
Sejenak Reygen memikirkan permintaan Ayas, akhirnya ia menyetujui permintaan istrinya yang seperti kekanak-kanakan, dengan syarat Ayas mandi memakai baju juga hijab.
"Sepertinya aku harus segera membangun pagar yang tinggi untuk halaman belakang." Reygen mengusap dagunya yang tidak berjenggot.
Akhirnya Ayas mandi dengan berbasah-basahan di halaman belakang, untungnya di kampung ini tidak ramai dan masih terbilang agak jauh dari tetangga sehingga tidak ada yang menontonnya saat bermain air.
Setelah sekian puluh menit Ayas mengguyur badannya dengan air yang mengalir dari selang, seperti anak kecil saja Reygen memanggil Ayas untuk segera berhenti bermain dengan air kran tersebut.
"Yang, udah cepetan mandinya. Katanya mau ke Panti? nanti takut kemaleman." ucap Reygen yang sedang mengawasi Ayas dari pintu belakang.
Bukannya segera berhenti, Ayas malah menyemprot Reygen dengan air menggunakan selang yang sedang ia pegang. Alhasil Reygen basah dan memcoba merebut selang yang ada pada kendali Ayas.
Ayas menolak dan menyembunyikannya di belakang, Reygen tak mau kalah sampai akhirnya mereka basah-basahan berdua. Layaknya anak kecil yang senang bermain air, Reygen dan Ayas tertawa-tawa sambil memainkan selang yang menyemburkan air ke udara seperti hujan buatan saja.
Dasar mereka ini tak pernah bosan berduaan. Pacaran setelah menikah memang mengasyikkan. Apapaun yang mereka lakukan tidak akan menjadi sebuah fitnah atau masalah.
Tak terasa hari mulai petang, dua insan yang terus saling jatuh cinta ini menghentikan aktivitasnya dan bergegas menukar pakaian mereka yang sudah basah kuyup.
"Yank, jadi gak ke Panti nya?" tanya Reygen kepada Ayas yang sedang memakai hijab.
"Jadi lah, Bii." jawab Ayas yang masih di depan meja rias.
"Ya udah, cepetan dandannya." Reygen memeluk Ayas dari belakang.
"Iya, sebentar. Ini juga udah mau siap, kok!" Ayas tinggal mengaitkan jarum pentol pada hijabnya.
"Bii, tapi sebelumnya kita beli makanan dulu ya. Bawain buat bunda Mety dan bunda Meta, oh ya sekalian aku mau beliin perlengkapan bayi buat Amira." Ayas membalikkan badannya memghadap Reygen.
"Oke, ya udah cepetan. Udah siap belum?" tanya Reygen sambil menatapku penuh kehangatan.
"Hm." Ayas hanya mengangguk.
__ADS_1
Reygen menggandeng tangan Ayas dan mereka berjalan keluar rumah bersama. Setelah mengunci pintu, Reygen dan Ayas masuk ke dalam mobil yang kini sudah ada di tangan Reygen kembali.
Sebelum terbang ke luar negri menyusul suaminya, Evelyn meminta Reygen membawa mobilnya kembali agar Reygen mudah kemana saja apalagi Ayas sedang hamil jadi kendaraan adalah hal yang penting untuk dimiliki.
***
Tibalah di sebuah warung sate pinggir jalan sesuai permintaan Ayas. Reygen mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan warung sate tersebut, memastikan bahwa makanan yang akan ia dan istrinya konsumsi itu sudah aman dan higienis.
"Ay, kita makan di restoran aja, yuk!" ajak Reygen karena hawatir makanan di pinggir jalan akan membuat Ayas sakit perut.
"Emangnya kenapa kalo makan disini, Bii?" tanya Ayas yang merasa heran dengan tingkah Reygen yang meneliti setiap jengkal warung sate tersebut.
"Disini makanannya higienis gak?" tanya Reygen sambil berbisik di telinga Ayas yang tertutupi oleh hijab.
Mendengar perkataan Reygen, Ayas langsung tak bisa menahan tawa kecil dari mulutnya. Betapa lucu suaminya itu karena merasa khawatir dengan makan di pinggir jalan. Ayas langsung teringat waktu mereka pernah makan di warung nasi pinggir jalan.
"Bii, kamu inget gak, waktu kita makan di pinggir jalan deket Panti?" tanya Ayas sambil mengingat kejadian tempo dulu.
"Itu loh, yang kita makan ikan tongkol balado!" jawab Ayas mencoba membantu Reygen mengingat kembali kejadian tersebut.
Reygen tampak berpikir sejenak untuk mengingat kejadian yang di katakan oleh Ayas.
"Oh, kamu tau gak? waktu itu alergi ku kambuh setelah makan ikan tongkol!" ucap Reygen membuat Ayas mengernyitkan keningnya.
"Apa? alergi! kenapa kamu gak bilang?" Ayas merasa bersalah karena mengajak Reygen makan ikan tongkol.
"Kenapa harus bilang?" tanya Reygen.
"Kalau kamu bilang 'kan aku bisa bantu obatin." jawab Ayas.
"Udah jangan dibahas, obat yang paling mujarab buat aku itu, ya kamu!" ucapan Reygen membuat Ayas tersipu malu.
__ADS_1
"Terus kita lanjut makan disini atau gimana?" tanya Ayas.
"Ya udah, terserah tuan putri saja." jawab Reygen, ia memang selalu bisa membuat Ayas tersenyum simpul.
Mereka pun melanjutkan santap makan malam, karena sudah terlanjur memesan satu porsi sate ayam untuk Ayas dan satu porsi sate kambing untuk Reygen.
Dimanapun makannya, yang penting bersama istri tercinta tentu tidak akan masalah untuk Reygen. Semua akan terasa nikmat jika dinikmati bersama orang yang kita sayangi.
Selesai makan malam di warung sate mereka langsung pulang karena waktu sudah terlalu malam. Reygen tidak mengizinkan Ayas untuk tidir lebih dari jam sepuluh malam karena kondisinya yang sedang berbadan dua.
Jam tidur maupun makan dan kegiatan Ayas sangat di awasi oleh Reygen, hal itu ia lakukan agar Ayas tidak terlalu memporsir tenaganya dan akan berakibat kurang baik kepada kandungannya.
Ayas sempat protes dengan jadwal yang di berikan oleh Reygen, tetapi untuk baktinya kepada suami, Ayas tidak bisa membantah atau melanggarnya demi kebaikannya sendiri juga.
Setelah sampai dirumah, Reygen segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah sederhana milik mereka.
Tak lupa mengunci pintu dan sejenak bersantai di depan televisi sambil bercengkrama hangat dan bersenda gurau.
"Ay, aku mau denger suara dede bayi!" ucap Reygen sambil mengusap perut Ayas yang masih datar.
"Ya belum kedengaran lah, Bii! ini kan baru jalan dua bulan. Belum bisa gerak-gerak soalnya masih berbentuk gumpalan darah." ucap Ayas sambil menyisir rambut Reygen dengan jari-jarinya. "Oh ya, Bii ... kalau anak kita laki-laki mau dikasih nama siapa? dan kalau perempuan juga mau dikasih nama siapa?" kembali Ayas melontarkan pertanyaan kepada Reygen.
"Hm, aku belum kepikiran nih! tapi kalau bisa nama belakangku disertakan juga di nama belakang anak kita, ya!" jawab Reygen.
"Bagaimana kalau anak kita perempuan biar aku yang kasih nama, tapi kalau anak kita laki-laki kamu yang kasih nama." Ayas mengutarakan sarannya kepada Reygen.
"Boleh!" ucap Reygen sambil menatap Ayas dan tersenyum.
Malam mulai larut, Reygen meminta Ayas untuk segera tidur dan Reygen akan mengusap perut Ayas. Kebiasaan baru semenjak hamil, Reygen selalu mengusap perut Ayas sebelum ia tidur.
Meskipun Ayas tidak memintanya, tetapi Reygen mengerti kalau istrinya saat ini sedang dalam masa sensitif. Ia harus memberikan perhatian lebih tanpa harus diminta.
__ADS_1
Usapan lembut dari Reygen membuat kram perut yang terkadang di rasakan oleh Ayas menjadi lebih ringan dan ia merasa rileks dengan sentuhan lembut dari suaminya, membuat Ayas lebih cepat untuk tidur.