Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 39 : Cukup Menghangatkan


__ADS_3

"Silakan, di minum teh nya," Bunda Meta mempersilakan Reygen dan Ayas.


"Terima kasih, Bunda." Ayas tersenyum dan mengambil cangkir yang berisi teh hangat tersebut. Ia menyeruput teh hangatnya, begitu pula dengan Reygen yang segera mengambil cangkir teh miliknya.


"Nak Ayas, Nak Reygen, Terima kasih telah membangun panti ini kembali, kami dan anak-anak sangat senang kembali ke panti." Bunda Meta tersenyum pada Ayas dan Reygen.


"Iya, Bunda ... Ayas juga seneng banget karena mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu gugat panti ini." Ayas menoleh pada Reygen, kemudian ia tersenyum.


"Oh, ya, kenapa kalian tidak mengundang kami pada pernikahan kalian? padahal ... kami sangat menanti hal tersebut karena Ayas sudah kami anggap seperti putri kami sendiri." raut wajah sendu terlihat dari Bunda Mety.


Meta dan Mety adalah saudara kembar, ia adik angkat dari bunda Dahlia--Ibunya Ayas. Mereka telah lama hidup dalam satu atap.


Bunda Dahlia bertemu dengan Mety dan Meta di jalanan, pada saat itu mereka sedang memulung rongsokan dan bunda Dahlia meminta Meta dan Mety untuk tinggal dengannya.


Saat itulah bunda Dahlia mendirikan sebuah panti untuk menampung anak-anak terlantar yang tidak memiliki orang tua.


"Maaf, Bunda, Semuanya terjadi begitu cepat dan kami memang melaksanakannya dengan sangat sederhana, jadi ... mohon maaf," Ayas menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah sah menjadi suami istri, doa bunda semoga kalian menjadi keluarga yang sakinnah, mawaddah, wa rohmah. Jika kalian membutuhkan kami, jangan sungkan untuk datang kesini." Bunda Mety mengusap tangan Ayas.


"Terima kasih, Bunda. Ayas titip anak-anak, ya, insya Allah nanti Ayas akan sering main kesini," Ayas tersenyum.


Mereka berbincang hangat melepas kerinduan, sementara Ayas masih berbincang dengan Meta dan Mety untuk melepas kerinduannya, Reygen meminta izin untuk bermain bola dengan anak panti.


Ternyata badboy itu cukup penyayang anak juga, terdengar gelak tawa yang sesekali lepas dari mulut pria tampan itu ketika bermain bersama mereka.


Ia begitu menikmati hari ini, seolah semua permasalahan yang ada di benaknya hanyut seketika terbawa arus kebahagiaan yang di hadirkan oleh anak-anak panti.


Tidak terasa hari mulai senja, mentari mulai memancarkan cahaya jingga yang akan segera hilang di telan kegelapan.


Melepas rindu yang telah sekian lama terpendam, membuat Ayas sedikit enggan beranjak dari panti.


Ayas menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak panti dan juga Reygen, kebahagiaan seolah hanya menjadi milik mereka berdua saat ini.


"Sayang, apa kamu bahagia?" Reygen duduk di samping Ayas pada sebuah kursi bambu di halaman belakang panti.


"Sangat bahagia, terima kasih!" Ayas tersenyum dan berhambur ke dada bidang Reygen.

__ADS_1


Reygen mendekap tubuh Ayas dengan penuh kasih dan sayang.


Tak terasa manik bening dari sudut netranya menetes perlahan. Tangis bahagia mengukir senyum di bibir manis sang gadis pujaan.


Tuhan selalu memiliki takdir yang tidak di sangka-sangka, Dia sangat tahu bagaimana caranya membahagiakan makhluknya, bahkan Dia sangat kuasa untuk memberikan kesedihan yang tiada tara.


"Cie ... cie ... Kakak lagi pacaran ya?" celetuk salah satu anak yang usianya sekitar lima tahun. Ia hendak mengambil bola yang menggelinding ke dekat Reygen.


Mendengar celetukan dari anak tersebut, Reygen dan Ayas segera mengambil jarak dan saling menatap dengan wajah sama merah merona seperti tomat matang sempurna.


"Hei, anak kecil, sini!" Reygen menggerakkan tangannya, "siapa namamu?" ucap Reygen pada anak laki-laki berusia lima tahun tersebut.


Anak tersebut menghampiri Reygen juga Ayas yang sedang duduk.


"Nama aku, Fino. Kak Ayas ayo kita main lagi," ajak Fino pada Ayas.


"Kok, yang di ajak cuma, Kak Ayas saja? gak ajak, kak Rey juga?" Reygen berperan seperti anak kecil.


"Ya udah, ayo Kak Rey, ikut main juga." dengan polos Fino mengajak Reygen untuk main. Padahal pria tampan itu hanya sedang bercanda saja.


"Fino, mainnya nanti lagi, ya, sekarang sudah sore. Kak Ayas sama Kak Rey mau pulang dulu." Ayas memangku Fino, ia mengusap kepala Fino dengan penuh kelembutan.


Mendengar ucapan Fino, Ayas menoleh pada Reygen dan tersenyum, kemudia ia kembali menatap Fino.


"Fino, Sayang, kapan-kapan, kakak main lagi ke sini," Ayas tersenyum pada Fino.


"Kakak, gak mau tidur di sini lagi?" Fino mengerucutkan bibir mungilnya.


"Nanti, kak Rey sama kak Ayas pasti akan meluangkan waktu untuk menginap di sini." Reygen berkata pada Fino.


Fino tersenyum dan memeluk Ayas, selama di panti , Fino memang sangat dekat dengan Ayas, ia tidak malu untuk bermanja kepada gadis yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.


Saat ini Reygen telah menjadi donatur tetap di Panti Mutiara Hati.


Setelah puas bermain dengan anak-anak panti dan bercengkerama hangat dengan Meta dan Mety, Reygen dan Ayas segera berpamitan untuk pulang.


Hari ini begitu menyenangkan bagi Ayas, matanya berbinar dan senyum manis selalu mengembang di bibir seksinya.

__ADS_1


Mereka segera memasuki kendaraan roda empat milik Reygen dan meluncur untuk membelah jalanan menuju kediaman Reygen.


"Sayang, bagaimana kalau kita nonton dulu?" Reygen menoleh sekilas pada Ayas.


"Nonton?" Ayas menoleh pada Reygen.


"Iya, ada film bagus, loh, yang tayang hari ini," jawab Reygen.


"Boleh," Ayas tersenyum.


Reygen memegang tangan kanan Ayas dengan tangan kirinya, sedangkan sebelah tangannya lagi tetap memegangi stir kendaraannya.


Setelah beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah gedung bioskop yang cukup terkenal di sana.


Reygen segera memesan dua tiket di kursi paling belakang agar ia bisa leluasa bermesraan dengan Ayas. "Tak apa modus buat dekat-dekat dengan istri sendiri." ucapnya dalam hati.


Film yang dipilih adalah film action kesukaan Reygen, film fantasi dengan banyak adegan yang menegangkan akan membuat mereka memacu jantungnya untuk sedikit berolahraga.


Reygen dan Ayas telah memasuki teater bioskop, perlahan lampu di padamkan pertanda film akan segera di mulai.


Suhu ruangan di dalam teater begitu dingin sampai membuat Ayas menggigil.


Semakin lama Ayas semakin kedinginan dan membuat bibirnya bergetar dan membiru.


Reygen yang sedang menggenggam sebelah tangan Ayas merasakan suhu yang sangat dingin dari tangan istrinya tersebut.


"Sayang, kamu ke dinginan?" Reygen menoleh pada Ayas sambil ia *******-***** tangan Ayas agar tercipta rasa hangat pada tangan Ayas.


Ayas mengangguk sambil menahan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya.


Reygen segera membuka jaket yang ia kenakan untuk menghangatkan tubuh Ayas.


"Tanganmu dingin sekali, Sayang, lebih baik kita pulang saja," Reygen meremas ke dua tangan Ayas dengan tangannya.


"Tapi, kan, filmnya belum selesai," Ayas mencoba menahan Reygen.


"Gampang, lain kali kita bisa nonton lagi. Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu." Reygen memakaikan jaket untuk Ayas.

__ADS_1


Ia mengajak Ayas untuk pulang meskipun film yang di putar baru setengah penayangan.


"Siapa tahu istriku minta dihangatkan setelah sampai dirumah, atau di mobil juga jadi."


__ADS_2