
Dag...dig...dug...
Suara detak jantung Reygen dan Ayas saling memacu membuat sebuah irama yang merdu dan akan selalu menjadi sebuah candu untuk Reygen.
Perlahan Ayas mulai melepas kancing baju depannya dari atas untuk memudahkan Reygen menyibakkan kain yang menutupi punggung sebelah kanan Ayas.
Dengan sangat hati-hati Reygen mulai menyibakkan kerah baju Ayas sampai perban di punggung Ayas terlihat jelas di ikuti penampakkan kulit punggung Ayas yang putih mulus dan lembut.
Untuk sejenak Reygen terlena oleh pemandangan yang kini sedang ada di hadapan matanya, ia tidak sadar sudah beberapa kali menghirup aroma tubuh Ayas sambil memejamkan matanya.
"Ehem," Ayas berdehem karena sudah sekian menit Reygen tidak menyentuh perban yang menutupi bekas lukanya.
Mendengar deheman dari Ayas, Reygen segera membuyarkan fantasi yang ada di otaknya mengenai gadis yang kini sudah berstatus menjadi istrinya. Ya, dia memang masih gadis yang belum terjamah oleh siapapun termasuk suaminya.
" Ah, ya ... sebentar." Reygen tergagap menjawab deheman dari Ayas.
Ia segera melepas perban yang masih menempel di punggung Ayas dengan sangat hati-hati sambil bergumam di dalam hatinya "Sabar, Reygen ... sabar... tahan hasratmu sampai dia benar-benar telah merasa menjadi seorang istri untukmu," gejolak hasrat di dalam diri Reygen semakin mengajak berperang dengannya.
Tak bisa di pungkiri begitupun dengan Ayas yang baru pertama kali tubuhnya di sentuh oleh seorang pria, desiran asmara dari dalam hatinya menyeruak begitu hebat dan jantung yang terpompa dengan kencang membuatnya seakan tidak bisa menahan degupan yang sungguh dahsyat dan membuat tubuhnya bergetar dan seperti hendak mengejang.
"Kamu gak apa-apa?" Reygen melihat keringat Ayas mulai membasahi kulit mulusnya.
"Gak apa-apa," jawab Ayas dengan cepat sambil tersenyum tipis, betapa ia begitu tidak terkontrol ketika jemari Reygen mulai menyentuh kulitnya, wajahnya kini telah merah merona seperti sedang kepanasan.
Setelah beberapa menit akhirnya Reygen berhasil membuka perban dan membubuhi luka yang sudah mengering tersebut dengan salep.
Setelah selesai, Reygen segera menutupi area sekitar punggung Ayas yang sempat terbuka karena ia hawatir khilap terhadap istrinya.
Nada ponsel berdering dan Reygen pun segera beranjak dari tempat tidur menuju nakas yang ada di sampinya.
"Aku angkat telepon dulu," Reygen meninggalkan Ayas di dalam kamar menuju sofa yang terletak di ruangan tengah lantai dua.
Reygen sangat serius berbicara dengan seseorang yang tehubung oleh sambungan telepon seluler tersebut.
Setelah beberapa menit berbicara melalui ponsel pintarnya, ia segera kembali memasuki kamar tidurnya dan berpamitan kepada Ayas.
"Aku keluar dulu sebentar," Reygen mengambil jaket dari dalam lemari dan bergegas menuju keluar pintu kamarnya.
Melihat Reygen yang tergesa-gesa untuk pergi, Ayas pun bertanya dalam hatinya "Ada apa, sih, aneh banget?" kemudian mengangkat ke dua pundaknya lalu menarik napas panjang dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya.
__ADS_1
Reygen segera memacu kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi, ia menuju sebuah kantor polisi.
Tiga puluh menit akhirnya ia sampai di tempat tujuan, ia segera di sambut oleh seseorang berkaca mata hitam.
"Dia ada di ruang tahanan Bos." tanpa melontarkan pertanyaan pria kekar berkacamata hitam tersebut memberi tahu Reygen mengenai keberadaan seseorang.
"Antarkan aku ke sana," Reygen berjalan memasuki kantor polisi dengan segera.
Pria kekar tersebut menjadi pemandu langkah bagi Reygen yang hendak menemui seseorang yang ada di dalam sel tahanan.
Beberapa polisi tampak menghormati Reygen karena mereka mengenal Reygen adalah seorang putra dari pengusaha kaya raya yang terkenal di kotanya tersebut.
Ia segera menuju ruang tahanan di mana sudah ada sopir taxi yang sempat membuat Ayas celaka.
Reygen dan seorang pria berbaju tahanan duduk pada kursi yang bersebrangan terhalang oleh meja persegi.
"Apa kau melakukan ini sendiri?" nada dingin yang menyeramkan keluar dari mulut Reygen.
"A-apa maksud Anda?" jawab pria tahanan itu dengan sedikit terbata.
"Jika kau ingin hidup lebih lama lagi, katakan siapa yang telah menyuruhmu?" nada dingin bermakna ancaman keluar dari mulut Reygen.
"Sudah saya bilang, saya tidak sengaja membuatnya celaka, itu benar-benar murni kecelakaan," pria itu masih berkelit.
BUGH!
Satu tonjokan berhasil mendarat di bagian wajah pria tahanan, membuatnya mengeluarkan setetes darah dari ujung bibirnya.
"Jika kau masih tidak mengaku, aku akan mengirim anak dan istrimu keluar dari dunia ini," Reygen membungkukkan badannya dan berbisik pada pria tahanan yang sedang duduk.
"Ah, to-tolong jangan lakukan itu, saya di suruh oleh seorang manager di perusahaan gadis itu bekerja." dengan nada terbata-bata akhirnya pria tahanan tersebut mengatakan sang pemberi titah mengenai otak dari kejahatan ini.
Mendengar perkataan si pria tahanan tersebut, Reygen mengatupkan rahangnya kuat-kuat dan mengepalkan ke dua tangannya.
"Cakra," Ia mengucapkan dengan nada penuh amarah.
Reygen yang sudah mengetahui siapa dalang di balik kecelakaan Ayas segera keluar dan berniat akan segera menemui Cakra. Ia langsung tertuju pada Cakra karena hanya Cakra yang ia ketahui sangat membenci pembangunan panti dan ia juga seorang manager di perusahaannya.
Reygen menelepon seseorang untuk mengetahui keberadaan Cakra sekarang. Setelah mendapati keterangan mengenai keberadaan orang yang ia cari, Reygen segera melesat ke tempat tujuannya.
__ADS_1
Selang beberapa puluh menit, Reygen tiba di salah satu cafe yang sering menjadi tempat tongkrongan Cakra.
Ia memarkirkan mobilnya di halaman cafe tersebut dan segera memasuki ruangan yang penerangannya agak redup di hiasi gemerlapnya cahaya kelap-kelip dari lampu disko.
Pandangan Reygen mulai mengedar ketika ia sampai di dalam ruangan utama cafe tersebut dan kini kedua sudut netranya mulai mengunci sasaran yang sedang asik bermain dengan salah satu pelayan wanita.
Reygen segera berjalan menuju Cakra dengan ke dua tangannya yang mengepal keras.
BUGH
BUGH
Dua tonjokan berhasil mendarat di wajah Cakra dan membuat wanita yang sedang ada di pelukannya ketakutan dan segera menjauh dari Cakra dan Reygen.
Suasanan menjadi riuh ketika para pengunjung menyaksikan pergulatan antara keduanya.
Beberapa kali Reygen memukul dan menonjok Cakra yang di balas juga oleh Cakra.
"Hei, ada apa ini?" Cakra mulai tersudutkan.
"Apa maksudmu mencelakai asisten pribadiku?" Reygen masih menyembunyikan statusnya sebagai suami dari Ayas karena untuk melindunginya.
"Kamu ngomong apa sih?" Cakra berkelit.
"Halah, jangan banyak bac*t Lu baji**an!" kembali melayangkan bogemnya.
BUGH!
Pukulan Reygen membuat Cakra terhuyung ke belakang.
"Rey apa kau sudah gila? hanya karena seorang wanita kampung, lantas kau lupa dengan status dan bisnismu, hah?" Cakra mencoba membela diri.
"Sekali lagi kau mengusik atau mengganggu dia, secara tidak langsung kau juga mengusikku." Reygen meninggalkan Cakra yang sedang mengusap ujung bibirnya yang meneteskan darah segar karena hantaman dari kepalan tangan Reygen.
Reygen pun terkena tonjokan dari Cakra yang menyebabkan ujung alisnya robek terkena cincin milik Cakra.
Setelah puas menghajar Cakra, Reygen segera meninggalkan cafe tersebut untuk segera pulang menemui Ayas.
Luka di ujung alisnya tidak ia pedulikan, saat ini ia hanya ingin segera sampai ke rumah untuk menemui Ayas.
__ADS_1
Saat di luar rumah Reygen akan menjadi sangat buas seperti singa jantan yang sedang lapar, tetapi jika di hadapan Ayas, ia akan menjadi seekor kucing peliharaan yang manis bahkan sedikit manja.
Jika cinta hanya sebuah ilusi, maka Reygen membiarkan jiwanya hanyut dalam sebuah imaginasi, semua terasa indah ketika ia menatap wajah sang kekasih.