
Pagi yang dingin membuat penduduk bumi kembali menarik selimut, tetapi tidak dengan Ayas. Ia tidak pernah bermalas untuk segera menyiapkan sarapan dan beraktivitas.
Namun, pagi ini entah kenapa saat ia baru saja membuka matanya, ia merasa pusing dan mual.
Ia segera berlari ke dapur menuju kamar mandi, karena kamarnya saat ini tidak terdapat kamar mandi di dalamnya.
"Huekk! Huekk!"
Karena langit masih gelap, pukul 04.00 saat ini membuat situasi sekitar masih sepi, sehingga suara muntahan Ayas sangat terdengar jelas.
Reygen meraba tempat tidur disampingnya dan ia tidak mendapati Ayas disana, matanya perlahan terbuka dan ia kembali menajamkan pendengarannya.
Terdengar suara dari belakang, lalu ia segera berjalan menuju arah suara.
Melihat sang istri sedang membungkukkan badannya dan tak henti hendak mengeluarkan seluruh isi perutnya, Reygen membantu Ayas memegangi tubuh sang istri.
Reygen memijat lembut tengkuk leher Ayas, berharap bisa sedikit meringankan rasa sakit yang sedang di alami oleh istrinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Rey mengusap keringat yang membasahi kening Ayas.
"Gak tahu, Bii. Tiba-tiba saja pas bangun tidur perutku mual." jawab Ayas setelah ia menyeka mulutnya yang basah setelah berkumur dengan handuk kecil.
"Bagaimana kalau kita cek ke dokter?" tanya Reygen berharap Ayas mau pergi untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Gak usah, Bii ... sepertinya aku hanya perlu membeli tespack, karena aku sudah telat datang bulan." jawabnya sambil menundukkan kepala.
Mendengar perkataan Ayas, mulut Reygen menganga dengan mata terbuka lebar, seperti sedang mendapat lotre. Ia kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan dan segera memeluk Ayas.
"Benarkah? kalau begitu sekarang kamu istirahat saja." Reygen segera menggendong Ayas ke kamar tidur.
"Kamu gak boleh ngapa-ngapain. Tunggu aku disini, aku akan membeli tespack." saking bahagianya sampai Reygen lupa kalau ini masih subuh dan belum ada minimarket yang buka karena di pinggiran kota seperti ini tidak ada minimarket yang buka 24 jam.
Pakaian yang ia gunakan pun masih setelan baju tidur dengan motif bulan dan bintang.
Setelah hampir satu jam, akhirnya Reygen kembali kerumah dengan menenteng dua bungkus bubur Ayam tanpa berhasil membeli tespack.
__ADS_1
Ia mengambil sendok dan segera meletakkannya di atas meja makan. Kemudian segera memanggil Ayas yang masih ada di dalam kamar.
Reygen duduk di tepian ranjang, sedangkan Ayas masih merasa badannya lemas setelah perutnya yang kosong mengeluarkan isinya sampai terasa pahit di mulut.
"Sayang, aku lupa. Jam segini belum ada minimarket yang buka di sekitaran sini. Bahkan aku sudah berjalan sejauh beberapa kilometer dan bertanya ke setiap warung kecil tapi mereka tidak menjual tespack." rajuk Reygen.
"Lagian kamu gak inget emang? kita 'kan bukan tinggal di perkotaan, Bii ... yang banyak toko buka 24 jam. Ini kan pinggiran kota yang masih terbilang sedikit kampung. Hm." Ayas terkekeh menahan tawa karena suaminya terlalu antusias.
"Ya sudah, kita sarapan dulu aja. Aku sudah beli bubur ayam. Nanti siang aku coba ke minimarket ujung jalan." ucap Reygen yang kemudian mendekat ke Ayas untuk membantu istrinya bangun.
"Bii, jangan deket-deket, iihhh ... kamu bau!" Ayas mendorong dada Reygen dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi menutup hidung bangirnya.
"Hah, bau...?" Reygen mencium tubuhnya sendiri, "ah, gak bau, kok! semalam aja kamu nempel terus sama badanku!" Reygen menatap heran kepada Ayas, karena semalam saja mereka melakukan penyatuan, bagaimana mungkin Ayas bilang badan Reygen itu bau kalau semalam ia menyesap aroma tubuhnya tanpa henti. Reygen tetap mendekat.
"Bii, iihhhh ... jangan deket-deket! nanti aku muntah lagi!" Ayas merajuk dan sama sekali tidak mau di dekati oleh suaminya.
"Ya sudah aku mandi dulu!" Reygen segera meninggalkan Ayas dan masih menciumi badannya yang dirasa tidak bau dan ia tidak sedang berkeringat saat ini.
Beberapa menit Reygen habiskan di dalam kamar mandi, ia keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan menutupi area vital saja dari bawah pusar sampai atas lutut.
"Hubbyyyyy ... kamu pake sabun apaan, sih, bau bangettt!" Ayas segera pergi keluar kamar tidur seraya menahan rasa mual yang kembali melanda.
Reygen hanya melongo melihat keanehan yang sedang diperlihatkan oleh sang istri.
"Aneh banget, sih? tadi sebelum mandi katanya bau, eh wangi sabun aja masih dibilang bau." Reygen geleng-geleng kepala sambil tersenyum miris.
***
Ayas duduk di teras belakang sambil mengusap perut datarnya, Reygen melihat istrinya berkelakuan aneh pun segera mendekati.
"Sayang, kita sarapan dulu, yuk!" ajak Reygen tak berputus asa.
"Gak mau, Bii ... aku pengen gado-gado aja!" ucapnya manja.
"Apa? gado-gado!" Reygen tidak percaya mendengar istrinya meminta gado-gado sepagi ini.
__ADS_1
"Itu ... aku sudah beli bubur!" ucapnya sedikit terbata.
"Gak mau, aku pengennya gado-gado. Kalau gak dibeliin, aku gak mau makan!" Ayas melipat kedua tangannya di depan dada dan memanyunkan bibirnya.
"Haduh, tespack aja belum dapet, sekarang pengen gado-gado pagi-pagi begini. Dimana nyarinya?" Reygen bertanya kepada dirinya sendiri sambil menggaruk pelipisnya dengan telunjuk.
"Bii, cepetan aku laper!" Ayas kembali merajuk.
"Iya, iya, aku beliin!" Reygen langsung balik kanan dan segera mengambil ponselnya.
Diam-diam Reygen menelepon Sarah, ia bertanya perihal dimana harus membeli tespack dan gado-gado sepagi ini.
Tampaknya Sarah memberi jawaban yang membuat Reygen cukup merasa puas, tetapi raut wajahnya masih terlihat kebingungan.
"Terpaksa download aplikasi, deh!" Reygen mendesah pasrah karena Sarah menyarankan untuk memesan gado-gado di aplikasi yang menjual aneka makanan melalui aplikasi online.
Setelah hampir setengah jam belum juga pesanannya datang, akhirnya Ayas kembali merajuk dan meminta Reygen untuk mencari tukang gado-gado di sekitar lingkungannya
Reygen rela berjalan kaki demi memenuhi keinginan sang istri, berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai dilalui oleh pejalan kaki. Wajah tampannya yang blesteran cukup membuat para pejalan wanita yang berpapasan dengannya menatap kagum bahkan sampai tersipu melihat Reygen.
"Eh, lihat deh. Tetangga baru itu cakep banget, ya!" ucap salah satu gadis yang kebetulan berpapasan dengan Reygen.
"Tapi, sayang. Dia udah punya istri!" celotehan para gadis desa ketika bertemu Reygen.
Reygen tak menanggapi semua omongan mengenai dirinya, ia hanya fokus mencari apa yang istrinya mau.
"Syukurlah sudah buka!" Reygen melihat minimarket dihadapannya sudah buka.
Ia berjalan memasuki minimarket dan bertanya kepada kasir.
"Mbak, saya mau beli tespack sebelah mana, ya?" Reygen bertanya.
"Oh, disebelah sana, Pak! dekat rak obat-obatan." jawab kasir seraya menunjuk rak yang ada disamping meja kasir.
Bukan hanya satu, tetapi reygen mengambil semua tespack yang ada disana, kebetulan hanya tersisa lima buah saja.
__ADS_1
Setelah membayar belanjaannya, ia langsung bergegas pulang dengan perasaan gembira karena berhasil mendapatkan apa yang istrinya mau.