
"Yas ... m ... bolehkah aku...." menghentikan sejenak ucapannya.
"Apa?" Ayas menyambar ucapan Reygen yang masih terhenti. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya.
"Bolehkah aku mengecup keningmu sebelum tidur?" membalas tatapan Ayas dengan lembut.
"Hm," Ayas mengangguk dan tersenyum.
CUPP......
Tanpa menunggu, kecupan Reygen langsung mendarat di kening Ayas cukup lama.
Reygen merasakan ketenangan dalam jiwanya yang selama ini selalu gelisah. Ia benar-benar telah menemukan keinginan jiwanya yang selama ini terombang ambing oleh ganasnya kehidupan.
Setelah puas mengecup kening Ayas, ia segera membawa istrinya ala bridal style dan merebahkan tubuh seksi milik Ayas ke atas ranjang tidur mereka.
Ayas begitu merasa malu dan segera menarik selimutnya sampai menutupi kepala.
"Hei, kenapa kamu menutupi semua tubuhmu? apa tidak pengap?" Reygen duduk menghadap Ayas yang tengah berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Ayas tidak menjawab pertanyaan Reygen, ia hanya tersenyum-senyum sendiri karena merasa malu setelah Reygen mengecup keningnya.
"Buka sedikit selimutmu, aku tidak akan macam-macam," Reygen terkekeh menahan tawa.
"Jangan bicara terus, cepat tidur," Ayas mendengus kesal karena Reygen selalu menggodanya.
Reygen hanya geleng-geleng kepala karena kelucuan Ayas.
Malam kian larut, denting waktu telah menunjukkan tengah malam. Reygen dan Ayas menjemput mimpi indah mereka masing-masing.
***
Sebelum subuh, Ayas sudah bangun dan membantu bi Ipah untuk menyiapkan sarapan.
"Non, gak usah repot-repot biar bibi aja yang masak. Non, kan baru sembuh," Bi Ipah merasa tidak enak kalau majikannya ikut memasak di dapur.
"Ga apa-apa, Bi. Saya cuma pengen dapet pahala masakin buat suami, hehe," Ayas tertawa ringan.
"Duh, den Reygen ini memang pinter banget cari istri sholehah seperti Non Ayas," Bi Ipah tersenyum lebar.
"Ah, Bibi bisa aja." Ayas merasa gembira karena orang-orang yang ada di dalam rumah Reygen begitu baik padanya.
Selesai memasak sarapan, Ayas dan bi Ipah segera menata makanan di atas meja makan.
Mereka pun menyantap sarapan bersama sebelum Reygen pergi ke kantor.
"Yas, aku pergi ke kantor dulu ya," Reygen bangkit dari kursinya dan meraih jas yang terpasang di sandaran kursi meja makan.
__ADS_1
Ayas mengangguk dan segera membawakan tas kerja Reygen, ia mengantarkan Reygen sampai garasi rumahnya.
"Hati-hati." Ayas tersenyum dan meraih tangan kanan Reygen kemudian ia mengecupnya.
Reygen sangat merasa bahagia karena kini hidupnya terasa sangat sempurna.
"Kamu juga hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Oh ya, satu lagi. Jangan kerja berat-berat karena cederamu masih belum sembuh total, aku akan pulang cepat dari kantor." pesan Reygen pada Ayas yang panjang kali lebar. Baru kali ini Reygen sangat perhatian terhadap seseorang.
"Hm, siap Pak Bos, udah ceramahnya? hihi," Ayas mencandai Reygen yang kemudian hidung bangirnya di cubit oleh Reygen.
"Hm ... ternyata istriku sudah mulai berani meledekku ya," tersenyum ringan.
"Uh! kebiasaan." Ayas menepuk tangan Reygen yang sedang mencubit hidungnya, "sakit tahu!" Ayas mengerucutkan bibir manisnya.
"Jangan cemberut, nanti aku cium nih," mendekatkan wajahnya pada wajah Ayas.
"Ih, dasar mantan bad boy! sana cepetan berangkat, nanti kesiangan." Ayas mengibas-ngibaskan ke dua tangannya mengusir Reygen.
Reygen tersenyum dan segera berlalu dengan kendaraan mewahnya dan Ayas pun segera masuk ke dalam rumah Reygen.
Ayas berniat untuk mencuci pakaian di belakang, ia berjalan ke belakang melalui pintu dapur yang terhubung dengan tempat mencuci pakaian dan menyetrika. Ia melihat bi Ida sudah berkutat dengan mesin cuci.
"Bi Ida, boleh saya membantu?" Ayas menghampiri Ida yang sedang memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci.
"Gak usah Non, biar saya saja." Ida menahan Ayas yang hendak mengambil pakaian kotor dari dalam keranjang.
"Non, ke kamar aja istirahat. Kan, tangan Non Ayas belum benar-benar sembuh, kan? nanti kalau den Reygen tahu Non nyuci, pekerjaan saya bisa terancam, Non," Jelas bi Ida pada Ayas.
"Hah terancam, maksudnya terancam gimana Bi? apa ada yang mengancam Bibi?" Ayas menatap heran pada Ida.
"Den Reygen berpesan sama orang serumah buat jagain Non Ayas dan mengawasi Non supaya tidak mengerjakan apapun selain makan, bersantai dan beristirahat," Ida lebih mendetail perkataannya.
"Hah, kalau begini terus bisa mati bosan saya, Bi!" Ayas mengerucutkan bibir mungilnya. Ia berjalan menuju gazebo dan hanya menatap riak air yang terkurung dalam sebuah kolam renang berukuran cukup besar.
Ayas menatap kosong pada kolam yang ada di hadapannya, perlahan Ayas beranjak menuju tepian kolam renang dan duduk di tepiannya. Ia memainkan air jernih yang ada di dalam kolam renang tersebut dengan jari-jemarinya, wajahnya terlihat berseri meskipun semburat kerinduan sedang menyelimuti hatinya.
Bola mata hitam yang berbinar terlihat sedang memandangi riak air yang sedang ia mainkan.
Ayas tidak menyadari ada sosok gagah yang sedang memperhatikannya dari belakang.
"Ehem!" suara maskulin membuat Ayas terkejut dan menoleh.
"Bapak?" Ayas menoleh, "bukannya tadi sudah berangkat ke kantor?" Ayas langsung berdiri.
"Ya, tapi aku balik lagi." Reygen memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana.
"Ada yang ketinggalan?"
__ADS_1
"Ya," jawab singkat Reygen.
"Apa?" tanya Ayas penasaran.
"Hatiku," Reygen tersenyum pada Ayas.
"Mantan bad boy semakin lama semakin gombal ya, hm," terkekeh menahan tawa.
"Hm ... " Reygen tersenyum "Aku ingin memberikan ponsel ini untukmu." memberikan ponsel kepada Ayas.
"Ponsel?" mengerutkan keningnya.
"Ya, aku punya dua. pakailah sebelum aku belikan yang baru."
Ayas mengambil ponsel yang di ulurkan oleh Reygen.
"Terima kasih," Ayas tersenyum.
"Aku akan kembali ke kantor, jangan lupa pesanku. Jangan mengangkat benda berat, jangan kecapean, jangan keluar rumah, jangan--"
"Jangan lupa istirahat," Ayas menyambar perkataan Reygen.
"Hm," Reygen tersenyum dan mengusap ujung kepala Ayas, "aku berangkat,"
"Hm," Ayas mengangguk, "tadi kan udah bilang mau berangkat, tapi kok belum pergi-pergi juga?"
"Kamu ngusir aku?"
"Ayo ... jangan berdebat nanti kesiangan." Ayas mendorong tubuh Reygen sampai Reygen berjalan mundur dan tanpa sengaja menabrak pinggiran pembatas jalan yang ada di belakangnya.
DUG
BRUGH
AWW..!
Reygen terjatuh telentang setelah kakinya tersandung pembatas jalan yang tingginya hanya beberapa centi, tubuhnya jatuh di atas hamparan rumput hijau dan Ayas menindihnya.
"Hm, kalau begini mana bisa Aku berangkat kerja," tersenyum lebar.
"Ah, maaf." Ayas mengangkat tubuhnya sendiri dan segera berdiri di dekat Reygen yang masih telentang.
Reygen pun berdiri sambil mencoba menahan tawa melihat wajah Ayas merah merona seperti kepiting rebus. Ia menepuk-nepuk jas nya.
"Lain kali kalau mau menindihku jangan di sini," Reygen mendekat dan berbisik pada Ayas." tapi di kasur, haha," tawa jahil dari Reygen.
"Ih, dasar bad boy, saya kira kesakitan tapi ternyata ... uh!" Ayas menghentakkan satu kakinya dan meninggalkan Reygen.
__ADS_1
Bi Ida yang melihat kejadian tersebut tak kuat menahan tawa, namun ia membekap mulutnya sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara takut di dengar oleh majikannya.