Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 32 : Pernikahan


__ADS_3

Pagi yang indah, seindah pancaran sang surya yang menyemburkan seberkas cahaya terang dan memperlihatkan keindahan seisi bumi.


Pagi ini Reygen telah menerima laporan dari orang kepercayaannya bahwa penghulu akan datang ke rumah sakit untuk menikahkan Reygen dengan Ayas.


Beberapa orang terdekat Reygen dan Ayas mulai berdatangan ke ruangan rawat inap untuk menyaksikan upacara sakral kedua insan manusia tersebut.


Sebelumnya Ayas hanya bercanda dan meminta seperangkat alat sholat sebagai maskawinnya, dan saat ini Reygen sudah menyiapkannya.


Ayas yang merasa keheranan dengan semua ini memberanikan diri untuk bertanya pada Sarah yang sengaja mengambil cuti dari pekerjaannya.


"Kak, ada apa ini, kenapa banyak orang?"


tanya Ayas kepada Sarah.


"Hari ini Reygen akan menikahimu, dan sebentar lagi pak penghulu akan datang."


Sarah mengambil beberapa perlengkapan make up nya dari dalam tas.


'Apa ini mimpi?'Ayas bertanya dalam hatinya.


"Kak, coba cubit tanganku,"


Sesuai permintaan Ayas, Sarah mencubit tangan Ayas. Ayas pun mengaduh pelan karena merasa sakit.


"Berarti aku gak mimpi," ucapnya.


"Kamu emang gak mimpi, Dek," ucap Sarah.


"Kak, Ayas mau ngomong sama dia, bisa tolong Kakak panggilkan?" Ayas menunjuk Reygen dengan wajahnya.


Sarah pun segera menghampiri Reygen yang sedang duduk di sofa bersama Ronald dan Remon. Reygen sudah rapi dengan setelan jas tiga rangkap membuatnya semakin mempesona


Reygen segera menghampiri calon pengantinnya.


"Ada apa?" duduk di kursi samping brankar.


"Apa ini maksudnya?" tanya Ayas penasaran.


"Ini adalah pembuktian keseriusanku sama kamu," tandas Reygen tegas.


"Apa Bapak sudah gila, ini rumah sakit," dengan nada yang sedikit meninggi.


"Apa ada larangan untuk menikah di rumah sakit?" jawab Reygen telak.


Mendengar perkataan Reygen, Ayas pun tak dapat berkata-kata lagi. Ia berpikir kenapa Reygen bisa melakukan hal segila ini.


"Gila, pernikahan sekali dalam seumur hidupku akan dilangsungkan di rumah sakit," gumam Ayas pelan. Namun, dapat di tangkap oleh indera pendengaran Reygen.


"Karena kamu yang udah bikin aku gila," meninggalkan Ayas di atas brankar dan menuju sofa untuk berkumpul dengan yang lainnya sambil menunggu penghulu.


'Benar-benar tidak masuk akal, kenapa dia begitu nekat? padahal, kondisiku masih seperti ini, apakah dia tidak memikirkannya? egois!' Ayas hanya dapat menggerutu di dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian datanglah seorang pria dengan tubuh gempal berusia sekitar 40 tahunan memakai setelan jas berwarna hitam bersama dua orang berseragam kepemerintahan dengan peci hitam dan tas kerja yang mereka jinjing.

__ADS_1


Pria bertubuh gempal itu adalah orang kepercayaan Reygen sekaligus pengacaranya yang di perintahkan untuk mengurus surat-surat pernikahannya dengan Ayas.


Sarah kembali menghampiri Ayas dan melanjutkan aktivitasnya yang terhenti untuk sedikit memoles wajah Ayas meskipun pelipisnya masih tertutup perban.


Sarah hanya mengusapkan bedak tipis-tipis pada wajah Ayas dan mengukir bibir berisi nan mungil Ayas agar tidak terlihat pucat.


"Gila, ini benar-benar gila," Ayas masih ngedumel.


"Ini juga karena ucapanmu sendiri, Yas," Sarah tersenyum puas.


Setelah penghulu itu berbincang-bincang dengan Reygen, lalu mereka bertanya pada Ayas mengenai kesediaannya untuk menikah dengan Reygen.


Ayas tidak bisa bicara apa-apa, ia hanya diam dan menunduk sambil duduk di atas brankar tempat tidurnya, jika saja Reygen melihat wajah Ayas saat ini pasti ia akan tertawa melihat wajah Ayas memerah seperti tomat yang sudah siap untuk di panen.


Entah harus bilang apa walaupun ada rasa suka atau kagum pada Reygen belum tentu ini perasaan cinta, karena perkenalan mereka masih terbilang singkat.


Melihat reaksi Ayas, penghulu menganggap ini hal yang wajar karena diamnya seorang wanita yang di tanyai oleh calon mempelainya akan di anggap setuju.


Ayas masih saja menggerundel sendiri tanpa melihat prosesi sakral pengucapan ijab dan qobul dari Reygen karena ia merasa tidak sanggup melihatnya.


SAH..


SAH..


SAH..


Mendengar kata SAH, tubuh Ayas seolah terkena gempa bumi yang dahsyat sampai bergetar dan mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuhnya.


Entah harus sangat merasa bahagia atau apa, yang jelas saat ini Ayas seperti merasa di antara hidup dan mati, antara sadar dan tidak, antara mimpi dan terjaga.


Setelah prosesi sakral selesai, Reygen segera menghampiri Ayas dan menyematkan cincin kawin di jari manis wanita cantik tersebut.


Beberapa saat setelah acara selesai, para tamu segera meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan beberapa orang saja.


"Dek, kakak pamit dulu, ya. Sekarang kakak lebih lega, karena kamu udah ada yang jagain." mengusap ujung kepala Ayas yang tertutup hijab.


"Kakak jangan tinggalin Ayas, ihh," manja.


"Hm ... kamu ini, sudah menikah masih saja seperti anak kecil," mencubit hidung bangir Ayas.


"Kak, tolong temenin Ayas dulu," Ayas merajuk pada Sarah.


"Kakak masih banyak kerjaan, Dek ... nanti kakak balik lagi, oke," Sarah tersenyum dan di angguki oleh Ayas yang memasang wajah cemberut.


Ronald dan Sarah berjalan menuju pintu keluar ruangan, tetapi langkah mereka terhenti ketika melihat Remon yang sedang asik main game di sofa ruangan tersebut.


"Hei, ayo pulang!" teriak Ronald pada Remon, membuatnya tersentak dan langsung menyusul Ronald.


Kini di dalam ruangan tersebut hanya menyisakan Reygen dan Ayas berdua.


"Tenang saja, saat ini aku tidak akan meminta hak ku atas jasmani mu, aku menikahimu karena ingin selalu melindungimu. Aku tidak akan memaksamu sampai kau menyerahkannya dengan suka rela padaku," tersenyum puas.


Mendengar perkataan Reygen, Ayas pun dapat sedikit bernapas lega karena ia sangat ketakutan ketika Reygen mendekatinya.

__ADS_1




Satu minggu sudah Ayas di rawat di rumah sakit dan selama itu pula Reygen selalu setia menemaninya. Dan saat ini, mereka telah kembali ke rumah Reygen dan menyandang status sebagai pasangan suami istri.



Bi Ipah dan orang-orang di kediaman Reygen telah di beritahukan oleh sang tuan rumah mengenai hal ini dan semuanya merasa senang karena mereka berpikir akhirnya Reygen bisa hidup dengan baik jika ada seorang istri yang mendampinginya.



Reygen menyewa seorang suster untuk merawat Ayas di rumah saat ia sedang bekerja, kemarin adalah hari terakhir suster tersebut merawat Ayas di rumahnya.



"Hm... bukankah hari ini perban di punggungmu sudah bisa di lepas?" tanya Reygen pada Ayas yang sedang duduk di atas tempat tidur mereka.



"Ya," jawab Ayas singkat dan hanya sekilas melirik pada Reygen.



"Lalu, sudah dilepas?" dengan nada lembut.



Mendengar pertanyaan Reygen, Ayas hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan menunjukkan ekspresi yang sedikit canggung.



"Sini, aku bantu lepas perbannya," Reygen mendekatkan tubuhnya dengan Ayas.



Ayas menggeser tubuhnya untuk menjauhi Reygen.



"Hei, aku sudah halal untukmu. Tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam. Sekarang, buka sedikit baju yang menutupi punggungmu," perintah Reygen.



"T-tapi ...." Ayas nampak ragu.



"Hm, aku janji gak akan macem-macem," Reygen tersenyum dan mengangkat kedua jarinya.



"Janji?" pinta Ayas lalu di angguki oleh Reygen.

__ADS_1



Meskipun sudah satu minggu mereka menikah, tapi Ayas masih selalu menggunakan hijab ketika ada Reygen di dalam kamarnya, mereka memang tidur berdua di atas ranjang yang berukuran king size, tetapi belum pernah saling menyentuh sedikitpun.


__ADS_2