Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 81 : Ayas


__ADS_3

"Ya udah, nanti Ayas bantu tanya sama, Kak Sarah!" ucap Ayas membuat hati Ronald sedikit lega.


"Thank's, Yas! kalo gitu, gue pamit dulu." Ronald menoleh kepada Ayas dan Reygen bergantian.


Sepamitnya Ronald dari kediaman mereka, Reygen kembali terlihat diam dan tampak sedang berfikir, entah apa yang sedang ia fikirkan yang jelas sepertinya bukan hal yang mudah untuknya.


"Bii, kamu lagi mikirin apa, sih?" tanya Ayas kepada Reygen.


Ayas menatap lekat ke wajah blasteran yang ada di hadapannya saat ini, ia tampak lesu dan sedang berpikir keras. Pandangannya kosong menatap ke depan, hanya ada segurat kegelisahan yang terpatri di wajah tampannya kini.


Sejenak Ayas membiarkan sang pemilik wajah tampan itu untuk memberinya ruang berpikir, kedua tangan Ayas meraih kedua tangan Reygen dan menggenggamnya erat lalu meremasnya dengan lembut, mencoba meyakinkan bahwa apapun yang sedang Reygen fikirkan semua akan baik-baik saja.


Kini tatapan Reygen beralih kepada paras cantik nan anggun milik istrinya, ia menatap lekat kepada pemilik wajah yang ada di hadapannya. Kedua tangannya saling meremas hangat, melelehkan ketegangan yang tercipta di ruang otak.


Yakin jika Ayas akan bisa menerima Reygen apa adanya membuat hati yang sedang gundah gulana itu terasa lebih tenang dan sejuk ia rasa.


"Sayang, kamu tahu kenapa besok aku mau minta kamu temani ke kantor?" tanya Reygen.


Matanya sendu menatap wajah yang ayu, tak apa membuka tabir masa lalu yang penting kini hatinya sudah yakin kepada satu dermaga yang akan menjadi pelabuhannya untuk yang terakhir.


Ayas mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Reygen yang seolah memintanya untuk mengerti, sambil meyakinkan hati yang penuh teka-teki, Ayas menarik napas panjang dan bertanya,


"Kenapa?" tanyanya lirih.


"Besok aku ada meeting dengan seseorang yang pernah ada di masa laluku, aku harap kau tidak salah faham. Untuk itu aku mengajakmu untuk senantiasa mendampingiku agar tidak ada fitnah antara aku dan dia." seloroh Reygen.


Degh!


Ah, jantung Ayas seperti sejenak terhenti, benarkah? apakah seindah itu masa lalunya bersama wanita yang akan meeting dengan suaminya? sampai-sampai Reygen meminta Ayas untuk menemaninya, bukankah itu berarti perasaan Reygen kepadanya pernah sangat kuat?


Ah, sudahlah! Ayas tidak mau berprasangka buruk dulu, dia hanya masa lalunya sedangkan Ayas adalah masa depannya. Jadi, untuk apa Ayas harus memikirkannya.

__ADS_1


Namun, perasaan wanita tetap saja perasaan yang terkadang rapuh. Ayas menatap harap kepada Reygen, semoga saja masa lalu itu memang hanya ia jadikan spion untuk berkaca agar bisa belajar lebih baik lagi.


"Bii, apakah masih ada perasaan yang tertinggal kepadanya sampai kau memintaku untuk menguatkanmu?" tanya Ayas dengan lirih.


"Tidak, aku hanya ingin kamu tidak salah faham dan besok kau akan tahu seperti apa dia." Reygen mengecup jemari Ayas yang lentik, "kau adalah canduku, kau masa depanku, jangan ragukan hati ini yang sudah seutuhnya milikmu!"


Senyum manis terukir jelas di bibir Ayas, ia akan menghadapi apapun yang penting bisa mempertahankan rumah tangganya bersama orang yang sangat ia cinta dan sayangi yang kini telah menjadi imam dalam rumah tangganya.


"Bii, asal kamu tau, aku akan mempertahankanmu sampai di ujung nafasku. Aku takkan rela kalau kamu kembali ke masa lalu meskipun hanya sedikit rasamu yang tertinggal di sana. Aku akan selalu menjadi masa depan yang selalu kau harapkan, dan setiap waktu yang telah kita lalui semoga akan menjadi sebuah rindu yang mengalun indah dalam hatimu." Ayas memeluk Reygen.


Membalas pelukan Ayas dengan segenap rasa cinta dan bangga kepadanya, tak ia sangka jika tanggapan Ayas akan sedewasa ini meskipun usia mereka terbilang cukup terpaut jauh.


"Terima kasih, Sayang!" bisiknya di telinga Ayas.


Seburuk apapun masa lalumu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menerimamu seutuhnya walau terkadang aku sedikit terkejut dengan kenyataan.


Bahkan, saat asaku tak siap dengan terjunnya ekspektasiku yang teramat menjulang sampai rasa ini seakan melayang pun aku harus tetap tenang.


Senja telah memeluk langit, Ayas dan Reygen kembali memadu kasih. Inilah hidup, terkadang kenyataan memaksa kita untuk selalu siap meski kaki masih terasa lelah untuk berjalan.


***


Pagi ini Reygen akan menemui klien di kantor, meskipun sebelumnya klien meminta Reygen untuk bertemu di restoran hotel kelas atas, tetapi Reygen menolak karena ia merasa tidak nyaman jika pertemuan di lakukan di hotel.


Apalagi Reygen berniat mengajak Ayas untuk meeting kali ini.


Setelan jas hitam yang melekat di tubuh tegap Reygen dengan dasi biru dongker yang telah melingkar di lehernya atas bantuan Ayas membuat lelaki itu tampak gagah dan berwibawa.


Reygen menunggu Ayas yang masih bersolek di depan meja rias, ah, dasar wanita! hanya polesan bedak tipis dan pemerah bibir saja memerlukan waktu yang tak sebentar.


"Sayang, udah siap?" tanya Reygen.

__ADS_1


"Iya," Ayas menyematkan bros mungil di samping hijabnya.


Balutan busana syar'i warna toska dengan list hitam terlihat sangat elegant di tubuh semampai Ayas.


Ayas bangkit dan berjalan dengan anggun menghampiri Reygen yang sedang menunggunya sambil duduk di sofa kamar, ia mengulurkan tangan kanannya untuk diraih oleh Reygen.


Reygen pun menyambut tangan lentik Ayas yang terjulur kearahnya. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan.


Ah, pasangan yang mendekati kata sempurna dengan fisik mereka, bak dewa dan dewi yang serasi dalam sebuah dongeng yang menjelma dalam imaginasi.


Pasangan itu pun telah sampai di ruang makan, beberapa menu sarapan yang telah di masak oleh Ayas dan bi Ipah sedari subuh pun telah siap di atas meja berukuran cukup besar dengan kursi yang tersedia untuk sepuluh raga.


Mereka mulai menikmati hidangan dan memanjakan lambung yang sudah sekian jam beristirahat.


Meskipun dalam benak Ayas masih terpikirkan mengenai wanita di masa lalu Reygen, tetapi ia tidak ingin merusak suasana khidmat sarapan suaminya.


Ah, sudahlah! tak perlu memelihara tanda tanya terlalu banyak dalam benak, karena aku akan segera mengetahui sosok yang pernah menghuni hati suamiku.


Beginilah wanita, sekecil apapun titik noda yang ada dalam hubungan dengan pasangannya pasti akan membuat pikiran dan perasaannya bergelut dahsyat.


"Sayang, kamu kenapa? kok, diem aja?" tanya Reygen.


Ia menatap Ayas begitu lekat, melihat manik matanya yang sendu membuat Reygen sedikit khawatir kepada istrinya tersebut.


"Gak apa-apa," Ayas memaksa bibirnya untuk melengkung.


Meski dalam hatinya sedang gundah gulana, tetapi ia tak ingin Reygen merasa seolah Ia tak percaya. Ayas menguatkan hatinya, pikirnya ia beruntung karena Reygen tak menyembunyikan apapun dalam rumah tangga mereka.


Meskipun mendengarnya terasa sedikit menyakitkan, tapi tak apa, yang terpenting saat ini adalah rasa yang ia miliki untuk Ayas tak berubah.


Mengenai masa lalu, biarlah menjadi sebuah pembelajaran yang berharga dan tidak untuk menjadi beban perasaan.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Reygen dan Ayas gegas berangkat ke kantor.


__ADS_2