
Suasana hening, ketika Reygen merengkuh kedua tubuh sahabatnya dalam pelukan. Sejenak mereka merasakan kehangatan yang mengalir di sela kesepian hidup mereka.
Menjadi seorang yang kaya raya dan tampan tidak lantas membuat mereka menjadi orang yang paling bahagia. Jiwa mereka merasa sepi, karena hanya dicukupi oleh kebutuhan materi tanpa kasih sayang orang tua yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi.
"Udah, ah. Gue masih normal!" Remon melepaskan pelukan kedua sahabatnya.
Ucapan Remon membuat kedua sahabatnya melotot kearahnya seperti singa hendak menerkam mangsanya. Remon hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tatapan tajam dari kedua sahabat yang sudah seperti kakak sendiri.
Senja mulai tenggelam, langit pun kian menggelap. Sarah berpamitan kepada Ayas.
"Yas, Kakak pulang dulu ya!" Sarah mengecup pucuk kepala Ayas.
"Makasih, ya, Kak!" Ayas tersenyum.
"Cepat sehat, ya! kalau perlu apa-apa jangan segan menghubungi kakak!"
"Hm." Ayas mengangguk.
"Silahkan, tuan putri .... " Ronald memberikan tangannya untuk digandeng oleh Sarah, tapi Sarah hanya berlalu dan terkekeh menahan tawa melihat tingkah Ronald.
Melihat sahabatnya hanya dicuekin oleh Sarah, Remon mengambil alih tangan Ronald yang sudah siap untuk digandeng.
"Ayo pelayan, kita jalan!" Remon menggandeng tangan Ronald yang menganggur.
"Hm, apa daya daripada tangan gue nganggur, ayo Sayang!" Ronald menerima tangan Remon, membuat Sarah tak kuasa menahan tawa.
Ayas dan Reygen hanya tersenyum melihat tingkah aneh sahabatnya.
Seketika suasana hening saat Sarah dan kedua sahabat Reygen pergi meninggalkan ruangan.
Reygen kembali duduk di tepi ranjang dimana Ayas masih terbaring.
"Bii, aku pengen pulang ke panti aja!" Ayas merajuk.
"Jangan! aku tidak mau melibatkan banyak orang lagi dalam hal ini, karena aku takut Cakra akan menyakiti orang-orang panti. Kamu tenang saja, aku sudah meminta Ronald untuk mengurusi hal tersebut. Aku akan membeli rumah yang jauh dari sini. Kita akan hidup sederhana disana. Apa kamu mau, Ay?" tutur Reygen seraya mengelus pipi kenyal Ayas dan tersenyum.
"Tentu aku mau, Bii." Ayas tersenyum dan memegangi tangan Reygen yang sedang mengusap pipi mulusnya.
***
Setelah beberapa minggu keluar dari rumah sakit, Ayas dan Reygen diantar oleh mobil Remon menuju sebuah rumah yang telah di beli oleh Reygen untuk tempat tinggal mereka, rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota, berharap mereka akan hidup tenang dan bahagia disana.
__ADS_1
Rencananya, Ronald dan Sarah akan menyusul setelah mereka selesai dari pekerjaannya.
"Rey, terus rencana Lo apa?" tanya Remon yang masih fokus dengan setir mobilnya.
"Gue mau cari kerja!" jawab Reygen datar.
"Gimana kalo, Lo kerja di tempat gue aja, jadi asisten gue, soalnya gue kan baru kemaren lulus. Belum ngerti juga masalah seluk beluk perusahaan." Remon dengan segala ketulusannya meminta Reygen untuk membantunya di perusahaan keluarga.
"Hm ... " Reygen tampak sedang berpikir. "Boleh!" Reygen mengangguk dan menoleh kesamping dimana Ayas sedang bergelayut di lengannya. "Gimana, Sayang? gak apa-apa kan kalo aku kerja di tempat Remon?" tanya Rey kepada sang istri.
"Gak, apa-apa, Bii! yang penting halal." Ayas tersenyum dan membenamkan pipinya di dada bidang sang suami.
Setelah hampir satu jam tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di halaman rumah sederhana yang terletak dipinggiran kota.
Rumah berpagar besi cat hitam, ukurannya tidak terlalu besar, tetapi memiliki tiga kamar dan halaman yang cukup luas, udara disini masih cukup asri karena ada beberapa pohon besar di halamannya.
Mobil Remon sudah memasuki halaman rumah Reygen, mereka gegas membawa beberapa koper milik sang empunya rumah.
"Bii, makasih, ya!" Ayas tersenyum kepada Reygen setelah ia memasuki rumah barunya.
"Iya, Sayang! maaf, ya. Aku baru bisa memberikan rumah kecil seperti ini untukmu!" Reygen memegangi kedua tangan Ayas.
Mereka tersenyum dan kembali berpeluk seperti tak menyadari bahwa ada orang ketiga di antara mereka.
"Hei, jangan bikin gue jadi nyamuk-lah!" Remon kesal melihat mereka selalu beradegan mesra.
"Sorry, Mon. Gue lupa kalo ada Elo!" Reygen tersenyum. Pipi Ayas pun merona seperti tomat matang yang siap di panen.
"Ya, elah! gitu kali ya, kalo orang lagi jatuh cinta. Serasa dunia milik berdua, yang lain patung manekin yang gak di anggep!" Remon menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu dengan wajah ditekuk.
Ayas dan Reygen mulai merapikan barang-barang mereka, sebelumnya rumah ini telah di bersihkan oleh pemilik sebelumnya. Jadi Ayas dan Reygen hanya tinggal menempati.
"Sayang, kalau kamu butuh asisten rumah tangga. Aku akan carikan untukmu!" Reygen masih hawatir dengan keadaan Ayas.
"Tidak usah, Bii. Aku udah bisa kok beberes rumah dan masak sendiri." ucap Ayas.
"Ya sudah, kamu ke kamar duluan gih, istirahat dulu. Kamu pasti capek!" titah Rey kepada Ayas, kemudian diangguki oleh sang istri.
"Mon, Lo mau minum apa?" tanya Rey.
"Gak usah! lagian emang Lo udah punya stok minuman?" Remon malah bertanya.
__ADS_1
"Iya juga, sih, gue aja belum tahu dapurnya dimana." jawab Reygen.
"Biarpun, Lo, tau dapurnya dimana, gue gak mau dibikinin minum sama Lo, yang ada cita rasa lidah gue amburadul. Haha." ujar Remon meledek Reygen, karena dia tahu Reygen sangat tidak berkompeten di dapur. Bikin teh manis aja salah masukin gula, hadeuh!
TID!
Bunyi klakson mobil terdengar dari halaman rumah Reygen.
Reygen segera keluar dan membuka pintu pagar halaman rumahnya. Ronald dan Sarah datang membawa seabreg makanan dan minuman.
Sarah mengerti kalau adik angkatnya pasti tidak sempat memasak karena masih sibuk dan belum sempat untuk memasak atau punya stok bahan makanan.
"Lo, pengertian banget, sih, Nald!" Remon mengambil satu botol minuman dan nasi kotak.
"Ini calon bini gue yang belanja!" Ronald melirik Sarah yang sedang duduk disampingnya. Sarah hanya mendelik ke arah Ronald, tetapi dalam hatinya ia merasa senang karena ia juga menyimpan rasa suka kepada pria blesteran tersebut.
"Kakak!" Ayas baru saja keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Sarah.
"Dek!" Sarah membalas pelukan Ayas.
Setelah puas bercengkrama, Ronald, Sarah dan Remon segera berpamitan karena malam sudah semakin larut.
Ronald kembali mengantarkan Sarah, sedangkan Remon sendiri dengan kendaraan pribadinya.
Setelah mengunci pintu dan jendela rapat-rapat, Reygen dan Ayas segera masuk ke dalam kamar tidur mereka, kamar yang sangat sederhana ukurannya, bahkan tidak sampai setengah dari ukuran kamar Reygen di kediaman mewahnya.
"Sayang, kamu sudah sehat, kan?" tanya Reygen menyimpan harap.
"Hm! kamu kok tanya begitu, Bii? kamu kan tahu aku sudah sehat wal afiat." Ayas mengusap dada bidang suaminya.
"Hm ... kalo gitu ... aku boleh 'kan?" pertanyaan ambigu yang menuntut dari Reygen, tetapi dapat dimengerti oleh Ayas, sehingga istrinya tersebut langsung mengangguk sebagai jawaban bahwa ia mempersilahkan suaminya.
Bibirnya mulai berselancar di permukaan kulit Ayas, meninggalkan jejak yang selalu memberi kesan.
Hanyut dalam buaian asmara, mereka mengecap kembali surga dunia, Ayas sudah sangat menjadi candu untuk Reygen. Bahkan sedikitpun ia tidak sanggup jika berjauhan darinya.
~bercocok tanam lagi~
***
Bersambung...
__ADS_1