
"Permisi."
Ayas membungkukkan tubuhnya ketika melewati ke-tiga manusia yang tengah berdiri di dekat pintu rumah Reygen.
Ronald dan Remon juga Michelle memasang wajah penuh tanda tanya mengenai gadis berjilbab yang baru saja masuk ke dalam rumah Reygen.
"Mau ngapain kalian ke sini?"
Reygen berkata dengan nada dingin pada ke tiga manusia yang ada di hadapannya. Ia melanjutkan langkahnya memasuki rumah di ikuti oleh ke-tiga manusia di belakangnya.
"Hey, Rey, kita kan udah lama gak party."
Ronald duduk di sofa ruang tamu.
"Ayolah, Rey, kita party lagi udah lama nih gak asik-asikan."
Remon ikut duduk di sebelah Ronald pada sofa panjang yang berada di ruang tamu.
"Ck, kalian gak lihat apa kalau gua lagi capek!"
Reygen berdecak kesal sambil mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya, ia merobohkan tubuhnya di sofa single.
Michelle yang duduk di sofa single sebelah Reygen tersenyum manis berharap Reygen tertarik padanya.
Ronald mengedipkan matanya pada Michelle sebagai tanda sesuatu. Melihat kode dari Ronald, Michelle pun segera melancarkan aksinya untuk merayu Reygen.
Michelle mencoba memegang tangan Reygen yang tergeletak di atas sofa namun Reygen menghindarinya.
"Ayolah, Rey, aku bisa melayanimu lagi bahkan lebih dari waktu itu."
Michelle tak putus asa untuk merayu Reygen.
"Apa sih, gua capek!"
Reygen berdiri dan meninggalkan ketiga temannya di ruang tamu.
"Rey, tunggu!"
Ronald berdiri dan menahan langkah Reygen.
Reygen hanya berdiri dan Ronald pun mendekat padanya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, siapa cewek tadi?"
Ronald tersenyum nakal sambil mengangkat ke dua alisnya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Ronald, Reygen hanya melirik malas pada Ronald dan menatapnya tajam, melihat reaksi Reyegn yang kembali memasang wajah kejamnya Ronald pun tak berani meneruskan pertanyaannya.
Reygen melanjutkan langkahnya menuju lantai atas untuk masuk ke kamarnya. Kalau sudah begini Ronald dan Remon hanya pasrah, tetapi Michelle menatap licik pada Reygen. Ia tidak terima karena merasa sangat tidak di hiraukan oleh Reygen.
Akhirnya Ronald, Remon dan Michelle balik kanan untuk melanjutkan party mereka di sebuah club malam yang tidak jauh dari sana.
Reygen sudah berada di dalam kamarnya. Dia membuka jas dan melepas dasi yang masih melingkar di lehernya. Ia mengambil handuk dan segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Reygen segera memakai baju piyama warna abu-abu dan duduk sembari menyandarkan punggungnya pada head board tempat tidurnya.
Angannya melayang pada gadis cantik yang berhijab yang kini tinggal satu atap dengannya. Dia masih tidak habis pikir dengan gadis yang satu itu karena wajahnya terus memenuhi pikiran Reygen.
Malam kian larut dan menghadirkan kesunyian yang menyejukkan indera pendengaran.
Besok Reygen berencana untuk mengajak Ayas jalan-jalan, karena besok adalah hari libur tanggal merah, lanjut week end.
Reygen segera memejamkan matanya untuk menjemput mimpi indah malam ini, tetapi tidak bisa, ia gelisah memikirkan gadis itu.
Ayas yang sudah sangat lelah dengan aktifitas hari ini sudah terlebih dahulu menjemput mimpi indahnya.
Ayas terjaga dari tidurnya dan merasakan perutnya sangat lapar, Ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mencari makanan di dalam lemari es. Ia mengambil satu bungkus mie instan dan sebutir telur untuk di masak.
Reygen yang tidak bisa tidur akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya untuk menonton film saja di ruang keluarga lantai bawah.
Reygen berjalan menuruni anak tangga, malam yang sunyi membuat suara dari arah dapur terdengar jelas karena semua penghuni di dalam rumahnya tengah tertidur lelap. Suara alat masak yang bergesekan dan saling terbentur pelan terdengar di telinga Reygen.
"Siapa yang lagi masak di dapur malem-malem gini?"
Ia menajamkan indera pendengarannya dan berpikir apakah ada hantu atau malah pencuri yang sedang berada di dalam dapur rumahnya.
Reygen berjalan mengendap-endap menuju dapur, ia mengambil sebuah asbak rokok yang terbuat dari kaca untuk berjaga-jaga dan memukul jika seorang penjahat yang sedang ada di dapur rumahnya.
Reygen mengintip ke dalam dapur melalui celah pintu dapur yang sedikit terbuka, ia kaget karena melihat sosok gadis cantik berjilbab sedang memasak di dapur. Reygen tersenyum dan melebarkan pintu dapur untuk melihat lebih jelas lagi pada Ayas.
Ayas yang masih fokus dengan masakannya tidak menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikannya dari pintu. Reygen hanya mematung sambil menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Setelah selesai dengan masakannya, Ayas segera menaruhnya ke dalam mangkuk dan membawanya, baru saja ia hendak melangkah pandangannya langsung menangkap sosok pria tampan yang sedang bediri di depan pintu dapur.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Bapak, ngapain di sini?"
Ayas menyebut 'Bapak' pada Reygen karena mulai saat ini ia memutuskan untuk memanggil bapak kepada Reygen sebagai bosnya di kantor maupun di rumah.
"Apa aku terlihat seperti ayahmu, sampai kau panggil aku Bapak?"
Reygen berjalan memasuki dapur dan meletakkan asbak yang ada di tangannya ke atas meja kitchen set yang ada di dapur.
"Hm, bukan seperti itu, kamu kan bos aku di rumah maupun di kantor jadi aku cuma gak mau di bilang gak sopan aja."
Ayas menunduk dan hanya menatap Mie rebus pake telor buatannya.
"Terserah kamu saja lah yang penting kamu nyaman dengan panggilan itu. Oh ya, kamu lagi masak apa?"
Reygen bertanya pada Ayas yang sedang membawa semangkuk mie rebus.
"Mie rebus, Pak,"
Ayas menjawab singkat.
"Bisa bikinin aku juga?"
Reygen menahan Ayas yang hendak meninggalkannya.
"Mm, tapi kan ini sudah malam, Pak!"
Ayas menolak halus permintaan Reygen.
Sebenarnya Reygen tidak terlalu ingin memakan Mie rebus saat ini, Ia hanya ingin bersama Ayas lebih lama lagi dengan alasan ingin di buatkan mie rebus pada Ayas.
"Ck,"
Ayas hanya berdecak kesal mengenai permintaan Reygen, dengan kesal ia meletakkan mie rebus miliknya ke atas meja kitchen set, dan mengambil satu bungkus mie instan yang masih tersimpan di dalam kitchen set serta satu butir telur di dalam lemari es untuk ia masak kembali.
Selama Ayas masak Reygen hanya terus memandangi Ayas dengan rasa kekaguman tingkat tinggi, Ia menyenderkan bokongnya ke tepian meja kitchen set yang ada di dapur sambil menyilangkan ke dua tangannya ke depan dada.
Ayas yang melihat Reygen menjadi mandornya hanya melirik sekilas saja pada pria yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Maaf, Pak, lebih baik Bapak tunggu saja di meja makan, nanti kalau sudah selesai akan saya nantarkan ke sana."
Ayas mencoba memberi tawaran pada Reygen namun di tolak oleh pria tampan itu.
__ADS_1
Ayas pun tidak bisa berbuat apa-apa ketika Reygen selalu beralasan untuk meninggalkannya di dapur sendirian.