Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 68 : sarapan


__ADS_3

Kediaman Ayas,


Setelah sholat subuh, Ayas langsung beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan. Ia memasak agak banyak kali ini, karena ada empat orang yang menghuni rumahnya yaitu Sarah, Remon, Ronald dan ia sendiri.


Kebetulan di dalam lemari es masih ada stok sayuran dan daging ayam sisa kemarin. Ayas menumis sayur ditambahi ayam suir, ia juga membuat ceplok telur untuk berempat.


Sarah membantu Ayas memasak di dapur, sedangkan Ronald dan Remon menunggu diruang tamu sambil menonton televisi yang masih berbentuk tabung.


Sungguh jauh dari kata mewah, tetapi Ayas dan Reygen merasa bahagia hidup disana. Setelah hampir satu jam mereka berkutat dengan masakannya, akhirnya makanan pun siap tersaji diatas meja makan.


Sarah memanggil Ronald dan Remon untuk segera sarapan. Namun, baru saja ia sampai di ruang tamu, Sarah melihat Ronald dan Remon sedang tidur dengan dengkuran halus. Mereka terlelap di atas sofa, karena semalam tidak bisa tidur.


"Nald, Remon! bangun! udah pagi, kita sarapan!" Sarah menggoyang lengan kedua lelaki tersebut secara bergantian.


Sudah beberapa kali Sarah membangunkan Ronald dan Remon, tetapi kedua pemuda itu masih belum bangun juga. Ayas yang sudah menunggu di meja makan akhirnya menyusul Sarah, karena sudah beberapa menit Kakaknya itu tak kunjung muncul dengan kedua sahabat Reygen.


"Kak, kok lama banget!" ucap Ayas yang baru saja tiba di ruang tamu.


"Liat tuh!" Sarah menunjuk Ronald dan Remon dengan mulutnya bergantian.


Ayas melihat Remon dan Ronald sedang tidur, tampaknya mereka sangat mengantuk karena wajah kedua pemuda tersebut sangat lelap dan tenang.


"Sepertinya, mereka sangat mengantuk, Kak!" ucap Ayas yang melihat Remon dan Ronald tertidur dengan posisi duduk bersandar pada sandaran sofa.


"Ya, semalam mereka tidak tidur sepertinya?" pertanyaan Sarah yang sudah diketahui jawabannya, karena mereka melihat Ronald dan Remon masih terjaga di saat mereka akan sholat tahajud dini hari tadi.


"Terus, kita bangunin apa gimana? kasian mereka pasti laper!" tanya Ayas kepada Sarah.


"Aku coba bangunin lagi deh!" Sarah kembali mencoba menggoyang lengan Ronald dan Remon bergantian.


"Hm,!" Ronald melenguh dengan mata yang masih tertutup.


"Nald, bangun! kita sarapan." Sarah berkata sambil membungkukkan badannya, tetapi entah kenapa Ronald malah menarik tangan Sarah sehingga,


"Aaahhhh!" Sarah jatuh dan terduduk di pangkuan Ronald.


"Hmmpph." Ronald merasa tertimpa benda yang sangat berat, membuatnya membuka mata seketika. Sarah jatuh kepelukan Ronald.


Suara jeritan Sarah membuat mata Remon dan Ronald melebar seketika.


Ayas hanya menutup Mulut menahan jeritannya saat melihat Sarah jatuh ke pangkuan Ronald, sedangkan Remon masih mengumpulkan kesadarannya dan mengucek-ngucek matanya yang masih belum jelas melihat.


Tatapan mata Ronald langsung berhadapan dengan Sarah yang kini tepat didepan hidungnya,

__ADS_1


"Lepas!" Sarah berontak dan segera berdiri untuk menjauh dari Ronald.


"Kamu, tadi ... ngapain?" tanya Ronald yang masih belum menyadari kelakuannya.


"Kamu ngapain sih narik tangan Aku?" Sarah malah balik bertanya kepada Ronald dengan nada kesal.


"Hah, siapa yang narik tangan kamu? justru kamu yang jatuh di badan aku!" mereka saling melempar tanya dan Ronald tidak menyadari kelakuannya.


"Dasar, badboy!" Sarah berdecak kesal dan meninggalkan Ronald juga yang lainnya menuju meja makan.


Ayas hanya terkekeh melihat mereka berdua, sedangkan Remon masih bengong melihat Sarah dan Ronald yang terlihat bertengkar.


"Kalian kenapa?" tanya Remon penasaran, tetapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Remon yang masih dengan suara khas bangun tidurnya.


"Tadi kamu menarik tangan, Kak Sarah. Sampai ia jatuh di pangkuanmu, Kak!" Ayas terkekeh dan meninggalkan Ronald menyusul Sarah yang sudah duduk di kursi meja makan.


Ronald hanya tersenyum ketika menyadari yang sebenarnya terjadi. Ia bermimpi menarik tangan Sarah ketika Sarah hendak pergi meninggalkannya.


"Nald, lo kenapa sih? gue tanya bukannya jawab malah senyum-senyum gak jelas. huh!" Remon melempar Ronald dengan bantal sofa.


"Kak Ronald, Remon ayo sarapan dulu!" suara Ayas lantang terdengar dari meja makan.


Ia menyiapkan piring untuk kedua pemuda dan menyendokkan nasi juga lauknya ke atas piring Ronald dan Remon.


Mereka menyantap sarapan dengan semangat, tetapi tidak dengan Ayas. Ia beberapa kali terlihat bengong dengan tatapan kosong, tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Yas, kamu kenapa?" tanya Sarah yang sedari tadi memperhatikan Ayas.


"Eh, enggak apa-apa, Kak! cuma lagi kepikiran suami aja!" jawab Ayas dengan wajah sedih.


Remon dan Ronald segera menghentikan aktivitasnya menyuapkan makanan ke dalam mulut. Tatapan mereka beralih kepada Ayas yang kini menjadi pusat perhatian.


"Kamu tenang saja, Reygen pasti baik-baik saja!" ucap Ronald mencoba menenangkan Ayas.


Ayas mengangguk dan melanjutkan suapannya, meskipun ia tidak bernafsu untuk makan, tetapi Ayas coba paksakan karena tidak mau membuat para sahabatnya ikut bersedih bahkan tidak bernafsu makan.


"Ya udah, makanannya abisin ya! Kak Ronald mau nambah?" tanya Ayas dengan senyum yang sekuat tenaga ia sunggingkan.


"Boleh, makanannya enak! siapa nih yang masak?" tanya Ronald seraya memuji makanan yang sedang ia santap.


"Kak Sarah, nih yang masak!" Ayas tersenyum dan menunjuk Sarah dengan wajahnya.


"Pantas saja, makanannya enak! yang bikinnya juga cantik!" puji Ronald kepada Sarah, sontak membuat pipi gadis tersebut merona seperti tomat matang yang siap di panen.

__ADS_1


"Bukan aku doang yang masak, Ayas dan aku berdua yang masak!" ucap Sarah malu-malu meong.


"Kalian berdua memang wanita hebat, ya! jadi gak sabar buat halalin kamu!" ucap Reygen seraya menatap intens kepada Sarah, membuat gadis yang ada di hadapannya salah tingkah.


"Hadeuh! pagi-pagi udah ada acara rayu-merayu, gimbal-menggimbal alias gombal!" tutur Remon membuat Ronald mengalihkan tatapannya dari Sarah.


Sarah tersenyum malu, begitu juga dengan Ayas yang tak henti menyunggingkan senyumnya karena merasa lucu dengan kelakuan para sahabatnya tersebut.


Mereka benar-benar bisa mengusir rasa sepi yang hinggap di relung hati. Sahabat tanpa pamrih membuat kehangatan di setiap suasana meskipun terkadang selisih paham tak jarang menjadi penghias di setiap perjalanannya.


***


Sementara di meja makan lainnya, Reygen dan keluarganya terlihat sangat tegang ketika sarapan.


Evelyn menatap tajam ke arah Reygen yang sedang berjalan dan hendak menggeser kursi meja makan.


"Rey, apakah kau menginap semalam?" tanya Rouge dengan suara beratnya memecah kebekuan.


"Ya, Pi!" jawab singkat Reygen dengan wajah datar.


"Duduklah, kita sarapan bersama!" ucap Rouge membuat suasana tidak terlalu sedingin di kutub utara.


Evelyn tanpa kata hanya menyendok makanan ke atas piringnya. Kedua anak dan Ibu tersebut saling menatap tajam. Reygen mempersiapkan mentalnya untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah orang tuanya.


"Apa kau tidak mengajak istrimu?" tanya Rouge dengan suara berat.


Pertanyaan Rouge membuat Evelyn menghentikan suapan makanan ke mulutnya.


"Aku, datang kesini untuk meminta Momy bicara kepada om Rendra agar mencabut tuntutannya." ucap Reygen datar.


Evelyn menoleh dan menatap tajam kepada Reygen, seolah menusuk bola mata Reygen dengan sikap dingin dan sinisnya.


"Hm!" Evelyn tersenyum sinis.


"Evelyn, dengar perkataan puteramu! cepat tanggapi Reygen. Aku ingin sebelum berangkat, masalah ini sudah selesai." ucap Rouge sambil menyantap hidangan sarapannya.


Rencananya pagi ini Rouge akan kembali ke luar negeri karena ada urusan penting mengenai perusahaan yang tidak bisa di wakilkan.


"Mom, tolong! aku tidak ingin meninggalkan istriku dalam keadaan ia sedang mengandung anakku!" ucap Reygen datar.


"Hm, Rey! apa kau tidak merasa sedang di bohongi oleh wanita jala*g itu!" cebik Evelyn dengan satu ujung bibirnya terangkat.


"Apa maksud Momy? istriku wanita baik-baik, bahkan ia lebih terhormat dari wanita-wanita yang sebelumnya aku kenal!" ucap Reygen tegas.

__ADS_1


Suasana kembali memanas, Evelyn mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia letakkan di samping kursi meja makan. Tiga lembar foto ia lempar ke hadapan Reygen.


__ADS_2