
Hari semakin senja membuat sinar jingga kemerahan menyembur dari langit sebelah Barat, Ayas tampak senang karena akan melihat panti kembali di bangun, dan dia bisa membawa anak-anak panti untuk kembali menempatinya.
Perjalanan hampir memakan waktu dua jam walaupun sebenarnya bisa di tempuh dengan waktu kurang dari itu, tetapi Reygen sengaja memperlambat laju kendaraannya agar bisa lebih lama dekat-dekat Ayas.
Kendaraan mereka pun sudah terparkir di halaman panti yang sedang di bangun. Para pekerja sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Kamu senang?"
Reygen menatap Ayas yang sedang berdiri di sampingnya.
Ayas hanya tersenyum tanpa memberi jawaban. Dia berjalan memutari area bangunan yang sedang dibangun menuju halaman belakang panti, disini ada sebuah pohon besar dan sebuah kursi kayu yang panjang, tempat di mana Ayas sering bermain bersama anak-anak panti.
Reygen berdiri di dekat Ayas tak ingin sedikitpun melepas tatapannya pada Ayas yang sedang duduk di kursi kayu sambil memandangi para pekerja.
"Kamu tahu gak, kalau aku sering main di sini sama anak-anak panti. Aku dan anak-anak panti lainnya di besarkan bersama. Sejak kecil, Ayahku sudah meninggal dan bunda merawatku tanpa menikah lagi hingga aku dewasa dan sampai ajalnya tiba. Di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain bunda, kak Sarah, dan anak-anak panti yang sudah aku anggap sebagai saudara-saudaraku, bundaku meninggal karena serangan jantung saat panti ini di gusur sampai ia harus dirawat di ICU selama beberapa hari di sisa usianya."
Ayas bercerita dengan suara yang seperti sedikit menahan tangis, bola matanya yang bening sudah penuh dengan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja, tetapi Ayas mencoba menahannya dan hanya tersenyum tipis.
"Itu sebabnya kamu sangat membenciku?"
Reygen duduk di samping Ayas.
"Ya."
Ayas hanya menjawab singkat tanpa menatap pada Reygen.
"Sampai saat ini?"
Reygen menatap lekat-lekat pada Ayas.
"Entahlah, aku masih ragu dengan semua perkataanmu. Aku tidak yakin jika ini hanya sebuah permainan untuk memanfaatkanku tapi apapun itu aku akan mencoba untuk tetap pada pendirianku membangun panti ini kembali."
Ayas berkata sambil tersenyum dengan pandangannya yang masih sama tertuju pada pembangunan panti.
"Aku tidak menyalahkanmu jika kau mebenciku atau untuk tidak mempercayai perkataanku, tapi aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini, dan membuatmu kehilangan seorang ibu."
Reygen tampak sangat menyesal.
"Sudahlah, mungkin memang sudah takdir." Ayas tersenyum singkat, "Oh ya, sepertinya hari sudah semakin sore bukankah kamu berjanji akan mengantarkanku ke makam bunda?"
Ayas baru menoleh pada Reygen.
"Ya, ayo."
__ADS_1
Reygen segera bangkit dan berjalan menuju mobilnya yang di ikuti oleh Ayas.
Langit sore kian menggelap ditambah mendung yang akan segera menumpahkan air hujan ke permukaan bumi.
"Kita harus cepet-cepet, sebentar lagi hujan."
Ayas berjalan dengan cepat setengah berlari mendahului Reygen untuk masuk ke dalam mobilnya. Reygen tersenyum dan segera menyusul Ayas untuk memasuki mobilnya.
Reygen dan Ayas sudah berada di dalam mobil dan Reygen segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju pemakaman yang tidak begitu jauh dari panti.
Hanya membutuhkan waktu belasan menit saja Reygen dan Ayas telah sampai di Pemakaman umum di mana ibu Dahlia di semayamkan.
Ayas membeli satu keranjang bunga untuk di taburi di atas makam bundanya.
"Assalamualaikum, Bunda. Ayas datang bawa kabar buat bunda. Panti Mutiara Hati sedang di bangun kembali, dan anak-anak panti bisa kembali tinggal di sana setelah pembangunan selesai, bunda yang tenang ya di sana ...."
Setelah Ayas berbicara pada pusara bundanya, Ia segera membaca ayat-ayat suci Al Quran untuk mendoakan bundanya. Reygen yang sangat tidak paham mengenai agama membuatnya semakin kagum pada gadis cantik yang sedang ada di hadapannya.
Selain cantik, Ayas juga sangat pintar dan paham mengenai agama yang di anutnya tidak seperti Reygen yang beragama hanya sebatas status di KTP saja.
"Hei, hari sebentar lagi hujan, ayo pulang."
Reygen membuat Ayas yang sedang berjongkok di atas pusara ibunya menengadah ke atas untuk melihat ke arah Reygen yang sedang berdiri di sampingnya.
Setelah mereka berdua memasuki kendaraan, Reygen pun segera menancap gas mobilnya. Terlihat jelas raut wajah Ayas yang dapat meneduhkan hati Reygen yang selama ini gersang.
"Hei, aku sudah mengantarmu ke sini, lain kali apa kamu mau mengantarku ke suatu tempat?"
Reygen menengok sekilas ke arah Ayas dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan jalanan.
"Baru saja aku mau bilang makasih, eh udah minta imbalan duluan!"
Wajah Ayas yang tadinya sumringah kembali merengut dan sekilas menatap sinis pada Reygen.
"Bukan begitu maksudku, selama ini aku tidak berani kesana dengan seorang teman apalagi seorang wanita sepertimu."
Reygen tersenyum tanpa menoleh pada Ayas dan hanya berkonsentrasi untuk menyetir.
"Lalu, kenapa kamu mau ngajak aku?"
Ayas menoleh dan menatap pada Reygen yang sedang menyetir.
"Hm ... aku juga gak tahu!"
__ADS_1
Reygen hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum renyah.
"Dasar tidak jelas!"
Ayas kembali mendengus.
Sebelum mereka pulang, Reygen dan Ayas sempat makan malam di sebuah Restoran.
Sesampainya di rumah Reygen...
"Istirahatlah lebih cepat, karena besok kamu harus lembur."
Reygen mempersilahkan Ayas menuju kamar tidurnya, mereka berpisah di ruangan utama.
Kamar Ayas berada di lantai satu menempati kamar tidur tamu sedangkan kamar tidur Reygen berada di lantai dua rumahnya.
Reygen segera membersihkan dirinya dan bertukar pakaian, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Punggungnya bersandar pada head board tempat tidur dan kedua tangannya menyilang di depan dada bidangnya.
Ia masih tidak habis pikir kenapa sikapnya pada Ayas sangat berbeda dengan sikapnya kepada gadis lain, dan yang terpenting keyakinannya akan cinta yang hanya akan membuat sengsara, dan dengan mudah ia tepis ternyata kenyataannya Nol besar. Sepertinya dia sudah termakan ucapannya sendiri.
"Pantas saja Reddick bisa sampai hilang kendali karena seorang wanita, ternyata memang rasanya seperti ini tidak bisa di tolak, apakah nasibku akan sama seperti Reddick? tapi aku benar-benar tidak bisa menahan gejolak ini. Hm,"
Reygen hanya bergumam pada dirinya sendiri.
Ia terus bertanya akan perasaannya yang entah akan seperti apa di masa depan, kecewa atau bahagia, namun yang jelas sekarang ia hanya ingin menikmati rasa itu tanpa alasan apapun. Ia merasa bahagia ketika melihat Ayas ada di dekatnya dan Ia akan merasa sangat gelisah ketika Ayas jauh dari dirinya.
__ADS_1
Perasaan yang gila membuat Reygen kehilangan logika ketika memikirkan gadis yang satu itu tanpa berpikir apakah gadis itu juga memikirkan hal yang sama atau tidak, yang jelas saat ini Reygen hanya ingin menikmati rasa ini selama Ayas tidak merasa terganggu.