Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 26 : Perasaan yang Segera Terungkap


__ADS_3

Reygen yang melihat Ayas meneteskan air mata segera bertanya pada Ayas, tetapi gadis cantik bertubuh sintal itu hanya diam dan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya meninggalkan Reygen dan Ronald yang masih mematung di depan pintu kamar Ayas.


Melihat hal yang tidak di ketahui asal mulanya, Reygen pun segera menarik tangan Ronald menuju ruang tamu dan segera menanyakan perihal keributan yang menyebabkan Ayas menangis tanpa suara.


"Ceritain ke gue,"


Reygen menatap tajam pada Ronald, ia ingin mengetahui kejadian sebenarnya yang membuat Ayas meneteskan air mata.


Ronald pun menceritakan hal yang sebenarnya pada Reygen, dan setelah Ronald menjelaskan hal yang barusan terjadi antara Michelle dan Ayas, ia pun hanya menghela napas dalam-dalam karena tidak mungkin ia berkelahi dengan seorang wanita seperti Michelle.


"Nald, bilang sama Michelle, kalau dia masih mau hidup tenang, jangan coba-coba ganggu Ayas lagi!"


Reygen segera berlalu meninggalkan Ronald menuju halaman belakang rumahnya.


Seperti biasa ia mengeluarkan sebatang filter dari bungkusnya dan mulai memantik korek api untuk menyulut filternya.


Ronald yang sedari tadi mengikuti Reygen pun ikut untuk menikmati sesapan pada filter yang tersedia di sana.


"Rey, apa, Lo, gak hawatir kalau Ayas tinggal di sini?"


Ronald mencoba mengingatkan Reygen karena ia tahu bagaimana liar nya para wanita yang selalu mengincar Reygen.


"Gak usah hawatir, gue gak akan biarin siapapun sakitin dia."


Reygen mengepulkan asap dari sesapannya pada filter yang kini sedang berada di antara jari tengah dan jari telunjuknya.


"Terserah, Lo, yang penting, gue udah ingetin, Lo."


Ronald segera meninggalkan Reygen sendirian di gazebo halaman belakang rumahnya.


Reygen sedang duduk dan mengangkat sebelah kakinya yang menjadi tumpuan untuk tangan kanannya yang sedang memegangi sebatang filter merasa bersalah karena Michelle sudah membuat Ayas menangis.


Reygen memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, dan ketika ia kembali membuka matanya Ayas sudah berdiri di dekat gazebo dengan tas ransel besarnya.


"Maaf, Pak, sepertinya saya tidak bisa tinggal di rumah ini."


Ayas berdiri dan menundukkan kepalanya.


Mendengar perkataan Ayas, Reygen segera beranjak dari duduknya dan menuruni lantai gazebo yang terbuat dari kayu jati setinggi empat puluh centi meter tersebut.


Ia meletakkan filter ke dalam asbak kaca yang ada di atas lantai gazebo.


"Kenapa? apa Michelle menyakitimu?"


Reygen bertanya dengan nada lirihnya.


"Bukan,"


"Lalu kenapa?"


"Seorang wanita memang tidak pantas berada dalam satu atap meskipun tidak melakukan apa-apa, jadi saya putuskan untuk tidak tinggal di rumah Bapak lagi."


Ayas berkata tanpa menatap pada Reygen.


"Lalu, bagaimana dengan kontrak kerjamu?"


Reygen masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Terserah Bapak saja, jika memang mau menghentikan pembangunan panti dan memecat saya pun tidak masalah. Saya pamit, Assalamualaikum."

__ADS_1


Ayas segera membalikkan badannya meninggalkan Reygen, tetapi pria tampan itu mengikuti Ayas dari belakang.


"Aku antar,"


Reygen berlari menuju lantai dua kamar tidurnya untuk mengambil kunci mobil.


Setelah beberapa menit Reygen sudah kembali dengan mengenakan kaos oblong warna putih dan jaket putih.


Ayas tidak menolak ajakan Reygen karena ia sudah tahu kalau Reygen adalah orang baik dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadapnya.


"Aku tidak akan menghentikan pembangunan panti dan memecatmu."


Reygen bicara dengan nada datar dan tetap fokus pada kemudinya.


Mendengar hal tersebut Ayas hanya tersenyum kilat dan mengucapkan terima kasih pada pria tampan yang sedang duduk di balik kemudi.


Sesaat hanya hening dan hanya terdengar deru suara dari kendaraan yang menghiasi indera pendengaran Reygen dan Ayas, sampai Reygen memberanikan diri untuk buka suara terlebih dahulu.


"Hei, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Reygen menoleh sekilas pada Ayas yang duduk di samping kursi kemudinya.


"Bapak, boleh panggil saya Ayas."


Ayas tersenyum sekilas pada Reygen. Selama ini Reygen tidak pernah memanggil nama Ayas.


Selama ini mereka tidak pernah saling memanggil nama meskipun Reygen tahu nama gadis yang tengah ia puja saat ini adalah Ayas.


Reygen tersenyum mendengar perkataan Ayas yang sudah mulai ramah padanya.


"Oh ya, Bapak mau tanya apa?"


"Ah, tidak jadi."


Reygen tersenyum, ia merasa sudah puas dengan melihat Ayas tersenyum sampai lupa dengan hal yang akan ia tanyakan pada Ayas.


Suasana mulai hangat karena Ayas tidak lagi ketus pada Reygen, sepanjang jalan mereka mengobrol dan sesekali di warnai canda tawa ringan yang membuat suasana semakin berwarna.


"Yas, sebelum aku antar kamu ke kostan Sarah, apa kamu bersedia untuk menemaniku membeli sesuatu."


Mendengar perkataan Reygen, Ayas menoleh dan menatap pria yang masih menyetir itu sambil mengernyitkan dahinya.


"Kemana?"


tanya Ayas penasaran.


"Ke Mall deket-deket sini, kok,"


"Oh, oke."


Reygen memutar setir untuk mengarahkan kendaraannya ke sebuah tikungan menuju salah satu Mall di kota tersebut.


Sesampainya di Mall, Reygen segera memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Ia dan Ayas memasuki Mall dan tujuan pertama Reygen adalah sebuah toko ponsel.


Mereka duduk di kursi konsumen yang sudah tersedia. Puluhan ponsel tertata rapi di dalam rak-rak kaca yang ada di dalam toko.


"Kamu suka yang mana?"


Reygen bertanya pada Ayas yang sedang duduk di kursi depan etalase.

__ADS_1


"Hm?"


Ayas tidak mengerti maksud Reygen.


"Kamu suka yang mana ponselnya?"


Reygen mencoba berkata lebih detail lagi.


"Kok, nanya saya?"


Ayas menatap heran pada Reygen.


"Ya iyalah, karena ponsel itu buat kamu,"


Reygen menatap Ayas membuat gadis cantik itu semakin bingung.


"Buat saya?"


"Yas, kalau kamu gak tinggal di rumah aku, terus gak punya ponsel, nanti aku bakalan susah hubungin kamu masalah kerjaan."


Reygen mencoba agar Ayas mau menerima ponsel darinya.


Sebenarnya bukan hanya masalah kerjaan melainkan Reygen akan merasa mati kutu jika tidak mendengar kabar dari Ayas walaupun hanya sehari saja.


"Baiklah, masukkan saja ke catatan hutang saya, dan potong gaji."


Ayas dengan polos berkata apa adanya.


Mendengar perkataan Ayas, Reygen hanya terkekeh dengan kepolosan gadis pujaan hatinya tersebut.


Setelah selesai dengan acara membeli ponsel, Reygen mengajak Ayas untuk makan siang di salah satu resto dalam area Mall.


Reygen akan mengungkapkan perasaannya terhadap Ayas saat ini juga. Ia tidak ingin terlambat sedikitpun untuk menyatakan rasa pada Ayas.


Suasana restoran yang ramai tidak membuat Reygen risih untuk mengatakan perasaannya.


"Yas, aku mau ngomong sama kamu."


Reygen menatap serius pada Ayas.


"Bukannya dari tadi, Bapak udah ngomong terus sama saya?"


Ayas tersenyum mengejek pada Reygen membuat pipi pemuda tampan itu merona sempurna.


"Aku serius."


Reygen menatap lekat-lekat pada Ayas.


Mendengar perkataan dan raut wajah yang tidak sedang main-main dari Reygen akhirnya Ayas pun segera menanggapinya dengan serius.


"Oke, mau ngomong apa, masalah kerjaan atau panti?"


Ayas menatap pada Reygen.


~*~*~


Jangan lupa vote, like dan komen ya...


love u...😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2