
Sesampainya di kantor, perasaan dag dig dug hinggap di hati Ayas. Bagaimana tidak, hari ini ia akan bertemu dengan seseorang yang pernah singgah di hati suaminya meskipun saat ini Reygen sudah menjadikan ia pelabuhan terakhir dalam kelana cintanya.
Namun, tidak seperti Ayas yang terlihat sedikit gelisah dan tegang, Reygen hanya santai saja sambil memeriksa dokumen-dokumen kantor yang harus ia tanda tangani.
Untuk menghilangkan kegalauan, Ayas mencoba memainkan posel pintarnya sambil menenangkan diri dengan game yang terinstal di aplikasi androidnya.
tok, tok, tok.
Degh!
Jantung Ayas berdegup tak karuan, ia menarik napas panjang karena mengira yang mengetuk pintu adalah orang yang sedang ia tunggu.
Beberapa saat kemudian, Reygen mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk, seorang wanita muda berpenampilan formal dengan satu orang wanita berpenampilan seksi masuk ke ruangan Reygen.
"Selamat pagi, Pak!" sapa sekretaris Reygen.
"Pagi," Reygen menoleh ke arah suara dan melihat kedua wanita tersebut mulai berjalan mendekati meja kerjanya, "Silahkan duduk!" ucap Reygen sambil menunjuk kursi yang ada di seberang meja kerjanya.
Ayas masih duduk manis di sofa yang terletak di salah satu sudut ruangan kerja Reygen. Kedua matanya intens menatap wanita yang baru saja duduk di kursi kerja.
Tubuh semampai dengan kulit putih mulus dan wajah yang sangat cantik bak model terkenal yang memiliki bentuk fisik nyaris sempurna. Ah, memang sedikit membuat Ayas keki.
"Saya permisi, Pak!" ucap sekretaris Reygen dan langsung diangguki oleh Reygen.
Sekretaris itupun undur dan menyisakan Reygen bersama wanita seksi yang ada di seberang meja kerjanya, sedangkan Ayas masih duduk di sofa yang memang sedikit terhalang oleh rak-rak dokumen kantor.
"Rey, apa kabar?" sapa wanita seksi yang bernama Jessy sambil mengulurkan tangannya.
"Baik, bagaimana kabarmu?" Reygen menyambut uluran tangan Jessy.
Ayas mengintip dari celah rak buku, jantungnya berdetak kencang sambil sekuat tenaga menahan emosi yang meluap-luap, walau bagaimana pun ia tidak suka melihat suaminya dekat dengan wanita manapun apalagi dengan seorang mantan.
Jessy bangkit dan berjalan memutari meja kerja Reygen dan melingkarkan tangannya di leher Reygen, tetapi pria itu menolaknya.
__ADS_1
"Jess, bisakah kau sedikit lebih sopan?" ketus Reygen sambil menepis tangan Jessy yang mulai tak terkendali.
"Kenapa? apa kau sudah benar-benar lupa sama aku?" tanya Jessy yang terus saja berusaha menempel di tubuh Reygen.
Merasa tidak tahan lagi, akhirnya Ayas berjalan ke meja kerja Reygen. Betapa terkejutnya Jessy karena ia memang mengira tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain dirinya dan Reygen.
"Maaf, mbak! jangan pegang-pegang suami saya, ya!" Ayas menjauhkan tangan Jessy yang masih saja menempel di bahu Reygen.
"Jess, kenalin ini istri gue!" Reygen menarik tubuh Ayas ke dalam dekapannya.
Melihat Reygen yang malah membuatnya semakin panas, Jessy pun sedikit mundur dan kembali duduk di kursi seberang.
"Jadi, mana draft kontrak kerja sama kita?" tanya Reygen kepada Jessy. Ayas dengan sengaja duduk di pangkuan Reygen.
"Apa kau akan membahas pekerjaan dengan kelakuan seperti ini? menjijikkan!" ketus Jessy sekaligus mencibir.
"Hei, saya juga gak akan seperti ini kalau Mbaknya sopan sama suami saya!" tangkas Ayas tak mau kalah.
"Begini saja, bagaimana kalau kontrak kerja ini aku serahkan sama asistenku, kamu urus saja dengan dia!" ucap Reygen datar.
Reygen menatap Ayas meminta persetujuan dari istrinya tersebut.
"Kontrak kerja kita bernilai ratusan miliar, jangan sampai kau kehilangan kesempatan ini!" Jessy kembali menegaskan.
"Tak apa, aku lebih baik kehilangan kontrak kerja ratusan miliar dari pada kehilangan istriku yang harganya tak ternilai." ucapan Reygen membuat hati Ayas tersentuh.
"Apa kau dengar perkataan suamiku, Mbak!" ucap Ayas ketus.
"Rey, kenapa seleramu sampai terperosok jauh ke dalam jurang seperti ini?" tanya Jessy dengan nada mencibir.
Jessy menatap Ayas dengan sinis dan ekspresi yang merendahkan, memang dari style dan penampilan Jessy sangat terlihat dari kalangan atas dan tentu dengan perawatan mahal membuat tampilan fisiknya terlihat begitu sempurna.
"Sayang, tinggalkan kami berdua, sepertinya wanita yang ada di hadapanmu ini perlu sedikit sentuhan dari kuku tajamku!" Ayas menoleh sadis ke arah Jessy.
__ADS_1
"Jess, apa kau dengar? istriku itu wanita liar, jadi kalau kau masih bersikeras seperti ini, jangan salahkan aku kalau kau mendapat hukuman rimba darinya." Reygen tersenyum dan bangkit meninggalkan Ayas dan Jessy ke sofa di mana Ayas duduk tadi.
Reygen yakin kalau istrinya dapat mengatasi Jessy yang hanya bisa berdandan tanpa ilmu bela diri, jadi ia tidak perlu khawatir karena mereka pun masih dalam jangkauan penglihatannya melalui sudut ruangan yang tidak terlalu jauh.
"Dasar wanita kampung!" cibir Jessy.
"Ya, aku memang wanita kampung, tapi setidaknya aku sadar diri dan tau etika jika berhadapan dengan suami orang, tidak sepertimu mengaku wanita kota yang berpendidikan tapi kelakuanmu seperti orang hutan!" sergah Ayas geram.
"Beraninya kau menghina aku, ya! lihat dirimu? apa kau pantas bisa bersanding dengan Reygen?"Jessy menunjuk wajah Ayas.
"Buktinya, Reygen menikahiku dan bukan dirimu! apa kau sadar, bahwa kau telah ditinggalkan?" tanya Ayas tak kalah tajam.
"Heh, asal kau tahu! bukan Reygen yang ninggalin aku, tapi aku yang ninggalin dia!" ucap Jessy membela diri.
"Oh, ya sudah, kalau begitu untuk apa kamu rayu suamiku lagi? apa udah gak laku lagi?" tanya Ayas membuat Jessy tambah geram.
"Kurang ajar!" hardik Jessy seraya mengangkat tangannya.
Ayas tidak lengah dan menangkap tangan Jessy yang sedang melayang dan hendak mendarat di pipinya.
Pertengkaran seru pun terjadi antara dua wanita cantik, Ayas tidak mau kalah karena ia ingin memberikan efek jera kepada Jessy agar tidak melakukannya lagi kepada suaminya.
"Hei, apa kau tahu, kalau Reygen pernah tidur denganku?" tanya Jessy berharap perasaan Ayas terbakar dan marah.
"Untuk apa aku tahu kelakuan bejatmu? toh saat ini hanya aku yang bisa menggetarkan ranjang suamiku! dan tak akan ada yang lain!" cebik Ayas, "setiap orang memiliki masa lalu, dan aku sudah menerima masa lalu suamiku sekelam apapun itu, yang penting sekarang aku adalah wanita yang telah ia halalkan dan menjadi ibu dari anak-anaknya." tandas Ayas.
Mendengar perkataan Ayas, Reygen yang sedang mengamati kedua wanita yang sedang cekcok tersebut hanya tersenyum mendengar perkataan Ayas yang membuatnya senang.
"Baiklah, sampai dimana Reygen akan mempertahankanmu, aku tidak akan pernah mau mengalah begitu saja!" Jessy bangkit dari kursinya dan mengait tas tangannya dengan cepat.
"Hei, jangan lupa, aku selalu jadi satpam buat suamiku! awas saja kalau kau berani dekat dengan suamiku lagi!" ancam Ayas.
"Hm, kita lihat saja nanti!" Jessy berbalik dan meninggalkan Ayas.
__ADS_1
Akhirnya Ayas bisa bernapas lega, ia berjalan menghampiri Reygen yang terllihat sedang terkekeh menahan tawa, masih terngiang di telinganya saat mendengar Ayas dan Jesay bertengkar.