedihan hatinya pada anak-anak yang sudah dianggap adik sendiri oleh Ayas.
"Iya, sayang, kita akan ke panti lagi. Tapi kalian harus bersabar karena pantinya belum di bangun lagi."
Entah harus berkata apa, yang jelas saat ini Ayas hanya ingin menenangkan adik-adik pantinya agar tidak bersedih.
" Kenapa, sih, panti kita di rusakin, Kak?"
Tanya polos seorang anak perempuan yang berusia lima tahun, Ayas pun tersenyum meski di hatinya ia tengah menangis pilu.
Ayas terpaksa berbohong, karena ia memang bertekad untuk segera mencari pekerjaan dan akan membeli tanah untuk di bangun panti lagi.
Entah itu dimana lokasinya yang jelas Ayas ingin mendirikan panti seperti orang tuanya dahulu dengan hasil keringatnya sendiri.
"Eh, iya. Kalian sudah makan belum?"
Ayas memeluk salah satu anak Panti yang usianya paling muda yaitu 4 tahun.
Semua anak Panti yang berjumlah lima orang itu di tampung di salah satu rumah penampungan milik Dinas Sosial dan lima orang telah berada di pesantren karena usianya sudah akan menginjak Sekolah Menengah Pertama, sedangkan dua lagi ikut dengan masing-masing pengurus Panti.
Si bayi mungil di bawa oleh Meta ke rumah mertuanya, sedangkan Mety membantu mengurusi anak panti di dians sosial.
"Belum, Kak,"
Mereka kompak menggelengkan kepala.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Petugas Dinas Sosial memanggil mereka untuk makan siang.
"Anak-anak, ayo kita makan dulu."
ajak salah seorang petugas kepada anak-anak yang berada di penampungan tersebut.
Ayas tersenyum pada mereka.
"Tuh, udah dipanggil buat makan... ayo, makan dulu sana."
Ayas meminta mereka untuk segera menghampiri petugas yang sedang membagikan nasi kotak pada anak-anak yang lain.
Namun, anak-anak panti seolah bersedih dan tidak langsung menghampiri petugas.
"Hei, kalian kenapa? kok cemberut gitu disuruh makan?"
Ayas mencoba membujuk anak-anak agar mereka mau makan bersama anak-anak penampungan yang lain.
"Kakak ikut makan sama kami ya?" rengek salah satu anak.
"Iya, Kak, temenin kita makan ya. Kan udah lama kita gak makan bareng," senyum tulus dari Raka, bocah berusia 5 tahun.
Ucapan mereka semakin membuat Ayas termehek-mehek.
"Baiklah, kakak akan coba bicara sama petugas, ya,"
Ayas pun segera menghampiri Petugas Dinas Sosial yang masih membagikan makanan nasi kotak pada sebagian anak.
Setelah berbicara pada petugas akhirnya Ayas diizinkan untuk menemani anak-anak panti makan siang dan Ayas pun diberikan satu kotak nasi oleh petugas.
"Terima kasih, Pak."
Ayas segera kembali menghampiri anak-anak dan membawa nasi kotak untuk mereka yang telah diberikan oleh petugas, dan mereka pun makan bersama dengan wajah yang ceria.
"Jadi apa maksud anda dengan salah paham mengenai penggusuran panti?"
__ADS_1
Sarah menemui Reygen di salah satu rumah makan dekat dengan kantornya, karena Sarah tidak memiliki waktu banyak untuk jam makan siangnya, sedangkan Reygen sebagai pemilik perusahaan bisa dengan sesuka hatinya kembali ke Kantor.
Reygen tak langsung menjawab pertanyaan dari Sarah, namun ia memanggil pramusaji dan memesan makanan untuk mereka berdua. Sarah yang sempat terpesona dengan ketampanan Reygen mencoba untuk segera menepis dan memalingkan tatapannya pada ponsel pintar yang sedang ada dalam genggamannya.