
"Maaf, apa Anda salah satu keluarga pasien?"
Perawat tersebut bertanya pada Reygen.
"Ya."
"Pasien harus segera ditangani, dan hal tersebut membuat dokter harus membuka hijab dan sedikit baju yang menutupi punggungnya karena ada luka di pelipis kepala dan punggung sebelah kanan pasien."
Suster menjelaskan pada Reygen.
"Lakukan yang terbaik."
Reygen berkata dengan singkat.
Setelah Reygen berkata demikian, suster segera kembali memasuki ruangan yang hanya tertutup tirai tersebut.
Hampir setengah jam suter dan dokter yang menangani Ayas belum juga keluar membuat Reygen semakin panik dan sedikit menyingkap tirai yang menutupi ruangan dimana Ayas sedang mendapat pertolongan dari dokter.
Reygen melihat Ayas sedang mendapat jahitan dari dokter di pelipis kepalanya hal ini membuat Reygen serasa ingin menangis.
Saat hatinya kembali hangat dan lembut ia harus mendapati kenyataan bahwa seseorang yang telah membuatnya kembali seperti manusia yang berperasaan, kini sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang branker rumah sakit.
Darah yang membasahi rambut panjang Ayas terlihat begitu jelas ketika dokter membuka hijabnya yang telah berlumuran darah.
Ingin rasanya ia memeluk Ayas secepat mungkin, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena saat ini ia bukan siapa-siapa bagi gadis yang bertubuh sintal dengan hijab sebagai fashionnya.
Beberapa saat kemudian dokter telah selesai menjahit pelipis kepala Ayas dan segera keluar dari dalam ruangan yang hanya terhalang oleh gorden rumah sakit.
"Dok, bagaimana keadaannya?"
Reygen bertanya pada dokter yang baru saja keluar dari balik gorden.
"Saat ini pasien belum sadarkan diri karena ia banyak kehilangan darah dari kepalanya, tapi tidak usah hawatir karena pendarahan pasien sudah dapat di hentikan dan mendapat cairan infus, dan tidak ada luka dalam yang serius di kepalanya"
Dokter tersenyum dan meninggalkan Reygen yang sudah terlihat lebih tenang.
Ayas mengalami luka robek di pelipis kepalanya dan juga di bahu belakang karena pecahan kaca mobil dan sepertinya tulang bahu kanannya juga mengalami benturan yang keras hingga membuat posisi tulang bahunya sedikit bergeser.
Setelah dokter dan suster memberikan pertolongan pertama pada Ayas kemudian Ayas akan di pindahkan ke ruangan rawat inap.
Reygen meminta agar Ayas di rawat di ruangan VVIP.
Malam semakin larut dan Reygen dengan setia dan siaga menunggu Ayas di ruangan rawatnya.
Ia duduk pada sebuah kursi yang ada di samping brankar ranjang Ayas.
"Ayas, cepatlah sadar."
Reygen berkata dengan lirih sambil duduk menatap Ayas yang terbaring tidak berdaya.
Suara dering ponsel dari dalam saku celana Reygen membuyarkan lamunannya. Tatapan hangat pada Ayas menghilang setelah ia merogoh ponsel dari dalam saku celananya.
Ternyata Sarah yang menelpon Reygen. Saat ini Sarah sangat menghawatirkan Ayas yang belum juga pulang ke kost sudah larut malam.
Reygen menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Sarah mengenai hal yang menimpa adiknya itu.
Sarah segera meminta alamat rumah sakit dimana Ayas di rawat kepada Reygen, tetapi karena malam sudah sangat larut membuat Sarah memutuskan untuk menengok Ayas besok pagi karena ia takut jika keluar dari kost tengah malam begini apalagi dengan kendaraan umum.
Keheningan malam tidak membuat jiwa seorang pemuda tampan pewaris perusahaan Scalfh itu menjadi sunyi, karena saat ini ia merasa telah ada seseorang yang berhasil mengusir kesunyian di dalam lubuk hatinya.
Jiwanya yang dingin kini kembali hangat karena sentuhan cahaya lembut dari seorang gadis berhijab yang kini sedang ada di hadapannya.
Malam ini Reygen sungguh tidak bisa memejamkan kedua kelopak matanya karena masih sangat hawatir dengan kondisi Ayas.
Suasana hening telah membawa insan bumi untuk menjemput mimpi mereka, tetapi tidak dengan Reygen, sampai dini hari ia masih terjaga di samping brankar Ayas.
Perlahan jemari Ayas mulai bergerak. Reygen yang melihat pergerakan dari jemari Ayas membuatnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Kedua kelopak netra Ayas perlahan membuka dan manusia pertama yang ia lihat adalah sosok pemuda tampan yang sedang duduk di samping brankarnya.
"Yas, kamu sudah sadar,"
dengan nada sumbang pemuda tampan itu menatap Ayas dengan sendu.
"Pak,"
Nada lemah keluar dari mulut manis sang gadis.
"Ya,"
nada lembut keluar dari mulut pemuda tampan bernama Reygen.
"Saya di mana?"
Ayas mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan kamar rumah sakit.
"Kamu ada di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan pas pulang kerja."
nada lirih dari mulut Reygen.
Ayas memejamkan matanya sejenak, karena masih merasakan pusing, tetapi ia berusaha untuk duduk.
"Ah,"
Ayas berusaha untuk duduk, tetapi kondisinya yang lemah dan masih sangat terasa sakit di sekujur badan membuatnya tidak kuat untuk bangun.
"Kamu mau ngapain?"
dengan refleks Reygen berusaha membantu Ayas dan tidak sengaja memegangi pundak Ayas.
Melihat tangan Reygen yang menyentuh pundaknya, Ayas hanya terdiam sejenak sebelum ia kembali berbicara.
"Saya haus,"
Reygen membantu Ayas untuk kembali berbaring.
Reygen segera mengambil segelas air dan memberikannya kepada Ayas juga membantu Ayas untuk memegangi gelas.
"Pak ... di mana jilbab saya?"
Ayas menyadari bahwa kini ia sedang tidak mengenakan hijab di kepalanya.
"Tadi dokter melepas jilbabmu yang penuh darah saat akan menjahit luka di kepalamu."
Reygen mencoba menjelaskan.
"Kita bukan muhrim, bisakah carikan kain untuk menutupi rambut saya?"
Ayas memelas.
"Muhrim?"
Reygen mengerutkan dahinya.
"Saya malu kalau aurat saya terlihat oleh lelaki yang bukan muhrim."
Ayas mengerti maksud Reygen.
"Lalu bagaimana jika aku ingin menjadi muhrim untukmu?"
"Tolong jangan bercanda Pak, saya minta kain untuk menutupi rambut saya!."
Ayas menganggap Reygen hanya sedang bercanda.
"Apa kamu masih menganggap aku tidak serius?"
__ADS_1
Reygen menatap tajam
"Saya masih sakit, Pak. Tolong jangan ajak saya becanda dulu,"
"Hei, siapa yang bercanda?"
"Ya udah, buktiin,"
Ayas menantang
"Caranya?"
"Menikah."
Ayas menatap serius pada Reygen.
Sebenarnya Ayas sudah yakin kalau Reygen tidak akan melakukan apa yang barusan ia katakan, karena menurutnya pernikahan itu adalah hal yang tidak mungkin di lakukan oleh seorang lelaki seperti Reygen yang akan terikat sebuah pernikahan dan di bebani tanggung jawab besar menjadi seorang kepala rumah tangga.
Pikir Ayas, dengan menikah, Reygen pasti tidak akan bisa bebas lagi dalam bergaul baik dengan minuman keras atau bahkan dengan para wanita seksi di luar sana jadi Ayas menganggap pernikahan di usia muda bagi Reygen adalah hal yang mustahil.
Ayas berpikir kalau Reygen pasti tidak akan mau meninggalkan masa muda dan hura-huranya hanya demi seorang gadis dari keluarga sederhana bahkan saat ini telah menjadi sebatang kara dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaannya.
"Aku akan segera membuktikannya untuk mu,"
nada serius.
"Pak, kita bicara apa sih? saya baru saja sadar, Bapak sudah mencandai saya yang tidak-tidak."
Ayas tersenyum tipis.
"Udah aku bilang, kalau aku tidak sedang bercanda,"
Reygen melangkahkan kakinya menuju sofa yang tersedia di dalam kamar rawat VVIP.
Ia mengambil jaketnya dan segera menutupi rambut dan sedikit kening Ayas dengan jaketnya.
"Sementara ini, pakailah jaket ini untuk menutupi rambutmu, aku akan meminta Sarah untuk membawakan hijab untukmu."
"Pak, jam berapa sekarang?"
Ayas mencari jam dinding yang tidak ia lihat di ruangan tersebut. Padahal di belakang kepalanya terdapat jam dinding yang sangat besar, tetapi dia tidak melihatnya.
Reygen segera melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Hampir jam lima pagi,"
Berdiri dan kembali menatap Ayas.
"Saya mau sholat subuh."
Ayas berusaha duduk untuk mengambil tayamum, tetapi Reygen menahannya.
"Sudah ku bilang jangan banyak bergerak, luka mu masih sangat serius,"
Reygen menahan pundak Ayas.
"Maaf, bisa tolong ambilkan benda yang berdebu? tapi jangan sentuh bagian atasnya."
Tidak banyak bertanya Reygen hanya menuruti permintaan Ayas.
Ia melihat di salah satu sudut ruangan yang terdapat rak yang menampung beberapa majalah yang sepertinya sudah berdebu karena jarang tersentuh.
Reygen melakukan apa yang di perintahkan oleh Ayas, ia membawa majalah tersebut dengan menjinjingnya menggunakan alas tissue sebagai penghalang sentuhan tangannya pada majalah tersebut.
Setelah Reygen memberikannya pada Ayas, gadis cantik tersebut segera melakukan gerakan tayamum sambil terbaring dan hanya menyentuhkan ke dua telapak tangannya perlahan-lahan ke atas majalah berdebu yang ada di datas perutnya.
Setelah selesai, ia melakukan solat sambil berbaring.
__ADS_1
Reygen yang baru melihat solat dalam keadaan seperti ini semakin terkagum pada Ayas yang selalu taat terhadap agamanya.