
"Bii, jangan lepasin aku, ya!" Ayas memegangi tangga kolam renang.
Dengan setia Reygen mengajari Ayas berenang, pepatah mengatakan bahwa belajar di usia menjelang tua itu bagai mengukir di atas air, tidak seperti belajar di usia muda yang seperti mengukir di atas batu.
Entah sudah yang ke berapa kali Reygen mengajari Ayas berenang gaya bebas, tetapi Ayas masih saja tenggelam meskipun sudah menggerakkan kaki dan tangannya.
Sepertinya ini akan menjadi kelas yang cukup lama untuk Ayas, karena seumur hidupnya Ayas hanya beberapa kali belajar berenang itupun jika ada kegiatan eskul saja di sekolahnya.
"Yank, udahan dulu latihannya. Nanti kita lanjut lagi, tuh liat jari-jari kamu udah pada keriput!" Reygen memegangi jemari Ayas yang sudah mulai keriput karena dingin dan terlalu lama berada di dalam air.
"Bentar lagi, aku 'kan belum bisa," ucap Ayas.
"Angetin perut dulu." Reygen mengulurkan tangannya untuk menarik Ayas dari dalam kolam renang.
Mau tidak mau Ayas menuruti titah sang suami, ia meraih tangan Reygen dan naik. Minuman hangat sudah disiapkan oleh bi Ipah untuk mereka berdua.
Ya, mereka sedang menginap di kediaman mewah Reygen untuk mengajari Ayas berenang.
"Minum dulu teh hangatnya!" Reygen menyodorkan segelas teh hangat untuk Ayas.
Tak sabar untuk kembali menceburkan diri ke dalam kolam renang, Ayas mengajak Reygen untuk mengajarinya berenang lagi. Ia tampak sangat senang bermain di dalam kolam, maklum sebelumnya ia memang sangat jarang bermain di kolam renang seperti ini.
Hampir dua jam Ayas private berenang kepada suaminya tersebut. Sedikit demi sedikit ia sudah mulai bisa mengambang di air meskipun baru bisa bertahan beberapa detik saja tapi lumayan lah tidak terlalu seperti pertama belajar yang langsung menggunakan teknik gaya batu.
"Yank, udah dulu istirahat, kamu udah kelamaan di dalam air." Reygen kembali meminta Ayas untuk naik, meskipun Ayas masih senang belajar berenang, tetapi ia pun bisa menakar kemampuan tubuhnya yang tak mungkin di paksakan untuk terus di dalam air yang sudah sedikit kedinginan.
Berenang memang sangat baik untuk wanita hamil besar seperti Ayas guna melatih pernapasan sebelum melahirkan.
Mereka duduk di gazebo dan menikmati teh hangat dengan santai. Tak lama terdengar dering dari ponsel Reygen dan terpampang nama "Papi" memanggil dari ujung sambungan.
Reygen gegas mengusap tombol hijau pada layar ponselnya, terlihat ekspresi yang sedikit kurang senang ketika berbicara dengan Rouge dari ujung sana.
Namun, Reygen hanya bisa berkata "iya" sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan sesekali menggigit kecil bibirnya sendiri.
Terasa begitu berat sepertinya, karena Reygen terlihat beberapa saat terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya setelah mempertimbangkan ucapan Rouge dari ujung sambungan, Reygen pun mengatakan "iya" sebelum menutup percakapan dengan sang papi.
Ia meletakkan ponsel di atas lantai gazebo dan sejenak terdiam, tatapannya beralih kepada wanita yang ada di sampingnya.
Reygen menatap lekat-lekat kepada Ayas, membuat wanita yang ia tatap itu mengernyitkan dahinya karena heran dengan sikap Reygen yang tiba-tiba diam dan menatap serius kepada Ayas.
__ADS_1
"Yank, mau gak kita tinggal disini dulu?" tanya Reygen.
"Kenapa? ada apa?" Ayas balik bertanya.
"Ada urusan kantor yang harus segera aku tangani." tutur Reygen.
"Berapa lama?" tanya Ayas.
"Tidak pasti, apa kamu gak betah tinggal disini?" tanya Reygen.
"Betah, sih! tapi, aku gak enak sama Momy," jawab Ayas.
"Tenang saja, momy kan tinggal di LN sama papi, jadi paling kalau ada moment-moment tertentu aja dia pulang kesini, lagi pula sekarang momy sudah merestui pernikahan kita." ujar Reygen sambil meremas tangan Ayas.
"Aku ikut kamu saja, gimana baiknya." tutur Ayas.
Bukan tidak ingin mandiri atau hidup sederhana di rumah pinggiran kota, tetapi Reygen hanya ingin memastikan kalau Ayas ada yang menjaga selama ia sibuk dengan pekerjaannya.
Di kediamannya ini banyak yang akan membantu Ayas dan mengawasinya, jadi Reygen tidak terlalu khawatir kalau ada apa-apa terhadap Ayas, sedangkan jika di rumahnya yang berada di pinggiran kota Reygen merasa was-was kalau meninggalkan Ayas sendiri mengingat jarak kantor ke rumahnya lumayan jauh.
"Memangnya tadi papi bicara apa?" tanya Ayas penasaran dengan apa yang barusan dibicarakan oleh Reygen bersama Papinya.
"Urusan kantor," jawab Reygen singkat.
"Besok ikut aku ke kantor, yuk!" bukannya menjawab pertanyaan dari Ayas, Reygen malah mengajak Ayas untuk menemaninya ke kantor.
"Ikut ke kantor? mau ngapain?" tanya Ayas heran.
"Nanti juga kamu tahu," ucap Reygen.
Ayas terdiam sejenak dan memikirkan ucapan Reygen, kenapa ia mengajak Ayas untuk menemaninya di kantor? bikin penasaran aja, apa Reygen akan memberikan kejutan atau hadiah?
Ah, pikiranku jadi menerawang kemana saja akan tetapi perkataan Reygen memang membuatku penasaran. Ada apa ini?
Tidak ingin berpikiran macam-macam, Ayas pun kembali menikmati camilan di gazebo. Bajunya yang basah dan kulit jari-jarinya yang mulai keriput membuat Reygen tidak ingin melihat Ayas kedinginan.
"Ganti baju sana!" tutur Reygen.
Ayas pun langsung beringsut menuruni gazebo dan menuju ruang ganti yang berada di sudut pagar halaman rumah Reygen.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Ayas selesai bertukar pakaian, mereka kembali ke dalam rumah dan bersantai sejenak sebelum Ayas memasak untuk makan siang mereka.
"Aku masak dulu, ya, Bii," ucap Ayas.
"Jangan capek-capek!" timpal Reygen.
"Cuma masak aja masa capek! lagian aku juga 'kan di bantuin sama bi Ipah!" tandas Ayas.
"Ya udah." Reygen melepas genggaman tangannya pada tangan Ayas.
Ayas pun beringsut meninggalkan Reygen di ruang keluarga menuju dapur. Baru saja Ayas pergi ke dapur, bi Ipah menghampiri Reygen untuk memberitahukan kalau ada tamu di depan.
"Maaf, Den! itu ada, Den Ronald di depan," ucap bi Ipah.
"Hm," Reygen hanya berdehem dan bangkit dari sofa menuju ruang tamu.
Terlihat Ronald sudah duduk di sofa ruang tamu kediaman Reygen, ia pun menyapa sahabatnya sambil menghempaskan bokong di atas sofa.
"Ngapain, Lo kesini?" tanya Reygen tanpa basa-basi.
"Ya elah, tawarin gua minum dulu, kek! ini malah langsung di skak mat, gue!" ucap Ronald kesal.
"Manja Lo, kalo mau minum, ya minum aja, kek tamu baru aja di rumah gue!" dengan nada dingin.
"Gak pernah berubah Lo, kalo sama temen, tetep nyebelin!" dengkus Ronald.
"Langsung aja mau ngapain, Lo kesini?" tanya Reygen kembali.
"Gue di jodohin, Rey!" ucap Ronald dengan cepat.
Reygen menatap lekat pada Ronald dan mengernyitkan keningnya,
"Lu, serius?" tanya Reygen.
"Masa gue becanda!" tutur Ronald.
"Keliatan, sih, muka Lu, kek kaset kusut!" Reygen malah mengejek.
Ia tertawa melihat Ronald yang memasang muka kusut dan panik, baru kali ini Reygen melihat Ronald dengan wajah yang begitu tegang.
__ADS_1
"Ya elah, gue kesini mau minta pendapat sama, Lu! bukannya dapet ledekan kek gini!" Ronald mendengkus kesal.
Disela pembicaraan mereka, Ayas datang menghampiri untuk mengajak Reygen makan siang, sekalian ia juga mengajak Ronald bergabung di meja makan bersama.