
Reygen semakin panik lalu terbesit diotaknya,
"Apakah aku harus memberikan napas buatan?"
Baru saja Reygen akan mendekatkan bibir seksinya pada Bibir Ayas yang berwarna peach itu, namun Ayas terbatuk-batuk.
UHUK..UHUK..!
Mulut mungil Ayas mengeluarkan air yang banyak terminum olehnya saat tercebur ke dalam kolam renang tadi membuat Reygen bernapas lega.
"Hhh ... syukurlah."
Reygen yang berada disamping tubuh Ayas yang sedang terbaring telentang tanpa hijab di kepalanya memandang Ayas begitu terpesona. Susah payah Reygen menahan fantasi liarnya terhadap tubuh yang ada di hadapannya.
Sedangkan Ayas yang baru saja tersadar dari pingsannya langsung menatap Reygen dan membulatkan kedua bola matanya sambil berteriak.
"Aaaaa ... manusia tak punya hati, sedang apa kau?"
Ayas langsung duduk dan kembali memukuli tubuh Reygen dengan kedua tangannya dan kaki yang menendang-nendang tubuh Reygen, Ia masih belum menyadari bahwa hijabnya telah terlepas dan masih ada di dalam air.
Reygen hanya terkekeh geli melihat tingkah Ayas yang masih belum menyadari bahwa hijabnya telah terlepas dari kepalanya, dalam keadaan sangat marah pun gadis ini masih sangat terlihat cantik dan manis.
Setelah beberapa saat Ayas memukuli Reygen yang tanpa perlawanan dari korbannya, Ia baru tersadar setelah melihat rambut panjangnya melambai-lambai di depan wajahnya.
"Hah, hijabku?"
Ayas memegangi kepalanya dan menyadari bahwa saat ini ia tidak memakai hijab, Ayas mendorong tubuh Reygen dengan sangat kuat hingga membuat tubuh pria tampan yang ada dihadapannya itu terjengkang kebelakang.
Ayas mencari hijabnya dan melihat kearah kolam renang, hijab Ayas telah berada ditengah-tengah kolam renang. Reygen terkekeh menahan tawa.
Karena Ayas tidak bisa berenang akhirnya ia hanya berjongkok di pinggiran kolam renang sambil memukul-mukul air berharap hijabnya terdorong air sampai ketepian kolam, Namun karena Ia sedang emosi dan tergesa-gesa dan tubuhnya semakin bergerak mendekati kolam renang sampai akhirnya,
JEBURRR!
Ayas kembali tercebur ke kolam renang, setelah mengetahui Ayas tidak bisa berenang akhirnya Reygen langsung menceburkan dirinya untuk menolong gadis cantik yang sedang mengacung-acungkan tangannya ke atas permukaan air.
JEBURR!
Untuk kedua kalinya mereka membasahi tubuhnya di dalam kolam renang.
Reygen segera melingkarkan tangannya ke pinggang Ayas dan membawanya ketepian kolam renang.
Sesaat tatapan mereka beradu setelah Reygen berhasil membawa Ayas ketepian kolam renang. Pandangan mereka saling bertemu, wajah Ayas yang seketika itu merona membuatnya langsung memalingkan pandangannya dari wajah Reygen.
Sementara Ayas sudah berpegangan pada tangga kolam renang, Reygen segera berenang kembali untuk mengambil hijab dan tas Ayas yang tengah mengapung di tengah-tengah kolam renang.
__ADS_1
Setelah mengambil tas dan hijab Ayas, Reygen segera meletakkannya di dekat tubuh Ayas yang masih berdiri memijakkan kakinya pada tangga kolam renang, Reygen segera berjalan menuju ruang ganti yang berada dekat dengan ujung kolam renang yang berbentuk tabung tersebut dan menyatu dengan tembok pagar rumahnya.
Ayas tak tahu harus bagaimana, karena ia merasa sangat malu dengan keadaannya saat ini. Wajahnya sangat merah seperti tomat matang yang segar.
Setelah beberapa menit, Reygen pun keluar dari kamar ganti dan hanya mengenakan handuk yang melingkar menutupi pinggang sampai lutut sedangkan dadanya terbuka mempertontonkan dada bidang yang cukup berotot.
"Mau sampai kapan kamu berendam disana?"
Reygen melewati Ayas yang masih belum beranjak dari tangga kolam renang, Ia masuk kedalam rumahnya dan setelah tubuh Reygen tak terlihat lagi, ia segera mengambil hijabnya dan langsung memakainya untuk menutupi kepala dan area sekitarnya.
Gadis bertubuh sintal nan menggoda itu segera meraih tasnya yang telah dipenuhi air. Dia membuka tasnya dan mengambil ponsel pintar yang ada di dalam tas selempang kecil berwarna hitam tersebut
"Hufftt, Mati!"
Ayas mencoba menghidupkan ponsel pintarnya namun tak berhasil, ponsel itu telah mati karena sudah beberapa menit berada di bawah air.
Pikirannya sekarang bertambah tidak karuan karena memikirkan bagaimana ia akan pulang sedangkan ponsel yang akan ia gunakan untuk memesan transportasi online kini telah tak berfungsi total.
Hari pun mulai gelap, menandakan waktu telah berganti menjadi malam, Ayas telah beranjak dari kolam dan hanya terduduk di tepian kolam renang sambil memeluk tubuhnya yang berpakaian basah kuyup dengan kedua tangannya yang melingkari kaki dengan kedua dengkulnya yang menjulang keatas. Ia menangis sambil menangkupkan wajahnya ke atas kedua dengkul kakinya.
"Hiks, hiks!" Ayas tersedu.
"Pakailah baju ini, sebelum aku ******* tubuhmu sampai habis."
Entah sejak kapan Reygen berdiri didekat
Mendengar suara Reygen dari atas kepalanya, Ayas pun mendongakkan wajahnya kearah Reygen. Ia segera meraih pakaian yang diberikan oleh Reygen.
Masih memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, Ayas berjalan menuju kamar ganti dan sesekali menoleh ke belakang.
Reygen yang duduk di atas gazebo sedang menunggu Ayas bertukar pakaian. Ia tersenyum manis membayangkan wajah gadis yang telah berhasil memporak-porandakan benteng pertahanan di dalam hatinya yang selama ini kokoh terjaga dan tiada berpenghuni.
Setelah selesai bertukar pakaian, Ayas pun segera keluar menggunakan gamis dan kerudung warna putih, Ia berjalan kearah Reygen. Hati pemuda tampan yang biasanya dingin itu kini seolah di terpa seberkas cahaya yang sedikit menghangatkan jiwanya.
"Aku masih belum mengerti dengan maksud kedatanganmu kesini, bisakah kau jelaskan kembali?"
Reygen segera bertanya pada Ayas setelah sosok gadis itu mendekat ke arahnya.
"Jangan berpura-pura bodoh!"
Ayas hanya menjawab dengan dingin pertanyaan dari Reygen, membuatnya bertambah penasaran pada gadis ini.
"Aku memang benar-benar tidak paham dengan perkataanmu. Tiba-tiba kau memukuli badanku dengan brutal tanpa aku tahu apa salahku,"
Ayas segera mendekati Reygen yang sedang duduk ditepi gazebo, amarahnya belum mereda.
__ADS_1
"Kau kan yang sudah menggusur panti dan meratakannya dengan tanah, dasar manusia kejam!"
Dengan tubuh yang condong menghadap Reygen yang sedang duduk ditepi Gazebo, Ayas menunjuk wajah pria tampan itu sampai Reygen memundurkan kepalanya kebelakang lalu Reygen menarik pergelangan tangan Ayas yang ada di hadapannya sampai tubuh Ayas jatuh menindih tubuh Reygen.
AAAAHHGHH
Gadis itu berteriak setelah tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Reygen dan hampir saja bibir mereka bertemu jika Ayas tak menghalanginya dengan tangannya.
"Jangan kurang aj-jar kau."
Ayas segera mengangkat tubuhnya dan memukul dada Reygen, wajahnya kini bak tomat matang yang baru saja dipetik. Pria tampan itu hanya terkekeh menahan tawa.
"Hei, makanya jangan terlalu emosi. Dengarkan penjelasanku dulu."
Reygen melepaskan tangan Ayas dari genggamannya. Gadis itu tetap tidak mau mendengarkan Reygen.
"Maaf, aku tidak ada waktu untuk mendengarkan penjelasanmu."
Ayas berjalan menuju pintu dimana ia pertama kali masuk kehalaman rumah Reygen.
"Pergi saja sana, kau tidak akan menemukan taxi atau kendaraan umum lainnya yang melintas disekitar kediamanku."
Reygen bergumam dan tersenyum karena ia tahu kalau ponsel Ayas mati setelah berendam di dalam kolam renangnya. Bagaimana dia akan memesan taxi sedangkan ponselnya saja mati. Ia segera menyusul Ayas.
"Pak apa di jalan sekitar sini suka ada taxi lewat?"
Ayas bertanya pada satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Reygen.
"Waduh, di sekitar kompleks sini gak ada kendaraan umum yang lewat Neng, kebanyakan mobil pribadi milik para penghuni komplek. Emang si Eneng mau kemana? gak minta anter sama den Reygen aja?"
Jawaban mang Ozan sukses membuat Ayas semakin gelisah. Ia hanya tersenyum getir.
"Ya udah, makasih, ya, Pak."
Ayas segera keluar dari halaman rumah Reygen setelah pak satpam membukakan pintu pagar untuknya.
Ia berdiri di pinggir jalan sambil tengok kanan dan kiri, terlihat suasana jalan yang sepi dan sedikit gelap membuat Ia ragu untuk berjalan menyusuri jalanan tersebut.
Sesaat kemudian pintu gerbang rumah Reygen terbuka dan mobil sedan mewah berwarna hitam segera keluar dari sana.
Ayas yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumah Reygen segera minggir untuk memberi jalan pada mobil tersebut.
Reygen keluar dari mobilnya dan segera memutari mobilnya untuk menghampiri Ayas.
"Aku antar kamu pulang!"
__ADS_1
Reygen berdiri disamping Ayas, namun Ayas tidak ingin menatapnya dan hanya memalingkan wajahnya dari Reygen.