Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 11 : Amarah Ayas


__ADS_3

"Aku gak akan maafin dia."


Ayas meremas puing bangunan yang telah hancur itu dengan kedua tangannya.


Hari telah berganti dan Ayas semakin larut dalam kesedihannya karena telah ditinggalkan ibunda yang sangat Ia sayangi, sepeninggal Ayahnya, Bu Dahlia tidak pernah menikah lagi dan hanya fokus membesarkan Ayas dan mengurus panti yang telah ia dirikan beberapa puluh tahun lalu.


Ayas semakin larut dalam kesedihannya, beberapa anak panti telah diurus oleh Sarah yang bekerja sama dengan Dinas Sosial.


Dan kini Ayas tinggal bersama Sarah dikostannya.


Hari ini Sarah sangat lelah dengan aktifitasnya, membuat Ia terlelap meski hari masih sore. Ayas yang sudah berniat untuk mendatangi rumah Reygen berbekal Alamat yang tertera di Kartu Tanda Penduduknya yang lupa ia kembalikan setelah kejadian malam itu membuatnya semakin nekat untuk menemui pria yang bernama Reygen Scalfh.


Ayas mengira Reygen lah yang menggusur panti. Ia berpikir bahwa malam itu Reygen hanya berpura-pura mengantarkannya untuk sekedar melihat panti sebelum digusur olehnya, karena nama Scalfh dibelakang nama Reygen masih teringat jelas dalam ingatannya dengan nama perusahaan yang akan menggusur Panti.


Ayas yang sudah memasang aplikasi transportasi online pada ponselnya langsung memesan kendaraan menuju kediaman Reygen.




Minuman dan tembakau yang berserakan di gazebo halaman belakang rumah Reygen masih menjadi pemandangan di dekat kolam renang itu.



Ronald dan Remon baru saja meninggalkan kediaman Reygen setelah mereka berpesta dengan minuman dan tembakau, menyisakan Reygen yang masih duduk di gazebo dengan kedua kaki yang lurus kedepan dan kedua jarinya masih memainkan tembakau yang terjepit antara jari telunjuk dan jari tengahnya.



Aroma alkohol dan asap tembakau masih sangat menyengat di sekitarnya, Ayas yang baru saja tiba di depan gerbang rumah Reygen langsung dihampiri oleh satpam.



"Assalamualaikum Pak, permisi apakah ini rumahnya..."


Ayas membaca Kartu Tanda Penduduk milik Reygen yang ada ditangannya, "Reygen Scalfh?"


Ayas meneruskan perkataannya.



"Iya, bener Neng, kalo boleh tahu ada keperluan apa ya?"


Pak Satpam tampak mengorek tujuan Ayas ke kediaman Reygen.



Jika Ayas mengatakan tujuan yang sebenarnya pasti Ia tidak akan di ijinkan masuk ke dalam rumah Reygen, akhirnya ia harus memberi alasan yang masuk akal dan memuluskan rencananya.



"Ah, saya hanya mau mengembalikan Kartu Tanda Penduduknya pak Reygen, Pak."


Ayas memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk Reygen pada Pak Satpam.



Pak Satpam tampak memfokuskan pandangannya pada Kartu Tanda Penduduk yang masih berada di tangan gadis cantik berbalut busana syar'i warna peach tersebut.



Setelah memeriksa Kartu Tanda penduduk yang dimaksudkan oleh Ayas, akhirnya Pak Satpam akan menghubungi sang tuan rumah terlebih dahulu.



"Oh, iya, sebentar Neng. Saya akan lapor dulu."


Pak Satpam segera menelpon orang rumah.



Setelah Bi Ipah menerima telepon dari Mang Ozan, satpam rumah Reygen ia langsung mendatangi Reygen yang belum beranjak dari gazebo halaman belakang rumahnya.

__ADS_1



"Maaf, Den. Ada tamu katanya mau ketemu sama Aden."


Bi Ipah berdiri di depan gazebo. Reygen mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir sejenak.



"Siapa?" suaranya sedikit parau



"Katanya seorang gadis cantik berbusana muslimah membawa Kartu Tanda Penduduk Aden."



Mendengar perkataan Bi Ipah, Reygen langsung teringat pada gadis cantik yang beberapa hari ini memenuhi ruang ingatannya dan membuat ia gelisah menjelang tidurnya. Reygen tersenyum dan tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dari raut wajahnya.



"Suruh kesini aja, Bi," bibirnya tersenyum tipis.



"Baik, Den."


Bi Ipah segera berlalu dan menjemput sang gadis yang masih menunggu di pos satpam bersama mang Ozan.



"Non, disuruh masuk sama den Reygen. Mari bibi antar,"



Ayas tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mengikuti bi Ipah yang menuntunnya masuk ke dalam rumah Reygen yang mewah.




Sementara Reygen yang memang selalu memikirkan Ayas, sudah merasa tidak sabar bertemu dengan gadis yang selalu ada dalam memori otaknya. Perasaannya tak menentu dan jantungnya seakan berdebar sangat kencang sehingga hendak keluar dari tempatnya.



"*akhirnya kau datang juga padaku manis*!"


Reygen bergumam dalam hatinya.



Tak lama kemudian bi Ipah dan Ayas telah sampai dihalaman belakang rumah Reygen.



"Den Reygennya ada di gazebo sana, Bibi tinggal dulu ya."


Bi Ipah menunjuk sebuah gazebo berukuran 3x3 meter persegi yang berada tepat didekat kolam renang. Mata bening bak berlian milik Ayas menatap lekat-lekat pada sebuah Gazebo, mulutnya mulai mengatup sangat keras dan kedua tangannya mengepal dengan buku-buku jarinya yang memutih. Sudah tak sabar meluapkan semua amarah yang beberapa hari ini terpendam dalam dirinya. Ia segera berjalan menuju gazebo dengan nafas yang tersengal-sengal menahan amarah.



Sesampainya di depan Gazebo, Reygen langsung menatap Ayas dengan senyuman manis yang terlempar padanya, namun Ayas semakin geram dan menggeretakkan giginya.



Ayas yang berdiri dipinggiran kolam ingin segera menerkam Reygen tanpa ampun.



"Dasar manusia serakah, tidak punya hati!"


Ayas langsung memaki Reygen dan membuat pria tampan itu langsung mendekati Ayas.

__ADS_1



"Apa maksudmu?"


Reygen mengernyitkan dahinya karena merasa heran dengan makian Ayas.



"Jangan berpura-pura lagi, kau sudah menghancurkan hidup banyak orang dan menyebabkan ibuku meninggal."


Ayas berteriak dengan suaranya yang terengah-engah karena ia merasa sesak di dadanya akibat amarah yang meledak-ledak.



"Ambil ini, aku tidak akan memaafkanmu!"


Ayas melempar Kartu Tanda Penduduk Reygen dan memukuli dada bidang Reygen dengan segenap tenaga yang ia miliki namun tak membuat lelaki tampan bertubuh tegap itu bergeser dari tempatnya atau bahkan menahan pukulan gadis cantik berhijab tersebut.



Reygen berdiri dan semakin mendorong tubuh Ayas ke pinggir kolam renang.



Emosi Ayas yang meledak-ledak dan pukulannya yang membabi buta pada Reygen membuat ia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan tergelincir ke dalam kolam renang yang ada dibelakangnya.



JEBURRR!



Ayas jatuh ke dalam kolam dengan kedalaman 170cm, Reygen tidak langsung menolong Ayas karena ia sendiri masih bingung dengan semua perkataan Ayas, Ia hanya menatap Ayas dan mengira Ayas akan berenang ketepian.



Namun setelah beberapa saat Ayas tidak kunjung timbul ke permukaan air, membuat Reygen panik dan langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.



JEBURR...



Reygen menyusul tubuh Ayas yang masih berada di dasar kolam renang. Hijab Ayas yang terhempas air terlepas dari kepalanya sehingga memperlihatkan rambut panjangnya yang meliuk-liuk bersama arus air.



Reygen segera memeluk tubuh Ayas dan membawanya ketepi kolam renang, ia segera mengangkat tubuh sintal gadis itu naik dari kolam renang.



Reygen membaringkan tubuh sintal Ayas dipinggiran kolam renang, ia terpana melihat tubuh Ayas yang sedang basah kuyup membuat pakaian muslimnya menempel dengan kulit yang membentuk lekukan tubuh seksi sang gadis, Reygen yang masih terperangah dengan pemandangan yang ada dihadapannya merasa sulit untuk menelan salivanya.



GLEK!



Reygen dengan susah payah menelan salivanya dan mencoba menyadarkan Ayas yang ternyata sudah tidak sadarkan diri karena minum banyak air dan emosinya yang sangat tidak stabil.



Reygen menggoyang-goyangkan tubuh Ayas namun tak membuahkan hasil, lalu ia mencoba menekan-nekan dada Ayas beberapa kali namun Ayas masih tetap terpejam.



Reygen semakin panik lalu terbesit diotaknya.


__ADS_1


"Apakah aku harus memberikan napas buatan?"


__ADS_2