Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 15 : Ayas yang polos


__ADS_3

Reygen tak langsung menjawab pertanyaan dari Sarah, namun ia memanggil pramusaji dan memesan makanan untuk mereka berdua. Sarah yang sempat terpesona dengan ketampanan Reygen mencoba untuk segera menepis dan memalingkan tatapannya pada ponsel pintar yang sedang ada dalam genggamannya.


Setelah makanan datang Reygen pun fokus pada masalah yang akan dibicarakannya bersama Sarah agar salah paham ini segera mendapat pencerahan dan Ayas tidak membenci Reygen lagi.


"Sebenarnya apa yang akan kamu jelaskan pada saya? karena bukankah sudah jelas bahwa perusahaan milikmu lah yang sudah menggusur panti?"


Sarah masih belum menyentuh makanan yang telah di pesan oleh Reygen.


"Makanlah, aku tidak menaruh racun di dalamnya,"


Reygen tersenyum tipis pada Sarah.


"Ck!"


Sarah hanya berdecak dan memutar bola matanya, lalu ia mengambil sendok dan garpu yang ada di atas meja makan yang masih terbungkus oleh tissue dan kembali bertanya pada Reygen.


"Jawab pertanyaanku,"


Nada Sarah mulai mengintimidasi Reygen, dan Reygen hanya tersenyum sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sudah aku bilang, bukan aku yang menggusur panti, tetapi manager perusahaan, karena saat itu aku belum mengambil alih perusahaan keluargaku, dan sepupuku yang menggusur panti itu tanpa sepengetahuanku. Jika kalian ingin aku membangun panti itu kembali aku akan bersedia membangunnya lagi."


Reygen dengan nada datar menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Apa yang bisa membuat saya percaya sama Anda?"


Sarah melirik dengan sinis kepada Reygen, namun tak di pungkiri jika saat ini jantungnya tengah berdetak sangat kencang karena berhadapan dengan seorang pria tampan.


"Ehem ... baiklah, aku tidak main-main, aku akan membangun panti itu kembali dengan satu syarat,"


Reygen menghentikan sejenak suapan pada mulutnya dan menatap tajam pada Sarah.


"Syarat?"


Sarah tampak mengernyitkan dahinya dan menyimpan sendok dan garpu keatas piringnya. Kedua tangannya saling berpautan untuk menopang dagunya dengan sikut yang diletakkan di atas meja makan.


" Ya, tentu saja ada syaratnya karena membangun panti itu tidak sedikit biaya yang akan ku keluarkan,"


Reygen tersenyum memicing.


"Aku sudah selesai makan, jika kau tidak ikhlas membangun panti, lebih baik jangan kau lakukan karena itu hanya pekerjaan yang akan sia-sia."


Sarah tidak menghabiskan makananya dan segera meraih tas yang ada di atas meja makannya. Namun, Reygen menahan tangan Sarah yang hendak meraih tas nya.


"Tunggu, bukankah aku belum selesai bicara. Kau belum tahu syarat yang akan aku ajukan bukan?"


Reygen masih memegang tangan Sarah yang hendak mengambil tas nya.


"Aku sudah tahu syaratnya, seorang sepertimu pasti akan meminta syarat yang tidak pantas!"


Sarah melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Reygen dengan kasar.


"Hei, syaratku cukup masuk akal. Aku hanya ingin adikmu bekerja pada perusahaanku untuk membayar ganti rugi pada perusahaanku,"


"Hah, ganti rugi katamu? memangnya apa yang sudah kami perbuat sampai kami harus mengganti rugi padamu? bukankah kami yang merasa di rugikan, karena kehilangan tempat tinggal?" Sarah semakin emosi.


"Bukankah panti itu berdiri di atas tanah milik perusahaanku? tentu aku rugi, bukan?"


Reygen mulai mengeluarkan aura sengitnya pada Sarah seperti mengintimidasi.

__ADS_1


"Aku akan coba bicarakan dengan adikku."


Sarah segera menyambar tasnya dan langsung meninggalkan Reygen sendiri yang masih duduk di kursi resto.



Ayas pov


"Kak Sarah, udah pulang?"


Ayas menyambut Sarah yang baru saja membuka pintu kamar kost nya yang tidak dikunci.



Namun, Sarah hanya berusaha tersenyum meski saat ini ia sama sekali tidak ingin tersenyum. Melihat wajah Sarah yang tidak seperti biasanya akhirnya Ayas bertanya pada Sarah.



"Kakak kenapa? kok mukanya lesu banget. Hari ini kerjaannya banyak ya?"


Ayas membantu Sarah untuk membawa tasnya dan menyimpannya di atas bufet televisi, sedangkan Sarah sedang membuka sepatunya tanpa berbicara apapun.



"Dek, apa kamu sangat ingin kembali ke panti?"


Sarah menatap sendu pada wajah Ayas yang tampak masih kebingungan dengan pertanyaannya.



Sarah tidak tega yang setiap malam hanya melihat Ayas gelisah dan sering melamun di kostannya.




"Kak, meskipun aku sangat ingin kembali ke panti, tapi kan itu hal yang tidak mungkin karena tanah itu sudah di miliki oleh orang lain dan lagi pula panti itu sudah tidak ada, yang tersisa hanya puing-puing bangunannya saja, jadi bagaimana aku bisa tinggal disana?"


Mata Ayas pun mulai berkaca-kaca.



Melihat Ayas yang akan menangis, Sarah segera memeluknya, Ayas meneteskan air matanya dalam pelukan Sarah.



"Aku mengerti perasaanmu. Seandainya kamu masih sangat ingin tinggal di panti, ada seseorang yang menawarkan untuk membangunnya kembali tapi dengan satu syarat."


Mendengar perkataan Sarah, Ayas segera melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat pada Sarah.



"Maksud, Kakak?"


Ayas mengusap air mata yang masih mengalir di pipi mulusnya.



"Tadi aku baru saja bertemu dengan pemilik perusahaan yang telah menggusur panti, dia menawarkan untuk membangun panti itu kembali, tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


Sarah menyampaikan apa yang di bicarakannya dengan Reygen.



"Syarat?"


Ayas mengerutkan keningnya.



"Ya,"


Sarah menjawab dengan singkat.



"Apa syaratnya, Kak?"


Ayas tampak tidak sabar mendengar syarat yang di ajukan oleh Reygen.



"Kamu harus bekerja di perusahaannya untuk menebus tanah dan bangunan panti yang akan di bangun kembali,"



"Itu saja kah? tentu aku mau, Kak, lagian setelah lulus kuliah, kan, aku hanya membantu anak-anak belajar di panti tidak ada kegiatan lain,"


Ayas sangat polos dengan pemikirannya.



"Apakah kamu tidak hawatir jika orang itu akan memperalatmu?"


Sarah tampak hawatir dengan tawaran dari Reygen, ia tidak ingin Ayas yang masih polos itu di peralat atau bahkan dilecehkan oleh Reygen.



"Apa maksud, Kakak?"


Ayas tampak masih belum mengerti dengan perkataan Sarah.



"Kamu ini, apa kamu tidak curiga kalau orang itu hanya akan memanfaatkan atau bahkan dia akan melecehkan kamu saat kamu sudah bekerja di perusahaannya?"


Sarah segera bangkit dari duduknya dan berjalan pelan untuk mengambil handuk yang menggantung di dinding belakang kamar kostnya untuk mandi.



Ayas hanya memejamkan matanya berusaha memikirkan tawaran dari Reygen.



"Kak... Tunggu!" Ayas segera bangkit dari duduknya dan berlari menahan Sarah yang hendak masuk kamar mandi, tempat kost Sarah memang tidak luas, hanya ada tiga ruangan kecil di dalamnya dengan ruangan depan untuk ruang televisi sekaligus ruang tamu, ruangan tengah sebagai kamar tidur dan ruangan belakang sebagai dapur dan kamar mandi.



"Aku akan membuat perjanjian hitam di atas putih dengannya sebagai jaminan bahwa dia tidak akan melecehkanku ketika aku kerja di perusahaannya. Apakah Kakak mengizinkanku?"

__ADS_1


Ayas yang kini berada di pintu kamar mandi berusaha membujuk Sarah yang kini sudah Ia anggap sebagai satu-satunya keluarga sebagai pengganti orang tua sekaligus kakak baginya, meskipun tidak ada hubungan darah antara mereka, namun dari kecil Ayas dan Sarah sudah hidup bersama dibesarkan oleh Bunda Dahlia dalam satu atap dan dengan kasih sayang yang sama tanpa membeda-bedakan antara Ayas sebagai anak kandung bunda Dahlia dan Sarah sebagai hanya sebagai anak asuhnya di panti.


__ADS_2