Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 9 : Mengantar pulang


__ADS_3

"Hmm ... aku tidak yakin, karena kawasan ini sangat sedikit dilalui oleh kendaraan umum."


Reygen semakin senang membuat Ayas ketakutan.


Ayas terlihat semakin cemas dan raut wajahnya semakin memancarkan aura ketakutan.


"Kalau mau, aku bersedia mengantarkanmu."


Reygen mencoba menawarkan diri untuk mengantarkan Ayas pulang ke panti. Ia lupa bahwa Ronald sedang menunggunya di kantor.




Ronald pov



"Sial, kebiasaan banget nih orang."


Ronald berdecak kesal karena sudah menunggu Reygen selama enam jam lebih. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi ponsel Reygen, namun sayang Ponsel pria tampan bak dewa itu tengah dinonaktifkan oleh sang pemilik membuatnya terpaksa memesan taxi online.



🌹🌹🌹🌹🌹



"Bagaimana, kau mau aku antar kerumahmu?"


Reygen masih belum menyerah untuk bisa mengantarkan Ayas pulang kerumahnya. Sepertinya Reygen sudah lupa dengan tekadnya untuk tidak jatuh cinta pada wanita manapun.



Ayas yang sedang bingung bercampur takut membuatnya bersikap salah tingkah dengan sedikit kepanikan, karena menerima ajakan dari seseorang yang baru saja ia kenal pun bukan solusi yang membuatnya bisa lebih tenang, apalagi Reygen adalah sosok pria yang dianggap bukan muhrim oleh Ayas dan baru ia kenal.



"Hm ... makasih, biar saya tunggu taxi saja."


Ayas tersenyum kikuk pada Reygen membuat pria tampan itu semakin gemas pada Ayas. Ia berjalan untuk menjauhi Reygen dan tetap akan menunggu taxi di tempat yang sedikit jauh dari tempatnya semula.



Reygen tak beranjak dari tempatnya dan tetap mengawasi Ayas. Beberapa menit kemudian tampak dua orang pemuda jalanan yang berpakaian seperti brandalan kota sedang berjalan mendekati Ayas membuat Reygen menyipitkan kedua matanya untuk menajamkan pandangannya yang sedikit lebih jauh dari Ayas.



Reygen melihat Ayas yang semakin ketakutan pada kedua pemuda yang tengah menghampirinya dan mencoba untuk menggoda Ayas, Ia pun berjalan mendekati Ayas dan benar saja kedua pemuda tersebut sedang menggodai Ayas.



"Hei ... hei ... kalian lagi ngapain?"


Tatapan membunuh dari wajah dingin Reygen mulai terpancar darinya.



"Jangan ikut campur lah, ini urusan kita berdua, kalau mau ikut senang-senang tunggu giliran saja."


Kedua pemuda tersebut tampak tidak menghiraukan teguran dari Reygen yang membuatnya semakin naik darah. Reygen mengepalkan kedua tangannya dan segera mendaratkan bogem kasar pada wajah salah seorang pemuda brandal tersebut.



BUGH!


Pendaratan yang tepat mengenai wajah salah satu pemuda brandal tersebut membuatnya terhuyung kebelakang.



"Aaa...."


Teriakan histeris dari Ayas yang kaget dengan serangan Reygen pada pemuda itu membuatnya semakin ketakutan, tubuhnya bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin. Ia segera berlari kebelakang Reygen.



Tak terima dengan perlakuan Reygen pada temannya, pemuda satunya lagi berusaha membalas Reygen dengan pukulan, tetapi berhasil ditepis oleh Reygen.


__ADS_1


BUGH!


kembali Reygen mendaratkan bogem mentah pada wajah pemuda yang berusaha menyerangnya.



Bertarung dengan seorang yang memiliki keahlian karate sabuk hitam itu tidak mudah, bahkan dikeroyok oleh dua orang tanpa ilmu dasar beladiri bukan hal yang sulit bagi Reygen. Beberapa kali pukulan dan tendangan Reygen mendarat di tubuh kedua pemuda brandal itu yang mengobati kerinduan Reygen untuk memukuli samsak yang sudah lama tidak ia lakukan.



Setelah dirasa tidak akan mampu melawan Reygen, akhirnya kedua pemuda brandal itupun berlari tunggang langgang meninggalkan Reygen dan Ayas.



"Kamu, gak apa-apa, Kak?"


Ayas berkata dengan suara yang sedikit gemetaran.



"Ga apa-apa. Kamu masih menolak tawaranku?"


perkataan Reygen semakin membuat Ayas bingung, Ia berpikir belum tentu juga pria tampan ini memiliki niat baik padanya.



"Emmh...."


Belum sempat Ayas menjawab pertanyaan Reygen ia kembali dipaksa oleh perkataan Reygen yang membuatnya tidak punya piliihan lain.



"Terserah, sih, kalau mau jadi santapan para preman kawasan sini."


Reygen terus menerus membuat Ayas merinding dengan perkataannya.



"Oke, saya mau di antar sama kamu. Tapi apa yang bisa membuat saya yakin kalau kamu bukan orang jahat?"



Reygen segera mengeluarkan identitasnya dan menyuruh Ayas untuk menjadikan Kartu Tanda Penduduk Reygen sebagai jaminan.



Ayas mencoba menghubungkan ujung nama Reygen dengan nama perusahaan yang akan menggusur Panti.


"Ah, tidak mungkin, ini hanya kebetulan saja."


Ia mencoba menepis pikirannya sendiri.



"Kenapa? apa ada yang aneh dengan identitasku?"


Reygen segera menyadarkan Ayas yang masih lekat mengamati tanda pengenal Reygen.



"Ah, ga apa-apa."


Ayas segera memasukkan kartu tanda penduduk Reygen kedalam tas kecil yang ia sangkutkan talinya dipundak sebelah kanan.


Reygen segera berjalan menuju mobil yang tengah terparkir dipinggir jalan yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri, dan Ayas mengikuti Reygen dari belakang.



Mereka berdua memasuki mobil milik Ronald, tampak raut wajah Ayas yang masih hawatir kepada pria tampan yang sedang mengantarkannya pulang.



Reygen tak berhenti menoleh pada Ayas yang sedang gelisah dan menggigit bibir bawahnya yang berwarna peach nan mungil dan seksi itu, melalui kaca spion tengah didalam mobilnya. Ayas benar-benar membuat Reygen gemas. Ia sengaja memperlambat laju kendaraannya agar bisa berlama-lama dengan Ayas.



"Belok kiri, Kak!"


Ayas memberikan petunjuk arah kepada Reygen karena Ia memang sama sekali tidak tahu jalan menuju tempat tinggal wanita cantik yang ada disebelah kursi kemudinya itu. Reygen segera mengikuti petunjuk yang diarahkan oleh Ayas.

__ADS_1



"Pertama panggil kakak, lalu panggil kamu, dan sekarang panggil kakak lagi," Reygen terkekeh, sedangkan Ayas hanya mendelik sekilas menatap Reygen yang menurutnya sedang menyindir.



"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Ayas lembut.



Mendengar suara Ayas yang begitu terdengar merdu ditelinga Reygen membuat pria tampan nan angkuh itu tersenyum seperti bukan dirinya sendiri karena Reygen tidak segila ini sebelum bertemu dengan Ayas.



Selama perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka berdua di dalam mobil, Ayas hanya \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* kecil tangannya sendiri sambil terus menatap keluar melalui jendela mobil tanpa sedikit pun melihat ke arah Reygen yang sedang berada dibalik kemudi.



"Gak pegel apa nengok kesana terus?"


Dengan nada datar seolah tak ingin terlihat aneh dihadapan gadis cantik, Reygen mencoba mencairkan suasana, dan hal yang sesungguhnya adalah Ia hanya ingin mendengar suara merdu gadis yang ada disampingnya itu.



Bukannya menjawab, Ayas hanya menoleh ke arah Reygen dan tersenyum kikuk yang menurut Reygen sangat manis bak bidadari membuat Reygen semakin menahan napas karena dadanya merasa dipenuhi rasa gemas.



"*bodoh, kenapa aku menjadi bodoh seperti ini dihadapan perempuan? huh*."


Reygen merutuki dirinya sendiri karena merasa aneh dengan perasaannya saat ini, dia tidak ingin pendiriannya goyah. Reygen pun kembali bersikap diam untuk menahan perasaannya yang semakin tidak menentu.



"Nanti di depan belok kanan, ya, sudah dekat."



DEG!



Tembok pertahanan angkuh Reygen meleleh kembali mendengar suara merdu dari gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu, apalagi saat ini Ayas sedang menatapnya dengan lembut meskipun saat ini Ayas tidak bermaksud untuk menggoda.



Reygen menarik napas panjang sebelum menjawab perkataan Ayas.



"Ya."


Reygen tersenyum, entah bagaimana suasana didalam hatinya kini, jantung yang seolah ingin keluar dari tempatnya dan darah yang mengalir deras seperti air terjun dan perasaannya jika bisa dilihat saat ini sedang mengeluarkan bunga-bunga indah dari dalam hatinya tanpa bisa ia hentikan.



"*Sadar, R***eygen** *sadar... wanita itu hanya membawa petaka, ini bukan rasa suka apalagi jatuh cinta, ini hanya rasa iba kepada dia*."



Reygen terus bertarung dengan perasaannya meskipun ia selalu kalah melawannya.



Beberapa menit kemudian Ayas kembali membuka suara.



"Rumah saya di depan."


Ayas menunjuk sebuah bangunan yang sederhana bercat putih dengan halaman yang cukup luas dan dengan pagar besi bercat hitam terkesan sangat sederhana namun rapi.



Setelah mereka sampai di depan pagar yang tingginya hanya satu meter tersebut, Reygen segera menghentikan kendaraannya. Terlihat suasana yang masih membeku. Akhirnya Reygen segera tersadar dan membuka pintu mobil terlebih dulu, baru saja Reygen memutar badannya mengelilingi mobil untuk membukakan pintu untuk Ayas, ternyata wanita cantik itu sudah terlihat keluar dari kendaraan.



Suasana super canggung terlihat jelas karena keduanya bersikap seperti salah tingkah. Reygen yang mencoba bertahan dengan sikap dinginnya hanya berdiri dihadapan Ayas dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana skinny-nya, sedangkan Ayas berdiri dihadapan Reygen sambil menunduk dan menggigit kecil bibir mungil berwarna peach miliknya.

__ADS_1



"Oh, Tuhan, wanita ini menggemaskan sekali. ingin kumakan saja rasanya." gumam Reygen dalam hati.


__ADS_2