Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 16 : Syarat diatas Syarat


__ADS_3

"Kakak mandi dulu."


Sarah menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan ritual untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Ayas masih mematung di depan pintu kamar mandi untuk beberapa saat sebelum kemudian dia beranjak menuju kamar tidur.


Ayas membuka album foto dan menatap fotonya dengan bunda Dahlia dan beberapa anak panti yang sedang bermain di halaman panti sebelum penggusuran itu terjadi.


Matanya mulai berkaca-kaca tatkala memandangi foto pada album tersebut. Lembar demi lembar ia buka menambah kesedihan dalam hatinya.


"Bun... Ayas minta izin, Ayas mau bangun panti itu lagi. Kembali tinggal di sana dengan anak-anak yang lain dan tolong bahagialah disana, Ayas akan selalu mendoakan bunda."


Untuk beberapa puluh menit Ayas hanya memandangi album foto dan dan membolak balikkan lembar demi lembar album foto tersebut untuk melihat-lihat foto kenangan dirinya bersama anak-anak panti yang lain dan juga Bunda Aisyah, lalu ia meletakkan album foto ke atas dadanya, memeluknya dengan erat sambil terus meneteskan manik bening dari sudut nanarnya.


Beberapa saat kemudian Ayas masih terlihat hanyut dalam kesedihannya tanpa menyadari bahwa Sarah sedang menatapnya masih dari belakang. Sarah menyentuh pundak Ayas membuatnya sedikit tersentak dari lamunan, ia segera mengusap air matanya dengan terburu-buru karena tidak ingin Sarah melihatnya.


"Tak perlu sungkan, kakak mengerti persaanmu, ini kartu nama pemilik perusahaan itu."


Sarah memberikan kartu nama Reygen yang berada di saku baju kerjanya, Ia memang akan memberikan kartu nama itu pada Ayas agar Ayas bisa menghubunginya sendiri.


Ayas menerima kartu nama itu dan segera membacanya, kemudian Ia meminjam ponsel Sarah untuk menghubungi nomor yang tertera pada kartu nama tersebut, karena Ayas tidak lagi memiliki ponsel setelah ponselnya tercebur pada kolam renang di rumah Reygen kala itu.



"Kak, aku izin mau menemui pemilik perusahaan itu."


Pagi ini Ayas berencana menemui Reygen setelah kemarin ia menelpon Reygen dan sepakat untuk membicarakan hal ini dengannya di rumah Reygen, karena hari ini Reygen tidak berangkat ke kantor karena hari libur.



"Apa kamu yakin, Dek? apa perlu kakak temani?"


Sarah yang sedang memasak nasi goreng untuk mereka sarapan segera mematikan kompor dan berbalik menatap Ayas yang sedang berada di belakangnya.



"Gak usah, Kak, percaya sama Ayas. Lagipula jika dia melakukan hal yang tidak wajar maka reputasinya sebagai pengusaha juga akan rusak, kan, Kak? dan itu akan merugikan dirinya sendiri."


Ayas tersenyum mencoba meyakinkan Sarah.



"Ya, Kakak percaya sama Kamu. Sekarang kita sarapan dulu, baru kamu boleh menemuinya."


Sarah melanjutkan kegitannya dan mengambil dua piring untuk menuangkan nasi goreng ke dalam piring tersebut lalu ia memberikan satu piring pada Ayas.


__ADS_1


"Permisi, Pak, saya Ayas... sudah ada janji dengan pak Reygen."


Ayas menemui Satpam rumah Reygen yang sedang berada di dalam pos jaganya melalui kaca pos satpam.


"Oh ya, pak Reygen sudah menunggu di dalam. Silahkan Neng,"


Mang Ozan sebagai Satpam rumah Reygen segera membuka pintu besi kecil yang berada di samping pos satpam.


Setelah Reygen memberi perintah padanya bahwa Ia akan kedatangan tamu seorang gadis berkerudung yang pernah ke rumahnya saat itu.


Ayas segera memasuki halaman rumah Reygen yang luas, Ia berjalan menuju pintu utama ruang tamu rumah Reygen karena sebelumnya Ayas sudah pernah kerumah ini.


Setelah menekan bel yang ada disamping pintu rumah Reygen, tak lama bi Ipah pun segera membukakan pintu untuk Ayas yang tengah berdiri di depan pintu rumah dengan menggunakan pakaian syar'i berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih membuat wajahnya seperti bercahaya.


"Silahkan masuk, Non."


Bi Ipah membuka lebar kedua belah pintu rumah Reygen dan mempersilahkan Ayas untuk masuk.


"Makasih Mbok."


Ayas membungkukkan tubuhnya seraya menghormati orang yang lebih tua darinya yaitu bi Ipah menuju ruang tamu.


"Silahkan duduk, Non. Saya panggilkan den Reygen dulu."


Sambil duduk di sofa dengan ukuran yang jumbo, Ayas mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu yang mewah bergaya klasik Eropa dengan nuansa putih pada cat dindingnya dan barang-barang yang mahal menghiasi setiap lemari kaca yang terpajang di setiap sudutnya.


Menunggu adalah hal yang sangat membosankan apalagi sudah hampir lima belas menit Reygen belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sudah beberapa kali Ayas melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya ditambah ia tidak lagi memiliki ponsel setelah ponsel semata wayangnya mati tercebur kolam renang waktu itu, membuatnya semakin mati kutu saat menunggu.


Ayas hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan memejamkan matanya mencoba untuk mengusir rasa jenuhnya.


"Ehem."


Suara pria berdehem dari samping tempat duduk Ayas, Ia segera menyingkirkan tangan dari wajahnyanya dan mencari sumber suara. Terlihat Reygen yang sedang berdiri di sampingnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Ayas yang melihat Reygen sudah ada di dekatnya membuat ia sedikit salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari Reygen.


Ia membuka tas ransel kecilnya dan mengeluarkan sebuah baju gamis berwarna putih.


"Ini, aku kembalikan,"


Ayas mengulurkan tangannya sambil menggenggam sebuah baju gamis berwarna putih yang sempat Reygen berikan padanya ketika baju Ayas basah kuyup karena tercebur kolam renang.


Reygen hanya tersenyum tanpa meraih baju yang Ayas sodorkan, Ia hanya berjalan dan duduk di samping Ayas.

__ADS_1


"Menyebalkan."


Ayas mendengus kesal ketika uluran tangannya yang sedang memberikan baju tidak di hiraukan oleh Reygen.


"Jadi bagaimana tawaranku?"


Reygen tidak suka berbasa basi dan langsung menanyakan mengenai tawarannya pada Ayas.


"Tapi aku juga punya syarat untuk mu,"


Ayas tak kalah sengit dengan Reygen.


"Hah, tidak salah?"


Reygen menatap seirus pada Ayas.


"Tentu saja, karena aku tidak mau kau manfaatkan untuk hal yang tidak senonoh."


Ayas melempar baju yang ada ditangannya pada Reygen membuat pria tampan itu semakin geregetan dengan gadis yang satu ini.


Pasalnya baru kali ini ada gadis yang berani berbuat demikian pada badboy tampan yang terkenal dingin pada siapa saja namun tidak pada Ayas tentunya.


Ayas menyilangkan kedua tangannya ke depan dada dengan wajah cemberut.


"Oke, apa syarat yang akan kau ajukan."


Reygen seperti tidak berkutik di hadapan Ayas dan hanya menuruti saja perintahnya.


kemudian Ayas segera mengambil selembar kertas dari dalam tas ransel kecilnya dan memberikan kepada Reygen.


"Bacalah terlebih dulu, setelah itu kau harus menanda tanganinya."


Ayas menyodorkan kertas itu dengan kasar tanpa menatap wajah Reygen.


Setelah kertas itu berada di tangannya, Reygen segera membaca dengan seksama isi dari syarat atau lebih tepatnya perjanjian antara keduanya.


Setelah beberapa menit Reygen memikirkan syarat dari Ayas, akhirnya Reygen menyetujui syarat itu.


"Hm, sepetinya tidak ada masalah, aku akan menepatinya tapi ...."


Reygen menghentikan ucapannya sambil menatap licik pada Ayas.


"Tapi apa?"


Ayas segera menyambar perkataan Reygen yang terhenti.

__ADS_1


__ADS_2