Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 55 : Perselisihan


__ADS_3

"Ay, kamu kenapa?" Reygen terlihat panik, ia segera menahan tubuh Ayas yang hampir merosot.


Reygen menggendong Ayas ala bridal style menuju kamar mereka.


"Nebulizer!" ucap Ayas sambil napasnya terengah-engah.


Reygen segera mengambil alat hisap untuk asma milik Ayas di dalam tas kecil istrinya. Ia lekas memberikan alat yang dimaksud oleh istrinya.


Ayas dengan tergesa-gesa menempelkan alat itu kemulutnya dan mengatur napasnya yang terasa sangat menyesakkan.


Setelah beberapa menit napas Ayas pun mulai kembali teratur, Reygen mengusap kepala Ayas dan berkata,


"Tunggu sebentar!" Reygen meninggalkan Ayas di dalam kamar dan menuju ruang tamu dimana kedua sahabatnya sudah mabuk berat.


Reygen membawa air satu gayung dari dalam kamar mandi dan menyiram wajah kedua sahabatnya yang sedang tergeletak karena minuman beralkohol tinggi.


BYURRR


Setengah air dalam gayung telah mengalir ke wajah Ronald.


BYURRR


Setengah gayung sisanya pun mengalir ke wajah Remon.


Ronald dan Remon melenguh dan mulai menggerakan badannya.


Mereka mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan berusaha mengumpulkan kesadaran mereka.


Setelah beberapa menit kesadaran mereka sedikit terkumpul dan samar-samar mereka mulai melihat sosok dihadapannya yang sedang berdiri dan berkacak pinggang.


"Udah pagi. Mandi sana!" ucap Reygen dengan nada datar.


"Apa, sih, maksud Lo?" Ronald bangkit dan menantang Reygen.


"Lo, tahu gara-gara asap pod yang kalian hisap, istri gua hampir pingsan karena penyakit asmanya kambuh!" Reygen mencoba menahan amarah yang sudah menyesakkan dadanya.


"Heh, Rey! sejak kapan Lo bisa atur hidup gue? Gue emang sahabat dan sodara Lo, tapi bukan berarti Lo bisa atur hidup gue!" suara Ronald tak kalah lantang dari Reygen, mereka saling berhadapan dengan air muka yang merah padam.


Setelah melalui percekcokan yang cukup menegangkan, Akhirnya Reygen mengalah dan akan meninggalkan apartemen Ronald.


Merasa dirinya salah, karena keterlaluan kepada kedua sahabatnya, lantas ia meminta maaf kepada Ronald dan Remon yang kini kepala mereka sudah basah seperti habis keramas.


"Oke! gue minta maaf." Reygen segera melangkah menuju kamarnya dimana Ayas sedang menunggunya.


***


"Ay, apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Reygen kepada Ayas.

__ADS_1


"Ya," Ayas mengagguk.


"Bagaimana kalau kita pergi dari sini dan mencari rumah sederhana untuk tempat tinggal kita sementara?" tanya Reygen dengan wajah penuh iba melihat istrinya yang masih terlihat lemah.


"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi, Bii!" jawab Ayas dengan wajah sendu.


"Baiklah, kita bersiap sekarang." tutur Reygen.


***


"Nald, apa tadi, Lo gak keterlaluan?" tanya Remon yang kini tengah terduduk bingung setelah melihat pertengkaran Ronald dan Reygen.


Ronald memejamkan kedua matanya sambil merasakan kepala yang masih pusing setelah mabuk semalam.


Ia tidak bermaksud menyinggung sahabatnya, sampai Reygen memutuskan untuk meninggalkan apartemennya. Emosi yang menyulut Ronald membuat Reygen tidak bisa menahan sakit hati.


AARRHHH


Ronald merasa frustasi dengan situasi saat ini, ia menjambak rambutnya sendiri dan merutuki perbuatannya sendiri.


***


Setelah selesai mengemas barang-barang, Reygen dan Ayas berjalan menuju pintu keluar apartemen Ronald, sebelum tiba di pintu keluar apartemen, Reygen akan melewati ruang tamu dimana Ronald dan Remon sedang duduk disana.


"Rey!" panggil Ronald kepada Reygen yang hendak menuju pintu keluar, sontak menghentikan langkah Reygen.


Ronald berdiri mendekati Reygen,


Reygen tersenyum dan menepuk pundak Ronald, "Tidak apa, semua salah gue. Gak seharusnya gue bersikap keterlaluan seperti tadi, karena emang gue cuma numpang disini," ucap Reygen berbesar hati.


"Sorry, gue gak maksud--"


"Udahlah, gak apa. Gue paham."


Dalam sebuah persahabatan, adakalanya selisih faham membuat renggang sebelum lebih mengeratkan rasa kasih dalam persahabatan itu sendiri.


Mereka menyadari kesalahan masing-masing. Namun, Reygen tetap dalam pendiriannya. Ia akan tetap meninggalkan apartemen Ronald dan mencari sebuah tempat tinggal sederhana untuknya dan Ayas.


"Rey, tapi ... "


"Sudahlah, bukan hanya sekali ini kita berselisih faham 'kan? gue gak marah, saat ini gue cuma ingin mencari ketenangan sama istri gue berdua saja." Reygen melirik kepada Ayas yang kini sedang ia gandeng.


"Oke, gue antar!" Remon bangkit dari sofa.


"Gak, usah!" ucap Reygen dingin.


"Rey, lo gak hawatir apa, lihat istri lo yang masih lemes gitu?" tanya Remon kepada Reygen. Remon pikirannya lagi lempeng. Ia merasa iba kepada Ayas yang wajahnya masih terlihat pucat.

__ADS_1


Tidak tega melihat istrinya, akhirnya Reygen menuruti saran Remon untuk menerima tawarannya menumpangi mobil sahabat bungsunya.


"Oke!" Reygen melanjutkan langkahnya.


"Rey, kalo butuh apapun hubungin gua!" Ronald masih peduli, Rey menoleh ke arah suara dan tersenyum, lalu ia mengangguki perkataan Ronald.


***


"Kita mau kemana, Rey?" tanya Remon yang kini menjadi sopir ratu dan raja.


"Gue belum ada rencana." jawab Reygen datar.


"Ya udah, Lo ke apartemen gua aja. lagian apartemen gua juga jarang di tempatin, sambil Lo nyari-nyari buat tempat tinggal Lo!" tawar Remon tulus kepada sahabat sekaligus sudah ia anggap kakak.


"Hm," Reygen tampak berpikir, "boleh!" ucap Reygen kemudian.


"Tapi sekarang gue sering ada di apart, sih, soalnya lagi selesaikan bab terakhir skripsi gue." Remon berkata dengan tatapan tetap fokus ke depan.


"Oke, gak masalah, nanti gue bantuin Lo selesein skripsinya." ujar Reygen.


"Beneran, Lo?" tanya Remon senang.


"Kapan gue bohong, hah?" tanya Reygen.


"Yes, gue bisa cepet lulus, nih!" Remon kegirangan.


Sudah tujuh tahun kuliah tapi Remon belum lulus juga, skripsinya mandek di bab-bab terakhir, karena ia tidak fokus dan kebanyakan berleha-leha.


***


Jarak antara apartemen Ronald dan Remon tidak terlalu jauh, mereka hanya membutuhkan beberapa menit saja menempuh perjalanan.


Sesampainya di depan pintu apartemen milik Remon, ia segera memasukkan kartu dan menekan beberapa digit angka untuk membuka kunci pintu apartemennya.


"Selamat datang di apartemen gue!" Remon mempersilahkan masuk kepada pasangan suami istri yang kini sedang berdiri di depan pintu apartemennya.


Ayas mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan apartemen yang cukup mewah tersebut. Namun, keadaan di dalam apartemen itu begitu berantakan. Puntung filter yang berserakan, baju yang tergeletak di sofa, bahkan beberapa piring dan gelas kotor bekas kopi dan lainnya bertebaran di atas meja sofa.


"Sorry, bujangan!" Remon nyengir kuda kepada Ayas, karena merasa tidak enak dengan kondisi apartemennya yang amburadul.


"Lo, bawa si Umi masuk kamar dulu, gih! biar gue beresin ini dulu!" titah Remon yang hendak mengambil gelas dan piring kotor di atas meja.


"Umi?" tanya Reygen keheranan.


"Iya, istri Lo maksud gue! kan kerudungnya sama kayak yang dipake umi-umi itu. He!" tingkah polos Remon bikin gereget.


Remon menyebut hijab syar'i yang dikenakan Ayas adalah kerudung yang sering dipakai oleh seorang ibu-ibu yang sering di panggil Umi.

__ADS_1


Dasar, Remon si bungsu dari trio "R" yang tampan dan kaya raya. Usianya yang paling muda di antara ketiganya sering di panggil bocah oleh kedua sahabatnya.


Mereka sudah berteman dari kecil, selain pernah tinggal dalam satu komplek perumahan mewah, mereka juga masih ada hubungan kekerabatan. Itu salah satu faktor yang membuat mereka sangat dekat bahkan melebihi kedekatan seorang saudara.


__ADS_2