
Reygen menunggu Ayas dan sahabat-sahabatnya di teras rumah, ia sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya. Perasaan bahagia menyeruak di dada pria tampan tersebut. Sepertinya Reygen akan membawa Ayas ke kediamannya di kota, karena ia akan segera kembali mengurusi perusahaannya.
Rumah sederhana memang tidak masalah bagi Reygen jika selalu bersama Ayas, tetapi bukankah lebih baik tinggal disana bersama orang-orang yang sudah lama mengabdi untuk bekerja dengannya, karena Reygen akan lebih tenang jika bi Ipah, bi Ida dan orang-orang yang ada di rumahnya akan membantu Ayas dalam hal apapun.
Sehingga Reygen tidak perlu was-was jika meninggalkan Ayas ketika ia pergi ke kantor atau kemanapun. Jarak antara kediamannya di kota juga lebih dekat dengan kantornya, sehingga tidak terlalu memakan waktu terlalu lama di perjalanan.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, Ayas dan yang lainnya pun tiba di rumah. Mereka di sambut oleh Reygen yang langsung menghampiri mobil Remon saat berhenti di halaman rumahnya.
Sudah tidak sabar memeluk dan mencium istrinya yang kini sudah menjadi candu untuk Reygen.
"Bii," Ayas langsung mendekat dan memeluk suaminya. Baru beberapa hari saja tidak bertemu, rasanya sudah berbulan mereka berpisah karena rasa rindu yang begitu dahsyat. Maklum pengantin baru, baru terus sampai kapan pun. Hehe.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" Reygen mengecup kening Ayas dengan penuh cinta.
Melihat kemesraan dari sejoli ini, Ronald hanya tersenyum dan membayangkan kalau ia bisa seperti Reygen dan Ayas.
"Woy, masuk dulu, lah. Gampang mesra-mesraannya ntar di dalem kamar!" Remon menghela napas kasar melihat Ayas dan Reygen masih saja berpeluk melepas rindu.
"Bawa, tuh, belanjaan!" Remon kembali mendengkus, ia langsung membuka bagasi mobilnya dan berjalan menuju rumah Ayas.
"Asem! masa gue lagi yang bawa belanjaannya." ucap Ronald kesal. Pandangannya beralih kepada Reygen. "Rey, bawa, tuh, sebagian belanjaannya." Ronald langsung membawa dua kantong belanjaan dan langsung menyusul Remon.
Mendengar ucapan dari Ronald, Reygen langsung melepas pelukannya dengan Ayas, ia hanya tersenyum dan langsung membawa belanjaan yang masih tersisa di dalam bagasi mobil.
Sarah menggandeng tangan Ayas dan mereka segera membuat minuman untuk para pria yang sepertinya sudah merasa kehausan.
"Rey, gimana urusan, Lu? udah kelar?" tanya Ronald yang sedang duduk di sofa single.
"Alhamdulillah, aku tinggal menyerahkan bukti ke pihak yang berwajib untuk menjebloskan Cakra ke dalam sel," jawab Reygen.
"Bukti? bukti apa, Rey?" tanya Remon seraya melirik kepada Reygen.
__ADS_1
"Aku sudah memiliki bukti fisik mengenai kelakuan Cakra sewaktu dia membuat istriku keguguran. Dia sudah mengakui itu, kini semua bukti fisik berupa foto dan rekaman sudah ada di tanganku. Aku akan segera memberikannya ke pihak yang berwajib." ucap Reygen dengan detail.
"Syukurlah," ucap Ronald dan menepuk bahu Reygen.
Mereka bercengkrama hangat sambil menikmati minuman yang sudah di sediakan oleh Ayas dan Sarah.
Malam ini mereka akan bakar ikan sambil menikmati malam, Ronald bersedia mengantar Sarah setelah acara bakar-bakar ikan selesai, karena besok ia harus kembali bekerja.
Bunga-bunga cinta antara mereka mulai bersemi, tetapi apakah nasib Sarah dan Ronald akan seperti Ayas dan Reygen? tunggu novel selanjutnya ya...hehe.
***
"Sayang, Momy meminta kita untuk tinggal di kediamanku. Bagaimana menurutmu?" Reygen meminta pendapat istrinya.
"Nanti kita pikirkan lagi ya, Bii. Saat ini aku hanya ingin menikmati ketenangan di rumah sederhana kita. Gak apa-apa 'kan!" ucap Ayas menatap lembut wajah Reygen.
"Tentu saja, selama kamu merasa nyaman." Reygen sudah tak tahan menunggu untuk mengecap kembali manisnya bibir Ayas.
Candu itu seperti tak bisa sedetikpun ia tinggalkan, aroma, suhu tubuh Ayas yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Yah, tanggung, Yang!" ucap Reygen menghentikan lumatannya.
"Ihh, kalau udah selesai bakar-bakar, kan bisa!" Ayas tersipu, sehingga pipinya yang mulai merona seperti tomat matang.
"Hm, tunda lagi, deh!" Reygen memanyunkan bibirnya, membuat Ayas terkekeh melihat kelakuan suami yang selalu bermanja padanya.
"Udah, ah. Bii cepetan kita keluar, yang lain udah pada nunggu buat bakar ikannya." Ayas tersenyum geli melihat Reygen yang masih memasang wajah cemberut.
Dengan langkah malas, Reygen mengikuti Ayas dari belakang. Benar-benar tidak berdaya ketika Ayas sudah meminta Reygen untuk melakukan sesuatu.
Mereka pun bergabung dengan Sarah, Ronald dan Remon untuk memulai acara bakar ikan malam ini.
__ADS_1
Kebersamaan mereka selalu menciptakan kehangatan di sela dinginnya sepi yang menusuk rongga dada di antara mereka.
Ronald dan Remon yang merasa kesepian karena menjadi seorang pria yang tumbuh dan besar di dalam keluarga yang sibuk dengan karir orang tua, membuat mereka saling mengisi satu sama lain.
Malam kian larut, keheningan dalam gelapnya malam telah membawa insan manusia menyelami alam mimpi masing-masing.
Sarah di antar pulang oleh Ronald, sedangakan Remon dengan kendaraannya sendiri.
Tinggallah Reygen dan Ayas yang kembali mengarungi malam dan melanjutkan keromantisan mereka berdua dalam kamar.
"Canduku ... !" desah Reygen di sela keheningan malam, candu yang telah membakar gairahnya.
Tiada nikmat yang teramat selain hanyut dalam sebuah cinta kasih yang tulus dari lubuk hati terdalam. Palung kosong yang terdalam di hati Reygen telah terisi oleh Ayas yang seakan menjadi lentera dalam gelap dan seberkas cahaya yang menghangatkan dalam dinginnya kehidupan.
"Hubby ... !" erangan Ayas dalam desah dan hangatnya dekapan kekar sang kekasih halal.
Menikmati setiap jengkal pori tanpa ada rasa ragu dan gelisah di hati, tenang, hangat dan nyaman. Itulah yang mereka rasakan.
"Sayang, bangun, udah subuh." Reygen mengusap kening Ayas yang masih lelap dalam tidurnya. Dia sudah siap dengan rambut basahnya, setelah semalam maraton bersama Ayas. Berbalut baju koko dan sarung polos berwarna hitam. Terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Hm," Ayas mencoba membuka matanya, ia masih merasa sangat mengantuk dan lelah karena Reygen mengerjainya semalaman.
Stamina yang masih strong, membuat Reygen seperti tak bisa berhenti mengerjai Ayas.
Reygen duduk di tepi ranjang dan mengusap wajah Ayas yang masih terlihat layu. Tangan yang dingin karena habis mandi membuat bulu tipis Ayas meremang.
"Dingiin!" Ayas malah bergelayut manja di lengan kekar Reygen.
"Aku sudah masak air hangat, sana mandi. Kita solat berjamaah." ucap Reygen seraya mengecup kening istrinya.
Ayas tersenyum dan beringsut menuruni ranjang menuju kamar mandi. Reygen menunggu sambil duduk bersila di atas sajadah.
__ADS_1
Sungguh pribadi yang sudah berubah total, Reygen yang dulu selalu diliputi rasa benci kepada wanita, kini malah menjadi sangat mencintai wanita. Inikah yang di sebut ketika membenci sesuatu berlebihan, maka kau akan merasakan kebalikan.
Bucin, mungkin kata itu tepat di sematkan kepada Reygen saat ini.