
Reygen pun mengantarkan Ayas ke dalam kamar tamu apartemen Remon. "Sayang, kamu gak apa-apa 'kan, kalau aku tinggal keluar bantuin Remon?" tanya Reygen.
"Bii, boleh aku ikut bantuin gak?" tanya Ayas.
Secara naluri seorang wanita kalau lihat tempat berantakan itu gak betah, pengen langsung eksekusi.
"Gak boleh! kamu harus istirahat." titah Reygen yang tak bisa di bantah oleh Ayas.
Ayas membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan kedua matanya untuk mengembalikan stamina yang menurun.
***
"Mon, apartemen Lo, udah kek gudang!" Reygen yang berniat membantu hanya menjadi mandor Remon yang sedang merapikan ruang tamunya.
Ia membenahi pakaian yang tergeletak dimana saja, ada yang di atas sofa, bahkan piring kotor dimana-mana.
"Mon, Lo rajin juga, ya! kek emak-emak lagi bebenah rumah, tau gak?" bukannya membantu, Reygen malah mengusili Remon.
"Elo, kalo cuma mau mandorin dan komenin gua, mending temenin si umi aja di dalem, dari pada lo bikin gue naik darah!" ucap Remon kesal.
"Oh, ya udah! gue ke kamar dulu." Reygen balik badan berniat meninggalkan Remon yang sedang sibuk bebenah.
"Rey! lo emang bener-bener gak peka, ya!" Remon mulai naik pitam.
"Lah, katanya tadi gue disuruh nemenin istri gue, gimana sih, Lo?" Reygen polos.
"Ya, Tuhan! gue itu nyindir lo, toge! kenapa lo malah pergi beneran ... " Remon tidak habis pikir kepada ketua gengnya tersebut, "Otak pinter, pernah sekolah di luar negeri, direbutin cewek-cewek, tapi ternyata lo lemot, Rey!" tambah Remon semakin kesal.
"Gue gak suka basa-basi. Bilang aja langsung kalo Elo butuh bantuan gue! pake nyindir-nyindir segala lagi!" Reygen bersungut-sungut. "ya udah, gue bantuin apa?" tanya Reygen.
"Tuh!" Remon menunjuk baju yang tergeletak di atas sofa, "masukin ke keranjang, nanti gue bawa ke londry." ucap Remon datar.
Mereka berdua berjibaku membereskan apartemen Remon yang seperti kapal pecah, selesai merapikan barang-barang yang berada tidak pada tempatnya. Mereka merasa lelah tanpa mencuci piring di wastafel.
Remon dan Reygen duduk santai melepas lelah setelah kerja bakti menjadi inem, Reygen mellihat Ayas sedang celingukan mencari keberadannya.
"Ay, kamu mau kemana?" tanya Reygen, kemudian ia langsung mendekati Ayas.
"Aku haus!" jawab Ayas.
Reygen berniat mengambilkan minum untuk Ayas, tapi Ayas menolak dan mengambil minum sendiri di dapur. Setelah meneguk segelas air dingin, Ayas pun mencuci piring yang menumpuk di wastafel.
__ADS_1
"Ay ... kamu lagi ngapain?" Reygen melantangkan suaranya dari ruang tengah.
"Cuci piring!" jawab Ayas dari dapur.
Mendengar jawaban dari Ayas, Reygen segera menghampiri istrinya.
"Ay, udah biarin aja, tinggalin piringnya! Kamu jangan kecapean dulu." Reygen mematikan kran air yang digunakan untuk membilas sisa sabun pada piring yang di cuci Ayas.
"Gak apa-apa, Bii. Aku udah biasa. Lagian gak betah juga lihat piring kotor sampe kayak gunung begini." tutur Ayas yang masih sibuk mengusap piring kotor dengan spon pencuci piring.
"Oh, ya. Bii ... Aku pengen masak, laper!" Ayas mengusap perut datarnya.
"Gak usah masak, kita pesan online saja, ya!" tawar Reygen.
"Gak, ah. Aku lagi pengen makan masakan rumahan." Ayas membilas piring terakhir yang ia cuci.
Reygen memberikan kartu Atm kepada Ayas, tapi Ayas menolak dan hanya meminta uang secukupnya saja untuk berbelanja keperluan dapur. Reygen pun mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dalam dompetnya,
"Cukup gak?" sepuluh lembar uang kertas berwarna pink bergambar presiden pertama Indonesia diberikan kepada Ayas.
"Cukup, bahkan lebih dari cukup!" jawab Ayas seraya menerima uang lembaran dari suaminya.
"Pakailah untuk kebutuhanmu, kalau kurang nanti aku kasih lagi." Reygen tersenyum dan mengusap pucuk kepala Ayas.
"Aku antar, ya!" Reygen cemas.
"Gak usah, lagian cuma ke minimarket depan aja, kok!" Ayas menatap senyum kepada suaminya.
"Jangan lama-lama, ya!" ucap Reygen.
"Iya!" Ayas tersenyum dan gegas meninggalkan suaminya guna berbelanja bahan makanan yang akan ia masak.
***
Baru saja Ayas keluar beberapa puluh meter dari apartemen Remon, sepasang mata tajam yang ada di balik kaca mobil, kembali mengintainya dan mengikuti kemana Ayas pergi.
Saat Ayas hendak menyebrangi jalan menuju toko fresh market yang ada di seberang jalan, Ia terhenti oleh sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Hampir saja mobil itu menyerempet tubuh Ayas, kalau ia tidak refleks menghindar.
"Hei, kalau nyetir itu hati-hati!" ucap Ayas melantangkan suaranya.
Pintu depan mobil tersebut terbuka dan berusaha menarik Ayas masuk ke dalam mobil. Ayas meronta dan menggigit tangan yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya.
__ADS_1
Ia berlari menjauhi pria yang memaksa Ayas masuk ke dalam mobilnya.
"Mau kemana kau gadis kampung?" Pria itu mulai bisa mengejar langkah Ayas.
Ayas semakin kelelahan dan sesak napas yang di deritanya mulai menyerang kembali.
***
Sementara di dalam Apartemen, Reygen sangat gelisah memikirkan istrinya yang sedang pergi ke fresh market, meskipun jaraknya tidak jauh dan bisa ditempuh oleh berjalan kaki, tapi tetap saja Reygen merasa tidak tenang.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul istrinya ke fresh market yang sedang dituju oleh sang istri.
Setelah sampai di fresh market, ia tidak menemukan Ayas disana. Meskipun sudah mengelilingi area fresh market yang tidak begitu luas, tapi Reygen tidak juga mendapati Ayas disana.
Reygen mencoba menghubungi ponsel sang istri, tapi tak kunjung diangkat oleh sang pemilik.
Sampai ia memutuskan untuk mencari Ayas di tempat lain, ia mengenal mobil sedan hitam ber-plat nomor sekian sedang terparkir di pinggir jalan.
"Mobilnya, Cakra? sedang apa dia disini?" tanda tanya besar dalam otaknya, sesaat kemudian pikiran buruk melintas di benaknya, ia teringat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika Ayas mengalami kecelakaan karena ulah Cakra.
"Ayas!" Reygen mulai panik dan berlari menyusuri jalan.
Mendengar sayup-sayup suara meminta tolong di sebuah gang sempit, Reygen segera mempercepat langkah seribunya menuju asal suara yang seperti tidak asing lagi ditelinganya.
Reygen melihat Ayas tersungkur di atas permukaan jalan setelah tersandung sebuah batu.
"Cakra!" hardik Reygen yang melihat Cakra sedang mendekati tubuh Ayas yang sudah tersungkur.
Tanpa ragu lagi Reygen melayangkan dua bogem mentah di wajah Cakra.
BUGH!
BUGH!
Dua bogem berhasil mendarat dengan sempurna di wajah Cakra sampai ia terhuyung kebelakang.
Reygen berjalan mendekati Cakra dan menjambak kerah leher baju Cakra dengan kuat. Baru saja ia hendak melayangkan kembali bogem kepada Cakra, ia terhenti saat mendengar jeritan Ayas yang kesakitan.
"Bii ... sakittt!" Ayas berteriak kesakitan dan memegangi perut datarnya. Darah segar mengalir dari pusat mahkota kewanitaannya.
__ADS_1
Bersambung ...