Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 27 : Ponsel Baru


__ADS_3

"Oke, mau ngomong apa?"


Ayas menatap pada Reygen.


Reygen yang sedang di tatap serius oleh Ayas terlihat sangat gugup, tetapi ia cukup pandai mengatasi ke gugupannya.


"Yas, aku suka sama kamu,"


Reygen langsung pada inti pembicaraannya.


Mendengar hal tersebut Ayas tidak langsung percaya begitu saja, ia hanya menghela napas panjang dan sejenak memejamkan ke dua kelopak matanya.


"Pak, jangan main-main."


tatapan Ayas seolah menusuk bola mata Reygen.


"Siapa yang main-main? aku serius!"


tatapan Reygen tak kalah tajam dari Ayas.


"Kita baru beberapa hari kenal, dan Bapak sudah berkata seperti itu. Apa Bapak sehat? hm,"


Ayas hanya menanggapi perkataan Reygen seperti lelucon saja.


"Bagaimana aku harus membuktikan, bahwa perkataanku adalah yang sesungguhnya?"


"Baiklah kalau begitu, apa Bapak mau menerima beberapa syarat dari saya sebagai bukti bahwa perkataan Bapak, itu serius?"


Ayas mulai bermain dengan perasaannya.


Tidak di pungkiri Ayas pun memang menyimpan rasa suka terhadap Reygen. Entah dari mana mulainya yang jelas ia juga merasa senang ketika melihat Reygen.


Ayas tidak ingin memanjakan perasaannya begitu saja karena tentunya ia tidak mau kecewa ke depannya mengingat Reygen adalah seorang bad boy yang berduit maka tidak mustahil baginya untuk berbuat apapun saat ini dan nanti.


"Katakan apa syaratnya?"


Reygen sudah tidak sabar mendengar syarat dari Ayas untuk bisa membuktikan perasaannya yang benar-benar sedang bergejolak.


"Syarat itu tidak bisa saya ucapkan tapi bisa saya rasakan,"


Teka teki dari perkataan Ayas sukses membuat Reygen lebih penasaran.


Mendengar perkataan Ayas, Reygen hanya tersenyum penuh tanya apa yang di maksud oleh Ayas dengan 'tidak bisa di ucapkan tapi bisa di rasakan itu?'.


Reygen tidak ingin menambah kegelisahannya, ia hanya mencoba bersikap biasa-biasa saja pada Ayas. Gengsi Reygen terlalu besar untuk mengatakan yang sebenarnya.


Selesai acara makan, Reygen segera mengantarkan Ayas menuju kost Sarah.


Setelah membuka pintu kamar kost yang hanya tiga petak tersebut, Sarah menatap heran pada Ayas. Kedatangan Ayas yang membawa tas ransel besar membuatnya bertanya-tanya sendiri.


"Ayas, kamu ...."


Sarah tidak melanjutkan perkataannya, ia tidak ingin salah menerka.


"Nanti, Ayas jelasin, ya, Kak,"


Ayas tersenyum.


Sarah segera mempersilahkan Ayas untuk masuk dan menyimpan tas ransel besar milik Ayas, sedangkan Reygen langsung berpamitan untuk pulang.


Setelah Sarah dan Ayas masuk, Sarah segera menanyainya mengenai kepulangan Ayas ke kost Sarah. Ayas hanya berkata bahwa ia tidak mau tinggal satu atap dengan Reygen karena menurutnya itu adalah hal yang tidak pantas ketika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan atau ikatan darah.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Ayas, Sarah pun mengerti.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? apa kamu di pecat?"


Sarah menatap Ayas yang hanya di jawab oleh gelengan kepala dari gadis cantik yang sudah memporak porandakan pertahanan hati seorang Reygen.


"Kak, Reygen tidak memecat Ayas, dan bahkan setelah keputusan Ayas ini, Reygen masih berniat untuk melanjutkan pembangunan panti."


Ayas mengusap punggung tangan Sarah.


Ayas belum berani bercerita bahwa Reygen sudah menyatakan rasa cintanya pada Ayas, ia hanya tidak yakin dengan perkataan Reygen, dan sampai saat ini Ayas hanya menganggap Reygen sedang bercanda padanya.


Ia tidak ingin ke pedean untuk menelan mentah-mentah perkataan Reygen, meskipun saat ini ia tidak bisa move on dari pernyataan cinta yang Reygen katakan padanya membuat hatinya berbunga-bunga.


Senja telah berganti dengan seberkas sinar rembulan yang menyapu kegelapan malam.


Ayas membuka sebuah box yang berisi ponsel dari Reygen, di sana sudah ada kartu perdana yang siap untuk di sematkan pada bagian ponsel yang sebelumnya Reygen sudah men-save nomor tersebut pada ponsel miliknya.


Ayas segera mengaktifkan ponsel tersebut dan menunggu beberapa saat hingga ponsel barunya siap untuk digunakan.


Setelah menunggu beberap menit, akhirnya ponsel baru milik Ayas sudah siap untuk beroperasi.


Baru saja beberapa saat ponselnya aktif, langsung ada notifikasi dari sebuah nomor yang belum memiliki nama.


"Siapa yang udah tahu nomor baru aku?"


Pertanyaan yang hanya ia tujukan pada dirinya sendiri.


Ayas yang merasa heran segera membuka SMS karena ia belum memiliki aplikasi apapun selain aplikasi bawaan dari ponselnya yang masih original.


Membaca pesan singkat dari ponselnya, Ayas hanya tersenyum dan membalas pesan tersebut.


Baru beberapa detik ia membalas pesan tersebut, sang pemilik nomor di ujung sana sudah menelepon Ayas.


Reygen menelepon Ayas mengenai jadwalnya besok, sebenarnya Reygen hanya mencari alasan untuk bisa mengobrol dengan Ayas.



Mentari mulai menyapa dari ufuk timur, Ayas sudah siap dengan pakaian formalnya untuk bekerja di kantor Reygen.



Dengan sedikit polesan tipis di wajahnya, Ayas sudah siap untuk menyambut harinya yang akan di sibukkan dengan beberapa agenda meeting bersama Reygen.



Ayas memesan ojek online menuju kantor, hal ini di lakukan untuk menghemat pengeluaran dari pada harus menggunakan jasa taxi online yang ongkosnya bisa dua kali lipat di bandingkan dengan ojek online.



Dari kejauhan seseorang yang tampak sedang mengintai Ayas menajamkan pandangannya pada gadis cantik yang sedang berjalan menuju lift.



Ketika di dalam lift seseorang itu mengajak Ayas untuk mengobrol demi melancarkan niatnya.



"Mbak Ayas?"


Pemuda yang usianya lebih tua beberapa tahun dari Reygen itu bertanya pada Ayas yang masih ada di dalam lift bersamanya.

__ADS_1



"Iya, maaf Bapak siapa ya?"


Ayas bertanya pada Cakra.



"Saya Cakra, manager bagian pengembangan di kantor ini."


Cakra mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Ayas namun Ayas hanya menempelkan ke dua telapak tangannya sebagai tanda salam dari seorang muslimah yang sedang menjaga untuk tidak bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimnya.



Cakra pun tidak memaksakan diri untuk menjabat tangan Ayas, ia hanya tersenyum seramah mungkin dan menjatuhkan tangannya yang tidak mendapat sambutan.



Sesaat suasana hening sampai ada seseorang yang ikut masuk ke dalam lift untuk menuju lantai yang sama dengan mereka.



Keluar dari lift, Cakra mengepalkan ke dua tangannya.



Setelah mereka berpisah pada lorong ruangan kerjanya masing-masing, Cakra pun mengepalkan tangannya.



"Awas, kau!"


Cakra segera menuju ke ruangan miliknya sedangkan Ayas menuju ruangan milik Reygen.



Pagi ini Reygen datang ke kantor lebih cepat dari Ayas, ia sangat bersemangat pergi ke kantor karena sudah tidak sabar untuk melihat sang gadis pujaan hatinya.



Meskipun sibuk dengan pekerjaannya, Reygen tidak kehilangan kesempatan untuk curi-curi pandang pada Ayas.



Ayas yang sedang khusyuk dengan layar monitor di hadapannya tidak menyadari bahwa Reygen selalu mencuri-curi pandang padanya.



Setelah berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya perut mereka menagih jatahnya untuk di isi.



Reygen mengajak Ayas untuk makan siang bersama namun Ayas menolaknya dengan halus, ia tidak mau terlalu dekat dengan atasannya tersebut untuk menghindari pikiran negatif dari para karyawan lainnya.



Mendapat penolakan dari Ayas meskipun secara halus akhirnya Reygen memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi pada ponselnya, dengan demikian mereka masoh bisa makan bersama di kantor. Dasar Reygen modus terus.



Jangan lupa Vote, like, komen, ya...

__ADS_1


love you...😍😍😍


__ADS_2