Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 87 : Jiwa Penolong


__ADS_3

Sebelumnya mohon maaf kepada para reader, karena baru bisa Up.


Karena kesibukan di dunia nyata dengan 3 anak yang sedang daring cukup bikin kepala sedikit pusing.


Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan lahir dan bathin, meskipun kadang kantong meringis kesakitan karena terlampau kering kerontang akibat PPKM.


Oh, jadi curhat deh! heheh


Oke, selamat membaca....


jangan lupa like komen dan kasih api nya ya...


👍🔥🔥🔥


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hanya butuh beberapa puluh menit saja dari rumah Reygen, mereka sampai di pantai yang terletak di tengah kota.


Gegas Reygen menuju parkiran hotel yang terletak tidak jauh dari pantai. Ia melakukan cek in terlebih dulu dan segera menyimpan koper ke dalam kamar.


Ayas duduk sambil meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku akibat duduk lumayan lama dalam mobil, Reygen membuka jendela yang view-nya langsung menghadap ke pantai.


Indahnya ciptaan Tuhan ini, nikmat melihat yang seharusnya tidak boleh di sia-siakan dan jangan melihat yang tidak pantas untuk kita lihat, apalagi melihat kesalahan orang lain dan langsung menjudgenya itu adalah hal yang tidak baik.


Menghirup udara yang memang tidak begitu segar, karena walaupun di pantai, tetap saja polusi dan hiruk pikuk perkotaan selalu menjadi atribut kota yang tak terpisahkan, tetapi suasana baru di luar lingkungan kerja cukup membuat Reygen sedikit melepas penat dari kesibukannya sehari-hari.


"Yank! kamu capek, gak?" tanya Reygen sambil tetap memandangi pantai dari jendela kamar.


"Emangna kenapa, Bii?" tanya Ayas dan duduk di tepi ranjang.


"Kita naik perahu, yuk!" Reygen menoleh ke Ayas.


"Naik perahu?" tanya Ayas kembali.


"Iya, kamu sini, deh!" Reygen melambaikan tangannya ke Ayas, meminta agar istrinya tersebut mendekat.


Ayas pun berjalan mendekati Reygen yang sedang berdiri di depan jendela kamar mereka, matahari yang mulai meninggi membuat mata Ayas sedikit silau.


Reygen memeluk Ayas dari belakang, mereka menatap pantai yang ramai oleh pengunjung, beberapa perahu wisata sedang berlayar memanjakan para pelancong yang ingin menikmati sensasi laut kota.

__ADS_1


Di lepasnya hijab yang masih membalut kepala Ayas, menghirup aroma tengkuk sang istri cukup menenangkan bagi Reygen.


"Bii, geli!" ucap Ayas seraya mengusap tengkuknya yang mulai membuat bulu tipisnya berdiri.


"Wangi!" Reygen tak henti mengusap leher belakang Ayas dengan hidung bangirnya.


Entah kenapa setiap berada dekat dengan Ayas, Reygen selalu saja ingin menyentuhnya dan tak ingin jauh dari sang istri.


Bucin! mungkin kata itu cocok di sandang oleh Reygen saat ini, tak apalah bucin yang penting bucin pada tempat dan waktu yang tepat.


Jangan sampai bucin kepada orang yang tidak tepat, nanti malah jadi sakit hati yang berkepanjangan dan menyebabkan trauma yang mungkin begitu dalam.


"Bii, ih! masih siang!" Ayas menggeser kepalanya lebih memberi jarak dengan Reygen.


"Kita turun, yuk! cari makan siang!" ajak Reygen.


"Ayok!" Ayas melepas tangan Reygen yang masih melingkar di pinggangnya.


Namun, ternyata tangan Reygen masih belum ingin terlepas dari tubuh Ayas, ya, sudah! Ayas pun hanya menikmati sensasi pelukan dari Reygen yang membuatnya sedikit bermanja-manja.


"Bii, katanya tadi mau ajak aku naik perahu," tutur Ayas.


"Sebentar lah, aku masih mau bermanja sama kamu." Reygen lebih merapatkan tubuhnya ke tubuh Ayas.


Dua tiket telah berada dalam genggaman Reygen, ia menggandeng tangan Ayas untuk menaiki perahu dan duduk diantara penumpang lainnya.


Bocah laki-laki kini menarik perhatian Reygen bocah yang duduk di samping Reygen itu tak henti memainkan tangannya untuk meraih air laut yang ada di bawah perahu.


Aktif sekali bocah lelaki itu, sampai tak mau diam ketika duduk di sebelah ibunya yang sedang asik borpose di depan kamera ponselnya.


Sampai penumpang sudah memenuhi tempat duduk yang ada di perahu tersebut, pengendali perahu pun lekas menarik perahu mereka melalui tali yang sudah tersedia sebagai jalur perahu mereka.


Mesin perahu mulai di hidupkan dan beberapa saat kemudian perahu mulai meluncur membelah lautan, bocah lelaki yang berusia kurang lebih delapan tahunan tersebut tampaknya sangat penasaran dengan air laut.


Bocah itu mengulurkan tangannya ke samping perahu sambil sedikit menungging untuk meraih air laut yang ada di bawah perahu, tetapi air laut itu memang masih bisa di raih oleh tangan orang dewasa.


Sambil melihat pemandangan dari perahu sederhana, Reygen dan Ayas tampak selalu mesra sambil bermanja dan menghirup udara.


"Yank! lihat deh! itu ibunya si anak, kok cuek aja sih, anaknya gak mau diem juga, kan bisa bahaya!" seloroh Reygen kepada Ayas.

__ADS_1


Baru saja Reygen mengatupkan mulutnya dan,


BYUURRR


Bocah lelaki tersebut tercebur ke laut karena tak bisa menahan tubuhnya yang sudah separuh keluar dari perahu,


Kejadian ini sontak mengejutkan ibunya yang sedang duduk di samping bocah tersebut. Panik! itu yang saat ini dirasakan oleh ibu bocah tersebut.


Semua penumpang yang ada di dalam perahu tersebut pun panik dan melihat ke arah dimana bocah itu tercebur,


Ibu itu langsung berteriak dan meminta tolong kepada semua orang yang ada di dalam perahu tersebut


Pak Nahkoda yang sedang mengendalikan mesin perahu tersebut pun langsung mematikan mesin perahunya.


Refleks Reygen segera menceburkan dirinya untuk menolong bocah tersebut, lalu nahkoda kapal pun ikut menyusul Reygen menceburkan dirinya untuk menolong si bocah.


Ayas terkejut karena Reygen tak memberi aba-aba saat akan menceburkan diri ke dalam laut. Ia sedikit panik dan melihat ke arah dimana Reygen menceburkan dirinya.


Sepertinya bocah itu tidak bisa berenang, sehingga mengharuskan Reygen dan nahkoda kapal untuk menyelam agar menemukan si bocah.


Untungnya kedalaman hanya beberapa meter saja dan tak membuat Reygen kesulitan meraih tubuh si bocah.


Akhirnya setelah beberapa detik, Reygen berhasil membawa tubuh si bocah ke atas permukaan air laut dan membawanya naik ke perahu dan memberikan pertolongan pertama untuk mengeluarkan air yang banyak terminum oleh bocah tersebut.


Beruntungnya bocah tersebut langsung mendapat pertolongan, kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi.


"Sayang! kamu gak apa-apa, Nak!" ucap si Ibu yang panik.


Bocah itu masih setengah sadar karena meminum air cukup banyak dan masih merasa shock.


Basah kuyup! tentu saja, Reygen tak pikir panjang ketika melihat bocah itu tercebur.


"Sayang! kamu gak apa-apa?" tanya Ayas kepada Reygen.


"Gak apa-apa, Yank!" Reygen mengusek-usek rambutnya yang basah.


Kejadian ini membuat nahkoda kapal segera membawa mereka kembali ke bibir pantai dan tidak melanjutkan perjalanan mereka untuk berkeliling lautan kota.


Baju basah yang membalut tubuh Reygen membuat para wanita menggigit bibirnya sendiri ketika melihat lelaki blasteran yang tampan sedang basah kuyup.

__ADS_1


Musibah memang bisa datang kapan saja, tak ada yang tahu kapan ia akan datang. Manusia hanya bisa berhati-hati dan waspada ketika musibah itu akan menyapa.


Ayas dan Reygen gegas kembali ke hotel karena baju Reygen yang basah kuyup tidak mungkin bisa kemana-mana ditambah hari memang sudah mulai senja.


__ADS_2