
Suasana seperti biasanya di kantor Reygen. Ia sibuk dengan dokumen kantornya.
tok... tok...
"Masuk!" dengan lantang Reygen mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya memasuki ruangan Reygen dengan setelan baju formal.
"Reygen, apa kabar?" sapa lelaki paruh baya tersebut dengan suara baritonnya.
Mendengar suara yang sepertinya ia kenal, Reygen segera menutup dokumen yang sedang ia pelajari. Reygen menegakkan kepalanya dan menatap lelaki paruh baya tersebut.
"Paman, Hans," Reygen berdiri setelah melihat Hans yang datang, "silakan duduk Paman," Reygen mempersilakan Hans yang ia sebut paman tersebut untuk duduk. Ia menyalami Hans sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.
"Terima kasih, Rey." Hans duduk di kursi depan meja kerja Reygen.
"Paman kapan datang ke Indonesia?" tanya Reygen kepada Hans.
"Paman tiba kemarin sore, dan menginap di hotel." jawab Hans.
"Oh, ya. Paman, bagaimana kabar Vans?" tanya Reygen pada Hans.
"Dia baik. Rey, Paman mendengar kabar mengenai Cakra. Katanya dia sama Kamu ...." Hans menghentikan ucapannya.
"Ya, Aku dan Cakra berseteru, dia sudah aku pecat dari kantor ini, Paman." ucap Reygen.
"Hm, tidak perlu di bahas. Paman mengerti. Oh, ya. Kedatangan paman kesini untuk menitipkan Vans kepadamu, kebetulan paman ada pekerjaan di luar kota." Hans mengutarakan maksudnya untuk mendatangi Reygen.
"Dengan senang hati, Paman."Reygen tersenyum.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda tampan dengan gaya kebarat-baratannya. Ia memasuki ruangan Reygen tanpa permisi. Sungguh tidak sopan!
"Hai, Brother," pemuda itu mendekat.
"Hai, Vans!" Reygen berdiri menyambut Vans.
Mereka bersalaman ala anak muda dengan saling meninju tangan tanpa kekuatan.
"Rey, paman tinggal dulu. Silakan kalian mengobrol. Vans, jangan merepotkan Kakak sepupumu!" Hans menatap Vans sungguh-sungguh.
"Ok," Vans memberi hormat pada Hans.
Hans meninggalkan Vans dan Reygen di ruangan Reygen.
"Hei, Vans. Bagaimana kuliahmu?" Reygen duduk di kursi meja kerjanya, sedangkan Vans duduk di kursi seberang.
__ADS_1
Vans dan Reygen berwajah blesteran yang sama-sama tampan. Namun se badboy-nya Reygen, ia tidak pernah mengganggu wanita dan berlaku tidak sopan kepada lawan jenis kecuali sang wanita yang menawarkan diri.
Berbeda dengan Vans yang selalu bersikap arogan dan memaksa. Ia tidak segan bersikap kasar meskipun kepada seorang wanita yang berani menolaknya.
"Finish! makanya aku ikut daddy ke Indo, sebelum mulai bekerja disana. Oh, ya. Daddy-ku sudah bilang kan, kalau sementara aku menginap di rumahmu?" Vans berkata pada Reygen.
"Ya, dengan senang hati sepupuku, Kau bisa tinggal di rumahku." Reygen tersenyum.
"Thanks Bro! bye the way, sampai kapan aku harus menunggumu pulang?" Vans duduk santai si kursi meja kerja Reygen.
"Hm, Aku akan pulang cepat. Sebentar, aku bereskan pekerjaan dulu," Reygen lekas menutup laptop dan membereskan dokumen kantornya segera. Ia bersiap pulang bersama Vans.
Perjalanan menuju rumah Reygen di warnai bincang hangat dua pemuda yang sudah lama tidak bertemu.
Vans ikut bersama Hans(ayahnya) untuk tinggal di luar negeri semenjak lulus SMA, sedangkan istri Hans--ibunya Vans--sudah meninggal sejak lama.
Mobil Reygen memasuki halaman rumahnya yang luas, ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Vans yang pernah mengenal Reygen semasa remaja merasa heran ketika mendengar Reygen mengucapkan salam menggunakan bahasa arab.
Tidak ingin ambil pusing dengan perubahan Reygen, ia hanya mengernyitkan keningnya sambil menatap Reygen heran tanpa bertanya.
Sesaat kemudian, Ayas membukakan pintu dan segera mencium punggung tangan Reygen, lantas ia mengecup kening sang istri penuh mesra.
"Hei, Vans. Kenalkan, dia istriku. Namanya Ayas," Reygen mengenalkan Ayas kepada Vans.
Vans, mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Ayas. Namun, tadinya Ayas ragu untuk menjabat tangan Vans, tapi Reygen memberi isyarat agar Ayas menerima jabat tangan dari Vans.
Mendengar perkataan Reygen, Ayas pun menjabat tangan Vans.
Vans menatap Ayas dengan intens, sampai ia lupa melepas tangan Ayas dan memeganginya dengan sangat erat.
"Maaf," suara Ayas menyadarkan Vans yang tidak berkedip menatapnya.
"Oh, ya," Vans menundukkan kepalanya sekilas dan tersenyum pada Ayas.
"Vans, jangan terlalu lama menatap istriku." tatapan tajam dari Reygen seolah menusuk bola mata Vans.
"Saya, ambilkan minum dulu buat kalian." Ayas meninggalkan Reygen dan Vans di ruang tamu.
"Rey, sejak kapan Kau menikah? kenapa Aku tidak tahu?" Vans menatap selidik kepada Reygen.
"Hm, hampir dua bulan lamanya," jawab Reygen seperlunya.
"Dari mana Kau mendapatkan cewek unik seperti dia?" Vans berkata dengan nada setengah berbisik kepada Reygen.
"Vans, jangan macam-macam," tatapan memicing dari Reygen, "Dia kakak sepupumu," jawab Reygen penuh makna.
__ADS_1
"Ternyata ... Kakak sepupuku ini sudah berubah ya, tidak mau berbagi?" lirikan nakal dari Vans membuat Reygen semakin geram.
"Vans, cukup! Jika Kau mau tinggal disini, jangan main-main dengan istriku," ancam Reygen tidak maing-main.
"Santai, Bro!" Vans melirik Reygen, "gua cuma becanda. Serius amat, sih, Lo," Vans tersenyum penuh teka-teki.
Reygen menanggapinya dengan mata yang mendelik kearah Vans sebelum dia meninggalkan Vans di ruang tamu, ia menyusuli Ayas yang sedang menyiapkan minum untuk Vans.
"Sayang, jangan di teruskan. Biar bi Ipah saja yang membuatkan minum untuk Vans." Reygen membawa Ayas dengan sebelah tangannya melingkar ke pinggang Ayas.
Ia memanggil bi Ipah untuk membuatkan minum dan menunjukkan kamar tamu untuk Vans.
Reygen sangat marah jika ada yang menyinggung istrinya, apalagi menurutnya Vans sudah keterlaluan.
Mungkin karena terlalu lama tinggal di lingkungan yang berbudaya barat sampai ia lupa dengan budaya sopan santun negara ini.
"Sayang, dengar baik-baik," Reygen menatap serius kepada Ayas, kedua tangannya memegangi pipi Ayas, "Vans akan menginap beberapa hari disini. Selama Vans menginap dan aku sedang bekerja, Kamu tidak boleh keluar dari kamar tidur dan kunci kamar ini dari dalam. Jika membutuhkan sesuatu hubungi saja aku, dan aku akan memerintahkan bi Ipah untuk mengantarkannya padamu. Apa Kau paham?" titah Reygen panjang lebar dengan wajah menatap serius kepada Ayas.
Ayas hanya mengangguk-angguk dihadapan Reygen. Ia keheranan dengan sikap Reygen yang sangat bawel dan over protective padanya akhir-akhir ini.
Sehingga Ayas tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk bertanya kepada sang suami.
"Kenapa Kamu sampai seperti itu? bukankah itu saudara sepupumu? berarti dia juga sepupu iparku, bukan? kenapa Kau terlihat sangat hawatir?" tanya Ayas penuh selidik.
"Sudah, jangan banyak tanya, ikuti saja perintahku. Ini juga demi kebaikanmu," jawab Reygen tanpa bertele-tele.
"Siap, komandan!" Ayas mengangkat satu tangannya di kening, memberi hormat ala militer kepada Reygen.
Mereka tertawa bersama dan melepas rindu setelah beberapa jam tidak bertemu. Pelukan hangat tercipta begitu saja.
Sampai lupa waktu akhirnya mereka melepas pelukan masing-masing dan tertawa. Di sela canda tawa ke dua pasangan suami istri tersebut, suara ketukan pintu membuat mereka menjeda tawa dan mempersilakan sang pengetuk pintu untuk masuk.
"Maaf, Den. Den Vans, memanggil Den Reygen." bi Ipah berdiri di depan pintu.
"Iya, bilang sama dia, nanti saya kesana," titah Reygen kepada bi Ipah.
Bi Ipah langsung undur diri untuk menyampaikan pesan dari Reygen kepada Vans.
Reygen mendengkus kesal karena Vans mengganggu dua sejoli yang sedang bercanda ria melepas rindu yang membara. padahal baru beberapa jam saja berpisah, dasar pengantin baru!
🌹🌹🌹
Happy reading guys!
jangan lupa vote komen dan like ya...
🔥🔥🔥👍👍👍
__ADS_1
💓💓💓
🙏🙏🙏