
Tidak ada pilihan lain lagi selain menerima tawaran dari Reygen karena hari pun sudah berganti menjadi malam, akhirnya Ayas masuk ke dalam mobil Reygen dengan wajah cemberut dan memainkan bibirnya sambil menggigit-gigit kecil bibir bawahnya.
Sepanjang jalan Ayas hanya memasang wajah tidak menyenangkan pada Reygen, tetapi bagi Reygen, gadis itu selalu terlihat cantik di matanya meskipun bibir Ayas sedikit dimajukan.
Sepertinya Reygen sudah tidak bisa menahan kemarahannya pada Cakra yang telah menggusur panti tanpa sepengetahuannya. Rencananya hari ini Reygen akan menemui Cakra di kantor cabang milik ayahnya, Cakra memang sudah beberapa bulan menggantikan posisi ayahnya (Paman Reygen) sebagai manager di perusahaan cabang milik kedua orang tua Reygen.
Reygen sebagai pewaris tunggal Perusahaan Scalfh sampai hari ini hanya numpang nama sebagai CEO di Perusahaan milik orang tuanya, karena Reygen masih belum siap mengurusi perusahaan.
Dengan pakaian formal khas para pejabat kantor, hari ini Reygen sudah siap dengan setelan jas hitam dan celana bahan yang serasi dan tidak meninggalkan kesan muda serta wibawanya sebagai pemilik perusahaan.
"Siapa, sih, ganteng banget?"
"Ih, keren."
"Tampan."
Itulah bisik dan riuhnya para ladies yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan Reygen ketika melihat Reygen melewati meja-meja kerja mereka menuju ruangan Cakra, meskipun baru hari ini Ia akan menjadi bos di dalam perusahaannya, tetapi Ia sudah beberapa kali ke kantor ini ketika mengantar papi nya.
Tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan permisi, Reygen segera membuka pintu ruangan Cakra yang bertuliskan Ruangan Manager.
Ceklek...
Ketika pintu sudah terbuka, sungguh pemandangan yang luar biasa Cakra sedang bermesraan dengan seorang wanita di dalam ruangan. Reygen tidak segera bertindak, namun Ia hanya mengamati dari balik pintu sebelum pasangan mesum itu menyadari kehadirannya dan mengabadikan pemandangan di depannya itu dengan ponsel miliknya.
Prok..Prok..
Reygen bertepuk tangan setelah ia berhasil mengambil gambar Cakra dengan wanitanya, membuat Cakra dan wanita itu terperangah dan langsung mengambil jarak masing-masing.
"Hebat."
Reygen mendekati meja kerja Cakra dengan tatapan yang memicing.
"Sejak kapan kau ada diruanganku?"
Cakra tampak tidak suka karena Reygen masuk ke ruangan kerjanya tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Saat kalian masih asik berbuat mesum dikantorku."
Reygen duduk di ujung tepian meja kerja Cakra.
"Tidak sopan!"
Cakra sangat kesal dengan tindakan Reygen.
Tanpa basa basi wanita yang sempat berlaku tidak senonoh dengan Cakra pun membalik badan dengan wajah merah karena malu perbuatan tidak pantasnya di pergoki oleh Reygen.
"Mau apa kamu kesini? bukannya kamu gak mau ngurusin perusahaan ini?"
Cakra berdiri dengan mata sinisnya dan memutari meja kerjanya sampai Ia berhadapan dengan Reygen.
"Hei, apa kamu lupa kalau ini perusahaan orang tuaku, dan aku adalah pewaris tunggalnya!"
Perkataan Reygen telak membuat Cakran bungkam seribu bahasa,
"Mulai hari ini aku akan menangani perusahaan ini, sekaligus aku mau bertanya mengenai tanah Panti Asuhan Mutiara Hati yang telah kau gusur tanpa sepengetahuanku."
Dengan tatapan mematikan, Reygen mendekatkan wajahnya kedepan wajah Cakra membuat pria sebaya dengan Reygen itu sedikit memundurkan kepalanya.
Cakra memalingkan wajahnya dan menjauh dari Reygen.
"Aku tidak mau tahu, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, karena aku sudah minta pada momiku buat batalkan penggusuran itu, tapi kenapa kau nekat melakukannya?"
Reygen masih bisa menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun kepalanya.
"Apa maksudmu? tanah itu sudah resmi milik Perusahaan Scalfh jadi untuk apa kau masih meributkannya? lagipula tanah itu akan kita bangun sebuah gudang logistik dan itu akan lebih menguntungkan kita, jadi buat apa membiarkan panti itu tetap berdiri? tidak ada gunanya, kan, buat perusahaan kita?"
Cakra dengan percaya diri mengungkapkan pendapatnya dan mengira Reygen akan setuju dengan pemikirannya.
Reygen segera mendekati Cakra dan mencengkeram kerah baju Cakra dengan kasar.
"Manusia Rakus, hari ini kau adalah bawahanku jadi turuti apa perkataanku dan ingat jangan pernah kau otak atik lagi tanah panti itu, karena aku akan menghadiahkannya pada seseorang."
Melepaskan kerah baju dari cengkeraman tangannya lalu pergi meninggalkan ruangan Cakra menuju ruangannya.
Cakra mengepalkan kedua tangannya, dia tidak akan tinggal diam dengan perbuatan yang telah Reygen lakukan padanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan tanah itu lepas begitu saja, Rey, lihat saja nanti!"
Cakra mengeraskan rahangnya dan memukul meja kerjanya karena sangat kesal pada Reygen.
Hari ini Reygen pergi untuk melihat lokasi panti yang telah rata dengan tanah karena penggusuran. Kondisi panti yang sudah tidak berwujud hanya menyisakan puing-puing bangunan yang berserakan.
Di bawah pohon beringin yang tidak tergusur karena letaknya diujung pembatas lahan panti dengan tanah penduduk lainnya dan ketika panti masih berdiri kokoh, pohon beringin itu terletak di belakang panti.
Terlihat seorang gadis cantik dengan tubuh sintalnya sedang duduk di atas kayu sisa bangunan atap panti. Dia duduk sambil menelungkupkan wajahnya diatas dengkul kakinya yang menekuk.
Ayas sengaja mendatangi panti setelah ia berziarah ke makam ibunya, karena letak pemakaman ibunya tidak jauh dari panti.
Mobil sedan mewah berwarna hitam terlihat berhenti tepat di depan area panti yang sudah luluh lantah. Keluarlah sosok pria tampan dengan tubuh tegap dan tinggi dari mobilnya.
Reygen berdiri di samping mobilnya dan mengedarkan pandangannya keseluruh area tanah yang kini dipenuhi oleh puing-puing bangunan bekas panti.
Melihat sosok gadis berbusana muslimah warna Pink muda sedang duduk di bawah pohon beringin, ia memutuskan untuk berjalan ke arah gadis tersebut yang sekarang sudah tak ada bangunan panti dan dinding penghalang di antaranya.
Reygen berdiri di depan Ayas. Mendengar suara langkah kaki yang menginjak puing bangunan, wajah Ayas menengadah dan melihat Reygen telah berdiri tepat di depannya.
"Kau, hiks, hiks,"
Ayas berkata sambil terbata-bata oleh isakan tangisnya. Dengan cepat dia mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Hei, sedang apa kau ada disini?"
Reygen merendahkkan tubuhnya untuk mensejajarkan dengan Ayas yang sedang duduk. Ayas hanya memalingkan wajahnya dan segera berdiri menjauhi Reygen sambil mengusap air matanya.
Ayas berbalik dan kembali menatap wajah Reygen.
"Maaf, ini memang milikmu, aku hanya mampir setelah berziarah ke makam ibuku."
Ayas segera berjalan meninggalkan Reygen, lalu Reygen menyusul langkah Ayas dan berjalan di belakangnya.
"Tunggu!"
Reygen menahan langkah kaki Ayas dan gadis itupun menghentikan langkahnya. Dia terdiam sambil berdiri mematung membelakangi Reygen.
"Apa kau masih mengira kalau aku yang menggusurnya?"
Masih berdiri di belakang tubuh sintal gadis berhijab itu.
Ayas pun membalikkan badannya menghadap tubuh Reygen yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Hm,"
Ayas hanya tersenyum sinis,
"Maaf, Tuan Scalfh, apakah seseorang sekelas tukang ojek atau tukang baso keliling mempunyai kekuasaan untuk menggusur panti ini, hm?"
Kembali membelakangi Reygen dan melanjutkan langkahnya menuju pinggir jalan dan memesan taksi online dari aplikasi ponsel yang sudah dia service.
Reygen hanya tersenyum getir melihat Ayas yang masih mengira bahwa Ia yang telah menggusur Panti.
Euuhh!
Reygen hanya memukul udara karena kesal dengan dirinya sendiri yang masih belum bisa meyakinkan Ayas sekaligus berbuat sesuatu untuk gadis itu.
Akhirnya terbesit di kepalanya untuk menemui gadis berseragam pegawai daerah yang sempat makan di kantin pemerintahan daerah yang bersama Ayas kala itu.
"Baiklah jika kau tidak percaya dan masih belum mau mendengarkan penjelasanku, aku harus menemuinya dan menjelaskan padanya."
__ADS_1
Setelah melihat Ayas berlalu dengan kendaraan yang telah di pesan olehnya, Reygen pun melaju dengan kendaraannya.