
Jessy berjalan sambil bersungut-sungut dan membanting pintu ruangan Reygen dengan kuat sampai terdengar suara,
BRUGGH
Hatinya di penuhi rasa kecewa dan juga dendam kepada Ayas yang telah berhasil memukul mundur sampai kena mental.
Tentu ia tidak akan diam saja karena Jessy adalah wanita yang tidak mudah menyerah dan akan terus berusaha mendapatkan apa yang dia mau.
"Kamu kenapa malah ketawa? seneng liat aku dihina?" tanya Ayas ketus.
"Enggak, Sayang ... Aku cuma gak nyangka aja kamu bakalan kek gitu. Jujur aku bangga sama kamu yang gak lemah ngadepin Jessy!" jawab Reygen yang masih menyunggingkan bibirnya.
"Janji sama aku kalau kamu gak akan pernah tergoda sama wanita manapun! apalagi sampai menggetarkan ranjang!" Ayas memanyunkan bibirnya beberapa centi.
"Kamu ngomong apa, sih? ya tentu aja yang bisa getarin ranjang aku itu cuma kamu, Sayang!" Reygen menarik tubuh Ayas ke dalam dekapannya.
Reygen mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan, dalam benaknya berkata,
'bagaimana mungkin aku bisa berpaling dari wanita sepertimu.' Reygen mendekap erat tubuh semampai Ayas.
"Bii, janji, ya! kamu gak akan macam-macam dan berpaling ke lain hati apalagi lain body!" Ayas meletakkan wajahnya si atas dada bidang Reygen.
"Sayang, janji itu bukan hanya untukmu, melainkan untuk diriku sendiri! sebelum kau memintaku untuk berjanji, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadikanmu yang terakhir dalam cintaku!" Reygen kembali mengecup kening Ayas.
"Meskipun badanku tidak selangsing ini," Ayas melihat tubuhnya sendiri, "dan wajahku tak semuda ini," dia meraba wajahnya sendiri, "juga kulitku yang tak sekencang ini ditambah nanti kalau aku sudah melahirkan pasti banyak gelambir dimana-mana!" wajah Ayas terlihat sedih.
"Tentu saja, sampai rambut kita memutih, sampai gigi kita tinggal dua, sampai kakek nenek dan sampai kapanpun aku akan selalu berusaha seperti ini!" Reygen menatap Ayas dengan senyum tipisnya yang menawan.
Ayas merasa tersentuh mendengar ucapan Reygen, pandai sekali pria itu menenangkan hati Ayas yang sedang dilanda gundah gulana karena melihat Kesah yang ia anggap lebih menarik dan cantik.
Padahal di hati Reygen, kecantikan adalah hal yang tidak terlalu ia pentingkan, toh Ayas pun sudah sangat cantik menurutnya apalagi dengan perangai yang sangat ia sukai sampai-sampai kini menjadi candu setiap waktu untuknya.
__ADS_1
Cinta itu hanya sementara, debaran yang akan melemah seiring waktu yang terus bergeser, tetapi rasa sayang tidak akan pernah usang meskipun raga sudah tidak kencang dan stamina sudah mulai meregang.
Cinta tak lebih dari hasrat, yang bisa memudar ketika sudah terlampiaskan. Namun, rasa sayang tak akan pernah lekang meski ego tak lagi membumbung tinggi.
Perjalanan Reygen sampai di titik ini adalah tidak mudah, bermacam rasa berkecamuk di hatinya saat ia mulai dimasuki racun-racun asmara dari pandangan pertama dengan Ayas.
Sampai rasa itu benar-benar tumbuh menjadi cinta yang entah bisa dilukiskan dengan apa, yang jelas Reygen bahagia dan merasa tenang berada dekat istrinya.
'Kau cantik dengan pribadimu, kau anggun dengan lakumu, kau anugrah terindah yang telah mengubah hidupku, kau adalah pelabuhan terakhir dalam pencarianku!
Ayas istriku, jangan pernah berpikir jika aku akan meninggalkanmu, justru aku yang takut akan kehilanganmu, kehilangan sosok yang telah membantu meluruskan jalanku, sosok yang telah menjadi pertimbangan hidupku dan tentu saja sosok yang sudah menjelma menjadi candu asmaraku.'
"Bii, aku laper!" ucap Ayas membuyarkan lamunan Reygen.
"Ya udah, kita makan. Kamu mau makan dimana?" tanya Reygen.
"Dimana aja, deh! tapi aku mau makan seafood!" rajuk Ayas dengan manja.
"Oke, kita makan di resto seafood. Aku rapikan kerjaan dulu, ya!" Reygen gegas menuju meja kerja dan merapikan dokumen yang masih tercecer di atas meja kerjanya.
Baru saja Reygen membuka pintu ruangan kerjanya, sekretarisnya sudah ada di depan pintu sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Maaf, Pak Reygen! baru saja saya mau ke ruangan Bapak! ini ada dokumen yang dititipkan oleh bu Jessy!" sekretaris Reygen yang kebetulan berpapasan di depan ruangan Reygen.
Reygen pun menerima dokumen yang ada di dalam map tersebut, sejenak ia membuka lembar demi lembar isi dokumen tersebut.
Ia menarik napas panjang ketika melihat kontrak kerja sama yang memang bernilai fantastis tersebut, tetapi saat ini prioritasnya adalah keluarga. 'Tak apa kehilangan proyek besar yang penting masih bisa memiliki keluarga kecil bersama istri dan calon anaknya.' pikir Reygen dalam hati.
Ia tersenyum menatap Ayas, "Sayang, aku simpan ini di meja dulu ya!"
"Hm!" Ayas mengangguk dan membalas senyuman Reygen.
__ADS_1
Selang beberapa menit Reygen kembali dan menggandeng tangan Ayas berjalan menuju lift.
"Bii, apa perusahaannya tidak akan rugi jika membatalkan kerja sama dengan perusahaan Jessy?" tanya Ayas dengan wajah sendu.
"Lebih baik merugi demi mempertahankan rumah tangga, dari pada merugi karena harus mengorbankan rumah tangga!" Reygen mengusap wajah Ayas.
"Makasih, ya, Bii! aku benar-benar beruntung memilikimu!" ucap Ayas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudahlah, jangan di fikirkan!" Reygen tersenyum menatap Ayas.
Banyak pria yang mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya demi keuntungan sesaat dan bahkan kenikmatan sekejap yang malah akan merugikannya untuk jangka waktu yang panjang, tetapi dengan tegasnya Reygen memilih keluarganya sebagai keuntungan terbesar dalam hidupnya.
Wanita mana yang tidak terenyuh saat di perlakukan demikian oleh pasangannya?
Memang, cerita novel itu lebih indah dari kenyataan, tetapi semoga bisa menjadi doa untuk mendapatkan pasangan yang saling melengkapi seperti Ayas dan Reygen!
***
Tibalah di Restoran Seafood sesuai perkataan Reygen. Seperti orang yang tidak makan berhari-hari saja, Ayas tampak bersemangat dan melahap makanan yang ada di atas piringnya, bahkan sesekali ia mencomot makanan milik Reygen.
Tak terasa usia kandungan yang mulai memasuki ke empat bulan membuat nafsu makan Ayas bertambah dan kini berat badannya pun seperti bertambah.
"Yank, pelan-pelan makannya!" ucap Reygen yang sedikit heran dengan nafsu makan Ayas yang bertambah begitu signifikan.
Mendengar ucapan Reygen, Ayas hanya tersenyum dan kembali menyantap makanannya.
Tanpa mereka sadari kalau Reygen memiliki alergi terhadap makanan laut. Reygen memang hanya sedikit melahap makanannya tetapi namanya alergi meskipun secuil tetap saja ada efeknya.
"Bii, kenapa gak makan?" tanya Ayas, ia merasa heran karena sedari tadi Reygen hanya memperhatikan Ayas makan dan hanya beberapa sendok saja menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Liat kamu makan begitu lahapnya saja aku udah kenyang, Yank!" jawab Reygen sambil memainkan sendoknya.
__ADS_1
"Kamu, tuh, aneh banget, sih, Bii! masa cuma liatin aku makan aja udah kenyang? ck, ck!" Ayas geleng-geleng kepala tanpa berpaling dari makanannya.
Reygen tersenyum dan meraih gelas berisi air putih miliknya, kemudian beralih pada secangkir kopi dingin yang mulai ia sesap secara perlahan.