
"Bii, kenapa kamu lakukan hal seperti tadi? kamu bisa terlibat masalah hukum, Bii!" Ayas tampak sangat cemas, pikirannya kalut melihat apa yang telah suaminya lakukan kepada Cakra.
"Lalu, apa aku hanya akan diam saja melihat orang yang telah membunuh calon anak kita?" tanya Reygen dengan kelopak mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kita masih bisa tempuh jalur hukum, Bii ... hiks, hiks," Ayas pun tak kuasa menahan tangis.
"Apa kau yakin, setelah kita melapor kepada pihak berwajib, lantas Cakra akan dihukum? hm!" Reygen tersenyum getir, "Dia bukan orang sembarangan, Sayang ... Dia ahli dalam bidang hukum. Dia bisa saja memutar balikkan fakta seolah-olah kamu yang bersalah," menatap Ayas lekat-lekat.
Cakra adalah seorang sarjana dari universitas ternama yang mengambil jurusan hukum, ia dipekerjakan di perusahaan Scalfh Corporation untuk menangani masalah hukum. Reygen sangat hafal track record Cakra, untuk itu ia tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Cakra begitu saja tanpa ada efek jera.
"Aku, aku takut, Bii! karena kau bisa saja menghilangkan nyawanya!" Ayas menundukkan kepalanya.
"Hei!" Reygen menegakkan wajah Ayas dengan jarinya, "jangan takut, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin memberi efek jera saja pada Cakra, agar dia tidak bisa berlaku sesuka hati lagi. Pukulanku tidak mengenai organ vitalnya, Kamu percaya sama aku 'kan?" Reygen menggenggam tangan Ayas.
"Hm!" Ayas mengangguk, meskipun tanpa senyum dan hanya wajah penuh kekhawatiran terlihat darinya, tetapi ia percaya kepada suaminya.
"Sekarang kita ke rumah sakit." Reygen menghapus tetesan air mata di pipi Ayas.
Mereka segera menuju taxi yang sudah di pesan oleh Reygen. Saat ini Ayas merasa sangat tidak tenang, pikirannya melayang karena khawatir akan terjadi sesuatu kepada suaminya.
***
Rumah Sakit...
Rendra dan Evelyn tengah berdiri sambil mengobrol di depan pintu ruangan dimana Cakra sedang mendapat perawatan, Rouge segera menghampiri mereka.
"Evelyn, apa yang terjadi?" tanya Rouge penuh wibawa.
"Tanyakkan langsung setelah putera kesayanganmu tiba disini." jawab Evelyn dengan wajah sinisnya.
"Sudah kubilang, jangan keterlaluan kepada Reygen. Kau memang telah melahirkannya, tapi kau tidak mengenal sifat puteramu." tutur Rouge tajam kepada Evelyn.
Tatapan Rouge beralih kepada Rendra, "Rendra, bisa kita bicara?" tanya Rouge dengan wajah datar.
Rendra mengangguk dan mengikuti Rouge yang telah berjalan lebih dulu meninggalkan Evelyn.
Beberapa saat kemudian, Reygen dan Ayas tiba. Mereka sempat berpapasan dengan Rendra juga Rouge.
"Assalamualaikum." Ayas mengucap salam kepada Evelyn yang tengah berdiri di depan pintu ruangan Cakra.
Ayas mengulurkan tangannya kepada Evelyn untuk menyalami mertuanya, tetapi Evelyn tidak menyambut uluran tangan Ayas. Ia hanya membuang muka kepada menantunya tersebut.
__ADS_1
Evelyn masih menyangka kalau Ayas hanya ingin harta yang dimiliki oleh Reygen saja, seperti mantan kekasih almarhum Reddick, kakak Reygen.
Reygen menggapai tangan Ayas yang tidak mendapat sambutan dari Evelyn, berharap istrinya tidak terlalu berkecil hati. Kemudian ia menggenggamnya, Reygen berharap bisa sedikit memberi kekuatan kepada istrinya tersebut.
"Bagaimana keadaan Cakra?" tanpa basa-basi Reygen bertanya kepada Evelyn.
"Apa pedulimu? bukankah kau menginginkannya mati gara-gara wanita ini?" Evelin menunjuk Ayas dengan tatapan yang memicing.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Reygen, Evelyn segera meninggalkan Reygen dan Ayas, ia sempat menoleh dengan tatapannya yang mengintimidasi.
"Bii, kenapa Ibumu sangat membenciku? apa salahku kepada beliau?" tanya Ayas menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." dengan wajah lesu Reygen hanya bisa menghela napas panjang. "Sudah jangan dipikirkan, kita temui papiku dan paman Rendra.
Reygen menarik tangan Ayas menuju lift, mereka akan menemui Rouge dan Rendra di lobby rumah sakit.
***
"Rey!" Rouge memanggil Reygen yang baru saja keluar dari lift.
Reygen dan Ayas segera menghampiri kedua lelaki paruh baya tersebut.
"Hei, Nak! bagaimana keadaanmu?" tanya Rouge kepada Ayas, suara berat dengan penampilannya yang berkharisma membuat wibawa Rouge semakin terpancar.
"Alhamdulillah, baik, Tuan!" jawab Ayas seraya menganggukkan kepalanya.
"Jangan panggil Tuan, panggil saja aku, Ayah! karena kau adalah menantuku." tutur Rouge sambil menatap Ayas datar.
"Om Rendra, maaf! saya telah membuat Cakra ... " tutur Reygen yang terhenti.
"Aku akan membawanya ke jalur hukum!" Rendra menyambar ucapan Reygen.
Rouge hanya menghela napas panjang, ia memilih untuk diam dan memberikan kesempatan kepada Reygen untuk menyelesaikan masalahnya secara dewasa.
"Apa?" Ayas merasa tidak percaya mendengar perkataan dari Rendra.
Ia merasa sesak di dadanya, tidak sanggup membayangkan kalau suaminya akan mendekam di balik jeruji besi. Wajahnya memucat seketika.
"Tenang saja, suamimu pria yang kuat. jangan terlalu mengkhawatirkannya," Rouge menoleh kepada Reygen, "biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya." Rouge kembali menatap Ayas.
Baru saja Rouge berbalik, dan beberapa langkah meninggalkan Reygen, terlihat Evelyn sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Evelyn, aku harap kau tidak keterlaluan." ucap Rouge kepada Evelyn.
"Tenang saja, Pi! aku tahu takarannya. Putera kita adalah lelaki yang kuat, untuk itu aku tidak ingin memiliki menantu yang lemah." ucap datar Evelyn kemudian melanjutkan langkahnya menuju Reygen.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin di bicarakan lagi, kami permisi!" Rey menarik tangan Ayas meninggalkan Evelyn dan Rendra.
Setelah kedua pasangan muda tersebut berlalu, Rendra kembali berbicara kepada Evelyn, kakak sepupunya.
"Kak, apakah kau yakin akan tetap membawa kasus ini ke jalur hukum?" tanya Rendra.
"Aku tidak akan menarik ucapanku. Ikuti saja permainanku!" jawab Evelyn dingin.
Rendra tidak akan berani mengusik keluarga Rouge dan Evelyn jika tidak atas persetujuan Evelyn, karena Rendra banyak berhutang budi kepada Rouge yang telah membantu perusahaannya bangkit setelah mengalami kebangkrutan.
Rouge menyuntikkan dana yang tidak sedikit untuk memulihkan perusahaan Rendra yang sudah hampir gulung tikar, saat itu Rendra meminta Cakra untuk bekerja di perusahaan Scalfh sementara menunggu perusahaannya kembali stabil.
Namun, sifat Cakra yang pendengki dan serakah membuatnya mengalami kerugian sendiri.
***
Ayas duduk di sofa ruang tamu, ia masih saja menangis memikirkan suaminya yang akan menghadapi meja hijau.
"Hiks! hiks!" isakan tangis Ayas membuat Reygen kebingungan sendiri.
"Sayang, sudahlah! aku akan baik-baik saja!" Reygen memegangi tangan Ayas, tetapi Ayas berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Reygen. Pria tampan itu semakin kebingungan menghadapi sang istri.
"Bii, apa kau tidak memikirkan aku, bagaimana kalau kamu masuk penjara? aku gak akan bisa hidup sendiri, Bii ... ! hiks, hiks," Ayas meratapi dirinya sendiri.
"Hei, aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang!" Rey mendekap tubuh istrinya.
"Aku takut, Bii!" Ayas membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Reygen.
"Tenang saja, percayalah tidak akan terjadi apa-apa pada kita." Reygen mengecup pucuk kepala Ayas.
"Bii, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Ayas, lantas mengambil jarak dari Reygen.
"Aku sudah bilang sama Remon, untuk menunda sampai aku benar-benar telah menyelesaikan masalah ini semua. Untuk itu, aku minta sama kamu ... kita hidup hemat dulu, ya, sampai aku kembali bekerja." Reygen kembali mengecup kepala Ayas seolah tak ada bosannya.
"Aku tidak butuh hidup mewah, Bii, yang penting kita bisa hidup dengan tenang dan tetap bersamamu." Ayas tersenyum meskipun kedua matanya tetap meneteskan air mata dan kembali berhambur ke pelukan Reygen.
"Terima kasih, Sayang!" Reyen mengeratkan pelukannya.
__ADS_1