Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 19 : Asma


__ADS_3

TUK..TUK..TUK..


Karena suasana hening suara sepatu pantofel Reygen terdengar nyaring di telinga Ayas. Gadis cantik itu membulatkan kedua bola matanya dan jantungnya berdetak sangat kecang karena baru kali ini ia berada di dalam sebuah kamar tidur dengan pria dewasa yang bukan muhrimnya, Reygen semakin mendekat dan menghalangi tubuh Ayas yang sedang menghadap pintu kamar tidur Reygen.


"Tempat tas kerjaku bukan disana, tolong letakkan pada tempatnya yang benar."


Reygen berkata pada Ayas yang kini jaraknya hanya beberapa jengkal darinya.


"Lalu harus diletakkan dimana?"


Nada kesal Ayas terlontar begitu saja dari bibir manisnya yang berwarna peach.


"Disana!"


Reygen menunjuk sebuah meja berbentuk persegi empat di sudut kamar tidurnya.


Mendengar perkataan Reygen, bola mata Ayas segera melirik meja yang ditunjuk oleh Reygen, dengan sangat berat hati ia berbalik arah dan mengambil kembali tas kerja Reygen dan membawanya ke atas meja persegi yang ditunjuk oleh pemuda tampan itu.


Setelah selesai meletakkan tas kerja pria menyebalkan versi Ayas itu, dia pun segera berbalik dan melangkah menuju pintu keluar kamar tidur Reygen, namun Reygen masih mematung di depan pintu kamarnya membuat Ayas mengehentikan langkahnya.


"Maaf, anda menghalangi jalan saya!"


Ayas tidak menatap Reygen, ia hanya memalingkan wajahnya pada dinding kamar Reygen.


"Buatkan aku secangkir kopi hitam, dan antarkan kemari,"


Reygen berkata singkat dan langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.


Ayas hanya mendengus kesal dan mengerucutkan bibir manisnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa menuruti perintah Reygen selama itu tidak untuk melecehakannya atau berbuat yang tidak sopan lainnya pada Ayas.


"Dasar sombong."


Ayas berkata sambil berjalan meninggalkan kamar tidur Reygen, tetapi orang yang dimaksud hanya tersenyum senang karena sudah berhasil membuat Ayas selalu ada di dekatnya.




Pagi yang cerah.



Namun, Ayas masih belum beranjak dari kamar tidurnya. Hari pertama kerja dengan pakaian sedikit basah dan dengan segudang aktifitas membuat ia kelelahan dan mengakibatkan penyakit asma yang di deritanya kambuh.



Ayas sudah berusaha untuk bangkit, tetapi tubuhnya terasa sangat lemas dan merasakan sesak yang teramat dahsyat pada pernapasannya yang membuat dia setengah sadar dan ambruk di lantai ketika hendak keluar kamarnya.



Reygen yang tidak kunjung melihat batang hidung Ayas sampai ia selesai sarapan pagi membuatnya bertanya pada bi Ipah.



"Bi, apa Bibi sudah melihat Ayas pagi ini?"


Reygen tampak penasaran.



"Maaf, Den, tadi setelah Non Ayas solat subuh, Non Ayas-nya sudah membantu Bibi menyiapkan sarapan. Mungkin masih bersiap."


Bi Ipah langsung berpamitan setelah ia membawa piring dan gelas kotor dari atas meja makan.



Reygen yang sangat penasaran dengan keadaan Ayas membuatnya tidak sabar untuk mendatangi sendiri kamar tidur Ayas. Reygen pun beranjak dari ruangan makan menuju kamar tamu yang di tempati oleh Ayas.



Beberapa kali Reygen mengetuk pintu kamar Ayas dan suara panggilan dari Reygen pun tidak membuat Ayas keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Reygen penasaran dan langsung membuka pintu kamar Ayas.



CEKLEK..



Reygen telah membuka pintu kamar Ayas dan ia seperti tertahan ketika akan membuka pintu kamar itu dengan lebar-lebar.


__ADS_1


"Kayak ada yang ganjel,"


Reygen merasakan ada yang menghalangi pintu kamar Ayas untuk terbuka lebar.



"Yas ... apa kamu yang menahan pintu?"


Reygen mengira bahwa Ayas yang menahan pintu kamarnya untuk terbuka lebar, tetapi setelah beberapa saat Reygen tidak mendapat sahutan dari dalam kamar, ia mencoba memasukkan kepalanya untuk melihat ke dalam kamar, dan Reygen melihat Ayas yang tengah tergeletak di depan pintu kamarnya.



Melihat kejadian tersebut Reygen terpaksa mendorong pintu kamar dan membuat tubuh sintal yang tengah tergeletak tidak berdaya itu terdorong oleh pintu.



"Yas, bangun, kamu kenapa?"


Reygen menggoyang-goyangkan bahu Ayas, tapi tidak mendapat respon apapun dari gadis itu.



Reygen segera membopong Ayas ke atas tempat tidur dan menghubungi dokter pribadi keluarganya, tetapi ternyata Dokter itu sedang sibuk dengan beberapa pasien dan belum bisa segera mendatangi kediaman Reygen.



Reygen menempelkan punggung tangannya di kening Ayas dan merasakan hawa panas yang tinggi darinya.



"Dia, demam."


Reygen tampak sedikit panik dan segera memanggil bi Ipah untuk membawakan obat penurun panas dan alat kompres.



Setelah beberapa menit akhirnya Ayas mulai bergerak dan membuka matanya perlahan.



"Ughh!"



Ayas berusaha untuk duduk, tetapi Reygen menahannya.



"Sudah, jangan bangun dulu, kamu istirahat saja dan tidak usah berangkat kerja hari ini."


Reygen duduk di tepian tempat tidur Ayas.



"Enggak, nanti kalau aku gak masuk kerja kamu akan memotong gajiku dan hutangku akan lebih lama lagi untuk lunas."


Ayas tetap berusaha untuk duduk dan menyingkirkan handuk kecil yang sedang menempel di keningnya.



"Dasar gadis bodoh, dalam kondisi seperti ini masih saja ingat hutang," gumam Reygen dalam hati.



"Jangan bantah perintahku, jika kau tidak menuruti perintahku untuk tetap istirahat di kamarmu, aku akan membatalkan pembangunan panti yang akan dilaksanakan hari ini."


Reygen tampak mengancam.



"Dasar, penguasa sombong! beraninya main ancam. "


Dengan lemah, Ayas mendengus kesal sambil bibirnya yang mengerucut.



"Sudahlah, aku akan berangkat kerja, karyawan yang sakit mendapat pengecualian untuk tidak masuk kerja. Jika kamu butuh apapun panggil saja bi Ipah. oh ya, kenapa kamu sampai pingsan seperti tadi?"


Reygen berkata panjang lebar.


__ADS_1


"Penyakit asma aku kambuh."


Tanpa menatap Reygen, Ayas hanya memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.



"Maaf, kemarin aku membuatmu kelelahan."


Reygen segera bangkit dari tempat tidur Ayas dan berjalan meninggalkan kamar Ayas.



Ayas yang berpikir kalau Reygen itu adalah manusia yang tidak punya hati dan perasaan merasa aneh dengan sikap dan perhatian dari bos menyebalkannya itu.



"Ternyata manusia sombong itu masih punya rasa belas kasihan juga."


Ayas berusaha untuk duduk dan mengambil tas yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya untuk mengambil obat dan nebulazer yang selalu ia bawa.



Setelah memanfaatkan waktu istirahatnya dengan baik, kemudian Ayas bangkit dan berjalan keluar kamar tidurnya. Saat ia telah sampai di ruangan tamu, bi Ipah melihatnya dan langsung menghampiri.



"Non, sudah baikan?"


Bi Ipah bertanya pada Ayas yang sedang berjalan menuju pintu keluar.



"Eh, iya Bi, udah."


Ayas tersenyum pada Bi Ipah.



"Sekarang, Non mau kemana?"


Bi Ipah lanjut bertanya pada Ayas yang hendak keluar dari rumah.



"Saya mau cari sarapan, Bi."


Ayas masih berdiri di depan bi Ipah.



"Loh, Non tadi, 'kan sudah membuat sarapan, dan Den Reygen juga sengaja memisahkan makanan sarapan tadi buat Non Ayas. Tolong, Non sarapan di rumah saja, ya, daripada nanti Den Reygen marah."


Bi Ipah mencoba membujuk Ayas untuk sarapan di rumah.



Sebenarnya Ayas hanya tidak ingin merepotkan orang yang ada di rumah Reygen karena ia merasa hanya menumpang saja disana.



Namun karena Bi Ipah terus memaksanya untuk sarapan di rumah, akhirnya Ayas pun menurut dan segera menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi buatannya dengan bi Ipah.



Nasi goreng dan telor ceplok di temani segelas susu buatannya sendiri telah membuat perut Ayas puas dengan makanan yang masuk ke dalamnya.



🌹🌹🌹



Makasih, ya, sudah mampir di cerita Ayas & Reygen.



Jangan lupa vote, komen dan like, ya.



love you😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2