
Malam yang melelahkan telah mereka lewati berdua, kesan yang tak terlupakan telah membekas di dalam sanubari mereka. Puas! satu kata yang kini terukir di hati Reygen juga Ayas.
Hingga fajar mulai menyembul dari ufuk timur, mereka mulai terjaga setelah malam bekerja keras di atas peraduan.
Perlahan mata Ayas terbuka dan tatapannya langsung menuju atas nakas untuk meraih ponsel guna melihat waktu. Ayas mengaktifkan ponselnya dan terpampang angka 05.30 pada layar ponselnya.
"Yah, kesiangan!" Ayas terburu-buru masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari hadas besar dan lekas mengambil wudhu untuk sholat subuh, sampai-sampai ia lupa membangunkan Reygen yang sepertinya sangat lelap.
Mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, Reygen pun mulai terjaga dan tidak mendapati Ayas disampingnya. Lekas ia bangkit dan mendekati kamar mandi untuk mengecek istrinya tersebut.
Reygen mengetuk pintu kamar mandi,
"Yank!" Reygen melantangkan suaranya.
"Ya!" sahut Ayas dari dalam kamar mandi.
Tak lama setelah Reygen memanggil, Ayas pun langsung keluar dengan rambut yang basah dan dia menghindari sentuhan dengan suaminya, karena sudah berwudhu.
"Jangan deket-deket! aku udah wudhu!" Ayas berjalan menjauh dari Reygen.
Reygen pun hanya menarik napas panjang dan langsung memasuki kamar mandi yang sudah kosong tersebut.
Ritual lelaki dan perempuan di dalam kamar mandi itu berbeda, hanya butuh beberapa menit saja Reygen sudah selesai mandi besar dan segera menyusul Ayas yang sudah rapi dengan mukenanya.
Mereka pun shalat berjamaah, tak apa meskipun sudah bisa di bilang terlambat, tapi kalau memang tidak di sengaja hal tersebut masih dapat di maklumi.
***
Hari ini Reygen akan segera cek out dari hotel, Ayas dan Reygen menyempatkan diri untuk sarapan dulu di restoran hotel tersebut.
Ayas meminta izin kepada Reygen untuk kebelakang sebentar dan saat berjalan di lorong menuju toilet, Ayas bertemu seorang teman lama sewaktu di kampus dulu.
Sialnya, bukan hanya teman kampus biasa! teman lama yang pernah menyimpan perasaan sendiri terhadap Ayas. Selama ini Ayas pun tidak tahu jika temannya tersebut menaruh hati kepadanya.
"Ayas!" sapa pria yang kebetulan berpapasan dengan Ayas di lorong menuju toilet.
"Wildan!" ucap Ayas seraya menunjuk pria tersebut.
Wajah ketimuran dengan hidung bangir dan bulu tipis di bagian dagu sampai jambangnya itu terlihat sangat macho.
Wildan memang blasteran timur tengah, wajar saja wajahnya memang sangat mendominasi wajah timur.
"Lagi ngapain disini?" tanya Wildan.
"Liburan!" jawab Ayas singkat.
"Sama siapa?" tanyanya kembali.
__ADS_1
"Bentar, ya! Aku udah kebelet banget, nih!" Ayas terburu-buru meninggalkan Wildan dan masuk ke toilet wanita yang bersebelahan dengan toilet pria.
Beberapa menit kemudian Ayas selesai dengan hajatnya dan tidak disangka, Wildan masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, dan bersilang dada untuk menunggu Ayas di depan toilet.
"Wildan, ngapain masih disini?" tanya Ayas.
"Nungguin kamu! udah lama kita gak ketemu, boleh 'kan kalau sekedar berbincang!" ucap Wildan.
"Boleh aja, tapi aku di tungguin suami aku!" ucap Ayas.
"Suami? kamu udah nikah?" tanya Wildan.
"Hm!" Ayas mengangguk.
Merasa kelamaan menunggu Ayas, akhirnya Reygen menyusul Ayas ke toilet dan melihat istrinya tersebut sedang mengobrol dengan seorang pria, betapa dongkol hati Reygen melihat Ayas bercakap-cakap dengan pria lain selain dirinya dan kedua sahabatnya.
Pria yang tidak dia kenal dan menyebabkan api cemburu melanda hati sang suami, tetapi Reygen masih mencoba menahan diri dan bertanya kepada Ayas mengenai sosok pria yang kini ia cemburui tersebut.
Reygen segera menggandeng tangan Ayas dan melirik sinis kepada Wildan,
"Yank! ngapain kamu masih disini? ini siapa?" tanya Reygen dengan sedikit nada kesal.
"Oh, kenalkan! saya Wildan, teman kuliah Ayas dulu." jawab Wildan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Dengan perasaan malas dan kesal juga memasang wajah dingin, Reygen pun terpaksa mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Wildan
Melihat sikap aneh Reygen, Ayas hanya mengernyitkan keningnya.
"Wildan, bagaimana kalau kamu gabung saja sama kita buat sarapan!" ajak Ayas pada Wildan, membuat mata Reygen membulat sempurna.
"Boleh!" ucap Wildan sambil tersenyum.
Reygen mendengus kesal dan menatap tajam pada Wildan, tetapi pemuda itu tidak gentar dan hanya tersenyum kemudian mengikuti Ayas dan Reygen yang berjalan di depannya.
Reygen berjalan sambil memeluk Ayas dan berbisik pada istrinya tersebut,
"Ngapain sih, kamu ngajakin dia buat breakfast bareng?" bisik Reygen pada Ayas.
"Aku cuma basa-basi," jawab Ayas, pun dengan nada berbisik.
"Menyebalkan! bikin suasana gak asik aja, tuh orang!" gerutu Reygen dengan suara yang hampir tak terdengar oleh Ayas.
"Apa?" tanya Ayas, ketika mendengar Reygen menggerutu.
"Enggak apa-apa!" jawab Reygen datar.
***
__ADS_1
Dengan berat hati, Reygen pun duduk pada kursi yang berbeda dan meja yang sama dengan Wildan, entah apa maksud Wildan langsung menuruti ajakan Ayas untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi, Pak Wildan!" ucap salah satu pramusaji yang sedang mengantarkan makanan yang telah dipesan oleh Reygen, dan menoleh kepada Wildan.
"Pagi!" jawab Wildan seraya tersenyum.
"Siapa sih, dia? kok pramusaji itu kenal sama, si Songong itu!" gumam Reygen di hatinya kesal.
Sama sekali tidak ada wajah ramah yang terpasang pada Reygen, tatapannya seolah memburu pada Wildan yang sangat membuatnya terbakar api cemburu. Hal ini membuat Reygen sedikit berkurang nafsu makannya.
Setelah hidangan mendarat di atas meja, Ayas segera menyantap makanan yang ada di piringnya. Nafsu makan Ayas memang sudah bertambah dua kali lipat dibanding biasanya, rasa mual itu sudah tidak ada setelah menginjak trimester pertama ini. Bahkan, nafsu makannya semakin bertambah.
"Bii, ayok dimakan! kok diem aja?" tanya Ayas yang melihat Reygen hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya, tetapi Reygen hanya diam saja tidak menanggapi Ayas sambil menatap sinis kepada Wildan.
Wildan hanya memperhatikan Ayas dan setelah mendengar ucapan Ayas, Wildan segera memanggil salah satu pramusaji yang kebetulan lewat di dekat meja mereka.
"Mas!" panggil Wildan kepada pramusaji.
"Iya, Pak Wildan! ada yang bisa saya bantu?" tanya pramusaji sopan.
Semakin membuat Reygen tambah penasaran, "kenapa sih pramusaji disini mengenal Wildan? ah Bodo amat! bukan urusan gue!" ucap Reygen dalam hati.
"Bawakan hidangan spesial dari restoran kita!" titah Wildan.
"Baik, Pak!" Pramusaji pun lekas mengerjakan perintah Wildan.
Dari perkataan Wildan, Reygen sudah bisa menebak siapa Wildan! ya, dia adalah pemilik restoran sekaligus hotel dimana Wildan menginap saat ini.
"Menyebalkan! bikin pengen cepet-cepet pulang!" gerutu Reygen dalam hati.
"Kamu kenal pramusaji disini, kamu juga tahu menu spesial di restoran ini, apa kamu...?" perkataan Ayas langsung disambar oleh Wildan.
"Aku kerja disini!" ucap Wildan menyambar perkataan Ayas.
"Dia pemilik restoran ini!" timpal Reygen dengan sedikit kesal.
"Oh, benarkah?" tanya Ayas polos.
Wildan tak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Wah, selamat, ya! semoga selalu sukses!" ucap Ayas, membuat hati Reygen semakin dongkol.
Ayas masih saja tidak mengerti kalau saat ini Reygen sedang terbakar api cemburu, semoga saja sampai di rumah tidak ada bensin hingga tidak terjadi kebakaran dahsyat di antara Reygen dan Ayas.
__ADS_1
Bersambung...