Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 64 : Kabar Gembira


__ADS_3

"Sayang, ini tespacknya!" Reygen memberikan tespack sebanyak lima buah kepada Ayas.


"Banyak banget, Bii ..." Ayas menerima tespack dari Reygen.


Baru saja hendak pergi ke kamar mandi, Suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Reygen membuka pintu dan ternyata seorang kurir makanan mengantarkan gado-gado yang sudah di pesan oleh Reygen.


Sesuai harga yang tertera di aplikasi, Reygen membayar pesanannya dengan uang lembaran biru.


"Kembaliannya ambil saja, Pak!" ucap Reygen kepada kurir.


Kurir tersebut pun mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan pekerjaannya mengantarkan makanan yang masih tersisa, terlihat beberapa box yang terikat di belakang kursi jok motornya.


"Sayang, ini gado-gadonya." Reygen tersenyum dan memberikan satu kotak gado-gado kepada Ayas.


Ayas hanya duduk di kursi meja makan tanpa langsung menggapai makanan yang ada di tangan Reygen. Ia melirik jam ternyata sudah pukul 10.00 saat ini, Ayas bangkit dan malah meninggalkan Reygen yang sedang berdiri dengan satu kotak gado-gado di tangannya.


"Ay, kamu mau kemana?" tanya Reygen heran.


"Ambil sayuran di kulkas!" tanpa menengok sambil terus berjalan menuju lemari es.


"Terus ini gado-gadonya gimana?" tanya Reygen pasrah.


"Udah gak kepengen, soalnya kelamaan!" Ayas hanya terus memilih stok sayuran dari dalam lemari es.


"Ya, Tuhan ... kenapa, sih, nih orang aneh banget dari pagi!" dengkus Reygen sambil mengangkat kotak gado-gado. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan kesabaran atas kelakuan aneh sang istri.


Reygen meletakkan gado-gado di atas meja makan, terdengar suara perutnya yang menagih jatah karena dari pagi belum terisi.


Akhirnya dengan terpaksa ia menyantap bubur ayam yang sudah dingin, karena perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi setelah bolak balik untuk membeli tespack dan gado-gado sedari pagi.


Selesai menyantap satu box bubur ayam, Reygen melihat istrinya sudah membawa mangkuk dan segera duduk di kursi meja makan tepat di sampingnya.


"Yang, itu apaan?" Reygen menengok mangkuk berisi sayuran mentah dengan kuah merah sepertinya sangat pedas.


"Asinan!" tanpa ragu Ayas langsung menyantap asinan itu dengan semangat.

__ADS_1


"Sayang, itu mentah. Nanti kamu sakit perut!" Reygen mengambil mangkuk berisi asinan tersebut dari Ayas.


"Bii ... aku mau makan asinan!" Ayas merajuk.


"Tidak boleh, ini sayur mentah. Lagian dari pagi kamu belum makan apa-apa nanti bisa sakit perut, mana kuahnya pake cabe banyak banget lagi!" Reygen hendak membawa mangkuk asinan ke wastafel, tetapi Ayas mengejar dan berusaha merebut mangkuk dari tangan Reygen.


"Bii ... kembalikan asinanku!" Ayas tetap berusaha merebut asinannya dari tangan Reygen.


Reygen menarik tubuh Ayas dengan satu tangannya, kemudian ia dekap dengan erat.


"Sayang, aku akan berikan asinan ini kepadamu, tapi dengan syarat kamu harus makan bubur dulu." Reygen menatap tajam kepada Ayas, membuat wanita itu merengut.


Ayas pun melepaskan tangan Reygen yang melingkar di pinggangnya, ia segera berjingkat menuju kamar tidur tanpa memakan bubur ayam yang diperintahkan Reygen.


Melihat istrinya marah, Reygen segera menyimpan asinan di dalam lemari es dan menyusul sang istri yang sudah meninggalkannya ke dalam kamar.


"Sayang, jangan seperti ini! aku hanya khawatir kalau nanti kamu akan sakit perut. Aku ambilin buburnya, ya!" rayu Reygen kepada istrinya yang kini sedang duduk dan menyandarkan punggungnya ke headboard tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Bukannya menanggapi perkataan Reygen, Ayas hanya memalingkan wajahnya dari sang suami, membuat Reygen semakin kebingungan dengan sikap Ayas.


Menarik napas panjang mungkin bisa sedikit membuat Reygen lega, ia memikirkan cara agar Ayas tidak marah lagi kepadanya.


Membayangkan asinan yang segar dan pedas membuat Ayas semakin sedih, ia menangis membayangkan kelezatan asinan yang telah ia buat sendiri. Reygen semakin dibuat bingung oleh istrinya tersebut.


Jika saja tidak bisa menahan, mungkin saat ini air liur Ayas sudah membanjiri bibirnya. Kesal tidak di izinkan menyantap asinan, akhirnya Ayas mengambil tespack yang ia simpan di dalam laci nakas.


Gegas ia menuju kamar mandi dan segera menggunakan tespack untuk mengecek kondisinya. Setelah hampir satu menit ia mencelupkan tespack ke dalam air seni yang telah ia tampung ke dalam sebuah tabung kecil, terlihat dua garis merah yang membuat matanya melebar seketika.


"Terima kasih, ya Allah ... " gumam Ayas dalam hatinya. Tak terasa air mata menetes di pipi mulusnya, ketika ia terus saja memandangi dua garis merah pada alat tes kehamilan tersebut.


Sudah beberapa menit Ayas tidak kunjung keluar dari kamar mandi, akhirnya Reygen menyusul karena khawatir kepada istrinya.


tok, tok, tok!


"Sayang ... !" Reygen memanggil Ayas dari balik pintu kamar mandi, membuat wanita itu tersentak.


"Ya!" jawab Ayas dari dalam kamar mandi dan membuyarkan angannya, lantas ia membuka pintu dan memberikan alat tes kehamilan tersebut kepada sang suami.

__ADS_1


"Apa ini?" Reygen menerima tespack dan melihatnya dengan seksama.


Karena sama sekali tidak pernah melihat alat ini sebelumnya kecuali saat membelinya di minimarket dan itupun masih terbungkus kemasan yang rapi, ia pun tidak membaca keterangan yang tertera pada kemasan saat membelinya, akhirnya Reygen sedikit dibuat kebingungan.


"Sayang, apa artinya ini?" Reygen menunjuk garis merah dan beberapa simbol yang tertera di pinggiran alat tersebut.


"Aku hamil, Bii!" Ayas tersenyum dengan tatapan bahagia.


"Apa? kamu hamil!" Reygen langsung memeluk Ayas.


Mereka saling berpeluk di depan pintu kamar mandi. Tanpa terasa air mata di pipi Ayas kembali menetes, air mata bahagia, haru, juga sedih.


Air mata bahagia karena ia kembali diberi kepercayaan untuk memiliki calon buah hati,


Air mata haru, karena setelah melewati berbagai macam cobaan dalam rumah tangganya akhirnya ia bisa melewatinya bersama sang suami.


Air mata kesedihan, karena sampai saat ini ibu mertuanya belum memberikan restu atas pernikahan mereka.


Perasaan campur aduk hinggap di hati wanita muda tersebut, terlebih saat ini suaminya sedang menghadapi kasus hukum dengan saudaranya sendiri.


"Sayang, pokoknya sekarang kamu harus ikut denganku!" titah Reygen sedikit memaksa.


"Ikut kemana, Bii?" tanya Ayas.


"Periksakan kandunganmu ke dokter spesialis." jawab Reygen.


"Gak, usah! lagian aku baik-baik saja, kok!" tolak Ayas.


"Jangan bantah, ini perintah suami!" kata Reygen tegas.


Ayas tidak bisa menolak lagi, karena taxi yang di pesan Reygen sudah menunggu di depan rumahnya.


Karena Ayas pernah mengalami keguguran, maka dokter menyarankan di trimester awal kehamilannya, Ayas tidak boleh terlalu lelah dan beraktivitas berat. Ia harus banyak istirahat untuk menjaga kehamilannya.


Reygen melarang Ayas untuk melakukan apapun, ia mendatangi pak RT dan meminta bantuan mencarikan seseorang asisten rumah tangga yang bisa menginap di rumahnya.


Ayas tidak keberatan, tapi dengan syarat asisten rumah tangga itu sudah berusia dua kali lipat dengan usianya.

__ADS_1


Reygen sempat heran dengan permintaan Ayas yang aneh itu, sampai ketika Ayas menjelaskan maksudnya, Reygen tertawa terbahak-bahak.


"Kalau asisten rumah tangganya masih muda, aku takut kamu nakal!" ucap Ayas sambil mencubit hidung bangir suaminya. Membuat suaminya tertawa geli mendengar ucapan Ayas.


__ADS_2