
Satu minggu berlalu setelah kedatangan Vans, kesibukan Reygen bertambah ketika Vans tinggal dirumahnya. Sibuk dalam mencari cara untuk menjauhkan Vans dari istrinya.
Sampai ia lupa dengan rencananya untuk berbulan madu.
kriing! kriing!
Nada ponselnya berbunyi, Reygen menerima panggilan dari seseorang melalui ponsel pintarnya.
Sesaat Reygen memejamkan ke dua matanya dan menepuk jidatnya sendiri. Lima menit kemudian ia telah selesai berbicara dengan seseorang melalui sambungan dari ponselnya.
"Siapa yang menelepon, Bhie?" tanya Ayas, ia menautkan kedua alisnya.
"Asistenku!" Reygen terlihat sangat senang setelah menerima telepon barusan.
"Ada apa? Apa ada masalah kantor yang penting?" Ayas lanjut bertanya kepada Reygen.
"Ya! sangat penting!" Reygen menyatukan keningnya dengan kening Ayas. "Aku lupa kalau hari ini kita akan berbulan madu. Jadi cepatlah bersiap, kita akan segera berangkat!" sambung Reygen, lalu ia mengecup singkat bibir seksi sang istri.
'Hah! bulan madu? tahu saja kalau aku baru saja selesai datang bulan!' jantung Ayas berdetak kencang ketika mendengar kata 'bulan madu' dari Reygen.
Ayas segera bersiap dan mengemas pakaiannya ke dalam koper, karena mereka akan berbulan madu selama satu minggu.
"Bagaimana, Sayang! sudah siap?" tanya Reygen yang sudah rapi dengan pakaian casualnya. Ia melingkarkan satu tangan ke pinggang Ayas.
"Hm!" Ayas mengangguk dan tersenyum kepada Reygen.
Mereka berjalan meninggalkan kamar tidur dengan satu tangan Reygen masih melingkar pada pinggang Ayas.
***
"Bi Ipah!" teriak Reygen memanggil bi Ipah.
"Iya, Den!" jawab bi Ipah dari dapur, ia segera menghampiri Reygen yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Saya sama Istri mau pergi ke luar kota selama satu minggu, tolong titip rumah, ya! dan tolong layani Vans mengenai kebutuhannya sehari-hari." Reygen mengeluarkan uang lembaran merah sebanyak lima puluh lembar dari dalam dompetnya. "ini, buat belanja!" Reygen memberikan uang tersebut kepada bi Ipah.
"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Saya!" Reygen meninggalkan bi Ipah yang masih berdiri di ruang tengah.
Baru saja beberapa langkah, Vans keluar dari kamarnya dan mendekati Reygen.
Ayas langsung memegangi tangan Reygen dengan erat saat Vans mulai mendekat
"Hei, mau kemana kalian?" Vans bertanya pada Reygen sambil menatap koper besar yang ia bawa.
"Vans! Aku mau ke luar kota untuk satu minggu, kalau kau butuh apapun bilang sama bi Ipah, oke!" Reygen berkata pada Vans.
"Hei, lalu aku sama siapa disini?" tanya Vans dengan wajah memelas.
"Vans! Kau sudah dewasa, tidak perlu lagi pengawasanku. Aku pergi! jaga diri baik-baik!" Reygen menepuk pundak Vans.
__ADS_1
Vans memperhatikan Ayas dengan intens, matanya seolah sedang mengunci mangsa. Gadis berhijab itu hanya menundukkan kepalanya sambil tetap memegangi tangan Reygen.
Sampai Reygen membukakan pintu mobil untuk Ayas, baru lah gadis tersebut melepaskan pegangan tangannya yang erat dari Reygen.
Mobil mewah Reygen melaju meninggalkan kediamannya.
***
Kali ini Reygen menggunakan jasa sopir pribadinya untuk mengantarkan mereka ke bandara.
"Sayang, apa kau sudah selesai dengan tamumu?" tanya Reygen kepada Ayas. Ia memiringkan posisi duduknya dan menatap nakal istrinya tersebut.
"Rey, ini di dalam mobil! malu tuh sama mang Dirman!" Ayas menunjuk mang Dirman dengan wajahnya.
Mang Dirman yang sedang menyetir, sesekali melihat kemesraan mereka melalui kaca spion tengah. Ia senyum-senyum sendiri melihat ke uwuw-an pasangan suami istri yang sedang di mabuk asmara tersebut.
"Memangnya kenapa? Mang Dirman juga pernah muda kok, iya, 'kan, Mang!" Reygen menoleh pada mang Dirman.
Mang Dirman hanya terkekeh menahan tawa melihat sikap Reygen seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Baru kali ini sopir pribadinya tersebut membawa Reygen bersama wanita menggunakan jasanya. Karena sebelumnya ia tidak pernah membawa Reygen bersama wanita di dalam mobil mewahnya tersebut.
"Kamu ini, Bhie!" Ayas memukul tangan Reygen yang mulai merayap kemana-mana.
"Aw! sakit, Sayang!" Reygen merajuk.
"Jangan, manyun! nanti Aku cium nih!" Reygen mengancam.
Perjalanan menuju bandara tak terasa lama, karena mereka sangat menikmatinya, meskipun harus bermacet ria dan memakan waktu berjam-jam.
***
"Mang Dirman! terima kasih, ya!" Reygen mengucapkan terima kasih kepada mang Dirman yang sudah mengantarkannya sampai ke bandara.
"Iya, Den. Sama-sama!" mang Dirman menganggukan kepala.
"Oh, iya, Mang! nanti, kalau Vans mau pergi tolong antar ya. Kasian soalnya dia belum hafal jalan kota kita." Reygen meminta kepada mang Dirman.
"Siap, Den! kalau begitu, Mamang pulang dulu!" mang Dirman undur diri.
"Rey, antar ke toilet!" Ayas memelas.
"Ayo!" Reygen menggandeng tangan Ayas menuju toilet di bandara.
***
Melihat wajah tegang sang istri setelah keluar dari toilet, Reygen langsung bertanya kepadanya.
"Sayang, aku perhatikan dari tadi wajahmu tegang! ada apa?" tanya Reygen.
__ADS_1
"Aku takut!" Ayas merengut.
"Takut?" Reygen menautkan kedua alisnya saling bertemu, "takut apa?" sambung Reygen bertanya kepada Ayas.
"Takut naik pesawat!" jawab Ayas dengan cepat.
"Oh," Reygen hanya membulatkan bibirnya. "Sudah, tidak perlu takut! kita akan naik pesawat terbaik di negeri ini!" Reygen tersenyum dan mencubit pipi mulus Ayas.
Mereka berjalan untuk segera melakukan boarding pass.
***
"Rey!" Ayas berkata dengan nada lirih.
"Ya!" Reygen menoleh kepada penumpang yang ada di samping tempat duduknya, tak lain adalah Ayas.
"Terima kasih!" ucap Ayas singkat.
"Untuk apa?" tanya Reygen.
"Pengalaman pertamaku naik pesawat, hm!" Ayas tersenyum tipis dan mendekatkan kepalanya ke bahu Reygen.
"Apa kamu senang?" tanya Reygen sambil mengusap pucuk kepala Ayas.
"Hm!" Ayas mengangguk dan mendongakkan wajahnya untuk menatap Reygen.
Tatapan mereka saling bertemu dan Reygen semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas. Kembali terjadi sesuatu yang membuat para jomblo merana setengah hidup! (bayangkan saja sendiri mereka lagi ngapain) wkwkwk.
***
Tibalah mereka di sebuah Villa yang berada di pegunungan dengan view menghadap ke pantai.
Reygen membuka jendela kamar dan menghirup udara segar melalui jendela.
"Sayang, apa kamu lapar?" tanya Reygen kepada Ayas yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
"Lapar banget!" jawab Ayas masih tetap dengan baju-baju yang sedang ia rapikan ke dalam lemari.
"Kita cari makan!" Reygen merangkul pinggang Ayas dan membawanya keluar kamar.
"Tapi, itu pakaiannya belum selesai aku rapikan, Bhie!" Ayas menengok kebelakang. Namun, Reygen tetap membawanya menjauh dari kamar.
"Sudah, tinggalkan saja! nanti aku bantu setelah kita makan siang."
Taxi online yang di pesan oleh Reygen sudah menunggu di depan Villa yang akan mengantarkan mereka ke sebuah restoran terkenal di sana.
Reygen sangat memanjakan Ayas, sampai Ayas tidak bisa berkata banyak. Ia merasa sangat bahagia saat ini.
Ayas berpikir bahwa ia adalah wanita yang paling bahagia di dunia saat ini, dengan segala kebaikan dan kehangatan sikap suaminya.
__ADS_1