Badboy Insaf

Badboy Insaf
End


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak Reygen!" Wildan menyambut Reygen yang baru saja tiba di hotelnya dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Reygen.


"Pagi!" Reygen pun menyambut tangan Wildan dan berjabat.


Hari ini adalah dimana promo produk baru perusahaan Reygen yang berlokasi di hotel Wildan. Reygen mengecek langsung sekaligus dilaksanakan pemotretan untuk profil sang pengusaha.


Wildan mempersilahkan Reygen duduk, acara pun sudah berlangsung. Kedua peran utama sedang berbincang di kursi VVIP. Dua pria tampan pemilik dua perusahaan berbincang mengenai kerja sama bisnis.


"Kak!" panggil seorang gadis muda yang mendekat kepada Wildan.


"Sha, duduk!" ucap Wildan.


Asha adalah tunangan Wildan yang sekaligus akan menjadi model promosi produk baru dari perusahaan Reygen. Asha duduk di sebelah Wildan.


"Pak Reygen, Kenalkan, ini Asha. Model sekaligus tunangan saya." ucap Wildan Mengenalkan Asha kepada Reygen.


Raut wajah Reygen yang semula kecut kini berubah menjadi lebih berseri, "syukurlah Wildan sudah punya tunangan gak mesti godain Ayas lagi." pikirnya dalam hati.


Runtutan acara demi acara telah selesai. Reygen pamit kepada Wildan dan Asha. Tidak ada lagi rasa gelisah terhadap pria berwajah ketimuran bernama Wildan, karena tidak mungkin seorang Wildan yang sudah bertunangan masih mau menggoda wanita lain apalagi istri orang.


***


Mengetahui Wildan sudah punya tunangan, Reygen tidak lagi uring-uringan karena alasan cemburu yang tidak jelas kepada Wildan.


"Sayang, hari ini aku lagi seneng!" ucap Reygen kepada Ayas.


Ucapan Reygen membuat Ayas mengerutkan keningnya, sejak kapan Reygen curhat seperti ini kepada Ayas.


"Seneng kenapa?" tanya Ayas.


"Pokoknya seneng aja! coba sini, aku pengen denger suara anak kita." Reygen mendekatkan telinganya ke perut Ayas yang sedikit berisi. Aneh! dalam benak Ayas.


Tidak biasanya Reygen mengungkapkan perasaan senang ataupun sedih kepada Ayas, jika saja Ayas tidak peka mungkin mereka akan selalu berselisih karena salah paham.

__ADS_1


Usia kandungan mulai memasuki empat bulan, perut Ayas sudah terlihat sedikit mengembang membuat Reygen selalu gemas dan tak bosan mengusap perut istrinya tersebut.


"Bagaimana kalau kita makan siang diluar?" tanya Reygen sambil mengusap-usap perut Ayas yang mulai berisi.


"Gak mau!" jawab Ayas singkat.


"Kenapa?" tanya Reygen heran, biasanya Ayas selalu antusias jika di ajak makan diluar oleh Reygen.


"Lagi gak pengen aja, aku mau makan di gazebo belakang aja." tugas Ayas.


Akhir-akhir ini Ayas sangat senang makan di gazebo halaman belakang rumah dengan view langsung menghadap kolam renang.


"Kenapa kamu senang banget makan di gazebo?" tanya Reygen.


"Mengingat masa-masa pertama kita ketemu, aku jadi selalu senyum sendiri kalau ingat kejadian waktu itu. Aku jatuh ke kolam renang dan gak bisa berenang sampe hijab aku lepas dan sekarang orang yang sangat aku benci malah berbalik menjadi orang yang sangat aku sayangi."


"Itu mengapa orang sering bilang kalau dinding antara benci dan cinta itu sangat tipis!"


"Siapa juga yang mau bikin istri cantik dan baik seperti kamu kecewa, bahkan aku rela berikan kamu apa saja asalkan kamu dan anak kita kelak bahagia." tutur Reygen membuat Ayas tersenyum. Ayas membenamkan wajahnya pada dada Reygen dan memeluknya erat.


"Bii, aku kangen sama bunda!" lirih Ayas dalam pelukan Reygen.


"Ya sudah, nanti sore kita kunjungi makam bunda." Reygen mengusap pucuk kepala Ayas dan mencium keningnya.


Mereka hanyut dalam perasaan masing-masing yang merasa tenang ketika berada saling dekat. Bagi Ayas, Reygen tidak hanya bisa memberikan kasih sayang sebagai seorang suami, tetapi juga Reygen bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya yang selallu memberikan rasa nyaman dan perlindungan.


"Bii, aku tidak mau kehilanganmu, meskipun kau hanya titipan dari Illahi untukku, tapi semoga saja aku tidak akan pernah merasakan kehilanganmu. Seandainya maut yang harus memisahkan kita, biarkan aku yang lebih dulu meninggalkanmu karena aku tidak mau jika kau tinggalkan meskipun takdir yang bertindak." lirih Ayas.


Mendengar perkataan Ayas, Reygen melepaskan pelukannya dan menatap Ayas lekat.


"Kamu ini bicara apa sayang? kita akan selalu bersama bahkan kelak semoga kita juga bisa bersama sampai surga-Nya. Sudah jangan bicara Seperti itu lagi, aku tidak suka. Aku tidak suka kau bahas perpisahan denganku, karena aku juga tidak akan sanggup kalau harus berpisah denganmu. Lebih baik sekarang kita masak, bukankah kamu mau makan di gazebo?" Reygen mengusap pipi Ayas lembut. Ayas mengangguk dan tersenyum, Reygen menggandeng tangan Ayas dan berjalan keluar kamar tidur menuruni anak tangga menuju dapur.


***

__ADS_1


Bulan demi bulan telah terlewati, perut Ayas sudah semakin membesar, Reygen semakin senang menggoda Ayas yang terlihat semakin seksi di mata Reygen padahal berat badan Ayas hampir bertambah dua kali lipat.


Diary Reygen.


Teruntuk istriku Yasmine Humaira yang sering dipanggil dengan nama "Ayas",


Terima kasih karena kau mau mengandung anakku dan mengorbankan keindahan tubuhmu demi buah hati kita. Namun, bagaimanapun bentuk tubuhmu tidak akan merubah rasa cinta dan sayangku kepadamu.


13 Agustus 2022


Seorang putra darah dagingku telah terlahir ke dunia, terima kasih!


Kau rela mempertaruhkan nyawamu demi melahirkan keturunanku, di setiap bulir peluhmu semoga akan terbalas dengan beribu kebahagiaan untukmu dunia sampai ke surga.


Seiring berjalannya waktu, Azka Scalfh semakin bertumbuh dengan air susu dari tubuhmu, kau rela memberikan bagian dari aliran darahmu demi sang buah hati dzuriatku.


Satu tahun berlalu, Azka semakin menggemaskan dan selalu antusias menyambutku sepulang dari kantor, langkah kakinya yang mungil dan tak jarang jatuh bangun ketika belajar berjalan membuat aku tidak rela harus berlama jauh darinya. Hal ini membuatku selalu merindukan rumah meskipun baru saja aku sampai di kantor tapi pikiranku sudah memikirkan untuk segera pulang. Indah sekali karunia-Mu Tuhan!


Dua tahun Azka tumbuh menjadi sosok putra kecilku yang selalu bermanja kepada Ayas dan mulai terlihat naluri melindungi darinya untuk Ayas, bahkan terkadang aku tidak boleh bermanja dan merebahkan kepala di paha mamanya, heh! Aku selalu menggoda putra sulungku itu, membuat dia cemburu terhadapku karena menurutnya mungkin aku akan merebut Ayas darinya. Lucu sekali putraku itu.


Tiga tahun usia Azka, istriku kembali mengandung anak kedua kami, memang sebelumnya aku dan Ayas sudah memprogram kehamilan ini untuk bisa memiliki putri kembar sesuai keinginan Ayas, betapa bahagia Ayas ketika program hamil anak kembar itu berhasil. Sepertinya akan tambah seru kalau di rumah ini semakin banyak penghuninya. Rasa kesepianku di masa lalu tidak akan pernah dirasakan oleh putra dan putriku kelak, karena Ayas tidak keberatan kalau kami memiliki banyak anak.


Sesekali oma dan opa Azka menengok cucunya yang semakin hari bertambah besar, Momy ku ternyata sangat menyayangi Azka, cucu pertamanya.


Semoga kebahagiaan ini bisa bertahan hingga maut memisahkan kami, berdua dalam keadaan apapun dan selalu menggenggam satu sama lain untuk saling menguatkan.


Reygen Scalfh




Tamat

__ADS_1


__ADS_2