
Satu tahun kemudian....
Pagi yang mendung diiringin hujan yang masih cukup lebat membuat rerumputan semakin terlihat menghijau dengan titik bening di ujungnya.
Ayas sudah membantu Bi Ipah di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Nasi putih dan oseng kangkung juga ayam kecap akan menjadi menu pagi ini.
Ayas mulai membuat bumbu untuk ayam kecap, sedangkan bi Ipah akan memetik kangkung dan juga membersihkan ayam dan memotongnya.
Hampir satu jam telah di habiskan untuk membuat sarapan pagi ini, tak lupa Ayas selalu membuatkan jus jeruk kesukaan Reygen, juga segelas susu untuk putra tercintanya telah ia siapkan.
Ya, Ryan Scalfh telah lahir dan usianya kini sudah menginjak satu tahun. Itu sebabnya Reygen tidak pernah pulang terlambat dari kantor demi menghabiskan waktu bersama putra tercintanya.
Seselesainya di dapur, Ayas langsung menata makanan di atas meja makan di bantu bi Ipah yang membawakan piring dan gelas untuk nyonya dan tuannya.
Ayas selalu meminta bi Ipah maupun bi Ida dan para pekerja di rumahnya untuk makan bersama-sama, tetapi mereka menolak karena merasa tidak pantas kalau duduk sejajar di meja makan dengan majikan mereka.
Padahal Ayas tidak ada pikiran seperti itu dan demi menghormati keputusan para pekerja, Ayas pun tidak memaksa dan membiarkan mereka untuk makan dimanapun selagi sopan yang penting mereka tidak merasa sungkan berlebih kepadanya.
"Sayang! hari ini aku 'kan libur, gimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Reygen disela suapannya.
"Ajak Ryan?"
"Sayang, untuk kali ini, Ryan jangan di ajak, ya. Biar Ryan sama bi Ida dan bi Ipah saja. Aku ingin berduaan dulu." Reygen memelas,karena semenjak kelahiran Ryan, Reygen dan Ayas nyaris tidak pernah bisa berduaan tanpa gangguan putra tampannya itu.
"Kemana?" tanya Ayas balik.
"Pantai, yuk!" ajak Reygen.
"Pantai?" Ayas mengernyitkan kening.
"Iya, ancol aja yang deket!" jawab Reygen.
"Boleh!" ucap Ayas singkat.
"Ya udah, abis sarapan kamu siap-siap, ya!" seloroh Reygen.
"Hm!" Ayas mengangguk dan tersenyum sambil melanjutkan makannya.
Mereka menikmati santap pagi dengan penuh kehangatan meskipun mentari sedang enggan menampakkan sinarnya, tetapi hati kedua insan ini tak pernah merasa dingin dengan adanya cinta yang selalu menghangatkannya.
Ryan dengan lahap menyantap makanan yang disuapkan oleh Ayas. Membuat pipinya semakin gembul. Sudah pasti membuat Reygen semakin gemas kepada putranya tersebut.
Memang semua akan terasa istimewa jika hal yang sederhana dibalut dengan cinta yang luar biasa. Tak perlu mewah, dengan sesuap nasi dan sayur berkuah pun akan terasa wah, jika di temani rasa kasih dan sayang yang melimpah ruah.
__ADS_1
Cinta itu ibarat bisa ular, dia bisa menjadi racun tetapi dia juga bisa menjadi obat, tergantung pada siapa cinta itu akan di olah.
Selesai acara santap makan pagi atau sarapan, Ayas gegas bersiap untuk pergi ke pantai.
Dipilihnya baju yang ada di lemari di ruangan wardrobe ukuran besar tersebut, satu goodie bag warna coklat yang ada di salah satu sudut lemari pakaiannya berhasil mencuri perhatian Ayas.
Rasa penasaran hinggap di benaknya yang membuat tangannya tidak tahan untuk meraih goodie bag bercorak batik warna coklat tersebut.
Ayas menggeser tubuhnya dan lekas mengambil goodie bag yang ada di pojokan lemari pakaiannya.
Perlahan ia buka goodie bag tersebut dan mendapati sesuatu yang masih terbungkus plastik transparan dan masih tergantung sebuah label mall terkenal yang bersinar di siang hari.
"Apa ini?" gumam Ayas pelan.
Ia mulai merobek plastik transparan yang membungkus benda tersebut. Merasa belum pernah melihat benda tersebut, Ayas pun menghampiri Reygen yang sedang bersiap memasukkan pakaian ganti untuk menginap beberapa hari.
"Bii, ini kain apaan?" tanya Ayas penasaran.
Reygen pun menoleh dan melihat Ayas sedang menjembreng kain berwarna hitam lengkap satu set, Reygen tersenyum dan imaginasinya mulai menjelajah. Ia langsung membayangkan Ayas mengenakannya.
Reygen mengingat benda yang di pegang oleh Ayas saat ini adalah satu set lingerie yang ia beli setelah baru saja menikahi Ayas dan belum sempat dipakai Ayas karena syarat malam pertama yang belum terpenuhi oleh Reygen saat itu.
"Itu lingerie, Yank!" ucap Reygen sambil tersenyum.
"Bawa, ya! nanti kamu pakai itu, kita nginep di hotel!" ucap Reygen sambil menatap Ayas penuh gairah.
Ayas hanya mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti cara mengenakan baju yang sedang ia pegang itu yang hanya berupa tali dan dengan bahan secuil, mungkin hanya bisa menutupi area sensitif saja itupun sangat tipis.
Tak ingin berdebat dengan Reygen dan tidak mau ambil pusing juga, Ayas pun memasukkan lingerie itu ke dalam koper yang sedang di rapikan oleh Reygen.
Sepertinya pergi ke pantai tidak enak juga pakai busana syar'i, Ayas pun inisiatif untuk memakai busana olah raga. Setelan celana training panjang dan kaos lengan panjang berwarna putih menjadi pilihan busananya kali ini.
Meskipun sudah menjadi seorang ibu, tapi perawakan Ayas masih belum berubah dan masih terlihat cukup ramping.
Setelah keluar dari wardrobe yang ada di sebelah kamar mandi dalam kamarnya, Ayas terlihat sangat modis dengan tubuh sintalnya.
Hampir saja Reygen tidak bisa berkedip melihat lekuk tubuh Ayas yang meskipun hanya tampak sedikit karena balutan celana dan kaos olah raga panjang, tetapi ia terlihat seksi.
Reygen mendekati Ayas yang masih belum menutupi kepalanya dengan hijab, rambut yang terurai panjang menutupi punggung membuat ia terlihat sangat mempesona.
Ah, jika sudah jatuh cinta, pakaian apapun yang melekat pada tubuhnya akan terlihat cantik saja di mata sang kekasih.
Ayas mengikat rambutnya di belakang, Reygen menarik tubuh Ayas hingga jatuh kepelukannya.
__ADS_1
"Sayang! kamu seksi banget," ucap Reygen penuh penekanan.
"Masa, sih, Bii! apa pakaianku terlalu ketat?" tanya Ayas merasa tidak percaya diri.
"Enggak! masih sopan, kok! pakai baju apapun kamu selalu terlihat seksi di mataku! apalagi kalau gak pake baju!" ucap Reygen sambil tetap memeluk tubuh Ayas.
"Hm! nakal! " Ayas merapatkan bibirnya dan mencubit tangan Reygen.
"Kita nginep beberapa malam di hotel, ya!" ucap Reygen sambil menatap Ayas lekat, "Aku mau liburan, mumpung di kantor masih belum banyak kerjaan!" sambungnya.
"Iya, yang penting jangan sampai kantor terbengkalai aja, dan kasian Ryan kalau terlalu lama ditinggal, tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan dan orang tua itu harus tetap dijalankan sebagai prioritas, jangan sampai Ryan merasa kesepian, kasian." ucap Ayas sambil mencubit hidung bangir milik suaminya.
"Pasti, lah, Sayang! aku gak akan melalaikan tugasku sebagai seorang pemimpin rumah tangga dan pemimpin perusahaan." Reygen mengeratkan pelukannya.
"Ya udah, jangan peluk terus, nanti malah kesiangan perginya!" tukas Ayas melepaskan pelukan Reygen.
"Yank! janji, ya!" kata Reygen sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Janji apa?" tanya Ayas polos.
"Itu, nanti malem pake, ya!" Reygen menunjuk lingerie yang sudah masuk ke dalam kopernya.
"Apaan, sih?" Ayas pura-pura tidak mengerti.
"Itu...!" kembali Reygen menunjuk kopernya.
"Itu, apa?" Ayas malah senang mencandai Reygen.
Merasa dikerjai oleh istrinya Reygen pun hanya menggaruk kepala tanpa rasa gatal, sungguh Ayas itu selalu bisa membuat Reygen gemas dan geregetan.
Melihat Reygen yang salah tingkah, Ayas pun tersenyum geli dan malah tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Iya, Sayang! nanti aku coba pakai!" Ayas menatap Reygen.
Mengerti akan perkataan Ayas, Reygen pun mengecup kening istrinya lembut. Mereka gegas membawa koper dan berpamitan kepada bi Ipah, bi Ida dan kedua satpam yang ada dirumahnya.
"Sayang, Mam sama Pap gak akan lama, kok. Kamu baik-baik sama mbok, ya." ucap Ayas sambil mengusap pipi gembul Ryan, diikuti oleh Reygen yang menciumi Ryan bertubi-tubi.
Keinginan terhadap pasangan memang tidak bisa di paksaan, karena ketika pasangan merasakan apa yang kita rasa, ia pun akan bersedia melakukan apa yang kita suka tanpa harus di paksa.
Saling mengerti dan berusaha memahami satu sama lain akan memudahkan pasangan kita untuk sukarela melakukan apa yang kita suka.
Kuncinya bersabar dan tidak mementingkan ego dalam hubungan, maka semua akan berjalan semestinya.
__ADS_1