
Sesampainya di rumah, senja baru saja menyelimuti bumi. Reygen sengaja ingin pulang lebih cepat dan menemani kesayangannya di rumah saja.
Tak bosan mengajari Ayas berenang, sore ini Reygen kembali mengajari istrinya berenang, bukan untuk kesenangan semata melainkan untuk berjaga-jaga ketika mereka memiliki anak, dan Ayas harus bisa mengantisipasi ketika anak mereka ingin berenang disaat Reygen sedang bekerja atau tidak ada di rumah.
Alasan yang masuk akal disamping Reygen senang berbasah dengan Ayas di kolam renang. Dasar! pintar sekali dia mencari kesempatan! walaupun sudah halal memang!
"Yank! kita belajar renang lagi, Yuk!" ajak Reygen.
"Aku lagi mager banget, Bii!" Ayas hanya duduk di tepi ranjang sambil membaca novel kesukaannya.
"Kalau gak mau renang, kita olah raga di kasur aja!" Reygen langsung mendekat dan mengambil buku yang ada di tangan Ayas lalu meletakkannya di atas nakas.
"Bii ... masih sore!" Ayas melihat jam dinding dikamarnya baru saja menunjukkan pukul empat sore.
"Terus?" tanya Reygen sambil menghirup aroma wajah Ayas.
Tak menunggu jawaban dari istrinya, Reygen terus menjelajahi wajah sampai leher jenjang istrinya dengan hidung lancip dan bibirnya.
Tak dapat menolak akhirnya Ayas pun terbawa suasana dan terciptalah ******* demi ******* yang meramaikan kamar tidur Reygen yang kedap suara.
Larut dalam buaian asmara, mereka lupa sampai Reygen merasakan ketidak nyamanan di bagian perutnya, tetapi ia tidak menghiraukannya karena terlampau larut dalam kenikmatan surga dunia.
Sampai satu jam selepas bertarung di atas kasur, Reygen menggulingkan tubuhnya di atas Ayas tanpa busana. Ia menarik selimut untuk menutupi body polosnya juga Ayas.
Rasa tidak nyaman itu semakin menjadi, sampai Reygen melihat ke arah perutnya yang kini terdapat bercak-bercak merah.
Melihat Reygen yang sedang gusar dan terdiam, Ayas pun bertanya kepada Reygen,
"Bii, kenapa?" tanya Ayas sambil menjulurkan tangannya ke atas perut Reygen.
"Gak apa-apa!" Reygen berusaha menutupi apa yang sedang ada dalam pikirannya.
Tak langsung mempercayai perkataan Reygen, Ayas Menyibak selimut yang menutupi perut suaminya. Ia memang sempat melihat bercak merah pada perut Reygen ketika sedang menjelajahi tubuh kekar suaminya itu.
Melihat perut Reygen yang kini hampir tertutup oleh bercak merah, Ayas terkejut dan bertanya,
"Bii, perut kamu kenapa?" Ayas panik.
__ADS_1
"Kambuh, sepertinya!" jawab Reygen.
Sejenak Ayas berpikir mengenai ucapan Reygen, beberapa saat kemudian Ayas langsung melebarkan kedua bola matanya mengingat saat makan siang mereka di restoran seafood.
"Bii, kamu tadi makan udang, ya!" Ayas ingat bahwa Reygen memakan udang tadi siang.
Belum sempat menjawab perkataan Ayas, Reygen langsung berlari ke kamar mandi tanpa busana dan muntah-muntah. Ayas segera meraih pakaian yang berserakan di lantai dan langsung mengenakannya.
Ia juga membawakan handuk untuk Reygen ke kamar mandi, Ayas langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memijat bahu Reygen.
"Bii, kamu gak apa-apa?" tanya Ayas khawatir.
"Ga apa-apa!" jawab Reygen.
Reygen mengambil handuk yang ada di tangan Ayas dan melingkarkannya di pinggang sampai lutut dan membalikkan tubuhnya menghadap Ayas yang ada di belakangnya.
"Mandi bareng, Yuk!" ucap Reygen.
"Ya udah, tapi habis mandi kita ke dokter, ya!" tukas Ayas.
Tanpa kata Reygen pun hanya mengangguk dan membawa Ayas ke bath up lalu mandi air hangat dalam satu bak bersama.
Dasar lelaki, meskipun sedang sakit tapi masih saja tangannya bisa menjelajah naik turun gunung dan hutan lebat. Bukannya mandi bareng tetapi refleksi air hangat bareng, nih!
Hampir satu jam mereka berandam di air hangat dan Ayas mengajak Reygen untuk segera bersiap pergi ke dokter.
Namun, Reygen menolak untuk pergi ke rumah sakit dan ia memilih untuk memanggil dokter keluarga untuk memeriksanya.
Seselesainya Ayas mengenakan pakaian, lalu ia mengambilkan baju dan celana Reygen untuk dikenakan.
"Yank! gak usah kerumah sakit, lah!" ucap Reygen.
"Jangan bandel, Bii! emang kamu gak mau Cepet sembuh apa?" seloroh Ayas dengan sedikit nada tanya.
"Aku sudah menelpon dokter Firman kesini, jadi kita gak usah ke rumah sakit!" jawab Reygen.
"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat saja. Aku ambilkan air hangat, ya!" Ayas meninggalkan Reygen di kamar tidur mereka.
__ADS_1
Kulit Reygen kini hampir tertutupi oleh bercak merah, ia merasakan tidak enak pada perut dan kulitnya di bagian yang lain yang terasa sedikit gatal dan panas.
"Hufft! gak enak banget, sih!" gumamnya pelan.
Tak berapa lama Ayas sudah datang dengan segelas air hangat dan minyak kutus-kutus untuk sedikit meredakan ketidak nyamanan pada kulit Reygen.
"Bii, minum dulu air hangatnya!" Ayas Membantu Reygen memegangi gelas.
Reygen meneguk beberapa kali air putih hangat yang duberikan oleh Ayas.
Beberapa saat kemudian dokter Firman yang memang dokter keluarga sekaligus masih kerabat Reygen pun datang dan langsung di persilakan masuk untuk memeriksa Reygen.
Sesaat setelah dokter Firman memeriksa keadaan Reygen, Ayas langsung bertanya,
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Ayas tidak sabar mendengar penjelasan dari dokter Firman.
"Jangan dulu mandi air dingin, ya, dan kalau bisa hindari dulu makan ikan atau sejenisnya yang memiliki bau amis cukup menyengat." jelas dokter Firman, "Paman akan memberikan obat untuk Reygen, dan ada obat yang harus di tebus di apotek karena paman saat ini tidak memiliki stok obat yang di butuhkan." Dokter Firman menulis sebuah resep dan memberikannya kepada Ayas.
Setelah selesai dengan pemeriksaan, dokter Firman segera memberikan obat untuk Reygen dan berpamitan.
Ayas memasak makan malam untuk Reygen tentu saja tidak berbau ikan ataupun seafood, kali ini ia memasak sayur dan ayam kecap kesukaan suaminya tersebut.
"Sayang, kita makan malam dulu, setelah itu kamu harus minum obat!" ucap Ayas penuh dengan nada penekanan.
Layaknya seperti seorang suster di rumah sakit, Ayas tampak sangat menjaga dan mengawasi Reygen. Semua aktivitas Reygen mulai dari jam makan dan jam istirahat tidurnya telah ia atur dan secara tertulis.
Karena alergi yang saat ini di derita oleh Reygen cukup berat, dokter Firman menyarankan untuk beberapa hari ini agar Reygen tidak beraktivitas di luar rumah dulu karena angin dan polusi akan memperlambat proses penyembuhan alergi pada kulit Reygen.
Selesai makan malam, Ayas segera mengambilkan obat untuk Reygen dan meminta Rey untuk segera tidur.
"Jangan begadang! Cepet tidur!" titah Ayas kepada suaminya yang masih berkutat dengan ponsel.
"Bentar, Yank! ini ada kerjaan mendadak," tutur Reygen.
"Kan ada asisten kamu, Bii! jangan bandel lah, cepet simpen ponselnya!" ucap Ayas kekeh.
Ayas melihat ke layar ponsel Reygen dan ternyata bukan sedang berurusan dengan kerjaan melainkan dengan game online kesukaan suaminya tersebut, Ayas pun langsung merebut ponsel Reygen dan menonaktifkannya.
__ADS_1
Yah, kalau sudah begini Reygen tidak dapat berbuat apa-apa.