
Dengan berat kaki, ia tetap melangkah untuk menemui Vans.
"Ada apa, Vans?" tanya Reygen dengan malas.
Ia berdiri di samping Vans yang sedang duduk di sofa. Mendengar suara dari arah sampingnya, Vans menoleh dan mendongakkan kepalanya.
"Hei, duduklah!" Vans menepuk sofa sebelahnya, "tidakkah Kau ingin berbincang denganku setelah lama tidak bertemu?" tanya Vans sedikit lebay.
Reygen menarik napas berat dan mengambil posisi duduk di sofa yang terpisah dengan Vans.
"Langsung saja, ada apa Kau memanggilku?" dengan wajah dingin, Reygen langsung bertanya pada inti. Wajahnya terlihat tidak nyaman semenjak ia keluar dari kamarnya.
"Santai, bro! Apa Kau tidak ingin mengajakku berkeliling kotamu? Aku bosan berlama-lama di dalam rumah," Vans merajuk.
Reygen menggembungkan pipinya dan melepaskan tarikan napasnya seketika, ia berusaha menahan kekesalannya demi menghormati sang paman yang telah menitipkan putranya kepada Reygen.
"Baiklah, kau mau kemana?" tanya Reygen dengan tatapan yang menusuk.
"Ya ke tempat bersenang-senanglah!" jawab Vans tanpa ragu.
"Oke, bersiaplah, aku akan mengantarmu," Reygen meninggalkan Vans menuju kamar tidurnya.
***
"Sayang, aku keluar sebentar," Reygen berpamitan kepada Ayas.
"Mau kemana?" tanya Ayas, ia bergelayut di lengan Reygen dengan manja.
"Hm," Reygen tersenyum melihat istrinya bermanja, "Aku mau antar Vans ke suatu tempat. Bosan katanya di rumah." sambung Reygen. Ia memegangi ke dua lengan Ayas, kemudian memeluk wanitanya tersebut.
"Jangan lama-lama," Ayas semakin bermanja dan Reygen suka itu.
"Iya, jangan kemana-mana, ya! tunggu Aku pulang," titah Reygen kepada istrinya.
"Siap, Komandan!" Ayas meletakkan ujung jemari tangan kanannya di tepi pelipis.
Reygen tersenyum dan mengusap ujung kepala Ayas. Kecupan singkat mendarat sempurna di kening mulus sang istri tercinta.
***
Gemerlap lampu disko menambah suasana glamour tempat tersebut.
Reygen mengantar Vans, ke suatu tempat dimana ia bisa bersenang-senang. Ia tidak perlu kesulitan mencari tempat yang cocok dengan Vans, mengingat masa lalunya yang sudah fasih dengan tempat-tempat maksiat seperti itu.
__ADS_1
"Vans, Aku tinggal. Jangan minta jemput! Aku sibuk!" Reygen meninggalkan Vans yang sudah menggerak-gerakkan badannya mengikuti musik DJ.
"Rey, tunggu!" Vans mencegah Reygen untuk pergi, "nanti aku pulangnya gimana? Aku lupa jalan menuju rumahmu!" sambung Vans merajuk.
"Kau ini, sekolah di luar negeri dapat apa, hah! Ponselmu itu canggih, pesan transportasi online saja!" Reygen tidak memedulikan Vans lagi, ia terus berlalu meninggalkan Vans.
Vans merasa kesal kepada Reygen. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Halah, masalah pulang itu gampang, yang penting aku bisa bersenang-senang. Haha." Vans memesan coktail kepada bartender.
***
Malam telah berganti pagi, Reygen sudah bersiap pergi ke kantor. Seperti biasa, mereka selalu menyempatkan untuk sarapan bersama.
"Bi, apa Vans dari semalam belum pulang?" tanya Reygen kepada bi Ipah.
"Belum, Den. Bibi, belum melihat Den Vans, pulang." jawab bi Ipah yang sedang membantu Ayas membereskan meja makan.
"Oh," Reygen membulatkan bibirnya.
Ia merasa hawatir kepada Vans karena belum pulang dari semalam.
"Sayang, masih ingat dengan pesanku?" tanya Reygen kepada Ayas. Mereka berjalan ke ruang tamu.
"Iya, jangan keluar dari kamar sebelum Suamiku pulang. Kalau perlu apapun hubungi Suamiku, nanti bi Ipah akan datang dan memenuhi keperluanku." Ayas mendongakkan kepalanya menatap Reygen, tangannya bergelayut manja pada lengan Reygen yang kuat.
Setelah mobil Reygen berlalu, sebuah taxi online memasuki rumahnya.
Vans keluar dari kendaraannya saat Ayas hendak masuk ke dalam rumah. Ayas ketakutan, ia mempercepat langkahnya demi menghindari Vans yang sudah ada di depan pintu.
"Hei, tunggu!" Vans mengejar Ayas, meskipun teriakannya tidak di hiraukan oleh Ayas, tapi Vans tidak peduli dan tetap mengejar Ayas.
Vans berhasil menyusul Ayas ketika ia hendak menaiki anak tangga, ia menarik pergelangan tangan Ayas dari belakang.
"I got you!" Vans mencengkeram pergelangan tangan Ayas dengan kuat.
"Tolong lepaskan aku!" Ayas berusaha melepaskan cengkeraman tangan Vans, namun tangan Vans terlalu kuat sampai Ayas tidak bisa melepaskannya.
Air bening mulai menggenang di pelupuk mata Ayas, ia merasa sangat ketakutan.
"Bibi! Bibi!" Ayas berteriak memanggil bi Ipah atau bi Ida. Berharap mereka bisa menolongnya dari Vans.
Beberapa saat kemudian, bi Ipah dan bi Ida berlari tergopoh-gopoh menghampiri Ayas. Mata Vans merah menyala karena masih dalam pengaruh alkohol
__ADS_1
Melihat ke dua wanita itu datang, akhirnya Vans melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Ayas.
Ia menatap mesum kepada Ayas, dan tersenyum penuh hasrat kepada istri dari kakak sepupunya dan berbalik meninggalkan Ayas yang masih berdiri di tangga.
"Non Ayas, gak apa-apa?" tanya bi Ipah kepada Ayas yang sedang mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena ketakutan.
Ayas mengusap air mata yang tak tertahankan lagi.
"Gak apa-apa, Bi. Terima kasih! Saya permisi dulu mau ke kamar." Ayas segera meninggalkan bi Ida dan bi Ipah menuju kamar tidurnya.
Ipah dan Ida hanya saling menatap resah, ia tidak menyangka Vans akan berbuat seperti demikian.
"Bi, cepat lapor sama Den Reygen. Ini sudah keterlaluan," saran bi Ida kepada bi Ipah.
"Iya, Ida. Bibi juga hawatir kalau Den Vans, di biarkan terus nanti bisa-bisa, Non Ayas lebih ketakutan." jawab bi Ipah kepada bi Ida.
Setelah mereka sepakat, akhirnya Ida bergegas untuk menelepon Reygen mengenai kejadian tadi.
***
Ayas menangis di dalam kamarnya, ia masih merasa takut dan terbayang-bayang saat Vans, berbuat tidak sopan terhadapanya.
Setelah hampir satu jam mengurung diri dan menguncinya di dalam kamar, Ayas mendengar ketukan pintu dari arah luar.
Siapapun yang mengetuk pintu, saat ini Ayas tidak berani membukanya.
"Sayang, ini aku!" Reygen membuka suara.
Mendengar suara suaminya dari luar, Ayas segera berlari untuk membukakan pintu.
Setelah pintu terbuka, Ayas segera memeluk Reygen dengan erat.
"Kita masuk!" ajak Reygen, ia merangkul tubuh sintal istrinya ke dalam kamar.
"Aku takut!" Ayas kembali memeluk Reygen.
Mereka duduk di tepi ranjang tempat tidur. Untuk sejenak, Reygen hanya mencoba memberikan pelukan yang menenangkan untuk Ayas.
"Sepertinya, aku tidak bisa meninggalkanmu di rumah sendirian. Mulai besok Kau harus ikut denganku ke kantor sampai Vans, selesai berlibur disini." ucap Reygen sambil terus mengusap punggung Ayas.
Ayas mengangguk dalam pelukan suaminya. Perasaan takut dan kesal memenuhi dada Ayas, beruntung Reygen selalu ada sebagai tempat mencurahkan segala perasaan Ayas.
Ingin sekali Reygen membuat Vans babak belur, tapi niatnya ia urungkan karena teringat sebuah amanat.
__ADS_1
Saat ini, Reygen hanya bisa mengalah dan mencari cara agar Ayas jauh dari Vans, karena ia mengerti betul dengan sifat Vans.
Tidak mungkin Reygen membiarkan istrinya dekat dengan buaya ganas dalam satu atap tanpa pengawasan darinya.